
Pagi hari menyapa, cuaca yang cerah seolah mewakilkan bagaimana cerahnya hati pasangan suami istri yang setelah melewati dua bulan perpisahan, dan akhirnya bisa berpelukan manja dan menabur benih untuk ladang yang lama dianggurkan. Berharap akan segera menggantikan anak mereka yang sudah kembali ke pangkuan Sang Kholik.
"Bu, Jova kemana?" tanya Felix pada sang mertua yang sedang menyiapkan sarapan, begitu ia membuka mata sang istri sudah tidak ada.
Lasmi pun menunjukan jari telunjuknya ke atas. sebagai kode, pasti Felix tahu lah apa lagi artinya.
"Ya Tuhan sepagi ini?" tanya Felix, jangan heran bahkan semalaman yang di bahas adalah nama-nama kucing barunya. Bahkan Jova sudah membuat daftar catatan untuk nama-nama kucing cantiknya, ada cemong, blacki, remeo, oreo, shopee, juleha, milo, pudel, bere, barong, dan terakhir si mini. Jova bahkan tengah membeli kalung untuk anak-ankatnya dan nanti akan di pakaikan kartu nama agar yang panggil tidak terbalik.
"Dia sangat seneng, tadi bangun, habis sholat langsung ke atas. Bahkan kalau sarapan minta di atas," balas Lasmi, memang anaknya sangat cinta dengan kucing dan dapat izin kebebasan untuk berternak kucing jadi serasa dunia hanya milik dia dan kucing-kucingnya. Eh, tapi setelah dengan Felix tentunya.
Laki-laki itu pun langsung berjalan ke atas. memang di atas sekarang sudah sangat nyaman sangat cocok untuk bersantai. Benar saja dugaan Felix Jova sedang tiduran di atas sofa dan beberapa kucing ada di atas perutnya dan tentunya anak kesayanganya yang badanya paling besar, siapa lagi kalau bukan abang cemong.
Felix diam saja tidak melanjutkan langkah kakinya. Laki-laki itu sedang mendengarkan curhatan hati Jova pada anak-anaknya. Tanpa terasa garis lengkungan terbentuk di wajah Felix. Ternyata begitu mudah membuat Jova bahagia. Buktinya sekarang dia sedang berceloteh riang dan memainkan kucing dengan menepuk-nepukan tanganya. Dan lagi-lagi kucing-kucing itu dengan santainya mau mengikuti apa yang Jova lakukan.
Hampir setengah jam Felix berdiri di ujung tangga dengan memperhatikan Jova yang tertawa sendiri dengan keisengan anak-anak barunya.
Ehemzz... Felix berdehem dan pastinya langsung mengagetkan Jova.
__ADS_1
"Eh... Sayang kamu udah bangun, pasti kamu cariin aku yah. Maaf yah, anak-anak aku kangen katanya." Jova pun menurunkan anak kucing yang tadi buat mainan.
"Tolong singkirkan cemong, aku mau duduk di situ," ucap Felix dengan mengibas ngibaskan tanganya. Yah dia masih sangat geli dengan kucing-kucing itu.
"Hist, Sayang ini bukan cemong. Ini namanya romeo, dan ini shopee lalu yang barong dan ini paling kecil si mini," protes Jova dengan menyebutkan nama anak-anaknya satu persatu, dan tentu jaringannya menunjukan setiap kucing-kucing yang ia sebut.
"Sama saja itu namanya cemong," balas Felix, namanya kucing sama saja.
"Beda kalau cemong udah besar dan dia sekarang panggilnya abang cemong." Jova pun menyingkirkan kucing-kucingnya agar tidak mendekat sama deddy-nya bisa-bisa Felix kayak kemarin sawan ketika ada salah satu kucing yang seolah meledek dirinya datang dengan seolah meminta gendong sama sang deddy.
"Jo, kita liburan yuk bulan madu gitu biar kayak orang-orang yang romantis dan kita belum pernah bulan madu rasanya bosen kalau di rumah terus," ucap Felix dengan memainkan rambut Jova yang sedikit bergelombang.
Namun, respon Jova justru terlihat kurang nyaman. "Maaf Mas, bukanya aku norak atau apalah. Tapi aku kurang nyaman untuk berpergian. Jujur masih ada rasa trauma ketika aku mau ke luar rumah, aku takut ada kejadian yang memancing emosi aku lalu aku kembali melakukan sesuatu yang di luar batas pikirku. Aku masih sangat takut kalau hal itu akan terjadi. Aku lebih suka seperti ini menghabiskan hari-hariku dengan binatang kesukaan aku dan juga bisa bersantai di rumah tanpa cape-cape untuk jalan-jalan," ucap Jova dengan wajah yang terlihat tegang kembali.
"Maaf kalau aku kembali mengingatkan kamu ke kejadian itu. Tapi kalau kamu mau tetap di rumah aku akan coba mengerti." Felix memeluk tubuh kurus Jova. "Mulai sekarang makanya yang banyak yah. Aku sedih lihat kamu yang sekarang, sangat kurus tidak enak di peluk," goda Felix padahal tetap saja di peluk enak-enak saja.
"Hist,, kamu tenang saja buktinya ini aku sudah habis donat dua, kue sus dua kue talam dan juga bronis. Awas saja yah kalau kamu komplein aku gemukan, dan jadi gembil," ancam Jova dengan kembali mengambil kue cucur, tetapi untuk di suapkan pada suaminya.
__ADS_1
"Tidak dong Sayang, buktinya cemong gembil malah jadi lucu, kalau kamu kayak cemong pasti akan sangat lucu." Felix mencubit kedua pipi Jova yang tirus itu.
Mereka berdua pun bermanja-manjaan di atas sofa, Jova dengan Felix rebahan di atas paha Jova sampai tiba-tiba ada kucing yang naik ke sofa mereka dan mengusel-ngusel di tubuh Felix. Awalnya laki-laki itu santai saja belum sadar kalau yang mendusel-dusel di sampingnya adalah seekor kucing, tetapi lama-lama kulitnya menangkap benda yang paling dia tidak suka.
"Jooooo...." Felix langsung loncat sejadi-jadi bahkan laki-laki itu tanpa sadar meloncati sandaran sofa yang cukup tinggi.
"Kenapa sih Mas?" tanya Jova yang tidak sadar juga kalau dari bawah ada kucing yang ingin kenalan dengan Felix.
"Tuh..." Felix menunjuk se ekor kucing yang lucu malah kucing itu seolah meledek Felix dengan mengulurkan lidahnya gemas.
"Oh astaga milo kamu jangan iseng yah." Jova mengambil anak kucing yang memiliki bulu berwarna seperti susu milo. "Dia hanya ingin kenalan sama Mas Felix, dia kayaknya cewek deh, makanya bobonya pengin sama Mas," goda Jova dengan meledek Felix terus yang sangat menggemaskan kalau sedang ketakutan seperti itu.
"Tetap saja Jo, aku takut sama mereka. Mereka memang lucu, tapi bulunya sangat menggelikan." Felix kembali bergidig seolah ada bulu-bulu kucing di tubuhnya.
Sontak Jova tertawa dengan renyah mengetahui sifat suaminya yang sangat lucu itu.
#Ada yang sama kayak Felix, takut kucing?
__ADS_1