
"Gimana Jo?" tanya Sumi begitu Jova kembali ke luar. Terlihat sekali kecemasan di wajah wanita berhijab itu.
"Kamu pulang gih!" Jova yang biasanya selalu mendapatkan kejahilan dari Sumi, untuk sekarang ceritanya dia ingin balas dendam. Meskipun kata Mamah Dedeh yang namanya balas dendam itu tidak baik. Tapi kata Jova tidak apa-apa kalau dikit-dikit.
Wajah Sumi sontak langsung berubah menjadi masam, dan terlihat dengan jelas kesedihanya. "Jadi nggak ada kerjaan buat aku yah Jo?" tanya Sumi untuk sekedar memastikan lagi. Padahal gadis yang saat ini berusia dua puluh empat tahun sangat yakin dan berharap besar kalau Jova akan membantunya. Apalagi yang Sumi tahu suami Jova itu memiliki banyak karyawan. Berharap kalau dia diselipkan satu di anatara himpitan pekerja yang lain.
"Maksud aku, kamu pulang sanah siapkan pakaian karena habis magrib kata Mas Felix akan langsung pulang ke Jakarta." Jova yang memang titisan ratu kebaikan mana tega mengerjai Sumi. Meskipun dulu Sumi adalah teman paling jahil sejak sekolah dan juga hingga bekerja.
Kedua bola mata Jova pun melebar. "Kamu serius Jo?" tanya Sumi kembali, seolah tidak perjaya dengan ucapan sahabatnya.
"Apa pernah aku bohong sama kamu?" jawab Jova dengan gaya menyombongkan diri.
"Iya kalau bohong secara langsung yang ketahuan sih sepertinya tidak, tapi kalau bohong yang tidak ketahuan kayaknya sering," kelakar Sumi, kini gadis berhijab itu bisa kembali kesifar isengnya.
"Dih, kalau tau dia bakal ngeselin kayak gini nggak bakal dah aku bantuin cari kerjaan," balas Jova dengan gayanya yang sok paling baik itu.
"Ya ampun Jo jangan dong, bisa gila tau nggak kalau aku tetap ada di kampung ini. Ini ajah aku lewatin satu hari berasa satu windu lama banget. Udah gitu kan aku juga pengin dapat jodoh kayak suami kamu yang tajir. Kali ajah aku ke Jakarta dapat jodoh yang kayak jung-kook gitu," dengus Sumi dengan wajah yang dibikin mengiba.
"Udah deh kamu jangan banyakan halu mana ngaku-ngaku calon istrinya Jung-kook. Jung-kook dapat calon istri kayak kamu langsung sawan tau nggak," balas Jova, jangan heran yah teman Jova yang satu ini memang halunya kadang-kadang ke bablasan.
__ADS_1
Sumi pun terkekeh, senang sebenarnya meledek Jova sebab Jova bukan idola kepop Jova lebih idola dengan tokoh turki dan itu sebabnya kalau Sumi selalau menghalu yang di luar nalar Jova langsung kesal.
"Oh iya Jo, aku mau minta maaf soal uang gajih kamu. Aku..." ucapan Sumi langsung dipotong oleh Jova.
"Udah enggak apa-apa Sum, kalau kepake sama kamu juga aku memakluminya. Kata Mas Felix juga tidak apa-apa itung-itung membantu kamu," ucap Jova, yang langsung menebak ucapan Sumi.
"Bukan Jo, bukan itu, justru aku mah kalau memang uang itu kepake sama aku, aku bersyukur banget setidaknya kepala nggak pusing banget. Masalahnya aku nggak bisa ambil gaji kamu, dan itu semua karena bos tidak izinin uang kamu diambil aku. Jangankan gaji kamu, gaji aku aja yang nominalnya dua kali lipat sama kamu, sampai sekarang tidak ke luar. Aku tidak di bolehkan ambil gaji. Apes banget aku Jo, mau makan apa coba, uang gajih di tahan."
Pikiran Jova jadi teringat apa ucapan Felix dan juga Arzen bahwa semua ini bisa jadi sangkut pautnya dengan pemilik perusahaan, apalagi gaji sulit diambil baik punya Jova, padahal Jova sudah menitipkan surat kuasa pada Sumi dan juga tanda tangan di atas matrai dan tanda pengenal karyawan. Namun, nyatanya Sumi masih tidak diizinkan untuk mengambil uang Jova.
"Ya udah kamu pulang duluan aja kih, siap-siap ini sudah sore soalnya. Kalau telat nanti aku tinggal yah. Biar kamu jalan kaki sampai Jakarta," usir Jova, karena kalau tidak di usir Sumi tidak pulang-pulang sedangkan Jova ingin menceritakan kembali dengan apa yang terjadi pada Sumi mengenai uang gajinya dan juga punya Jova sendiri. Apakah kalau di tambah dengan bukti itu sudah sangat yakin kalau perusahaan itu sedang mempermiankan karyawanya.
Sesuai yang di jadwalkan oleh Felix kalau habis magrib mereka kembali melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Tentu Jova dan ibunya serta Felix sebelum meninggalkan kampung halaman lebih dulu berpamita dengan Jini dan juga Janu.
Sumi pun benar-benar menepati ucapanya dia datang tepat waktu dengan ciri-ciri mata memerah. Yah, sudah bisa Jova tebak kalau Sumi habis menangis.
"Jo, aku nggak telat kan?" tanya Sumi ketika baru datang dengan tas rangsel di punggungnya persis seperti orang akan mendaki gunung.
"Hampir aja aku biarkan kamu jalan kaki ke Jakarta," balasku dengan ketus, tapi tentu itu hanya ekting belaka, biar Sumi bisa menimpali candaan Jova dan tidak bersedih.
__ADS_1
"Iya sorry Jo, abis tadi di rumah suruh bantuin iris bawang dulu sama Ambu," elak Sumi. Ah, meskipun dia ngelak kalau dia tidak habis menangis tetap saja mata sembab dan suara serak sudah memberitahukan bahwa ia baru saja menangis.
"Ya udah ayok buruan jangan berantem terus," ucap Felix melerai Jova dan Sumi yang kalau bertemu akan jadi olok-olokan terus dan yang bikin anehnya baik Jova maupun Sumi tidak baper sama sekali. Jova dan Sumi setelah berantem akan kembali akur lagi.
Berbeda dengan Jova yang sedang ngobrol santai dengan Sumi agar tidak ngantuk. Lasmi justru masih bersedih karena banyak kenangan yang akan dia tinggalkan terutama kenangan dengan Jini dan juga Janu.
Jova pun setelah sadar kalau sifat ibunya yang nampak pendiam. "Ibu kenapa Ibu sedih?" Jova mengusap-usap punggung tangan sang ibu.
Lasmi pun langsng mengerjapkan pandangan matanya yang sejak tadi kosong.
"Tidak ada apa-apa Sayang Ibu hanya terasa berat ketika mencoba mengikhlaskan semua kenangan kita bersama akan tertinggal di kampung ini, " balas Lasmi yang sotak saja kembali membuat Jova bersedih.
"Ibu jangan sedih kan nanti kita bisa pulang untuk mengunjungi Jini dan juga Ayah. Mereka pasti juga senang kalau lihat Ibu bahagia. Jadi jangan sedih yah," balas Jova dengan mengusap-usap tangan wanita yang telah melahirkannya.
Lasmi pun mengangguk dengan semangat. "Kamu benar Ibu tidak boleh bersedih," balas Lasmi dengan bersemangat.
Mereka pun sesekali terlibat obrolan yang hangat. Perjalanan yang memakan waktu panjang pun membuat mereka tidak kerasa dan tiba-tiba sudah sampai di Jakarta.
.
__ADS_1