Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Saling Membantu


__ADS_3

Janu di sebrang telpon pun langsung tersentak dengan kaget ketika Lasmi justru menyahuti ucapanya. Sehingga Jova pun pasti tahu kebenarannya. "Maafkan ayah Mbak, ayah memang payah tidak bisa menjaga Jini. sampai adik kamu tidak bisa tertolong. Maafkan ayah! Ayah gagal jadi orang tua."


Seketika tangisan Jova pun semakin pecah. Tidak terbayangkan sama sekali perngorbananya akan sia-sia.


"Jini, kenapa kamu bohong. Bukannya kamu janji akan berjuang sama-sama kenapa kamu bohong," racau Jova, Felix di dalam kamar pun langsung belari ke kamar mandi ketika mendengar tangisan Jova.


"Jojo, kamu kenapa?" Kini Felix yang bingung terlebih ketika melihat Jova menangis dengan duduk tanpa daya di atas ubin kamar mandi.


Jova menatap Felix dengan iba, ia ingin mengatakan pada suami sekaligus bosnya apa yang terjadi dengan adiknya. Namun bibirnya kelu, tenggorokanya sakit, hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Felix pun tahu bahwa apa yang sedang Jova tangisi bukan semata karena takut kecoa atau justru tidak kebagian makanan favorite, melainkan memang Jova menangis karena kabar yang amat sedih.


Dengan hati-hati Felix pun mengayunkan kakinya untuk semakin mendekat pada Jova. "Jo, apa yang terjadi katakanlah, mungkin aku bisa bantu," ucap Felix dengan nada yang lirih dan juga suara yang jauh dari biasanya, kali ini terdengar sangat halus di telinga.


"Ji... Jini, adikku meninggal Tuan. Aku harus bagaimana? Ayah minta saya pulang malam ini juga, karena Jini ingin bertemu dengan saya, aku harus apa? Ini adalah pertemuan terakhir aku dan Jini." Pandangan Jova terus mengiba.


Felix pun tersentak kaget dengan ucapaan Jova. Memang Felix melihat kalau Jini, adik Jova sangat dekat dengan istrinya bahkan Felix akui pengorbanan Jova tidak main-main, dia rela menikah dengan orang yang tidak di kenal semata untuk kesembuhan adiknya. Namun Semesta berkata lain. Jini menyerah dengan segala perjuangan yang sudah dia perjuangkan selama ini.


"Kamu siap-siap, malam ini kita akan pulang ke kampung kamu." Felix pun membantu Jova bangun.

__ADS_1


"An... Anda serius Tuan?" tanya Jova dengan tangis yang makin menjadi.


"Aku pernah berada di posisi kamu dan saat itu tidak ada yang menguatkan aku, selain diri aku sendiri dan Arzen. Jadi aku sedikit tahu apa yang kamu rasakan," balas Felix tegas.


Terima kasih Tuan, terima kasih." Jova berkali-kali mencium punggung tangan Felix dan hal itu langsung membuat hati Felix tercubit, sakit tetapi tidak berdarah. Laki-laki itu menatap iba pada Jova. penilaiannya salah pada wanita itu, dia gadis yang baik.


"Udah yuk jangan kelamaan, kasihan adik kamu pasti sedang nunggu kedatangan kamu." Felix kembali membantu Jova untuk bangun dan menuntunya. Memang bantuan yang tepat sebab Jova merasakan kalau tubuh Jova sangat lemas di lututnya hingga dia tidak bisa berdiri.


"Kamu duduk dulu di sini. Aku akan siapkan pakaian gantiku," ujar Felix, sembari membiarkan Jova duduk di atas ranjangnya sedangkan Felix sendiri menyiapkan pakaian untuk beberapa hari di kampung istrinya.


"Terima kasih Tuan, karena sudah sudi mengantarkan  saya pulang," ujar Jova dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Setelah berpamitan dengan Bi Suro dan juga Arzen untuk mengatur pekerjaan Felix untuk beberapa hari, kini Jova dan suaminya pun sudah meninggalkan rumah mewah Felix. Kalau tidak macet maka perkiraan mereka sampai di kampung halaman Jova adalah pukul tiga atau empat pagi, tetapi kalau macet bisa ngaret hingga pukul tujuh atau lebih.


"Kamu tidur saja Jo, perjalanan lama jadi kamu istirahat saja apalagi nanti kamu sampai rumah pasti tidak bisa istirahat," ucap Felix di mana di melihat dari ekor matanya Jova hanya termenung dengan air mata yang sesekali terjatuh. Dan pandangan yang kosong.


Dengan punggung tanganya Jova menyeka air mata yang menetes. "Bagaimana aku bisa tidur, sedangkan adik aku sudah tidak ada. Dia adalah adik yang baik selama hidupnya hampir tidak pernah bertengar dengan aku, dia memang anak yang pendiam, tetapi kalau dengan aku dia akan sering bercanda. Kita selalu bersama sama dalam setiap waktu jarak kami hanya tujuh tahun. Setiap dia punya sesutu pasti memberikan pada saya. Jini adalah anak yang baik, tapi kenapa Tuhan mengambilnya secepat ini?" racau Jova, ingin marah dengan takdir yang seolah mempermainkan hidupnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalananya Jova memang tengah memutar kenangan bersama adikanya. Dari mereka bersekolah bersama dan belajar serta mengaji bersama. Sehingga rasa kantuknya pun hilang sudah.


"Aku tahu, dari cara kamu mengorbankan kebahagiaan kamu, aku pun sudah tahu kalau kamu memang sangat dekat dengan Jini. Aku pun pernah merasa kehilangan yang bahkan aku sampai membenci, benci sekali dengan takdir dengan apapun yang aku anggap penyebab meninggalnya ibuku. Aku bahkan seperti orang gila. Mungkin kamu bisa bertanya pada Arzen, aku pernah merusak kehidupan dan kesehatanku sendiri karena aku hanya ingin menyusul ibuku. Aku tidak mau menjalani hidup tanpa ibuku. Tidak sebentar aku berada di titik terburukku hingga perlahan aku mengerti dan belajar arti kehilangan. Aku yakin kamu pasti lebih bisa menerima takdir ini dari pada aku yang hanya anak pendendam." Entah sadar atau tidak kalau Felix justru menceritakan apa yang sangat dia rahasiakan atas perjalanan hidupnya.


Jova menatap Felix yang wajahnya berubah menjadi murung. "Maafkan aku kalau kesedihan aku mengingatkan kamu ke masa terberat itu," ucap Jova. Setidaknya perjalanan pulang kali ini tidak semenyeramkan pada saat berangkat pertama kalinya ke Jakarta di mana Felix masih dalam mode galak.


"Tidak masalah Jo, aku hanya berbagi kisah saja, kalau aku juga pernah merasakan di titik terendah saat kamu, titik penyesalaan yang teramat sehingga membuat Kita jadi tidak bisa mengartikan mana yang baik dan buruk, tapi aku yakin kalau kamu pasti akan tegar hadapi ini semua."


Jova pun memberikan senyum tipisnya di saat dia benar-benar bisa merasakan kalau Felix adalah orang yang baik, seperti yan bi Suro dan asisten Arzen katakan. Felix adalah orang baik.


"Perjalanan malam ini pun terasa panjang, tetapi setidaknya Jova dan Felix terlibat obrolan sehingga tidak terlalu mengerikan, bahkan Jova beberapa kali mengembangkan senyum di tengah-tengah kesedihanya itu karena ternyata Felix adalah orang yang lucu, dan enak diajak berkomunikasi.


Perjalanan panjang dan melelahkan pun terlewati tidak terlalu berat, tetap rasa berat itu datang ketika mereka sudah hampir sampai di rumah Jova. Bendera kuning menyambut kepulangan Jova.


Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa pertemuan beberapa minggu lalu sebelum ia pergi adalah pertemuan terakhir.


Felix mengusap punggung Jova, ketika wanita itu sudah kembali terisak. "Kamu yang sabar yah, tunjukkan pada Jini kalau kamu ikhlas dan tidak sedih."

__ADS_1


Namun bohong kalau Jova bisa seperti itu, sekeras apapun Felix memberikan nasihat tetap saja kesedihan lebih menguasai perasaan Jova.


__ADS_2