DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin

DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin
BAB 39


__ADS_3

Pak Alan terseyum. Lalu berkata?


"Hehe...Maaf Pak Daffin, tadi Saya sudah membuka pintu. Tapi saya tidak mau menggangu anda"


Daffin mengangukan kepalanya. Lalu meyuruh Pak Alan masuk. Setelah itu Daffin meghampiri Carisa lagi. Dan meyuruh Carisa untuk duduk di Sopa.


Pak Alan, segera meghampiri bupet yang berada di sebelah ranjang Kakek Yudanta. Dan segera meyusun piring, untuk makanan yang beliau bawa dari rumahnya. Karena Kakek Yudanta sudah bosan dengan makanan Rumsh sakit. Sekarang sudah, waktunya jam makan siang. Ketika Pak Alan, sedang menyiapkan makanan. Tiba-tiba saja beliau berhenti. Lalu membalikan badanya dan menatap ke arah Carisa.


"Non Risa?"


Carisa yang, merasa dirinya di pangil namanya! Segera mengalihkan wajahnya, ke aras suara yang di dengarnya tadi.


"Iya Pak? Ada apa." Ucap Carisa lembut.


Pak Alan terseyum, ketika mendapat sautan. Dari nona kecilnya ini. Lalu meminta Maaf?


"Maaf ya Non? Bpk lupa ngucapin. Selamat ulang tahu buat Non Risa? Bpk Doakan Non Risa, panjang umur dan selalu di Berikan kebahagia. Maafkan Bpk ya non, karena Bpk sudah mulai pikun." ucap pak Alan.


Umur Pak Alan, memang sudah masuk kepala enam. Dan Pak Alan. Sudah bekerja dengan Kakek Yudanta, tigapuluh lima tahun. Carisa menjawab ucapan dari Pak Alan.


"Tidak apa-apa Pak, terimakasih Doanya. Semoga Bpk juga sehat selalu. Dan Terimakasih sudah setia merawat Kakek Yudanta." Lalu Carisa menatap sang Kakek, yang masih tertidur. Setelah itu Daffin bertanya?


"Pak Alan? Jam berapa Kakek akan bangun dari tidurnya." Daffin bertanya.


"Tuan Besar! Seharusnya sekarang sudah harus bangun. Karna sudah waktunya jam makan siang."


Daffin mengangukan kepalanya. Lalu menatap istrinya kembali. Wajah Carisa semankin terlihat pucat, setelah selesai menangis tadi. Daffin pun bertanya kembali pada Carisa.


"Sayank? Kamu benar tidak Apa-apa, wajah kamu semakin pucat." Daffin semakin khawatir dengan istrinya? Carisa meggelegkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Mas." Daffin meghembuskan nafas kasarnya. Karena jawaban Carisa masih tetap sama.


"Jika ada yang sakit? Beritahu Mas." Carisa megangukan kepalanya.


Tidak lama setelaj itu. Kakek Yudanta pun bangung dari tidurnya. Carisa yang melihat Kakeknya sudah bangun. Lalu Carisa, berdiri dari duduknya dan meghampiri sang Kakek.

__ADS_1


"Asalammualaikum Kek." ucap Carisa. Kake Yudanta terseyum dan menjawab salam dari Carisa.


"Waalaikumsalam." Jawab Kakek Yudanta.


Lalu Carisa, mencium pungung tangan sang Kakek. Dan di ikuti oleh Daffin dari belakang. Kakek Yudanta mengulurkan tangannya, lalu memangil Carisa kembali.


"Carisa kemarilah? Kakek ingin memeluk kamu." Suara Kakek Yudanta sangat lemah. Carisa segera mendekati Kakeknya, dan lagsung memeluk sang Kakek. Kakek Yudanta megelus-elus rambut Carisa dan memberi Selamat pada cucu catiknya.


"Selamat Ulagtahun Risa. Maaf, Kakek tidak bisa hadir di pesta kamu semalam. Dan Kakek selalu mendoakan, kamu selalu bahagia Sayank, Maaf! Kakek belum memberi kamu hadia." Ucap Kakek Yudanta. Carisa yang masih berada dalam pelukan sang Kakek, meneteskan Air matanya.


"Terimakasih Kek? Carisa tidak mengingikan hadiah mewah dari Kakek.Carisa hanya mengiginkan, Kakek cepat sembuh dan kita bisa jalan-jalan lagi seperti dulu." Air Mata Carisa semakin deras. Sang Kakek megusap lembut rambut Carisa. Lalu Kakek Yudanta melirik ke arah Daffin dan melepaskan pelukannya dari Carisa.


"Daffin kemarilah?"


Daffin segera mendekati Kakek Yudanta. Dan memegang tangan sang Kakek.


"Kakek apa kabar. Maaf? Daffin jarang mejenguk Kakek." Ucap Daffin dengan wajah sendu. Kakek Yudanta terseyum dan terus memega tangan Daffin.


"Alhamdulilah Kakek baik-baik saja." ucap Kakek Yudanta. Sedagkan Carisa menatap sang Kakek dengan tatapan sendu. Lalu Kakek Yudanta, menasehati Daffin untuk menjaga Carisa.


"Daffin janji? Tidak akan pernah meyakiti Carisa Kek." Kakek Yudanta terseyum dan megagukan kepalanya. lalu melepaskan tangan Daffin.


Daffin segera memeluk istrinya. Yang masih terisak menagis. Akhir-akhir ini Carisa sangat sengeng sekali.


"Sudah jangan menagis lagi. Nanti cantiknya ilang." Daffin mengoda Carisa. Sedagkan Carisa, yang di goda oleh Daffin, sangat kesal? Lalu memukul pelan dada bidang Daffin.


"Mas? Suka banget menggoda Risa." Ucap Risa mencebikan Bibirnya.


Daffin terseyum? Lalu menuntun Carisa ke arah Sopa supaya Carisa bisa istirahat. Sedangkan Kakek Yudanta? Sedang di bersihkan oleh Pak Alan. Dan bersiap-siap untuk makan siang dan minum obat.


Setelah beberapa menit, Pak Alan sudah membersihkan Kakek Yudanta. Dan ingin meyuapi Tuannya itu? Carisa yang sedang bersama Daffin di sofa. Dan segera berdiri dari duduknya lalu meghampiri, ranjang sang Kakek.


"Pak Alan? Biar Risa yang suapin Kakek." Pinta Carisa, Pak Alan lalu Megangukan kepalanya. Dan segera memberikan nampan, yang berisi bubur dan sup ayam. Ke tangan Carisa. Untuk meyuapi Kakeknya.


Merekapun saling berbincang? Walapun tidak sesemangat dulu. Carisa dan Daffin menemani sang Kakek sampai sore hari. Dan Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 17.00 sore hari. Carisa dan Daffin, akhirn ingin berpamitan, karena Daffin harus meyiapkan barang-barangnya. Untuk pergi ke Bali besok malam.

__ADS_1


"Kek? Risa dan Mas Daffin, mau pamit pulang dulu. Besok Risa jenguk Kakek lagi." Ucap Carisa. Yang Sebenarnya tidak tega meningalkan Kakeknya.


"Baiklah Sayank? Kalian pulanglah dulu saja, do sini ada Alan yang menemani Kakek." Daffin dan Carisa, mengaguk kepalanya.


"Pak Alan, manti kalo ada apa-apa, segera hubunggi kami." Kakek Yudanta, segera megangukan kepalanya.


"Risa, pamit ya Kek?" Carisa dan Daffin segera mencium tangan Kakek Yudanta dan juga Pak Alan.


"Asalammualaikum," ucap Carisa dan Daffin bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Kakek Yudanta dan Pak Alan, bersamaan.


Carisa da Daffin segera keluar dari kamar. Kakek Yudanta. Dan segera masuk ke dalam Lift. Setelah sampai di lantai dasar. Mereka pun segera menaiki mobil mereka. Setela itu Daffin melahukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Hari ini kita pulang kemana Sayank." Daffin bertanya kepada Carisa.


"Ke Rumah Mamih. Enga enak kemarin waktu aku pergi ke apartemen, engga pamitan." Jawab Carisa, dan masih fokus menatap jalan raya. Yang di hiyasi lampu-lampu di sisi-sisi jalan.


Setelah Empatpuluh lima menit. Mereka pun sampai di rumah besar keluarga Hutomo. Ketika Carisa ingin membuka pintu? Daffin mencegahnya.


"Tunggu sayank? Jangan turun dulu. Biar Mas yang bukakan pintunya." Carisa hanya tersenyum. Carisa, sangat bersyukur pernikahanya dengan Daffin. Akhirnya bisa membaik, seperti sekarang. Dan sifat Daffin juga berubah kepadanya.


Yang tandinya terlihat tidak meyukainya dan selalu menunjuka sifat dingin terhadapnya. Tapi sekarang, Daffin menjadi suami yang sangat, perhatian dan juga siap siaga. Jika Carisa membutuhkannya.


"Sayank ayok turun." Carisa tersadar dari lamunannya, ketika Daffin meyuruhnya untuk turun dari dalam mobil.


Daffin dan Carisa, segera melagkahkan Kakinya menuju rumah mewah keluarga Hutomo. Di sana terlihat semua keluarga berkumpul! Dan segera masuk ke ruang keluarga. Ternyata semua keluarga Hutomo sedang berkumpul. Lalu Daffin dan Carisa meghampiri mereka. Lalu mencium tangan Kakek Ravindra, Papih Daranendra Dan Mamih Aulia. Carisa melihat banyak hadiah di tengah-tengah lantai.


"Nah ini dia? Orang yang kita tunggu-tunggu akhirnya pulang juga." Ucap Aurel, dengan wajah penuh senyuman. Ketika Carisa sudah datang.


"Ayok Mba? Sinih duduk kita buka hadiahnya. Aku udah enga sabar nie, Mba dapet hadiah apa saja." Ucap Aurel dengan wajah yang tidak sabar.


Carisa terseyum. Lalu menatap, Sang Suami untuk meminta izin. Daffin mengangukan kepalanya. Lalu meyuruh Carisa duduk di karpet bersa Aurel. Di tengah-tengah hadiah yang sangat banyak itu.


Carisa menuruti pemerintah Daffin. Aurel sangat bersemagat untuk membantu Carisa membuka hadiah-hadiahnya. Dan mulai membuka satu per satu hadiah itu. Dan juga di temani semua keluarga hutomo.

__ADS_1


Carisa, sangat bahagia di kelilingi orang-orang yang sangat baik. Dan sangat menyanginya. Tidak terasa Carisa meneteskan Air matanya. Dan segera meghapusnya dengan tangannya! Di ruangan keluarga Hutomo, sangat harmonis. Aurel yang sangat cerewet dan juga sangat heboh Dan sesekali Daffin mengoda Aurel.


__ADS_2