
Setelah menunggu kemacetan selama satu jam? Akhirnya, mobilpun bisa berjalan sedikit demi sedikit. Karena lokasi kecelakaan belum selesai di bersihkan. Makanya, mobil pun belum bisa melaju dengan cepat.
Mobil-mobil yang menjadi korban kecelakan beruntun itu? Hampir semuanya rusak parah. Kevin melihat mobil yang sering di kendarai oleh Daffin! Ternyata sebelah kirinya, rusak sangat parah. Kevin tidak bisa bertanya kepada sopirnya, karena takut Carisa curiga kepadanya! Apalagi tadi Carisa, sempat bermimpi buruk tentang Daffin.
Kevin tadinya, ingin membawa Carisa ke dokter kandungan, untuk di periksa? Tapi karena Kevin, mendapat kabar dari Pak Alan jika Daffin kecelakaan? Akhirnya, Kevin tidak jadi pergi ke rumah sakit. Karena Dia takut jika Carisa, bertemu dengan salah satu keluarga Hutomo. Jadi Kevin, memilih mengantar Carisa dan Talia pulang ke rumah mereka.
Setelah menempuh perjalanan satu jam? Mereka pun sampai di rumah. Talia mencoba membagunkan Carisa, yang masih tertidur.
"Sayang? Ayo bangun dulu, kita sudah sampai di rumah." Ucap Talia, dengan lembut.
Carisa yang mendegar? Dirinya di pangil, segera membuka matanya secara perlahan. Setelah Carisa! Benar-benar sudah bangun? Dia menatap ke depan dan megkerutkan dahinya, dan bertanya kepada sang Mami.
"Mih! Kenapa kita pulang ke rumah? Bukanya, tadi Papi. Mengaja kita pergi ke dokter kandungan." Tanya Carisa penasaran.
Tali, menghela napasnya. Mendapat pertanyaan dari putri kesayangannya! Akhinya, Tali terpaksa harus berbohong kepada Carisa.
"Tadinya Papi, memang ingin mengajak kamu ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja! Papi mendapat telpon dari kantor. Jadi hari ini Papi belum bisa mengantar kamu ke dokter kandungan." Jelas Mami Talia.
Carisa yang mendapat penjelasan dari Maminya? Akhirnya mengaggukan kepalanya, dan mencoba mengerti. Jika sang Papi sangat sibuk mengurus Perusahan Mahendra, yang sempat akan gulung tikar.
Carisa turun dari mobil. Lalu Carisa, menegang kursi roda sang Mami, yang tadi di turunkan oleh sopir. Lalu Carisa memangil sang Papi? Untuk menurunkan Maminya.
"Papi!"
Keving yang baru saja selesai mengobrol dengan Pak Alan, menoleh kearah Carisa! Yang memangilnya. Kevin meghampiri putri kesayangannya, lalu bertanya.
"Ada apa sayang," tanya Kevin.
Carisa terseyum, lalu menujuk ke arah mobil! Kevin memukul keningnya. Hampir saja dia lupa mengeluarkan istrinya, yang berada di dalam mobil.
"Aduh, Maaf! Papi sampai lupa keluarin mami dari dalam mobil," ucap Kevin.
Carisa hanya terseyum saja? Pasti nanti Papinya akan kena omel Maminya. Karena sudah sepuluh menit Maminya menunggu, Papinya selesai mengobrol dengan Pak Alan.
Papi kevin menghampiri mobil! Lalu Papi Kevin, mengagkat tubuh istrinya untuk di dudukan di kursi roda.
"Maaf ya Mih, Papi tadi lupa. Tidak buru-buru keluarin Mami dari dalam mobil.
__ADS_1
"Tidak apa-apa! Tapi jangan di ulang lagi," balas Talia kepada Kevin.
"Tumben?" ucap Carisa. Menatap kedua orang tuanya.
"Tumben apanya, Sayang?" Tanya Papi Kevin.
"Tumben aja? Mami engga marah-marah, sama Papi! Kan biasanya, Mami akan mengomel, jika harus nungguin Papi lama! Iya kan Mih ." Jelas Carisa kepada kedua orang tuanya.
Mami Talia dan Papi Kevin terseyum kaku. Lalu Mami Talia, menjawab?
"Hari ini Mami, tidak ingin marah-marah! Kasihan Papi Kamu. Sedang bayak kerjaan," Jelas Mami Talia. Lalu di balas anggukkan oleh Papi Kevin.
Setelah Papi Kevin sudah mendudukan Mami Talia di kursi roda. Papi Kevin pun, berpamitan! Kepada putri dan istrinya.
"Risa, mih? Papi pergi dulu, dengan Pak Alan. Kalian istirahat di rumah," ucap Papi Kevin, berpamitan.
"Iya Pih, hati-hati di jalan, jangan pulang malam-malam." ucap Mami Talia.
Papi Kevin, mencium kening istri dan anaknya, lalu Papi Kevin pun langsung pergi.
* * *
Semua keluarga Hutomo, sangat cemas dan takut terjadi sesuatu dengan Daffin. Mami Aulia, sangat terpukul ketika mendengar putra sulungnya mengalami kecelakaan! Begitu pula dengan Kakek Ravindra.
Ketika mereka sedang fokus, menatapa pintu ruang UGD? Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Dokter yang menagani Daffin, keluar. Semua keluarga Hutomo berdiri dan menghampiri Dokter itu! Dan menayakan kondisi Daffin.
"Dok? Bagaimana keadaan anak saya," Tanya Mamih Aulia, kepada dokter itu.
Dokter yang menagani Daffin, menghela nafasnya? Karena mendapat tatapan dari semua keluarga Hutomo? Dokter itu pun akhirnya menjelaskan kondisi Daffin.
"Kondisi Pak Daffin sekarang sudah setabil? Tadi beliau sempat kritis. Karena terdapat benturan keras di kepalanya dan tangan kirinya patah. Tapi...? Pak Daffin, sekarang belum siuman dan semoga saja tidak ada gejala-gejala yang serius." Jelas Dokter itu. Lalu Papi Daranedra bertanya.
"Dokter! Saya ingin bertanya? Apa benturan di kepalanya, akan meyebabka Daffin hilang ingatan." Tanya Papi Daradendra dengan sendu.
Dokter itu terdiam sebentar? Lalu menjawa pertanyaan, Daranendra.
"Begini Tuan Daranendra? Saya belum bisa memastikan Pak Daffin, kehilangan ingatannya. Kita bisa memastikanya, setelah Pak Daffin siuman!" Jelas Dokter itu.
__ADS_1
Setelah dokter itu menjelaskan semuanya? Dokter itu berpamita. Sedagkan Daffin, akan di pindahkan ke ruangan khusus. Dan tidak sembarangan orang bisa mengujugi! Mereka hanya bisa melihat Daffin dari kaca besar.
Setelah Dokter itu pergi? Mami Auli, terduduk lemas. Beliau benar-benar takut jika anak sulungnya, benar-benar kehilangan ingatanya. Mami Aulia, tidak bisa membayagkan? Jika Daffin, tidak mengenal anak dan istrinya.
"Pih?" ucap Mami Auli lirih.
"Ada apa Mih,"
"Mami ingin memberi kabar kepa Carisa pih,"
Kake Ravindra yang mendegar menantunya, ingin memberitahu Carisa. Segera menata menantuna tajam.
"Aulia, kamu jangan dulu memberitahu Cariaa tentang kondisi Daffin." Kakek Ravindra menegur menantunya untuk tidak memberitahu Cucu menantu ya.
"Tapi Pih?"
"Tidak ada tapi-tapian Aulia, kamu tahu sendiri kondisi kehamilan Carisa masih rentan. Apalagi Carisa sudah banyak mendapatkan musibah? Yang bisa membuatnya jehilangan janin yang ada di dalam perutnya." Jelas Kakek Ravindra.
Aulia, yang terkena marah oleh Papi mertuanya pun. Hanya bisa diam dan menundukan kepalanya. Papi Daranedra yang melihat istrinya di marahi oleh papinya, hanya meghela nafas! Lalu memeluk tubuh istrinya yang menagis terisak.
Kakek Ravinda, menatap menantunya itu. Belia tadi sedikit terbawa emosi! Bukan maksud unduk memarahi menantunya. Kakek Ravindra akhirnya meminta maaf kepada menantu kesayangannya.
"Maafkan Papi Aulia? Tadi Papi terbawa emosi ketika mendegar, kamu ingin memberitahu Carisa. Tapi menurut Papi, sementara waktu jangan ada yang memberitahu Carisa sampai kondisi kehamilanya setabil dan kuat. Sekali lagi Papi minta maaf," Ucap Kakek Ravindra, dan mengelus kepala menantunya.
Aulia yang mendegar Papi mertuanya meminta maaf? Aulia pun berhenti menagis dan menatap Papi mertuanya.
"Tidak apa-apa Pih! Lia tahu, Papi sangat menghawatirkan Carisa." Ucap Aulia.
Lalu Papi Daranedra, menatap sang Papi. Dan meyuruhnya untuk pulang dan istiraha.
"Pih? Sebaiknya Papi pulang dulu. Biarkan kami yang menunggu Daffin? Papi dan Tristan, pulang saja." Ucap Daranendra, meyuruh Papi nya pulang.
"Tidak? Papi ingin menunggu Daffin siuman," Ucap Kakek Ravindra dengan tegas.
Daranendra, menghela napasnya. Ketika melihat, Papinya menolak untuk pulang. Lalu Daranendra melirik ke arah putra keduanya! Agar bisa membuju Kakeknya untuk pulang. Dengan isyarat matanya? Trista langsung membujuk sang Kakek.
"Kek, apa yang di ucapkan Papi benar. Lebih baik kita pulang saja! Nanti jika Mas Daffin sudah siuman kita kembali lagi ke sini " Tristan mencoba membuju sang Kakek, supaya mau pulang dan beristirahat.
__ADS_1
Setelah mendapat bujukan dari cucu keduanya? Kake Ravindra pun pergi bersama Tristan. Sedagkan Mami Auli dan Papi Daranedra menungu Daffin. Mami Aulia, rencanamya ingin memberi kabar kepada Talia. Tentang kondisi Daffin. Mami Aulia, meghubugi sahabatnya, mengunakan hendphone milik Tristan. Karena aebelum pergi Trista memberikan hendphonenya kepada sang Mami. Karena Mami Aulia, tidak membawa apapun setelah mendegar kabar dari Daffin.
"Pih? Mami akan meghubugi Talia," Ucap Mami Aulia kepada suaminya.