
Carisa menata Zaki yang masih terdiam membisu. Lalu Carisa memohon kepada sang Om untuk tidak menggangu sang Kakek.
"Apa Om, benar-benar tidak memperdulikan keselamatan Kakek lagi. Selama Kakek di rumah sakit, Om menjeguk Kakek! bisa Carisa hitung dengan jari. Risa mohon jangan pernah gangu Kakek! Risa akan melakukan apa pun yang kalian mau." Ucap Carisa dengan berlinang air mata.
Kenzo yang melihat Kakak sepupunya menagis pun. Segera megulurkan tangannya, Kenzo ikut menangis, ketika melihat Kakak sepupunya menagis. Selama ini dia sangat bersalah, kepada Kakak sepupunya ini. Kenzo tidak bisa melindungi Carisa dari amukan Maminya dan sekarang Kenzo benar-benar kecewa dengan sang Mami yang ingin mencelakai Kakeknya.
*
*
*
Sedangkan di kediaman Hutomo? Tristan baru saja keluar dari kamarnya dan langsung turun ke lantai bawah. Ketika dia turun! Di sana sudah terlihat Kakek, Papih dan juga Mamihnya yang sudah rapih dan sepertinya hendak pergi. Tristan mencari keberadaan Carisa yang tidak terlihat batang hidungnya.
"Apa Mba Carisa, sudah berada di taman ya. Aku harus segera memberi tahu Mba Carisa, tentang jebakan yang di buat oleh Rosa, Melly dan juga Alex Ferguson." Ucap Tristan, dalam hati dan hendak melangkah ke arah taman.
Namu langkahnya terhenti ketika Kakek Ravindra memangilnya.
"Tristan?" Pangil sang Kakek.
Tristan yang merasa namanya di pangil pun! Segera menoleh kearah sang Kakek dan lagsung menghampiri.
"Selamat pagi Kek, Mih, Pih?" sapa Tristan dengan sopan.
"Selamat pagi?" jawab Kakek, Papih dan Mamihnya.
Tristan melihat kiri dan Kanan. Tidak terlihat Carisa di rumah itu. Lalu Kakek Ravindra menatap Tristan? Yang sepertinya mencari sesuatu!
"Tristan? Kamu mencari apa." ucap Kakek Ravindra. Lalu Tristan menjawab.
"Aku? Mencari Mba Carisa, Kek." Ucap Trista yang masih mencari keberadaan Carisa.
Kakek Ravindra megkerutkan dahinya. Timben-tumbenan Cucunya ini mencari Carisa.
"Kamu jangan mencari Carisa di rumah? Sampai kapan pun kamu tidak akan menemukannya!" Ucap Kakek Ravindra.
Tristan megkerutka dahinya, Lalu bertanya dengan penasaran?
"Lalu! Mba Risa di mana Kek," Tanya Tristan.
"Carisa sudah pergi kerumah sakit, tadi pagi-pagi sekali? Kakek Yudanta!, masuk lagi ke ruang ICU" Ucap Mamih Aulia.
Tristan terkejut, ketika mendengar Kakek dari sang Kakak ipar, masuk ruang ICU lagi. Lalu bertanya.
"Apa, Kakek, Papih dan Mami akan pergi ke rumah sakit sekarang," Ucap Tristan.
"Ya? Kami akan ke rumah sakit, pasti Carisa sangat terpukul. Pagi-pagi sekali Carisa pergi!" ucap Mami Aulia dengan wajah sedih.
"Kalo begitu Tristan akan ikut ke rumah sakit," ucap Tristan.
Lalu mereka pun segera menigalkan kediaman Hutomo dan langsu pergi menuju Rumah sakit tempat Kakek Ydanta di rawat.
.
.
.
__ADS_1
Sedangkan Daffin? Masih diam di dalam kamar. Daffin mengurung Kanza di kamar mandi. Lalu Daffin pergi ke kamar sebelah. Lebih tepatnya pergi ke kamar Reza! Daffin melihat Reza yang masih tertidur pulas? Daffin melihat ke sekeliling dan melihat masih ada nampan makana, yang mugkin Reza pesan semala? Rupanya obat tidur itu tidak hanya di berikan kepada Dirinya. Tapi Reza juga di beri obat tidur oleh pegawai Alex Ferguso.
"Reza? Cepat bangun kita harus pergi dari sini secepatnya. Bodyguard Tristan akan segera sampai." Ucap Daffin sambil menepuk-nepuk tubuh Reza.
"Ah?" Reza merigis, karena kepalanya sangat pusing.
"Pak Daffin?" Ucap Reza yang kaget karena Kakak bosnya itu sedang berada di kamarnya.
"Maaf Pak? Saya ketiduran semalam dan kepala saya tiba-tiba pusing." Jelas Reza.
Daffin hanya mengagukan kepalanya. Lalu meyuruh Reza segera untuk bersiap-siap.
"Kamu cepat bersihkan diri. Kita harus segera pergi dari hotel ini. Kita kalah cepat dari Alex Ferguso." Ucap Daffin.
Reza membulatkan matanya? Mereka benar-benar sudah kecolongan. Reza pun bertanya kepada Kakak kandung, bos nya itu.
"Apa mereka berbuat sesuatu, kepada Anda" Ucap Reza menatap Daffin penasaran.
"Sepertinya aka tersebar rumor tentangku?" ucap Daffin prustasi.
Ketika Daffin sedang merenugi nasibnya, tiba-tiba saja telpon Daffin berdering dan nomor Tristan yang muncul di layar.
"Kring...kring...kring?"
Daffin segera mengangkat telpon itu?
"Hallo Assalamualaikum Mas," ucap Tristan di sebrang telphone.
"Walaikumsalam," jawab Daffin.
"Mas, maaf aku engga bisa pergi ke Bali dan Mas Daffin cepatlah kembali ke Jakarta, Kakek Yudanta masuk ICU lagi. Mas cepat kembali ke Jakarta." Ucap Tristan dengan sedikit nada khawatir.
"Tidak hanya itu Mas? Mba Carisa dari tadi pagi pergi dari rumah sakit, dan sampai sekarang belum juga kembali." Ucap Tristan khawatir kepada Kakak iparnya.
"Apa?" teriak Daffin.
"Bagaimana bisa Carisa pergi tanpa pengawasan, Bodyguard." Ucap Daffin sedikit meninggikan suarannya.
Padahal Daffin sudah memberi tahu semua keluarganya? Jika Carisa pergi harus ada pengawal ataw sopir yang mengantarkannya. Setelah Daffin mendegar jika Carisa tidak ada di rumah sakit! Daffin khawatir dengan sang istri. Tanpa menunggu lama, Daffin langsung kembali ke kamarnya dan mengabil barang-barangnya.
Ketika Daffin masuk ke kamar? Daffin di sambut dengan teriakan Kanza di dalam kamar mandi.
"Tok...tok...tok, Mas Daffin buka pintunya." Kanza berteriak.
Daffin, sengajamengurung Kanza di kamar mandi? Supaya tidak keluar kamar sampai Daffin benar-benar pergi dari hotel.
Setelah mengemasi barang-barangnya! Daffin langsung keluar tanpa meghirawkan Kanza yang masih berteriak.
Di luar kamar? Sudah ada tiga bodyguard, Tristan yang menunggu dan juga Reza.
"Selamat pagi Tuan Daffin," ucap salah satu Bodyguard. Lalu Daffin mengagukan kepalanya.
Daffin, Reza dan Tiga Bodyguard itu keluar lewat jalur belakang karena sepertinya di luar sudah ada paparazi yang menunggu mereka.
Daffin mengikuti arah keluar Bodyguard Tristan, dan akhirnya bisa keluar dari hotel la*Nat itu lewat jalur belakang.
Daffin terus menelpon Carisa namu nomor nya tidak aktif, Daffin sangat cemas? Dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya.
__ADS_1
Daffin ingin rasanya cepat-cepat sampai di jakarta dan ingin segera menemui sang istri. Daffin takut jika foto ataw vidio yang di buat Oleh Alex Ferguso. Akan sampai ke tangan Carisa dan menjadi salah paham.
Tiga puluh menit kemudian Daffin, sampai di bandara Ngurah Rai Bali dan langsung terbang ke Jakarta. Perasaan Daffin benar-benar tidak enak. Semoga saja tidak terjadi sesuatu.
Setelah satu jam penerbangan! Daffin sampai di Bandara internasional Sukarno Hatta. Setelah turun dari pesawat? Daffin mengambil Telponnya dan meghubugi nomor Carisa kembali. Namun nihil nomor Carisa, masih tidak Aktip. Lalu Daffin menelpon Tristan.
"Hallo, Assalamualaikum Tris?" ucap Daffin.
"Walaikumsalam Mas, bagaimana apa Mas sudah tiba di jakarta." Tanya Tristan.
"Mas sudah tiba di jakarta, dan sekarang sudah berada di dalam mobil." ucap Daffin
"Syukurlah, jika Mas sudah sampai di Jakarta. Kalo begitu sekarang Mas datang ke rumah sakit! Nanti kita cari Mba Carisa. Sama-sama." Jelas Tristan kepada sang Kakak sulung. Lalu Dadfin bertanya.
"Tristan apa Carisa, benar-benar belum kembali ke Rumah sakit." Tanya Daffin, pada Tristan.
"Mba Carisa belum kembali Mas? Kita tunggu saja, sampai nanti siang. Jika tetap tidak di kembali. Baru kita pergi mencarinya." Ucap Tristan mencoba menenangkan Kakak sulungnya.
Daffin mengagukan kepalanya? Daffin benar-bebar sangat cemas dan khawati kepada sang istri? Lalu Daffin berniat, untuk kembali ke Rumah utama Hutomo sebelum pergi ke rumah sakit.
"Tris? Mas pulang dulu sebentar. Setelah Mas Menganti baju Mas baru akan ke rumah sakit." Ucap Daffin meminta izin kepada sang adik.
"Ya sudah? Mas tenagkan pikiran dulu. Jangan berpikir macam-macam! Aku, akan menjadi orang pertama yang akan membela Mas?" Tristan menasehati Sang Kakak.
Selama ini Tristan dan Daffin? Seperti Kucing dan Tikus jika mereka sedang berkumpul dengan keluarganya? Tapi jika sang Kakak! Mendapat masalah Tristan lah yang akan maju, untuk melindungi sang Kakak.
Selama ini Tristan iri dengan prestasi sang Kakak yang kerap mendapat juara? Namun Tristan juga bangga mempuyai Kakak seperti Daffin. Ketika mereka sekolah dulu, Daffin akan membela adik-adiknya! Jika ada yang menggangu sang Adik.
.
.
.
Satu jam perjalanan, tepatnya pu*ul 11.00! Daffin sampai di kediaman Hutomo, dangan lagkah gontai Daffin masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Mbok Imah.
"Selamat pagi menjelang siang, Den?" Sapa Mbok Imah.
Daffin hanya mengagukan kepalanya dan lagsung melewati Mbok Imah! Tapi sebelum Daffin benar-benar menaik ke lantai dua? Lagkah Daffin terhenti ketika Mbok Imah memangilnya kembali.
"Den Daffin? Ada yang ingin Mbok berikan kepada Aden." ucap Mbok Imah serius.
Sebenarnya Daffin sedang malas berbicara dengan orang lain? Tapi karena orang yang ada di hadapannya ini. Telah berjasa dan merawat dirinya sejak kecil? Mau tidak mau Daffin harus meghormatinya.
"Ada apa Mbok?" Ucap Daffin menatap sendu pada Mbok Imah.
"Ada sesuatu yang ingi saya berikan pada Anda? Aden duduk dulu sebentar, barangnya biar saya ambil dulu di belakang." Jelas Mbok Imah dan meyuruh Daffin duduk di kursi singel dekat tangga.
Daffin menghela nafasnya dan langsung duduk di kursi itu. Daffin memijat kepalanya yang terasa sakit. Perasaannya tidak enak? Daffin harus segera menemukan Carisa, jika benar Carisa berada di kediaman Mahendra! Daffin akan segera mejemputnya. Karena sampai sekarang nomor Carisa tidak Aktip.
Setelah menunggu lima belas menit? Akhirnya Mbok Imah kembali dengan membawa kotak persegi. Mbok Imah menghampiri Daffin dan ingin segera memberikan kotak itu. Daffin menatap kotak yang di bawa oleh Mbok Imah?
"Mbok? Kota apa itu," Tanya Daffin penasaran kepada Mbok Imah.
Tanpa berlama-lama! Mbok Imah memberikan kotak persegu itu, kepada Dadfin.
"Aden, saja yang buka? Saya menemukannya kota ini di kamar Anda?" Ucap Mbok Imah terseyum haru.
__ADS_1
Daffin mengambil kotak itu dan langsung membukanya. Ketika kotak itu sudah di buka Daffin terkejut?
"Mbok! Ini kan?"