
Keesokan paginya! Tidur Carisa yang sangat pulas, harus terganggu. Oleh sentuhan-sentuhan lembut di pipi dan rambutnya. Carisa mulai membuka matanya, secara perlahan! Ketika mata itu sudah terbuka sempurna? Carisa, melihat ke atas. Setelah itu memirigkan tubuhnya ke kanan? Namu ketika tubuhnya sudah berbalik? Carisa membulatkan matanya, dengan wajah yang sangat kaget.
Carisa mengusap kedua matanya? Takutnya dia salah lihat, dan mugkin dirinya sedang bermimpi sekarang. Carisa mencubit tanganya yang ternyata dia sedang tidak bermimpi. Setelah itu Carisa banggun? Lalu memundurkan tubuhnya ke belakan dasboard ranjang.
"Siapa kalian? Jika kalian hantu! Jangan mendekat," Denga wajah yang ketakutan? Carisa mengusir dua orang yang sedang berdiri di sana.
Carisa menundukan wajahnya di kedua kakinya yang di tekuk. Dengan rasa takut di hatinya? Carisa sampai tidak ingin melihatnya. Lalu tempa tidur di sebelanya, bergerak dan juga memangil namanya.
"Risa sayang? Kamu jangat takut Nak."
Carisa, yang mendegar dirinya di pangil. Akhirnya mengagkat wajahnya, jujur saja dirinya sangat merindukan dua sosok yang berada di hadapanya ini.
"Risa? Ayok sayang lihat Kami Nak. Kamu jangan takut, kami bukan hantu."
Dengan wajah yang berkaca-kaca Carisa menatap kedua orang itu.
"Ssiapa kalian? Kenapa kalian meyamar menjadi kedua orantuaku. Yang sudah meningal?" ucap Carisa, dengan air mata berlinang.
Papi Kevin dan Mami Talia? Saling melirik. Lalu MaminTalia menciba membuju putrinya.
"Risa? Ini Mami dan Papi! Kami belum menigal, sayang!"
Lagi-lagi Carisa di buat terkejut, mendegar pengakuan orang itu. Mana mugkin Mami dan Papinya belu meningal.
"Bohong?" teriak Carisa.
Carisa tidak ingin lagi berharap terlalu jauh? Selama dua tahu ini! Dirinya, selalu berharap bisa menemukan tubuh sang Papi? Yang hanyut di sungai. Carisa juga melihat dengan mata kepalanya sendiri? Tubuh sang Mami, terpanggan hagus di dalam mobil.
Laki-laki paruh baya itu tiba-tiba saja mengkampiri Carisa dan duduk di sisi ranjang Carisa? Namu Ketika laki-laki itu ingin memegang tangannya. Carisa meghindar dan memudurkan tubuhnya ke belakang? Papi Kevin yang melihat sang anak ketakutan, akhirnya membujuknya.
"Sayang? Ini Papi, Nak. Kami masih hidup? Maafkan Kami, karena telah meningalkan kamu sendir di rumah Kakek."
Carisa masih belum percaya jika kedua orang itu adalah orangtua kandungnya? Sekarang Carisa sudah benar-benar ikhlas menerima takdirnya, dan tidak mau lagi berharap terlalu jauh.
Papi Kevin, terus membujuk Carisa! Untuk percaya kepadanya. Mami Talia, sudah menagis? Melihat sang putri tidak mempercainnya.
"Sayang? Ini benar-benar Mamih Nak,"
Carisa hanya menatap lurus ke arah suara wanita paruh baya, yang sangat dia rindukan. Akhirnya, Papi Kevin menjelaskan kepada Carisa secara pelan-pelan! Alasan mereka menigalkannya. Tadinya Papi Kevin ingin memberi tahu, masalah ini di waktu yang tepat! Tapi melihat Carisa tidak percaya dan ketakutan? Mau tidak mau harus menceritakanya sekarang.
__ADS_1
Karena Papi Kevin tidak mau kesahatan sang istri yang baru saja sembuh, menjadi menurun! Dan kesehatan putrinya, juga ikut menurun karena ketakutan.
* * *
Setelah mendengar alasan dari kedua orang tuanya? Akhirnya Carisa pun luluh, dan mempercainya. Carisa langsung memeluk sang Papi dan Maminya. Carisa, sangat bahagia ternyata dirinya! Tidak sendiri dan kedua orangtuanya, ternyata masih hidup.
"Maaf?"
Carisa meminta Maaf? Kepada Mami dan Papinya. Karena sempat tidak percaya kepada mereka.
"Tidak sayang? Kamu tidak salah, semuanya wajar. Jika kamu ketakutan, karena ini juga salah Kami." Ucap Papi Kevin.
Carisa mengeratkan pelukanya, dan meyenderkan kepalanya di dada bidang sang Papi. Sedangkan Mami Talia, mengelus rambut sang putri.
"Pih?"
"Iya Sayang,"
"Aku ingin mengujugi makam Kakek?" ucap Carisa sendu.
Papi Kevin mengurai pelukanya, lalu menghela napasnya dan mengusap kepala anak sematawayangnya, lalu berucap.
Carisa pun akhirnya, mengagukan kepalanya dan memeluk sang Papi kembali. Karena tubuhnya merasa masih lemas Carisa, meminta kedua orang tuanya untuk menemaninya tidur.
"Mih, Pih? Temenin Risa tidur. Risa masih kangen sama kalian." Papi Kevin dan Mami Talia pun terseyum melihat sang putri kembali manja.
"Baiklah Papi dan Mami akan menemani kamu tidur."
Setelah kedua orangtuanya setuju? Carisa mengeser tubuhnya ke tengah kasur. Lalu Papi Kevin memindahkan Sang Istri, dari kursi roda dan mendudukannya, di kasur Carisa sebelah kanan. Setelah Mami Talia, merasa sudah nyaman. Papi Kevin pun pergi ke sebelah kiri tempat tidur Carisa.
Carisa memeluk sang Mami dan sangat merindukan bermanja-manja dengan kedua orangtuanya.
"Mih? Maafin Risa ya! Karena sempat tidak percaya sama kalian." Ucap Cariaa, sambil memeluh Maminya.
"Tidak apa-apa sayang? Sekarang kamu janganbanyak pikiran. Ada Papi dan Mami di sisi kamu." Ucap Mami Talia sambil mengusap rambut anak sematawangnya.
Tiba-tiba saja? Carisa meneteskan air matanya. Papi Kevin yang sangat peka. Langsung mengusap air mata sang putri.
"Kenapa menagis sayang?" Tanya Papi Kevin.
__ADS_1
"Hiks...hiks...?"
"Sayang! Kamu kenapa, ayok cerita sama mami."
"Hiks...? Pih," ucap Carisa.
"Iya sayang ada apa?"
"Risa ingin bercerai dengan Mas Daffin? Dia sudah menghianati Risa. Foto-fotonya bersama Kanza, tersebar di media sosial. Aku tidak mau mampuyai suami tukang seligkuh. Walapun Risa sedag hamil! Risa bisa membesarkannya sendiri tanpa seorag ayah. Hikss." Tangisa Carisa semakin kencang? Mugkin akibat bawaan hamil, yang menjadikan Carisa. Gampang menagis.
Papi kevin meghela nafas panjang. Sebenarnya Papi Kevin sangat marah. Ketika melihat foto-foto menantunya sedang tidur bersama perempuan lain tersebar di segala media. Namun ketika melihat Carisa meminta cerai. Itu juga bukan perkara yang mudah, Karena Papi Ravindra tidak akan setuju jika Carisa dan Daffin bercerai.
"Sayang? Coba kamu pikir-pikir lagi. Kakek Ravindra tidak akan mengizinkan kalian untuk bercerai " Ucao Papi Kevin lembut, supaya sang anak tidak tersulut emoasi.
Carisa bangun dari pelukan sang Mamin dan memposisikan tubuhnya menjadi duduk meghadap sang Papi.
"Pih? Pernikaha Risa dan Mas Daffin. Bukan berawal saling mencintai? Tapi karena Kakek, yang memaksa Carisa untuk menikah denga Mas Daffin." ucap Carisa, yang semakin menagis.
Papi Kevin memeluk putrinya dan mengekus punggung Carisa. Begitu juga dengan Mami Talia.
"Sayang? Kamu tidak bisa bercerai sekang. Karena kamu sedang mengandung anak Daffin! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bukanya Kamu sudah sangat mencintai Daffin dan menerima pernikahan yang sudah Kakek Yudanta rencanakan." Papi Kevin, terus menenagkan Carisa.
"Tapi Pih?"
"Tidak ada tapi-tapian. Sebenarnya, Papi sangat bersyukur kamu menikah dengan Daffin. Tapi jika benar, Daffin meghianati kamu? Papi akan meghajar Daffin sampai babak belur," ucap Papi Kevin, yang mencoba menakut-nakuti Carisa.
Carisa yang mendegar jika sang Papi akan memukul Daffin pun merasa terkejut. Carisa tidak bisa membayagkan? Melihat wajah suaminya babak belur di tangan sang Papi. Lalu Carisa meggelengkan kepalan, sambil meghayalkan wajah Daffin yang babak belur.
"Tidak,"
Carisa sedikit berteriak, yang membuat kedua orang tuanya binggung. Papi Kevin dan Mami Talia saling melirik.
"Ada apa sayang," tanya Mami Talia.
Carisa sedikit gelagapan, ketika sang Mami bertanya.
"Tidak apa-apa Mih," jawab Carisa.
"Kruekkk?"
__ADS_1
"Kruekkk?"