DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin

DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin
BAB 82


__ADS_3

"Tapi Mih? Papi takut jika Carisa akan curiga. Sementara waktu, kita sembuyikan dulu masalah ini kepada Carisa! Karena Papi juga sudah memberi kabar kepada Kevin? Dan rencananya Kevin dan Pak Alan akan datang kesini."Ucap Papi Daranedra.


Mami Aulia pun hanya mengaggukan kelalanya, dan mengerti maksud suaminya. Mami Aulia, terus saja fokus kearah ponsel milik Tristan? Mami Aulia, tidak bisa, jika hanya terus diam? Tangannya, sangat gatal dan ingin memberi tahu kabar Daffin, kepada Talia? Tanpa sepengetahuan Suaminya. Msmi Aulia mengirim vh trus


'Asalammualaikum Talia?'


'Ini Aku Aulia? Maaf aku memakai ponsel Tristan. Tadi tidak sempat membawa ponsel.'


'Lia ada sesuatu yang ingin aku beritahukan? Daffin kecelakaan dan sekarang sedang kritis. Lia tolong jaga Carisa! Jang sampai Carisa tahu keadaan Daffin. Jangan sampai dia bermain sosial media, ataw pemberitaan di Tv tentang Daffin? Saya takut Carisa akan drop lagi.'


'Lia? Saya titip Carisa, nanti setelah Daffin siuman. Saya janji akan menjemput Carisa, dan tidak akan meyembuyikanya lagi dari Daffin.'


Begitulah pesan yang di kirim Aulia untuk sahabatnya, sekaligus mertua dari anak sulungnya.


Sedagkan Andi, yang tadi memberi kabar kepada Tristan! Jika Bosnya, mengalami kecelakaan beruntun pun. Belum bisa pergi ke rumah sakit. Karena ada beberapa berkas penting yang harus di selesaikan dan rencananya, setelah selesai semua berkas-berkasnya. Andi akan pergi ke rumah sakit? Untuk mengetahui kondisi Bosnya.


* * *


Sedagkan Kevin dan Pak Alan? Sekarang sedang berada di dalam mobil. Menuju rumah sakit, tempat Daffin di rawat. Kevin sudah tidak sabar! Ingin mengetahui kabar menantunya. Kevin sengaja tidak menayakan kondisi Daffin lewat telpon! Setelah empat puluh lima menit. Kevin dan Pak Alan, sudah sampai di rumah sakit! Tempat Daffin di rawat.


Kevin dan Pak Alan, langsung menuju Resepsionis! Untuk menayakan, kamar tempat Daffin di rawat.


"Permisi suster? Saya mau tanya, pasien korban kecelakan, yang bernama Daffin. Di rawat di kamar nomor berapa ya," Tanya Pak Alan kepada suster itu.


"Tunggu sebentar ya Pak! Saya akan Cek dulu," ucap suster itu.


Setelah menuggu lima menit. Suster itu pun memberi tahu kamar Daffin.


"Pasien yang bernama Daffin, sekarang di rawat di ruangan VVIP di lantai lima, nomor kamarnya 105." Jelas suster itu.


"Oh, trimakasi suster," ucap Pak Alan.


Lalu Pak Alan dan Kevin menuju Lift dan mereka menekan nomor lantai lima. Setelah sampai di lantai lima, mereka pun segera mencari nomor kamar Daffin? Setelah sampai di depan pintu kamar rawat Daffin. Mereka pun membuka pintu itu. Terlihat di dalam kamar kecil yang terhalang oleh kaca besar! Daffin tengah berbaring, dengan alat-alat di tubuhnya.


Kevin dan Pak Alan, melihat Auli dan Daranedra? Yang menata kosong ke arah putra sulungnya. Yang terhalang kaca besar.


"Nendra, Lia?" Kevin memangil kedua sahabatnya.


Daranendra dan Aulia baru tersadar? Jika Kevin dan Pak Alan. Sudah berada di ruangan itu.


"Kevin! Kapan kamu datang," ucap Daranendra.


"Kami baru saja sampai. Bagaimana kondisi Daffin? Apa ada luka yang serius!" Tanya Kevin kepada besannya.


Daranendra, menatap Daffin. Yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lalu menjawab pertanyaan Kevin.

__ADS_1


"Dokter mengatakan? Kondisi Daffin sudah stabil. Ketika Daffin pertama masuk ke ruang UGD, Daffin sempat kritis. Kepala Daffin, terbentur sangat parah dan tangan sebelah kirinya patah! Tapi kami sekarang, sangat meghawatirkan! Jika Daffin, hilang ingatan." Jelas Daranendra.


Kevin yang mendegar, penjelasan dari Daranendra pun hanya bisa diam membisu. Ada rasa bersalah kepada Daffin, karena telah meyembuyikan Carisa. Karena Daffin sangat merindukan putrinya? Daffin mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Ketika Kevin sedang menatap ke arah Daffin. Auli bertanya, kepada sahabatnya itu.


"Bagaimana keadaan Carisa, apa kamu sudah mengatar dia ke Dokter kandungan," Tanya Aulia.


Kevin menoleh, ke arah kedua sahabanya duduk di sopa sebelah Pak Alan.


"Tadinya, setelah kami selesai dari pemakaman. Rencananya, Saya akan membawa Carisa, untuk di periksa. Ke Dokter Kandungan Elina. Tapi ketika Pak Alan memberitahu saya? Jika Daffin, menjadi salah satu korban kecelakaan itu, dan di rawat di rumah sakit ini! Akhirnya, Saya membatalkan. Untuk memeriksa kandunga Carisa." Jelas Kevin.


Mami Aulia mengkerutkan dahinya? Lalu bertanya kembali.


"Kenapa kamu membatalkannya? Kevin, aku tudak mau terjadi sesuatu kepada Carisa dan kandungannya. Saya menyayagi mereka berdua." Ucap Aulia, dengan air mata yang sudah berkaca-kaca.


Kevin menghela nafasnya? Lalu menjawab lagi. Ucapan Aulia.


"Karena itu saya membatalkannya? Karena Dokter Elina hari ini sedang bertugas di rumah sakit ini. Saya takut! Jika Saya membawa Carisa, ke rumah sakit ini. Dia akan bertemu dengan salah satu yang dia Kenal. Lalu Carisa, mengetahui kondisi Daffin? Berhubung kandungannya masih lemah dan masi rentaan. Jadi sementara waktu, tolong rahasiakan dulu dari Carisa." Ucap Kevin sendu.


* * *


Satu minggu sudah berlalu? Daffin masih setia dengan tidur panjangnya. Kevin selama satu minggu ini, selalu mengujugu Daffin. Kevin terus datang ke rumah sakit! Hanya untuk melihat kondisi menantunya.


Kevin benar-benar merasa bersalah kepada Daffin! Karena telah meyembuyikan Carisa. Walapun kesalahannya tidak semuanya, salah dirinya. Tapi tetap saja dirinya merasa bersalah! Kevin selama tiga hari ini, tidak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaanya.


Kevin melihat pergelangan tangannya, dan melihat jam mewah milinya. Jam madih menujukan pu*ul 03.30. Kecin menyenderkan tubuhnya si kursi kerjanya? Kevin terus saja berpikir bagaimana dia memberitahu Carisa, tentang kondisi Daffin. Kevin tidak sanggup, melihat putri kesayanganya menagis dan bersedih.


'Took,'


'Took,'


'Took,'


Suara ketukan pintu dari luar? Kevin langsung menyuruhnya masuk.


"Masuk Pak Alan," Teriak Kevin dari dalam.


Laki-laki paruh baya itu masuk! Lalu meghampiri Kevin dan duduk di depanya. Kevin sangat meghormati Pak Alan. Menurut Kevin, Pak Alan tempatnya untuk berkeluh kesah. Pak Alan yang selalu menasehatinya, ketika dirinya sedang ada masalah.


"Ada apa Pak Kevin, andaemangil saya." Tanya Pak Alan, sopan.


Kevin menghela nafasnya? Sebenarnya Kevin ingin membicarakan, masalah ini dengang Pak Alan! Tiga hari yang lalu. Tapi karena, mereka berdua sama-sama sibuk. Kevin tidak sempat, dan hari ini barulah dia sempat mengobrol dengan Pak Alan.


"Pak? Tolong beri saya saran, untuk menjelaskan kepada Carisa. Tentang kondisi Daffin.Mugkin saja, jika Carisa datang ke rumah sakit! Daffin akan cepat bangun." Ucao Kevin prustasi.


Pak Alan, menghela nafas panjang? Untuk masalah yang satu ini. Memang sangat beresiko, Pak Alan pun tidak tahu bagaiman memberi saran.

__ADS_1


"Untuk masalah yang ini? Saya tidak bisa memberi saran. Karena terlalu berresiko untuk Nona Carisa, apalagi Nona Carisa! Jangan sampai stres dan banyak pikiran. Yang bisa membahayakan kandungannya!" Jelas Pak Alan.


Apa yang di bicarakan oleh Pak Alan! Memang ada benarnya. Terlalu beresiko untuk memberitahu Carisa tentang Kondisi Daffin. Pak Alan lalu memberi saran kepada Kevin, untuk membicarakanya dwngan Talia.


"Coba Pak Kevin, bicarakan masalah ini dengan Nyonya Takia." Saran Pak Alan.


Kevin, terdiam sebentar! Lalu mengangguk kepalanya. Setelah itu Kevin berpamitan kepada Pak Alan, untuk segera pulang.


"Kalo begitu saya pamit pulang ya Pak," Ucap Kevin berpamitan.


* * *


Setelah menempuh waktu satu jam! Kevin sampai di rumahnya! Kevin lamg masuk dengan tergesa-gesa, dan menayakan keberadaan istrinya.


"Mba? Nyonya di mana." Tanya Kevin kepada salah satu Maidnya.


"Ada di Kamarnya, Tuan." Ucap Maid itu.


Kevin lagsung menaiki tangga dengan lagkah lebarnya? Supaya cepat sampai di kamarnya. Setelah sampai di depan pintu kamarnya? Kevin masuk dan tidak menutup rapat pintu kamarnya.


Setelah Kevin berada di dalam kamarnya. Keving meghampiri Talia, yang sedang membaca buku di atas tempat tidur.


"Sayang?" ucap Kevin.


Talia, mengkerutkan dahinya? Tumben sekali suaminya itu pulang cepat.


"Pih? Ada apa, tumben banget pulang sore." Ucap Talia penasaran.


Kevin duduk di hadapan istrinya. Lalu menatap lekat wajah canti istrinya. Lalu Kevin mulai membicarakan keinginya.


"Mih? Sudah tiga hari. Papi tidak fokus bekerja. Papi terus saja merasa bersalah kepada Daffin, karena telaheyembuyikan Carisa." Ucap Kevin sendu.


Talia yang mendengarkan suaminya merasa bersalah, lalu bertanya. Apa yang ining di lakukan olehnya. Untuk menebus rasa bersalahnya.


"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sayang, semuanya sudah terjadi. Dan ini musibah bukan murni kesalahan kamu! Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah." Ucap Talia sambil mengelus pipi Suaminya.


Kevin, terdiam sebentar. Kevin, akan mencoba berbicara dengan Carisa dan memberi tahu kondisi Daffin sebenarnya.


"Papi, akan mencoba berbicara kepada Carisa! Dan memberitahu kondisi Daffin sekarang." ucap Kevin.


"Tapi pih itu beresiko? Mami takut terjadi sesuatu." ucap Talia khawatir.


"Mih? Mugkin saja jika Carisa datang, menemui Daffin. Menantu kita akan cepat bangun dari komanya." ucap Kevin.


"Ta...?"

__ADS_1


"Prangggg...?"


__ADS_2