
Mereka hanya melihat danau itu, sudah sepi. Tidak terlihat satu orang pun di sana! Ketika Daffin? Tidak melihat Carisa di sana.
"Aaaarrrrggggg?"
Daffin, berteriak di Danau itu. Dia benar-benar prustasi harus mencari Carisa kemana lagi. Daffin menekuk lutut di tanah hijau itu dan Menagis tersedu-sedu.
Tubuh Daffin bergetar sangat hebat? Karena dirinya menagis. Ini kali pertamanya Daffin menagis tersedu-sedu? Karena takut kehilangan Carisa dan anaknya.
"Aku mohon jangan tinggalkan Aku, kalia berdua sangat berharga," gumam Daffin yang masih menagis.
Amelia yang melihat Daffin putus asa pun, menjadi merasa iba. Lalu Amelia berkata.
"Mas Dafffin jangan putus asa. Ayok kita kembali ke rumah sakit. Mugkin saja Carisa sudah kembali ke kesana?" ucap Amelia yang berdiri tidak jauh dari Daffin.
Daffin, berhenti menagis? Lalu menatap ke arah Amelia! Daffin lagsung berdiri dari tempat dia berlutut.
Daffin memgagukan kepalanya, dan lagsung megiyakan ucapan Amelia.
"Benar ? Mugkin saja Carisa sekarang sudah kembali ke Rumah sakit." ucap Daffin.
"Kalo begitu! Ayok kita ke rumah sakit." jawab Amelia, akhirnya mereka berdua pun segera pergi dari Danau itu.
Mereka akhirnya pergi dari danau itu. Dan lagsung segera menuju mobil! Namun ketika Daffin ingin meyalakan mobil? Telponya berdering, Daffin mengambil telponnya di saku celananya, danelihat siapa yang menghubunginya! Tenyata Tristan yang menghubunginya.
"Hallo? Assalamualaikum,Tris?"
"Walaikumsalam,"
"Ad apa?"
"Mas? Sekarang Mas sedang di mana, apa Mas sudah mengecek internet?" tanya Tristan.
"Mas belum sempat membuka telpon! Karena Carisa Belum ketemu? Mas harus segera menemukan mereka," jawab Daffin lirih.
Tristan mengerti perasaan Kakak sulungnya. Yang sudah di fitnah oleh, mantan rekan bisnisnya. Lalu Tristan menyarankan Daffin? Untuk pulang saja ke rumah.
"Mas? Lebih baik Mas jangan ke rumah sakit dulu. Suasananya sedang kacau? Foto-foto Mas, yang sedang bersama Kanza di atas tempat tidur. Sudah di sebar! Di internet. Sepertinya Alex sudah tidak sabar ingin meghancurkan perusahaan Hutomo Group." jelas Tristan dengan jelas.
Daffin hanya terdiam? Dia tidak menyangka aka di fitnah sekeji ini. Daffin kira foto-foto itu hanya sebuah gertakan saja. Ternyata Alex benar-benar memfitnahnya. Daffin megepalkan sebelah tanggannya, ada rasa ingin meghajar Alex sekarang juga.
"Hallo Mas, Mas Daffin?"
Lamunan Daffin tersadar karena Tristan terus memangil-mangil namanya.
"Mas Daffin kok malah beggong? Ayok nyalakan mobilnya kita pergi ke rumah sakit." Suara Cempreng Amelia terdegar di sebelah Daffin.
"Hallo Mas Daffin? Apa Mas sedang bersama Amelia." Tanya Tristan.
"Iya,"
__ADS_1
"Berikan telponnya kepada Amelia,"
Daffin lagsung memberikan telponnya kepada Amelia? Sedangkan gadis itu mengkerutkan dahinya.
"Kenapa di berikan kepada aku?" tanya Amelia.
Amelia mengambil hendphone milik Daffin lalu mengucap salam.
"Assalamualaikum," ucap Amelia sedikit ketus.
"Walaikumsalam! Hey Kamu."
"Siapa? Yang Kamu tunjuk, saya punya nama." ucap Amelia Kesal karena Tristan.
Terdegar helaan nafas Tristan di telpon milik Daffin. Ya Tristan menahan emosinya?
"Kamu, Amelia? Bawa mobil Mas Daffin ke rumah orang tua saya." Ucap Tristan, meyuruh Amelia untum membawa mobil. Tanpa embel-embel minta tolong.
Amelia memutar matanya dengan malas, ketika mendegar ucapan Tristan.
"Emangnya Kamu siapa nyuruh aku bawa mobil. Kan ada Mas Daffin." ucap Amelia tidak suka.
"Hey Kamu? Mas Daffin sedang syok. Jika kamu masih ingin selamat. Kamu bawa mobil Mas Daffin." ucap Tristan dan lagi-lagi tidak memangil nama Amelia.
Amelia semakin emosi! Ingin sekali dirinya mencabik-cabik wajah Tristan yang sangat menyebalkan itu. Lalu Amelia melirik Daffin yang masih terdiam sendiri.
Daffin meggelegksn kepalanya ketika Amelia bertanya. Akhirnya, Amelia pun meyetir mobil itu. Sesuai perintah Tristan.
"Hallo? Aku akan meyetir ke rumah keluarga Kamu." Ucap Amelia sambil turun dari mobil.
"Cklik?"
"Dasar tidak sopan, bukannya mengucap salam. Emang kamu itu manusia es, nyebelin, cerewet." Amelia mengumpat Tristan, di depan telpon yang sudah mati itu.
Amelia lagsung berjalan ke arah pintu mobil yang di duduki Daffin, dan membuka pintu sedikit kasar. Lalu Amelia mencibir Tristan di depan Daffin.
"Adiknya, Mas Daffin itu tidak sopan. Nyebelin!" ucap Amelia sambil menunggu Daffin turun.
Setelah itu, Daffin turun? Amelia segera naik ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Amelia menatap Daffin yang masih terdiam dan tidak masuk ke dalam mobil. Amelia meghela nafas kasar. Lalu bergumam?
"Risa? Kamu di mana, kenapa kamu meghilang begitu saja!" gumam Amel.
Lalu Amelia menekan Klason mobil, supaya Daffin tersadar.
"Tinn ...tinn...tinn."
Amelia menekan klakson mobil tiga kali. Daffin pun menoleh, dan melihat Amel melambaikan tanggannya untuk segera masuk. Daffin pun akhirnya tersadar! Ada rasa takut, cemas di pikiran Daffin. Sekarang di otaknya, hanya ada Carisa? Daffin berpikir bagaimana jika Carisa melihat foto-foto itu di internet.
Apakah Carisa akan meninggalkannya? Daffin menggelengkan kepalanya dan menepis hal buruk itu. Daffin berjalan ke samping mobilnya dan duduk di sebelah Amel.
__ADS_1
"Lagi mikirin apa sieh Mas Daffin, jangan benggon di danau nanti kesurupan kan ngeri." ucap Amel.
Daffin hanya diam saja? Lalu Amelia segera menyalakan mobil milik Daffin dan segera menuju rumah Keluarga Hutomo.
.
.
.
Sedagkan di jalan raya? Carisa yang berada, di dalam mobil. Merasakan perutnya benar-benar di aduk! Apalagi mobil yang di bawa oleh Bodyguard Melly! Di lajukan dengan kecepatan tinggi? Mereka meyetir dengan kecepatan tinggin! Karena ada mobil lain yang mengikuti di belakang mobil yang di tumpagi Carisa.
Carisa, yang sejak tadi menahan mual. Sudah tidak tahan lagi, untuk mengeluarkan isi perutnya. Carisa pun lagsung memuntahkan isi perutnya di dalam mobil.
"S**l nieh cewe? Kenapa muntah di dalam mobil," Teriak salah satu Bodyguard Melly.
Mereka semakin menambah kecepatan mobilnya? Carisa, benar-benar sudah sangat pusing apalagi, dirinya memang belum makan dari tadi pagi, dan Melly juga tidak memberi makan. Tapi Kenzo sempat memberikan coklat yang berada di kamarnya, lalu memberikan kepada Carisa.
FLASHBACK KETIKA DI KURUNG DI KAMAR.
"Mba Carisa kenapa?" Tanya Kenzo khawatir.
"Mba lapar Kenzo? Sekarang, Mba sedang hamil," ucap Carisa yang membuat Kenzo dan Omnya terkejut.
"Mba Risa hamil?" ucap Kenzo, lalu melirik sang papih.
Kenzo pun berdiri untuk mengambil sesuatu di laci meja belajarnya.
"Tunggu sebentar, ya Mba? Kenzo cari cemilan dulu. Barangkali masih ada sisa." Kenzo berjalan ke meja belajarnya, mugkin saja masih ada cemilan.
Ketika Kenzo sampai di meja belajarnya. Kenzo membuka laci kecil! Yang biasa dirinya meyimpan cemilanya. Kenzo melihat ada satu jus, dua coklat dan satu snack. Lalu Kenzo mengambil itu semua dan lagsung meghampiri Carisa.
"Mba? Aku cuman punya ini, Mba makan yang ada saja ya. Nanti pas Mamih buka pintu! Nanti kita minta makana." ucap Kenzo.
Carisa mengambil semua pemberian Kenzo. Ketika Carisa membuka coklat? Dia merasa tidak tega, jika harus makan sendiri. Carisa pun memberikan Coklat yang satunya lagi kepada Kenzo.
"Ini satu coklat buat kamu?" ucap Carisa, lalu memberikan coklatnya kepada Kenzo.
Kenzo hanya menatap sendu kearah Carisa? Lalu melirik ke arah Papihnya. Lalu Kenzo berucap di dalam hatinya.
"Ya tuhan, saya sangat malu! Kenapa hati Mba Carisa sangat mulia sekali! Kenapa, Mamih selalu berbuat jahat kepada Mba Carisa. Aku benar-bebar malu ya tuhan?" ucap Kenzo di dalam hatinya.
Kenzo meneteskan air matanya, Kenzo berpikir? Dalam situasi seperti ini saja, Carisa masih bisa berbagi dengannya.
"Kenzo? Kenapa kamu menagis." tanya Carisa yang melihat Kenzo meneteskan air matanya.
Zaki yang sejak tadi diam pun, menatap ke arah Kenzo. Seolah-olah di tahu apa yang di rasakan oleh Kenzo. Selama ini Kenzo sering mengingatkan dirinya! Jangan terlalu mengikuti keinginan istrinya. Tapi Zaki selalu tidak pernah mengagap ucaoan Kenzo. Apalagi setelah tahu jika Kanza bukan anak kandungnya. Zaki menepuk pundak Kenzo, lalu Zaki menatap Carisa dengan Sendu.
"Maaf?"
__ADS_1