DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin

DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin
BAB 44


__ADS_3

"Mbo, siapkan saja bahan-bahanya. Biar nanti Saya yang akan menggoreng pisang nya." Ucap Daffin acuh sambil menatap ke sembarang arah.


Mbok Imah membulatkan matanya! Merasa tidak percaya tuan mudanya ini ingin membuat pisang goreng.


"Tapi Den? Apakah Aden bisa mengorengnya." Ucap Mbok Imah dengan hati-hati.


Daffin megkerutkan dahinya. Dan wajahnya tiba-tiba saja menjadi muram, karena Mbo Imah menayakan apakah dirinya bisa membuat pisang goreng? Mbok Imah yang melihat raut wajah Daffin, yang berubah menjadi muram pun akhirnya berucap kembali.


"Maaf Den? Maksud Mbok begini. Mbok hanya takut Aden kesusahan, jadi biar Mbok saja yang membuatnya." Ucap Mbok Imah hati-hati, Karena takut salah bicara lagi.


Daffin pun meggelegkan kepalanya Dan menolak tawaran dari Mbok Imah?


"Saya bisa sendiri, tolong Cepat siapkan baha-bahannya." Ucap Daffin dingin.


Mbok Imah meghela nafasnya lalu mengangukan kepalanya dan segera pergi ke dapur. Dan segera meyiapkan bahan-bahan untuk membuat pisang goreng. Setelah selesai meyiapkan bahan-bahan! Mbok Imah pun meghampiri Daffin kembali.


"Den? Bahan-bahanya Sudan siap silahkan Den?" Daffin yang mendegar Mbok Imah memangilnya kembali. Daffin pun menoleh ke arah Mbok Imah? Dan megagukan kepalanya.


Daffin beranjak dari duduknya dan segera pergi ke dapur bersih. Setelah sampai di dapur? Daffin melihat bahan-bahan untuk membuat pisang goreng. ternyata sangat banyak dan binggung bagai mana cara mencampurnya. Daffin melirik sekilas ke arah Mbok Imah?


Mbok Imah, yang di lirik oleh Daffin pun akhirnya megerti Maksud lirikan dari Daffin.


"Oh iya Den, ini bahan-bahan untuk membuat Pisang goreng. Apa mau Mbok bantu untuk mencapurkan bahan-bahannya."


Daffin yang sempat binggung? Cara mecampurkan bahan-bahan itu pun, akhirnya megangukan kepalanya. Setelah menerima tawaran dari Mbok Imah.


Mbok Imah dengan telaten, memasukan satu per satu bahan-bahan untuk membuat pisang goreng. Setelah itu Mbok Imah memotong pisang menjadi tiga bagian dan tidak lupa memanaskan minyan untuk menggorengnya. Setelah selesai semuanya Mbok Imah masih berdiri di samping Daffin.


Daffin megkerutkan Dahinya, Lalu berkata dalam hatinya. "Kenapa Mbok Imah, masih disini Sieh."Grutu Daffin dalam hati.


Mbok Imah binggung kenapa tuanya belum juga mulai. Padahal minyak sudah panas! Lalu Mbok Imah bertanya?


"Aden? Kenapa masih belum mulai juga. Itu minyak sudah panas." Ucap Mbok Imah.


Daffin melirik pada minyak yang sudah panas. Dia binggung lagi, harus bagaimana sekarang. Mbok Imah melirik pada Daffin yang masih diam. Mbok Imah pun mencoba bertanya kembali.


"Den, apa mau Mbok contohkan dulu! Biar Aden engga binggung?" Mbok Imah tahu Jika tuan mudanya ini sedang binggun.

__ADS_1


Lalu Daffin pun megangukan kepalanya dan memberikan wadah yang berisi adonan pisang goreng. Mbok Imah langsung mencobtohkan kepada Tuan mudanya itu.


Daffin terus memperhatikan gerakan Mbok Imah. Setelah Mbok Imah memberi contoh! Daffin meyuruh Mbok Imah dan temannya untuk pergi dari Dapur.


"Mbok dan teman Mbok tingalkan dapur ini saya mau masak sendiri. Jangan sampai ada yang masuk," Daffin berucap dingin.


Mbok Imah pun mengiyahkan dan tidak membantah. Mbok Imah langsung pergi dari dapur bersih dan dia, mengintip dari balik pintu keluar? Yang ternyata Ani berada di sana.


"Mbok? Kok keluar, kenapa malah di tingal Tuan mudanya." bisik Mba Ani. Mbok Imah meghela nafasnya. Lalu menjawab pertanyaan Ani.


"Ya mau bagaimana lagi Ani! Mbok di usir, engga boleh berada di sana." Ucap Mbok Imah.


Sebenarnya Mbok Imah khawatir pada tuan mudanya. Ini kali pertamanya Tuan mudanya berada di dapur. Belum lama Mbok Imah pergi tiba-tiba saja sudah tercium samar-samar bau gosong.


"Mbok? Ini bau gosong apa ya?" Ucap Ani.


"Astagfirullahaladzim?"


.


.


.


"Astagfirullahaladzim, Daffin Pratama Hutomo?" Mamih Aulia berteriak, memangil nama legkap putra sulungnya. Dapur kesayangannya. Yang Tadinya bersih sekarang seperti kepal pecah. Karena semuanya itu ulah Daffin.


Daffin, terseyum ketika melihat sang Mamih. Tanpa rasa bersalah! Mamih Aulia langsung meghampiri putra sulungnya dan langsung mematikan kompor yang meyala.


"Astagfirullah, Daffin? Kamu mau bikin dapur Mamih hancur. Kamu itu sedang apa hah. Mana Mbok Imah! Kenapa tidak ada di sini." Mbok Imah, yang namanya di sebut pun lagsung masuk. Setelah mendengar teriakan dari nyonya nya itu.


"Maaf? Nyonya." Ucap Mbok Imah, karena takut Nyonya itu marah besar.


"Mbok, kenapa dapur seperti kepal pecah?" Ucap Mamih Aulia.


Walapun Mamih Aulia merasa kesal dan marah, karena dapurnya berantakan. Tapi Mamih Aulia tidak bisa menyalahkan kedua Maidnya, yang bertangung Jawab di dapur. Karena ini semua bukan ulah mereka. Tapi ulah anaknya.


"Maaf? Nyonya, tadi tuan Daffin ingin membuat pisang goreng. Mbok sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi Tuan muda menolaknya." Mbok Imah menundukan kepalanya. Karena takut Nyonya marah.

__ADS_1


Mamih Aulia meghela nafasnya? Lalu melirik Daffin yang masih diam di dekat kompor. Mamih Aulia melihat pisang goreng yang sudah berwana hitam, ada yang berwana coklat dan ada juga beberapa pisang goreng yang warna nya bagus? Yang pertama di buat oleh Mbok Imah. Mamih Aulia meggelegkan kepalanya.


"Kamu ngapain bikin pisang goreng sepagi ini Daffin." Ucap Mamih Aulia. Walapun masih jegkel, tapi Mamih Aulia berusaha bertanya dengan tenang.


"Maaf Mih? Daffin membuat pisang goreng ini untuk Carisa." Ucap Daffin menatap sang Mamih nya.


"Carisa?" jawab Mamih Aulia.


Daffin mengangukan kepalanya. Lalu menjelaskan keinginan Carisa.


"Iya Mih, Carisa ingin! Daffin yang membuat lagsung Pisang gorengnya. Padahal Daffin tidak bisa membuatnya. Tapi demi Carisa apapun akan Daffin lakukan." Ucap Daffin.


Mamih Aulia pun, terseyum mendengar penjelasan Daffin? Mamih Aulia berharap ini pertanda baik.


"Ya sudah! Ayok, lanjutkan biar Mamih bantu kamu membuatnya." Daffin terseyum lalu mengangukan kepalanya.


"Mbok Imah dan Mba Ani. Tolong beresan kekacawan ini, Saya akan membantu Daffin terlebih dahulu." Ucap Mamih Aulia.


Mbok Imah dan Mba Ani pun, segera membereskan beberapa barang yang di jatuhkan ke lantai oleh daffin. Sedangkan Daffin bersama sang Mamih meyelesaikan membuat pisang goreng. Satengah jam! Mamih Aulia dan Daffin membuat pisang goreng untuk Carisa. Dan hasilnya sangat memuaskan.


.


.


.


Sedangkan Carisa sudah bangun, karena matahari sudah mulai naik. Carisa bergegas pergi mandi! Setelah selesai mandi dia memakai dres putih polos. Carisa melirik jam di dingding sudah menujukan hampir jam 07.00 pagi. Tapi sang suami belum juga kembali ke kamar. Akhirnya Carisa memutuskan untuk meghampiri Daffin di bawah dan sebelum pergi Carisa ingin meyiapkan perlegkapqn Daffin untuk pergi ke kantor.


"Kira-kira Mas Daffin bisa tidak ya membuat pisang goreng? Kenapa belum kembali juga. bukanya hari ini ada Rapat penting di kantor?" Carisa berucap dalam hati.


Lalu Carisa pergi ke ruang Wadrobenya, dan segera mengambil kemeja kerja dan setelah jas untuk Daffin kenakan. Carisa keluar dari ruangan Wadrobenya, dan meletakan barang-barang Daffi di atas tempat tidur.


Setelah selesai meyiapkan perlegkapan Daffin. Carisa segera keluar dari kamarnya dan langsung menuju Life, Carisa menekan tombol lantai dasar?


🍃🐇


"Hallo Readers yuk bantu Komen, vote dan linknya juga ya. Biar author semangat nukisnya boley donk lempar mawar..😁🙏🌹"

__ADS_1


__ADS_2