DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin

DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin
BAB 79


__ADS_3

Sedagkan di Pemakaman? Carisa tengah berjogkok di depan tempat peristirahatan Kakeknya. Ini kali pertama, Carisa berziarah ke makam sang Kakek.


"Assalamualaikum Kek? Maaf, Carisa baru bisa mengujugi Kakek. Tapi Carisa, tidak pernah lupa. Selalu mendoakan Kakek." Ucap Carisa dengan menagis tersedu-sedu.


Semua keluarga Mahendra dan Pak Alan? Berdoa bersama untuk Kakek Yudanta. Setelah tiga puluh menit? Semua keluarga Mahendra! Sudah menyelesaikan Ziarahnya. Lalu mereka pergi dari area pemakaman, dan mereka akan segera pulang! Tapi sebelum mereka pulang ke Rumah? Papi Kevin mengajak Carisa, untuk di memeriksa kandungannya ke dokter kandungan.


Papi Kevin dan Mami Talia. Bukan tanpa alasan membawa Carisa, sekarang ke rumah sakit. Karena mereka ingin mengetahui kesehatan janin Carisa yang akan mengijak usia empat bulan? Jadi Papi Kevin ingin membawanya untuk di periksa dan di Usg? Karena Papi Kevin ingin melihat calon cucunya. Dan jika mereka pulang terlebih dahulu pulang ke rumah, pasti Carisa akan menolak untuk keluar rumah lagi! Apalagi mengajak pergi ke rumah sakit. Carisa benar-benar tidak mau dan sekarang sangat membenci rumah sakit? Padahal dulu Carisa hampir setiap hari ke rumah sakit.


Sekarang Carisa, lebih memilih tinggal di rumah dan setiap pemeriksaan kehaminya, dokter lah yang datang ke rumah? Carisa sekarang mempuyai hobi baru yang sama dengan Maminya? Carisa, selama satu bulan ini selalu meghabiskan waktunya, mengurusi kebun bunga milik Maminya. Di taman belakang.


Ketika mereka sedang berada di dalam mobil? Carisa tertidur, sepertinya dia kelelahan. Karena jarak pemakaman dan rumah sakit menempuh waktu satu jam. Jadi Mami Talia, membiarkan putrinya untuk tidur. Namu ketika mereka semua sedang beristirahat? Tiba-tiba saja Carisa berteriak.


"Mas Daffin?" teriak Carisa.


Carisa terbangun dari tidurnya? Karena dia memimpikan Daffin! Semua orang kaget mendegar teriakan Carisa? Keringat bercucuran di kening Carisa, padahal. Ac di dalam mobil menyala.


"Ada apa sayang? Kamu kenapa Nak," Mami Talia, sedikit panik ketika mendegar teriakan Carisa.


"Mih Aku bermimpi Mih," ucap Carisa.


Papi Kevin, menoleh ke arah belakang? lalu berucap kepada Cariaa.


"Sayang? Itu hanya mimpi, mugkin kamu sangat merindukan Daffin. Sehinga kamu memipikanya." Ucap Papi Kevin kepada Carisa.


"Tapi Pih? Aku melihat kepala Mas Daffin berdarah hiksss," ucap Carisa, sambil menagis.


Carisa tiba-tiba saja, perasaannya tidak enak? Entahlah, ada apa dengan Daffin. Carisa tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Mami Tali yang melihat wajah Carisa masih panik! Segera menenagkan putri kesayangannya, Mami Talia memeluk Carisa.


"Tenang sayang? Ada kami disini. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Daffin? Itu hanyalah mimpi." Ucap Mami Talia.


Tiba-tiba saja air mata Carisa mengalir semakin deras dan menagis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Hikss...hiks...?" suara tangisan Carisa.


Mami Talia terus saja, menenagkan putrinya, supaya lebi tenang. Karena Mami Talia tidak mau, Carisa setres dan akan meyebabkan sesuatu kepada Anak dan cucunya. Apalagi kehamilan Carisa yang sempat lemah.


"Sudah sayang? Jangan menagis lagi. Mami dan Papi ada disini." ucap Mami Talia lembut.


Papi Kevin yang duduk di depan? Terus melirik ke arah belakang. Tapi juga melihat ke arah depan, yang sangat macet.


"Kenapa macet sekali hari ini? Tadi sepertinya engga macet? Padahal kita di pemakaman hanya setengah jam." Tanya Papi Kevin, kepada sang sopir.


"Entahlah Pak? Padahal tadi, pas kita beragkat baik-baik saja." ucap Pak sopir.


"Coba kamu tanya sama orang-orang ada masalah apa di depan?" Ucap Papi Kevin kembali.


"Baik Pak? Saya akan menayakanya," ucap Sie sopir kembali.


Kevin megaggukan kepalanya, dan sopir itu pergi keluar dan mencoba menayakan? Masalah dari kemacetan ini.


"Papi juga tidak tahu Mih? Jalanan sangat macet dan entah ada apa di depan sana." ucap Papi Kevin kembali.


Mami Tali diam dan tidak bertanya lagi. Setelah mendala jawaban dari Kevin. Setelah sepuluh menit! Sopir itu kembali dengan tergesa-gesa.


"Itu kenapa Amin, wajahnya ketakutan?" ucap Papi Kevin, yang berada di dalam mobil dan melihat Amin yang berada di luar mobil.


"Ceklek,"


Pak Amin membuka pintu mobil dan lagsung duduk di belakang kemudi.


"Ada apa Amin?" tanya Papi Kevin.


"Tuan? Di depan, ada kecelakaan beruntun? Sebuah mobil Trek, remnya blong, dan ada beberapa mobil yang menjadi korba Tuan.

__ADS_1


Carisa yang mendegar ada kecelakaan? Wajahnya langsung berubah! Ada rasa takut, tapi Carisa mencoba menepisnya. Carisa sangat yakin, jika Suaminya akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa.


Mami Talia yang melihat kecemasan Carisa, lagsung memegang lengan putrinya dan mencoba untuk menenagkanya lagi. Lalu Mami Talia bertanya dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Supaya, Carisa tidak terigat dengan mimpinya tadi dan merasa cemas lagi.


"Oh iya Sayang? Sekarang kamu sudah menemui Kakek. Sekarang Mami mau tanya? Kapan kamu, akan menemui suami kamu sayang!" Mami Talia, mencoba membujuk Carisa supaya tidak terlalu lama menagis.


Carisa yang mendegar pertanyaan dari sang Mami, akhinya mulau berhenti menagis dan mencoba mencerna ucapan sang Mami. Lalu menjawab.


"Mugkin secepatnya Risa akan menemui Mas Daffin,Mih." ucap Carisa.


Mami Talia terseyu, dan mengelus kepala putrinya.


"Lebih cepat lebih bagus sayang? Karena kamu dan Baby pasti sangat merindukan Daffin. Apalagi perut kamu sebentar lagi akan membesar." ucap Mami Talia.


Selama satu bulan ini? Carisa, selalu berada di rumah dan tidak pernah kekuar dari rumah. Apalagi setelah mendegar ucapan Dokter! Jika kandunganya lenah dan harus istirahat dengan cukup.


Akibat rumor Daffin yang tidur bersama Kanza! Pasti akan banyak orang yang mengincar Carisa, sebagai istri dari Daffin. Sehinga Papi Kevin, terpaksa meyembuyikan Carisa dari kejaran wartawan dan meneyembuyikan Carisa di rumah.


Karena itu jalan satu-satunya yang terbaik! Rencananya, setelah masalah Daffin selesai dan terbukti jika menantunya tidak bermasalah lagi. Barulah Kevin akan membujuk Carisa, untuk kembali kepada Daffin. Dan semua rencana yang Kevin lakukan, atas keinginan Kakek Ravindra dan Daranedra sahabanya. Karena Kakek Ravindra, tidak mau terjadi sesuatu kepada Cucu menantunya dan juga Bayi yang masih ada di dalam perut Carisa.


Papi Kevin, yang sejak tadi melihat kemacetan di depan hanya bisa meghela nafas.


"Amin? Apa tabrakanya sangat parah. Kenapa mobilnya tidak bergerak sedikit pun. Kasihan Anak saya, jika terlalu lama di dalam mobil." Ucao Papi Kevin. Lalu tiba-tiba saja kaca mobil di ketuk dari luar.


"Took,"


"Took,"


"Took,"


(Hai Readers apa kabar, salam kenal dari Authore? Author cuma mau ngucapi terimakasih sudah setia baca novel ini. Semoga Readers semua sehat selalu. Maaf ya Author up nya. Belum konsisten.

__ADS_1


Yukk komen, like dan subscribe novel ini supaya tidak ketingal jika author up bab terbaru.)


__ADS_2