DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin

DiPaksa Menikah Dengan CEO Dingin
BAB 59


__ADS_3

Pak Alan yang melihat Nona kecilnya Menuju Ruang ICU. Akhirnya bisa bernafas lega. Pak Alan segera menyusul Carisa. Ketika sampai di area Ruang ICU, Pak Alan menghela nafasnya ketika melihat Nonanya menangis? Sambil menatap ke arah Kakeknya yang terbaring lemah dengan alat di sekujur tubuhnya. Carisa, hanya bisa menatap sang Kakek yang terhalang oleh kaca besar. Pak Alan mengelus kepala Nona kecilnya. Beliau sangat merasa kasihan kepada Nona kecilnya itu.


Carisa menoleh ke arah Pak Alan yang berada di sebelahnya. Lalu Carisa bertanya? Apa yang sebenarnya terjadi.


"Pak? Apa yang Sebenarnya terjadi." tanya Carisa dengan berlinang Air Mata.


Pak Alan menata Carisa dengan wajah sendu. Sebenarnya beliau tidak mau menceritakan yang sebenarnya.


"Maafkan Bpk, Non? Bpk telah lalai meninggalkan Tuan besar Yudanta sendirian. Bpk, sebenarnya tidak tahu apa penyebab kambuhnya penyakit. Tuan Besar Yudanta. Ketika Bpk sampai di ruangan? Tuan besar sedang menahan rasa sakitnya? Setelah Bpk, membawa Tuan besar ke Ruang ICU. Bpk meminta ijin untuk mengecek CCTV ruangan Tuan Besar. Di situlah Bpk melihat! Nyonya Melly sedang berbicara dengan Kakek anda? Dan sepertinya Nyonya Melly memperlihatkan Sesuatu di handphonenya." Ucap Pak Alan panjang lebar.


Carisa menangis dan menatap ke arah sang Kakek. Carisa benar-benar sangat muak dengan Tantenya yang mempunyai sifat seperti iblis. Sebenarnya tadi pagi Carisa mendapt Chat dari tantennya. Yang meyuruh Carisa datang ke rumah utama Mahendra. Carisa melirik ke arah pak Alan? Carisa menitipkan Kakeknya kepada Pak Alan.


"Pak? Saya titip Kakek. Saya akan pergi sebentar." ucap Carisa.


Namun ketika Carisa ingin melangkah pergi. Pak Alan memegang tangan Nona kecilnya. Lalu bertanya.


"Nona Risa? Anda mau ke mana, ini masih terlalu pagi?" Tanya Pak Alan. Carisa menghela nafasnya lalu berkata.


"Saya? Hanya ingin cari angin di luar?" ucap Carisa bohong.


"Non? Lebih baik non istirahat saja. Jangan pergi menemuinya? Saya takut dia berbuat jahat lagi, kepada Nona Carisa." Ucap Pak Alan tegas.


"Tidak Pak? Saya hanya akan mencari angin? Ucap Carisa berbohong. Pak Alan menatap nona dengan curiga.


"Non? Jangan pernah berbohong. Saya tidak akan pernah mengizinkan Nona. Menginjakan Kaki di rumah neraka itu lagi." Ucap Pak Alan sedikit meninggikan ucapannya.


"Lalu saya harus bagaimana Pak," ucap Carisa, sambil menatap lurus.


Pak Alan terdiam ketika mendapat ucapan dari Carisa. Pak Alan menyuruh Carisa? Untuk duduk. Tiba-tiba saja telephone Pak Alan berdering. Pak Alan melirik Carisa yang menatap kosong ke arah depan. Lalu mengangkat teleponnya.


"Asalammualaikum, Nyonya Aulia."


"Waalaikumsalam, Pak Alan?"


Pak Alan melirik Carisa, yang masih terdiam. Lalu Pak Alan tersadar kembali. Ketika orang yang berada di sebrang tlvn memangilnya.


"Pak Alan? Apa Carisa baik-baik saja. Saya sangat khawatir." Tanya Nyonya Aulia.


"Nona Carisa baik-baik saja Nyonya Aulia? Sekarang Nona Carisa sedang beristirahat." Jelas Pak Alan.


"Baiklah? Saya akan segera ke sana. Bagai mana keadaan Papi Yudanta apakah baik-baik saja," tanya Nyonya Aulia lagi.


"Tuan Besar Yudanta? Masuk keruangan ICU lagi Nyonya," Ucap Psk Alan.

__ADS_1


"Kenapa bisa Pak? Bukannya kemarin sudah ada perkembangan untuk segera keluar dari rumah sakit."


"Ceritanya panjang Nyonya? Nanti saya akan beritahu anda, setelah Tuan besar Ravindra datang ke sini." Jawab pak Alan.


"Baiklah, kalo begitu saya akan segera ke sana. Apa Carisa sudah makan?"


"Sepertinya belum Nyonya? Saya akan belikan Nona Carisa makana sekarang." Ucap Pak Alan.


"Baiklah? Saya tutup telphonenya dulu! Tolong jaga Carisa,"


"Baik Nyoya? Anda tenang saja, saya akan menjaga Nona Carisa.


Pak Alan melirik Carisa yang masih terdiam? Pak Alan menghela nafasnya. Lalu Pak Alan bertanya.


"Apa Nona Carisa sudah makan?" Pak Alan bertanya kepada Nona kecilnya. Lalu Carisa mengalihkan pandagannya, ke arah Pak Alan.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Pak Alan? Carisa menggelegkan kepalanya. Pak Alan mengelus kepala Carisa. Lalu pak Alan mencari suster, yang sedang tidak sibuk? untuk menemani Carisa sebentar. Pak Alan pun melihat suster yang mengurus Kakek Yudanta.


"Suster Lily? Apa boleh saya minta bantu anda sebentar." Tanya Pak Alan. Lalu suster Lili pun meghampiri Pak Alan dan menjawab ucapan Pak Alan.


"Oh? Silahkan Pak Alan, apa yang bisa Saya bantu." Jawab Suster Lily.


"Saya, mau beli makanan untuk nona Carisa? Saya minta tolong, kepada suster Lily untuk menemani Nona Carisa." Ucap Pak Alan. Dokter Lily pun terseyum.


Pak Alan menoleh ke arah Carisa yang masih menatap kosong ke depan. Pak Alan, mengelus kepala Carisa.


"Bpk pergi dulu, mencari sarapan! Jangan kemana-mana Oke," Ucap Pak Alan. Kepada Carisa! Setelah itu Pak Alan, sekali lagi menitipkan Carisa, kepada suster Lily.


"Saya pergi sebentar? Tolong jaga jangan sampai Nona Carisa pergi ke mana-mana, " ucap Pak Alan, kepada suster Lily.


"Bpk, pergi saja. Nona Carisa akan saya jaga," jawab Suster Lily.


Pak Alan segera pergi meningalkan Ruangan ICU Dan meningalkan Carisa dan Sustet Lilly. Sedagkan Suster Lily sekarang duduk di sebelah Carisa dan mulai mengajak Carisa untuk mengobrol.


"Apa kabar Nona Risa," tanya Suster Lily, kepada Carisa.


Carisa yang merasa dirinya di pangil! Segera menoleh dah menatap wajah canti itu. Carisa terseyum lalu menjawab pertanyaan suster Lily.


"Kabar saya baik Sus," ucap Carisa terseyum ramah.


Merekapun berbincang cukup lama? Namu tiba-tiba saja Suster Lily di pangil oleh rekan kerjanya.


"Suster Lily? Tolong bantu kami ada pasien kecelakan kami membutuhkan suster tambahb," Ucap rekan kerja Suster Lily yang tengah panik.

__ADS_1


Suster Lily pun melirik ke arah Carisa, dan Suster Lily meminta izin untuk meyelesaikan tugasnya?


"Nona Carisa? Apa anda tidak apa-apa saya tingal," tanya Dokter Lily. Carisa lalu menjawab.


"Tidak apa-apa Sus, pergilah! Selesaikan tugas anda." jawab Carisa dengam ramah.


Dokter Lily pun mengnganguk kepalanya, dan segera pergi meyusul rekan kerjanya. Carisa yang melihat Suster Lily sudah pergi. Segera bangit dari duduknya? Carisa meghampiri kaca besar dan menatap Kakeknya, yang terbarig lemah di dalam Ruangan ICU. Carisa menatap sang Kakek deng sendu, kalu berucap dalam hati.


"Risa akan meyelesaikan semuanya Kek? Apapun yang tante Melly inginkan. Carisa akan memberikanya, Carisa tidak mau tante Melly terus menggangu kita? Risa lebih baik kehilagan harta, dari pada harus Kehilangan Kakek. Di dunia ini! Carisa cuman punya Kakek doakan Carisa ya Kek? Carisa pamit." Ucap Carisa dalam hati, Carisa menatap Kakeknya dengan sendu.


Setelah itu Carisa pergi meningalkan sang Kakek. Carisa pergi ke ruangan kamar sang Kakek dan mengambil tasnya? Carisa segera keluar dari rumah sakit dan menaiki Taxi menuju Rumah utama Mahendra.


Setelah Carisa berada di dalam mobil, Carisa terus meghubugi Daffin? Namun telepon Daffin tetap tidak aktip. Carisa benar-benar kecewa? Carisa tidak mempuyai no Reza. Asistennya Tristan.


"Kenapa telpon Mas Daffin dari semalam tidak Aktip," icap Carisa dalam hati. Carisa pun meyimpan telponnya dan fokus menatap ke arah luar jendela.


* * *


Tidal lama setelah Carisa pergi? Pak Alan kembali dengan beberapa makanan untuk Carisa. Ketika beliau sampai di ruang ICU. Pak Alan, tidak melihat Carisa ataw pun Suster Lily di sana.


"Kemana mereka? " Ucap Pak Alan.


Pak Alan mengambil telponnya dan meghubugi nomor Carisa? Telpon berdering tapi Carisa tidak mengagkat telpon dari Pak Alan.


.


.


.


Sedangkan Daffin di Bali? Baru saja terbangun dari tidurnya? Kepalanya sangat sakit. Daffin memijat pagkal hidugnya, dan belum meyadari jika ada seseorang wanita yang sedang duduk? Tengah memperhatikanya.


"Kamu sudah bangun?" Ucap wanita itu.


Daffin yang mendengar suara wanita itu? Langsung terperanjat dari tempat tidurnya. Daffin menatap dirinya yang terbugkus selimut. Ternyata dirinya tidak memakai, pakaiyan sehelai kain pun. Lalu Daffin berteriak.


"Siapa Kamu," teriak Daffin.


Gadis muda yang memakai lingerie berwana merah itu pun terseyum? Karena kamar yang Daffin, tempati sengaja di matikan lampunya dan hanya lampu nakas dekat tempat tidur, Yang menyala dan Tirai pun masih tertutup. Sehinga Daffin tidak bisa melihat siapa gadis yang tengah duduk di sopa itu.


Daffin yang melihat bajunya berserakan di lantai. Dia bagkit dan membugkus dirinya dengan selimut lalu menyalakan lampu. Ketika lampu sudah menyala. Daffin terkejut melihat gadis yang duduk di Sofa?


"Kamu?"

__ADS_1


__ADS_2