DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB10


__ADS_3


Siluit luka yang yang mulai menyapa hati, membawa kepedihan, menyiratkan kehancuran atas dasar jiwa yang meronta.


Mylin terduduk di atas ranjang, air matanya tak terbendung. Pikirannya mulai kalut. Hatinya tak terima atas apa yang menimpanya saat ini. Gadis itu terus meratapi siksa batinnya hingga ia terlelap dalam tidurnya.



Mentari pagi menerobos jendela kaca yang tertutup tirai. My mulai membuka matanya yang sembab. Gadis itu dengan gesit bersiap untuk segera pergi ke kampus. Alasannya hanya satu menghindar dari keluarganya.


Ketika kaki jenjang itu menuruni anak tangga, My sudah dikejutkan oleh suara tegas papanya.


"Sayang, kemarilah kita sarapan bersama"


Panggil Haris lembut pada putrinya.


"Maaf pa, adek harus berangkat pagi, soalnya ada matakuliah pukul tujuh nanti"


My mulai berhalu, padahal pagi ini jadwal kuliahnya kosong.


"Gak dek, papa gak izini kamu berangkat kuliah jika tidak sarapan"


Dengan wajah malas akhirnya gadis itu menuruti perintah papanya.


Awalnya hanya mereka berdua selang berapa menit Azam dan Melisa ikut bergabung di meja makan.


"Pagi sayang"


Sapa melisa pada putrinya. My tersenyum samar sebagai respo.


"Tumben dek, pagi-pagi udah bangun, udah siap lagi. Biasanya lo bangun berantem dulu dengan segayung air keramat mama"


Ejek Azam heran.


"Apaansih mas"


Lotot My geram menatap ke arah Azam. Melihat kemarahan adiknya dengan gemas pria itu mengacak rambut adik semata wayangnya.


"Jangan marah marah non. Tar cepat tua, Tuh calon suami lo udah datang"


Tunjuk Azam ke arah pintu. Seketika mata mai tertuju kearah tunjukan Azam. My yang melihat manusia itu, sepontan nafsu makannya lenyap.


"Pagi om, tante"


Sapa Ata sopan.


"Pagi nak Ata"


Sahut Melisa.


"Ayo duduk nak Ata, sekalian kita sarapan bareng"


Haris berucap sembari menunjuk kursi di sebelah Azam yang masih kosong.


"Terima kasih om"


Saat dosennya sudah duduk tepat di samping Azam. My segera undur diri.


"Ma, pa. adek udah selesai sarapannya, adek duluan"


Ucap Gadis cantik itu hendak beranjak dari kursinya. Sehingga semua mata tertuju pada gadis delapan belas tahun di hadapan mereka.


"Duduk sebentar nak, ada yang harus kami bicarakan padamu."


Titah Haris tegas tak terbantahkan. My dengan setengah hati menuruti kemauan Haris.


"Jadi begini sayang, mengenai pernikahanmu dengan nak Ata akan segera dilangsungkan dua minggu lagi, papa akan urus semuanya. Hari ini kamu pergi bersama nak Ata untuk fitting baju pengantin kalian"


Ucap Haris tegas. May menatap ke empat manusia di hadapannya satu persatu.


"Gak bisa pa adek ada jadwal kuliah"


Ucap My dusta.Ata yang mengetahui jadwal kuliah mahasiswinya itu, menatap ragu pada gadisnya.


"Jangan beralasan Meylin"


Titah Haris tegas.


"Pa, adek mohon hentikan semua ini, adek belum siap jika harus menjalani pernikahan secepat ini. Adek masih ingin berkarya pa"


Haris menatap putrinya sejenak.


"Sayang dengarkan papa, Nak ata pria yang baik. Kamu tidak akan kesulitan menjadi istrinya."


"Pa. Baik menurut papa, belum tentu baik buat adek pa"


"Tidak ada penolakan nak"

__ADS_1


My tertegun, matanya mulai berkaca kaca.


"Tapi pa!"


"Gak ada tapi-tapian sayang, Pergilah sama nak Ata, mama sudah telpon tante Luna untuk mengurus pakaian kalian"


Melisa ikut menimpali, pembicaraan panas suami dan putrinya.


Dengan kemarahan yang tak mampu gadis itu ungkapkan, akhirnya kesedihannya memuncah, My meluapkan semua itu dengan tangisannya.



"Sekarang bapak puas?"


Ucap My geram, pada dosennya itu. Sembari bangkit dari kursinya. Ata tak menjawab. Pria itu ikut beranjak, mengikuti adik sahabatnya.


"Om tante saya permisi dulu"


Pamit Ata sopan.


"Hati-hati nak, kamu harus sabar menghadapi sikap My ya nak Ata"


Ucap Melisa mengingatkan calon menantunya itu.


"Insya Allah, tan"


Jawab Ata mantap.


"Inget Ta. jangan lo macem-macemin adek gue"


Azam tak lupa mengingatkan sahabat, sekaligus calon adik iparnya itu.


" Insya Allah adik lo aman Zam"


Ucap Ata sembari tertawa.


Dimobil, mereka seperti musuh bebuyutan. Diam tak bersuara. Senyap seperti di tengah rumah angker. Ata sebagai pria dewasa akhirnya mengalah.


"Maafkan saya. Percayalah,semua ini duluar dugaan saya"


Ucap Ata sembari melirik calon istrinya. My tak menanggapi gadis itu acuh dengan ucapah dosennya itu.


"Kamu dengar sayakan?"


Tanya Ata kesal.


"Menurut bapak saya budeg?"


"Sepertinya begitu"


Jawab ata nyeleneh.


"Heeem. Selamat anda mendapatkan istri budeg seperti saya"


My tak kalah nyelenehnya menimpali ucapan dosennya itu. Ata tertawa menatap My yang wajahnya tampak kesal.


"Saya penasaran. Kamu benar gak tertarik dengan saya, My?"


My menyipitkan mata belonya. Merasa heran mendengar pertanyaan aneh dosennya itu.


"Haah! Bapak berharap saya tertarik dengan anda?"


"Mungkin!"


Jawab Ata singkat.


"Maaf. Saya gak berminat dengan bapak"


Ata tersenyum mendeengar ucapan gadis di sebelahnya.


Tak terasa mobil sudah terparkir tepat di depan butik rekomendasi mama Melisa.


My hendak turun. Namun sang dosen masih engan membuka kunci otomatisnya. Akhirnya gadis itu menatap kesal ka arah Ata.


"Bapak. gak berminat turun?"


Tanya My judes.


Namun Ata tak menjawab.Ata bergeser mendekat kearah mahasiswinya. My yang melihat pergerakan dosennya, dengan sigap gadis itu memundurkan tubuhnya, hingga punggung Gadis itu menubruk pintu.


"Bapak jangan coba-coba kurang ajar dengan saya!"


Ata tersenyum mendengar ucapan mahasiswinya.Dengan perlahan pria itu semakin mendekatkan wajah tampannya, tepat dihadapan wajah My. Jantung gadis itu berdepar tak karuan wajah ayunya bersemu merah. Ata merasa puas,Setelah wajah mereka saling berdekatan, Ata dengan lembut berbisik di telinga gadisnya.


"Kamu beneran udah mandi?"


Tanya pria itu nyeleneh. My yang merasa dikerjain berang pada dosennya itu.

__ADS_1


"Hidung bapak soak, gak kecium apa badan saya wangi kayak gini!"


Dengan sengit My berucap. Ata makin tersenyum melihat kemarahan calon istrinya.


"Heey. Emang saya boleh nyium kamu?"


My syok mendengar pertanyaan gila gosennya.


"Haaah??"


Ucap sepontan My.


Dengan lembut pria itu meraih kepala Mahasiswinya, My yang menerima perlakuan sedemikian, tubuhnya tak mampu berkutik, seketika tubuhnya kaku sulit untuk di gerakkan. Karna memang gadis itu tak pernah seintim itu dengan pria asing.


Setelah dapat yang pria itu ingin raih barulah. Ata menjauhkan tubuhnya.


"Beneran udah mandi? nih ada bekas permen nempel di rambutmu"


Ucap Ata santai sembari meraih tangan gadisnya untuk menyerahkan sisa permen ke tapak tangan gadis cantik yang tengah merona pipinya.


"Ya Allah, malu gue. Kok bisa itu permen nyantol di rambutku! Kirain beneran ini dosen aneh mau macem-macemin gue,gila,gila gila!. Ternyata pikiran gue yang kotor."


My terus merutuki kebodohannya. Ata sudah membuka kunci mobilnya. Namun gadis itu masih setia duduk dikursinya.


"Kok diam. Kamu gak Sedang mikir yang aneh-anehkan? ayo turun!"


Tebak Ata jahil.


"Apaan.Ogah mikir aneh-aneh sama bapak"


"Terus kenapa mukamu merah gitu?"


"Apaan sih, Dasar dosen aneh"


Rutuk My sembari membuka pintu mobil dosennya.


Mereka berjalan beriringan. Memasuki butik terkenal milik kolega Melisa ibu dari Meylin.


"Hey tante"


Ucap My sembari cipika-cipiki.


"Heey My. Kamu cantik banget sayang, udah lama gak ketemu, tau-tau udah mau married aja ya."


Sapa Luna ramah. Mey manyun mendengar ucapan sahabat mamanya itu.


"Ini dek calon suamimu?"


Tanya Luna penasaran. My tak menjawab gadis itu hanya melirik kearah dosennya saja.


Kemudian, pria itu dengan sopan tersenyum kearah Luna.


"Luna mendekat ke My, sembari berbisik. Cocok dek, calonmu ganteng"


"Apaan sih tan"


"Benar kok dek"


My manyun menatap malas kedosennya. Namun yang di tatap tersenyum.


Luna mulai melakukan pengukuran, untuk pembuatan baju pernikahan mereka. Begitupun dengan Ata. Selesai pengukuran akhirnya mereka pamit untuk pulang.


Di dalam mobil Kembali My membisu. Ata gerah melihat sikap mahasiswinya itu.


"Kamu mau sampaikapan, ngambek kayak gitu dek"


Tanya Ata heran.


"Sampai bapak menolak pernikahan kita"


Jawab gadis itu judes.


"Itu gak mungkin My"


"Kenapa gak mungkin? mungkin aja kalau bapak yg menolak!"


"ya gak mungkin karna saya..."


Ucapan Ata terhenti saat My menjerit.


"Pak awas"


Pekik My histeris. Ata seketika membanting strir mobilnya ke kiri.


"Ya Allah pak, Bapak mau buat saya mati muda?" My geram melihat kecerobohan dosennya itu. Bisa-bisanya itu dosen hampir nyerempet motor orang.


"Kamu gak papakan?"

__ADS_1


"Bapak bisa lihat sendirikan, saya baik-baik aja"


Ata tersenyum gemas dengan gadis di sampingnya.


__ADS_2