
Netra My tertuju lurus, menatap ke atas langit yang dipenuhi awan biru, yang bergantung manja. Pikiran My, berkelana jauh bersama awan-awan biru itu. Bibir My kembali melengkung mengingat prilaku suaminya yang begitu sempurna.
Suaminya itu, tak pernah sekalipun melukai hatinya, selalu banyak cara untuk membuat My jatuh cinta. Sungguh Ata Herlambang satu-satunya pria yang memandang celah pada dirinya dianggap sebagai kesempurnaan.
Ketahuilah wahai kaum Hawa, Jika pasanganmu mencintaimu karna Allah maka ini yang akan mereka lakukan.
Celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu. Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu.
Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai.
Cinta itu saling menyukai, bukan saling melukai.
My kembali tersenyum, sembari tegak di depan jendela, gadis itu asyik menikmati cahaya sore dari benda bening yang di bingkai kusen, Ata datang membawa segelas air putih, dengan tangan besarnya itu Ata memeluk istrinya dari belakang.
"Ini minumnya" Ucap Ata memberikan gelas berisi air putih, setelah itu ia taruh gelasnya di atas meja rias.
"Makasih, pak" Ucap My tulus.
"Heeem"
Ata menjawabnya dengan gumaman. Kemudian Ata bertanya lembut.
"Tadi di rumah mama ngapain aja sayang"
My, menelan salivanya serat, terkejut dengan kata terakhir pak dosennya itu.
"Gak ada, cuma bantu mama ngerajut tas. Untuk pesanan, teman arisannya"
Ata mangut-mangut tanda ia paham.
"Kenapa gak pamit dulu kalau mau kerumah
mama?"
"Males, kanlagi sebel sama bapak"
Ata memejamkan matanya sejenak, guna mengontrol emosinya. Kemudian, dagu Ata ia taruh di stas kepala istrinya, tangannya bergerak merapikan surai halus yang tergerai.
"Lain kali, semarah apapun kamu sama saya, kalau mau keluar rumah biasakan meminta izin suami, jangan seperti tadi. Gak baik istri pergi tanpa seizin suami."
Ucap Ata lembut.
"Tapikan saya cuma main kerumah mama, pak, masak harus minta izin"
Mendengar jawaban istrinya, seketika pria itu mengurai pelukannya dan membawa tubub My saling berhadapan. Ata tangkup wajah ayu istrinya dengan lembut. Kemudia Ata kembali ber ucap untuk memberi penjelasan pada sang istri.
"Bukan saya yang melarang kamu untuk tidak berpamitan saat keluar rumah, tetapi Allah dan Rasulullahlah yang melarangnya. Seperti telah dikisahkan dari Ibnu Umar yang pernah meriwayatkan, ketika ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah. dan berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja hak suami atas istrinya?”
Beliau menjawab, “Hak suami atas istrinya adalah istrinya tidak keluar rumah kecuali atas izinnya; jika tetap keluar rumah maka Allah, malaikat pembawa rahmat, dan malaikat pembawa murka akan melaknatnya sampai ia bertobat dan kembali pulang.” (HR. Ibnu Abu Syaibah)
"Kamu tau kenapa alasan wanita dilarang keluar rumah, jika tanpa ada kepentingan?"
Tanya Ata lembut.
"Gak tau"
Jawab My polos sembari menggelengkan kepala.
Dengan tulus Ata mengecup puncak kepala istrinya, kemudian ia bawa gadisnya duduk di atas ranjang mereka. My duduk sembari rebahan di dada bidang Ata, sesekali jemari lentik itu membelai rahang kokoh yang ditumbuhi jambang milik suaminya. Jemari itu terus ia putar-putar membentuk pola abstrak di dada suaminya, yang tengah menjelaskan. dihatinya tumbuh rasa penasaran.
"Kenapa dilarang pak?"
Tanya My ingin tau.
Sambil menikmati sentuhan tangan istrinya, Ata kembali meneruskan ucapannya.
"Karna dalam Islam, wanita adalah aurat seperti yang dijelaskan dalam hadis."
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).
"Jadi saya minta, lainkali izinlah terlebh dahulu jika ingin keluar rumah, sukur-sukur saya bisa dan ada waktu untuk mengantarmu pergi. Lagipula jika kamu berpamitan tentu saya tidak akan hawatir."
Ucap Ata, lembut sesekali mata pria itu terpejam, meresapi sentuhan lembut dari jari lentik istrinya.
"My, kamu menggoda saya?"
Tanya Ata, namun gadis itu tak menggubris. My tak sadar jika nafas Ata mulai tercekat, karna ulahnya yang terus memainkan jemarinya, di atas dada bidang Ata Herlambang. Kemudian pria itu pelan-pelan menangkap jemari nakal sang istri.
My terkejut, seketika mata bening My menatap manik hitam suaminya yang mulai berkabut.
"Bapak kenapa"
Seketika Ata memejamkan matanya, pria itu benar-benar frustasi atas apa yang dilakukan istrinya.
"Jangan goda saya seperti tadi, bahaya"
Ucap Ata pada akhirnya.
"Maaf, saya hanya senag saja bermain di dada bapak kaus bapak terasa lembut di tangan. Tapi saya gak bermaksud menggoda kok. "
"Iya kamu tidak menggoda, tapi sentuhan jemarikamu itu..! ah sudahlah, sepertinya kamu belum memahaminya." Ucap Ata sembari bangkit dari ranjang.
"Mandilah! sebentar lagi shalat asar"
Ucap ata mengingatkan. Ata keluar dari kamar mereka, sementara My masih terpaku di atas ranjang, memikirkan ucapan suaminya barusan sembari tersenyum.
Saat Ata sampai depan pintu, henponnya bergetar nyaring di atas nakas. Ata kembali masuk kamar, meraih henponnya lalu menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum, ma! "
"Waalaikumsalam, sayang. Kamu apa kabar nak, gimana kabar My? "
"Alhamdulillah, kami semua sehat ma!"
"Syukurlah, o iya sayang. Besok pulang ke bandung ya, soalnya mama besok mau pulang ke indonesia, Ada acara di rumah eyang di bandung, tante Saras mau nikah. Alhamdulillah sekarang udah normal, jadi bandara internasional sudah mengaktifkan kembali penerbangan.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Insya Allah, ma. Pulang dari kampus besok
kami langsung ke bandung."
"Ya udah kalau gitu. sampai bertemu besok di rumah. Jangan lupa sampaikan salam mama, untuk My, ingat jangan bikin takis anak orang lo mas!"
Ata tertawa mendengar pesan dari mamanya itu.
__ADS_1
"Iya ma. Insya Allah, Ata sampaikan."
Setelah Sambungan telponnya terpitus, My mendekat ke arah suaminya.
"Itu yang barusan telpon, orang tua bapak?"
Ata tertawa melihat ekspresi wajah gadisnya itu, wajahnya pucat seperti melihat hantu.
"Kok ketawasih, pak! Saya nanyanya serius"
Ata geget dengan gadisnya.
"Iya, itu tadi mama saya, mertua kamu. Oya kamu dapat salam dari mama!"
My tertegun mendengar ucapan suaminya barusan.
"loh kok diam?"
Tanya Ata heran.
"Mama bapak galak gak, saya takut punya mertua galak"
Ata kembali terpingkal, mendengar pertanyaan polos istrinya. Timbul rasa ingin menjahili istrinya itu.
"Iya, mama saya galak. Dia paling gak suka sama menantu yang gak bisa masak, bangun suka kesiangan, suka nunda-nunda waktu shalat"
Seketika My mendelik, wajahnya pucat pasih.
"Ya Allah pak. Gimana dong, yang bapak sebutkan tadi itu semua ada pada diri saya. Berarti mama bapak gak suka dong dengan saya"
Ata mendekat, memeluk istrinya, pria itu tak tega mengerjai gadis kecilnya itu.
"Sudah jangan hawatir, mama gak seperti itu kok, sayang. Mama itu orangnya baik banget, kalau kamu gak bisa masak, pasti mama akan ajari"
"Tapi pak, dari novel yang saya baca, kebanyakan mama mertua itu galak, judes, cerewet. Pokoknya sifat ibu mertua itu selalu membuat gerah menantunya. Kombinasi yang sangat sempurna deh pokoknya sifat mertua perempuan"
Ucap My ngelantur.
"Itukan di novel My. O iya, besok setelah dari kampus kita langsung ke bandung."
"Ngapain pak, kita kesana?"
Tanya My heran.
"Bulan madu"
Ucap Ata asal. Kembali Ata menjahili istrinya.
Wajah My tampak semakin pucat, dari keningnya keluar keringat sebesar-besar biji jagung.
"Bapak udah gak mau nunggu saya benar-benar siap ya?"
Tanya My demgan suara yang terdengar seperti cicitan lembut nyaris tak terdengar.
"Nunggu kamu siap kelamaan"
Bisik Ata lembut. My mundur satulangkah ke belakang. Gadis itu tampak sedikit murung, mungkin candaan Ata yang keterlaluan menjadi beban untuknya.
"Maaf, saya hanya bercanda"
"Bapak benar, saya yang keterlaluan meminta waktu terlalu lama, Sementara saya tau bapak menunggu hal itu."
"Huuus, jangan berpikir sejauh itu, sungguh saya hanya bercanda. Besok kepergian kita ke bandung itu karna kita ingin bertemu orang tua saya. Sekaligus ada acara nikahan tante Saras. Beliau ingin kumpul dengan keluargnya dan ingin bertemu dengan anak menantu."
"Tapi saya takut pak, Saya bukan istri ideal untuk bapak, saya gak bisa masak, saya juga gak becus dalam berberes rumah"
Ata mendekap tubub langsing istrinnya.
"Jangan takut, saya nanti akan selalu mendampingi kamu di sana, lagi pula apa yang kamu takuti, soal urusan dapur. Karna saya memilih kamu jadi istri saya itu untuk menyempurnakan iman saya, bukan mau saya jadikan kamu pembantu rumah tangga. soal pekerjaan rumah itu bisa menyusul seiring berjalannya waktu."
"Heey, kenapa menangis. Apa saya salah berucap?" Tanya Ata, sembari menangkup wajah ayu istrinya. Kemudian ia bawa tubuh my kedalam dekapan lengan kekar Ata.
My menggeleng. My menangis haru dalam pelukan suaminya.
"Bapak terlalu sempurna untuk saya, tapi saya terlalu buruk untuk bapak"
Seketika Ata mengurai pelukan mereka, bibir mungil itu Ata bekap dengan tapak tangan besarnya. Dengan lembit ia usap air mata kekasih hatinya dengan ibu jarinya.
"Saya menerima kamu dengan segala kekurangannya. Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai dan saling melengkapi. Lau apa yang kamu hawatirkan?"
My mendongak menatap suaminya.
"Terima kasih pak, saya bahagia bisa memiliki imam sesempurna bapak, maaf karna sebelumnya saya pernah berharap jika yang menjadi imam saya itu pria lain. Tapi saya bersyukur karna saya mendapatkan imam yang jauh lebih sempurna, dari pria impian saya semasa kecil dulu."
Mendengar ucapan gadisnya bibir Ata tak berhenti mengembang, membentuk garis lengkung yang sempurna.
"Kalau boleh tau, kenapa dulu kamu sangat mengagumi mas Bammu itu?"
My menatap langit-langit kamarnya sejenak. kemudian ia membalikkan badannya memunggungi suaminya, gadis itu menatap jauh ke atas awan melalui jendela kaca yang bening.
"Ehtahlah, saya sendiri bingung, kenangan itu terlampau singkat, saya mengaguminya karna kelembutannya, dulu mas Bam selalu menjadikan saya makmum shaltnya, saat dia main ke rumah, saya selalu kagum setiap ayat yang ia bacakan.
Kenangan singkat itu pula yang selamu terpatri dihati saya dari masa kecil hingga saya tumbuh dewasa. padahal jika dipikir jika kami bertemu, belum tentu kami saling mengenal, saya hanya ingat dengan wajah beliau watu masih kecil. Persi dewasanya saya gak pernah tau."
Ata semakin mengetatkan pelukannya, sunggu ia beruntug bisa memiliki gadis kecilnya itu.
"Kok bapak diam, bapak marah ya, saya cerita tentang mas Bam terus, apa lagi saya sempat memuji dia."
Ata menggeleng lembut.
"Maaf, harusnya itu tidak saya lakukan sebagai seorang istri, memuji pria lain di hadapan suami"
Seketika, Ata mengecup sayang puncak kepala istrinya.
"Tenang aja, khusus untuk mas Bammu itu, mas gak akan cemburu, tapi jika dengan yang lain, saya tidak akan kasih kendor"
Ucap Ata gemes sembari menarik hidung mancung istrinya. My menyipit.
"Kok bisa gitu?"
"Bisa dong, karna saya tau hati kamu hanya untuk saya"
"Heem, mulai gombalnya"
Ata tertawa sembari mengacak rambut My.
__ADS_1
"Ya udah sekarang kita kemas pakaian kita untuk besok" My mengangguk mengikuti langkah sang suami. Mereka terus bercanda menciptakan kedekatan.
Saat mengemas pakaian dalam, Ata dengan jahilnya menyambar bra berwarna merah, tanpa sepengetahuan My, pria itu menatap ukuran yang terdapat pada benda sakral itu.
"Wah, badanmu kecil tapi ini lingkarannya besar juga ya My, tiga enam"
Ucap Ata santai. Seketika tangan My berhenti bergerak, gadis itu menatap ke arah suaminya. My terkejut malu.
"Ya Allah bapak, gak sopan ih. Balikin gak!"
Dengan wajah merona My, mencoba meraih benda berwarna merah, gadis itu terus bergerak mendekat kearah pak dosennya. Ata dengan jahilnya mengangkat tinggi benda itu.
Alhasil My yang kesulitan meraihnya akhirnya tubuh langsing itu terjungkal ke lantai. Ata terkejut melihat istrimya jatuh. Akhirnya Ata merumduk mengulurkan tangan kekarnya untuk membantu My bangun.
Setelah berdiri Ata membawa My duduk di atas sofa yang ada di walk in clost, Pria itu mendudukkan istrinya tepat di atas pangkuannya.
"Sakit ya, maaf!"
"Bapak usil jadi orang, suka bikin saya sebel"
Dumel My cemberut.
Ata terus memeluk istrinya dengan manja.
"Tapi bener lo, baru lihat barang sakralmu aja, saya udah merinding, gak kebayang jika lihat langsung"
Bisik Ata jahil. Dengan geram dan malu My mencubit lengan kekar suaminya.
"Bisa gak sih, bapak gak mesum gitu. Saya ngeri lihatnya"
Ata tersenyum sembari mengecup bibir mungil istrinya.
"Gak papa kalau mesumnya sama kamu"
Bisik Ata tepat di wajahnya. My mendelik malu, tapi ada rasa bahagia yang hadir menelusup di hatinya.
Waktu berlalu sangat cepat, setelah mereka selesai kegiatan di Kampus Ata dan My menancap mobilnya, menuju Bandung. Di mobil My gelisah, ini pertama kalinya ia bertemu mertuanya. Ata melihat kegelisahan isyrinya.
"Udah jangan nervous, mama baik kok sayang!"
My melirik kearah pak dosennya.
"Sayangnya sekarang gak pernah ketinggalan ya pak"
Ata tertawa mendengar protesan mahasiswinya itu.
"Kan memang saya sayang sama kamu"
My mencibir menanggapi ocehan pak dosennya. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai.
Ata menggandeng istrinya menuju rumah orang tuanya di sana tampak Om Herlambang, tante Lusi tante Rumi dan eyang Hanum.
Mata My terkejut, melihat mereka semua.
"Loh pak, inikam rumah eyang Hanum, bisik My heran. Ata bungkam, ia hanya meng angguk. Pak ada tante Lusi juga?."
Tanya My bingung.
"Iya. Kamu kenal dengan tante lusi?"
Jawab Ata singkat. Raut wajah My berubah seketika.
"Udah jangan gugup gitu, saya tinggal bentar. Gak tahan mau buang air kecil, udah dari tadi nahan di jalan. Kamu salaman aja dulu sama mereks."
Ata ngeloyor, sedikit berlari kecil. Sepertinya pria itu sudah kebelet akut. My mendekat mengucap salam. Gadis itu canggung, tapi tidak dengan Lusi. wanita paruh baya itu langsung memeluk menantunya.
"Kamu apa kabar nak, Ya Allah kamu cantik banget" My tersenyum canggung kepada mereka.
"Alhamdulillah baik tan"
My menyalami semua keluarga suaminya, Gadis itu bingung, ia gak tau yang mana mertuanya.
Karna banyak orang asing di sini. My hanya mengenal keluarga tante lusi. My mulai gelisah, karna Ata tak kunjung muncul.
Lusi membawa My duduk di dekat mereka. Netra My terus berkeliaran mencari seseorang.
"Kamu cari siapa sayang, nyari Ata?" tanya Lusi penasaran.
"Eeem bukan tante"
Jawab My tak enak. Lusi menatap menantunya itu heran.
"Ada apa My, kamu gak nyaman di sin?"
"Oh. Bukan tante bukan gitu, My nyaman kok. My boleh nanya sesuatu tan?"
Lusi tersenyum manis.
"Mau nanya apa, sayang?"
Tanya Lusi penuh kelembutan.
"Anu tan, eeem. Mas Bam apa kabar tan. Dia gak ikut pulang ke sini ya tan?"
Tanya My pelan, agar yang lain tak mendengar. Kening Lusi berkerut keriput, wanita paruh baya itu menatap tak percaya ke arah menantunya.
"Bam. Kamu nanyain mas Bammu? tante gak salah dengar My?" Ucap lusi terkejut, hingga Lusi lupa mengontrol volume suaranya. Semua mata memandang ke arah mereka. Ata datang menatap intens ke arah istrinya.
Seketika, My bangkit dari duduknya mendekat ke arah Ata. Lusi yang melihat itu semakin bingung.
"Maaf pak saya bisa jelasin"
Ucap My gugup.
"Kamu mau jelasin apa ke saya?" Ucap Ata meraih tangan istrinya.
"Tadi saya hanya bertanya, kabar mas Bam ke tante Lusi, tapi gak ada maksud apa apa kok pak, saya hanya tanya kabar aja ke mamanya Mas Bam"
Ata tersenyum lembut sembari merangkul bahu istrinya.
"Jangan panik seperti itu, wajahmu terlihat lucu, saya jadi gemes ingin mencium kamu"
Bisik Ata lembut. My menatap suaminya sembari tersenyum, senyuman canggung yang ia suguhkan.
"Udah siap belum, saya mau kenalin kamu ke orang tua saya" Bisik Ata menggoda.
My tampak gelisah di tempatnya. Wajahnya mulai memucat. Ingin sekali ia bersembunyi di punggung pak dosennya itu, My takut mempunyai mertua galak.
__ADS_1