
Yangku inginkan adalah selembar awan untuk tempat tidur dan cerahnya kristal untuk bintang-bintang. Ketika kamu tidur, semoga para malaikat menurunkan rahmat indah yang membawa mimpi.
Kata indah yang selalu terucap saat tangan besar Ata membelai surai halus sang istri di tidur lelapnya, My tak banyak tau tentang pengharapan indah suaminya.
My mulai bergerak tak nyaman dalam pelukan pak dosennya. Gadis itu perlahan membuka mata indahnya, ia terus meneliti keadaannya saat ini.
My bersyukur ternyata semua pakaian yang ia kenakan masih tertempel cantik di tubuhnya. Gadis itu takut, kalau-kalau pak dosennya itu khilaf, melakukan sesuatu tanpa persetujuannya.
Ata juga ikut terbangun, pria itu menatap istrinya bingung.
"Ada apa?"
"Kenapa bapak peluk saya? jangan bilang karna tidur terlalu lelap lagi"
Tanya My tak nyaman. Ata tertawa melihat istrinya cemberut.
"Kali ini saya tidur peluk kamu, bukan karna gaksadar, tapi saya sengaja peluk kamu biar dapat sunah Rosul."
Ucap pak dosen itu enteng. My menatap suaminya penuh curiga, atas jawabannya itu.
"Saya baru dengar, jangan bohongi saya pak. yang sunah Rosul itu tidur mereng ke kanan, bukan meluk orang lain"
My mulai sedikit ngeyel. Ata kembali tertawa menanggapi sangkalan mahasiswinya.
"Itu aturan tidur orang yang belum menikah, mereng ke kanan meluk guling, karna gak ada pasanngannya yang mau dipeluk"
ata mulai ngelawak, agar istrinya itu gak ngambek.
"Nah kalau yang saya lakukan barusan, itu ikut aturan Rasulullah. Rasulullah mengajarkan umatnya tentang adab tidur yang baik. Dalam hadisnya beliau menyebutkan"
"Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan" (HR. Al Bukhari dan Muslim)
"Jadi Posisi tidur suami istri yang sesuai sunnah Nabi, suami istri tetap miring ke kanan. Sang istri ada di depan, sang suami ada di belakang sambil memeluk istrinya. Jadi keduanya dapat sunnah posisi tidur miring ke kanan, nah gak salahkan saya melakukan sunah Rasul. Kamu istri saya, Saya ada hak atas diri kamu. lagipula saya gak melakukan sesuatu di luar batas."
Dengan sabar pria itu menjelaskan pada istrinya, tanpa dirinya merasa tersinggung atas penolakan istrinya itu.
"Gimana, apa nanti malam saya masih bisa peluk kamu lagi?."
Tanya Ata sembari menjahili istrinya.
My menatap suaminya itu dengan tatapan ngeri.
"Lama-lama saya ngeri tidur bareng bapak"
Jawab My jujur. Ata kembali tertawa menanggapi gadis disebelahnya itu. Sengaja dengan jahilnya, Ata melingkarkan tangannya di pinggang My. My mendelik menatap tangan pak dosen, melingkar cantik di atas perut langsingnya. Namun gadis itu tak protes.
"Kamu tau manfaat dari tidur miring ke kanan?" Tanya Ata serius.
"Tau, dong. Untuk mengurangi beban jantung"
Jawab My cepat.
"Heem, tumben pinter." Ejek Ata sembari mengetatkan pelukannya.
"Lah, kan memang saya pintar pak! "
"Iya, dari itu saya pilih kamu jadi istri saya. Tapi manfaatnya gak cuma itu loh My, yang kamu sebut tadi itu hanya salah satunya aja"
My memiringkan wajahnya ke samping, menatap wajah tampan pak dosennya.
"Oh ya, masaksih, yang saya tau hanya itu? "
"Masih ada lagi, yang pertama memang itu manfaatnya, nah manfaat yang lain itu bisa untuk menjaga Kesehatan Paru-Paru dan Pernapasan uga lo. Karena paru paru kiri lebih kecil daripada paru-paru sebelah kanan, maka posisi tidur miring ke kanan lebih baik diterapkan untuk lebih meringankan beban jantung. Hal ini karena jantung juga akan condong ke kanan, dan menekan paru-paru kanan yang ukurannya lebih besar. Masih banyak lagi manfaaynya, tapi saya lagi males mau jelasin, saya maunya meluk kamu aja"
Ledek Ata jahil. Seketika My bangkit dari duduknya melepas pelukan pak dosen. Ata melongo melihat My tiba tiba turun dari ranjang. Dengan cepat, Ata menarik tangan istrinya
"Kok turun?"
"Males, dekat bapak lama-lama modus"
Ucap My sebel. Ata ikut turun dari ranjang mereka.
"Saya lapat, temani saya makan"
Pinta Ata menuntut. Ata berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka. Kemudian Ata keluar menuju meja makan, yang diikuti My dari belakang
Gadis itu, Menyiapkan piring untuk suaminya. Menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piring Ata.
"Bapak mau pake sayur?"
Tawarnya pada sang suami.
"Iya, sedikit aja"
__ADS_1
Tangan My kembali bergerak menyendokkan sayur ke piring Ata.
"Sudah, cukup."
Ucap Ata mengintruksikan pada My.
My kembali menuang air putih di gelas suaminya. Gadis itu melakukan tugasnya seperti seorang istri yang mencintai suaminya, sungguh gadis itu melakukan tugasnya dengan baik, hanya sebagai tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Ia selalu memegang petuah ayah tercintanya.
Kata-kata Haris, selalu terngiang menghantui, indra pendengarannya. My tak mau menyeret Haris ke lubang api neraka hanya karna kesalahan yang tak pernah papanya lakukan.
"Loh, kamu gak makan? "
"Masih kenyang"
jawabnya jujur.
"Kamu makan hanya tadi pagi My. Makanlah nanti kamu sakit! Apa perlu saya suap lagi? "
Tanya Ata serius.
"Gak usah pak, terima kasih"
My segera menyendok nasis kepiringnya hanya sebagai sarat saja.
Mereka makan dalam diam. Gadis itu selesai lebih dulu. Namun My tetap duduk di sebelah dosennya, menemani Ata hingga selesai.
Ata meraih gelas di atas meja, pria itu meraih gelas milik My yang airnya masih tersisa setengah.
"Pak, itu air bekas saya, jorok. Yang itu punya bapak" Tunjuk My kegelas Ata yang masih terlihat penuh. Ata tak mengindahkan ucapan mahasiswinya itu. Dengan lahap pria itu menandaskan minum bekas istrinya.
My terbengong melihat tingkah dosennya itu. Selesai minum baru dosennya itu bersuara.
Tangannya terulur memeluk bahu My.
My mengikuti pergerakan tangan dosennya.
"Kamu itu istri saya, tidak ada yang menjijikkan dari tubuh seorang istri. Kamu tau. Rasulullah saja selalu minum di gelas yang sama, bahkan ia minum di bekas bibir istrinya"
Pria itu dengan lembut menjelaskan pada istrinya, sembari mengelus bahu My yang terasa lembut di kulit tangan Ata.
My tertegun dengan apa yang pria itu lakukan, sungguh luar biasa. My tak pernah terpikir jika dosennya ini sosop pria romantis, sangat mudah sebenarnya jatuh cinta dengan pria sebaik pak Ata.
"Hey, kok melamun? apa ada yang mengusik pikiranmu? "
"Haa. Gak kok pak."
Jawab My tergagap.
"Yasudah, saya keruang kerja. Jangan lupa bantu mbok Rum beresin meja makannya"
Pinta Ata lembut. Pria itu sengaja mengajari istrinya untuk sekedar berberes rumah. Dengan cara memintanya membantu mbok Rum.
Ata duduk di kursi kerjanya, ia nyalakan laptop, untuk mengecek perkembangan saham terkini. Sementara My menuruti perintah suaminya, membantu mbok Rum kemas rumah, cuci piring mengelap meja makan. Hal kecil itu My lakukan dengan senang.
"Mbok, masakan mok enak ya, kapan-kapan mau bantu ajari My, masak?"
Puji My tulus, pada Mbok Rum.
"Ah, biasa aja Buk. Itu hanya resepnya orang gak sekolahan"
Jawab mbok Rum merendah.
"Bener kok mbok, masakannya enak! Mau ya mbok, ajari saya masak"
Mbok Rum tersenyum, senang mendapat pujian dari majikannya.
"Iya buk. Kapan ibu sempat, kasih tau simbok aja"
"Makasih mbok"
Ucap My girang.
"Kok panggil ibuksih mbok, My gak mau. Tua banget" Protes My ke mbok Rum.
Mbok rum tersenyum kikuk.
"Maaf, terus simbok harus panggil apa?"
"My aja mbok"
Usul My semangat.
"Maaf, itu terkesan gak sopan, manggil majikan nama aja. Saya panggil non aja ya buk"
My berpikir sejenak, kemudian gadis itu mengangguk setuju.
__ADS_1
"Iya deh, gak papa panggil non"
Mbom Rum tersenyum.
Mereka terus ngobrol sambil mengemas rumah berdus.
"Mbok, udah lama kerja sama pak Ata?"
Tanya My penasaran.
"Sudah puluhan tahun non, semenjak den Ata remaja"
My mangut-mangut, sembari berpikir.
"Mbok tau makanan kesukaan pak Ata? "
Tanya My, mulai kepo soal suaminya. Ia ingin belajar masak makanan kesukaan pak dosennya itu.
"Tau banget non, den ata itu suka semur ayam sama ikan baung dimasak asam pedas durian"
Ucap Mbok rum menceritakan kesukaan majikannya. My terdiam, ada sesuatu yang ia pikirkan tentang masakan khas kepulauan Riau itu. Tapi kemudian ia tepis kesamaan itu.
"Ah, mungkin kebetulan aja" batinya berucap.
"Kenapa non?"
Tanya mbok Rum heran, melihat majikannya itu tiba-tiba diam dan melamun.
"Gak ada mbok, terus pak Ata suka minuman apa, mbok? "
"Kalau minuman, den ata sukanya cuma susu milo hangat atu dingi, non"
My tersenyum ke arah mbok Rum. Makasih ya mbok, infonya.
My menuju kitchen set meraih tupperware yang berisi susu milo bubuk. Gadis itu mulai membuat dalgona milo. Setelah selesai My segera menuju ruang kerja pak dosennya.
Tak lupa My mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerja pak dosennya.
"Permisi pak"
Ata menoleh menatap kedatangan My.
"masuk aja, My"
Pinta Ata lembut. My melangkah menuju meja kerja Ata.
"Kamu kayak sama sapa aja, kenapa harus ketuk pintu masuk ruang kerja suamimu sendiri, ini di rumah My. Bukan di kantor atau kampus"
Ucap Ata, memberi tahu.
Pria itu tak suka jika rumahnya disamakan seperti di kantor.
My tersenyum
"Maaf, soalnya saya takut ganggu bapak"
Ata tersenyum, tangannya sembari terulur meminta mahasiswinya itu mendekat.
"Sini, kamu bawa apa? "
Tanya Ata penasaran.
"Ini pak, saya buatkan dalgona milo, untuk bapak" Ata tersenyum senang. Tangan besar itu segera meraih dalgona buatan istrinya. Karna ini kali pertama istrknya membuatkan sesuatu untuknya.
"Terima kasih, boleh saya coba?"
pinta Ata tak sabar. My mengangguk tanda setuju. Gadis itu melihat Ata mulai mencicipi minuman buatannya. My berdiri di hadapan Ata, Bokong Gadis itu ia tempelkan ke atas meja kerja suaminya.
"Enak, saya suka"
puji Ata, sembari mengangkat gelas di tangan. Ia letakkan mimumannya yang tinggal setengah ke atas meja kerjanya. Kemudian Ata meraih tangan istrinya.
"Sini duduk. Gak baik anak gadis duduk di meja"
Ucap Ata lembut. Tanpa persetujuan My, Ata membawa My duduk di atas pangkuannya.
"Kamu di sini aja, temani saya kerja"
Ucap Ata lembut tepat di ceruk leher jenjang milik My. My tampak gelisah dengan apa yang dosennya lakukan.
"Tapi, pak! " My hendak Protes. Namu, keburu ata berbicara terlebih dahulu.
"Membuat hati suami senang itu berpahala My, termasuk kamu nemani saya kerja disini"
My menarik napasnya perlahan. Dada gadis itu mulai kembang kempis, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Posisi mereka sangat intim. Itu yang membuat gadis itu gelisah. Sementara Ata bekerja dengan hati bahagia, di temani istri tercinta, duduk manis di atas pangkuannya, pria tu kembali teringat masa kecil mereka, bersama My. Gadis kecil yang suka duduk di atas pangkuannya masa itu. Bedanya dulu mereka duduk bersila di lantai, di depan TV. Jika sekarang mereka terlihat mesra di depan meja kerja.
__ADS_1