DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 52


__ADS_3


Semburat jingga menghiasi langit jakarta. Matahari mulai condong ke barat untuk menjemput gelapnya malam.


Ata duduk di sofa menatap sang istri yang bergerak lincah. My melirik sang suami, terlihat suaminya itu tengah merhatikannya, dengan tatapan kosong, terpancar dari netra hitam itu semburat kesedihan. Semenjah dihadapkan dengan penyakitnya, pria itu lebih sering melamun.


My menyelesaikan tugasnya menutup jendela-jendela kaca, manarik tirai putih agar tertutup rapat. Tak lama adzan magrib berkumandang menyerukan umat untuk menghentikan sejenak aktivitasnya. My dengan khusuknya menjalankan ibadah barsama sang tercinta.


Usai shalat, Ata berdiri menuju Rak yang terdapat di kamarnya. Ia ambil Al quran. Ata kembali duduk di posisi awal.


"Kita baca Al quran dulu ya sayang, sambil nunggu waktu isya, udah seminggu terakhir ini kita gak ada baca Al quran dek, kita terlalu disibukkan dengan permasalahan kesehatan mas. Padahal Rasulullah menganjurkan untuk menghiasi rumah dengan bacaan Al quran. Seperti yang disebutkan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya yang berbunyi


إنَّ البيت ليُتلى  فيه القرآن؛ فيتراءى لأهلِ السماء كما تتراءى النجومُ لأهل الأرض


“Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi”.


(HR. Ahmad, Ash-Shahihah No 3112).


َ لَاتَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ


“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian pekuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah”.


(HR. Muslim 780)


Jadi sayang, kalau rumah kita gak di bacakan Al quran, itu diumpamakan kuburan. Ada penghuni di dalamnya namun tempat itu terlihat sunyi tak ada kehidupan. Ya udah, ayo mulai baca biar mas simak"


Pinta Ata lembut, pada sang istri.



My mulai membaca Al quran bersama sang imam. Setelah membaca Al quran Ata berpamitan pada My, untuk menunaikan shalat isya berjamaah di masjid.


Usai shalat My tak lupa menyiapkan cemilan khusus untuk penunjang kesehatan sang suami.


"Udah pulang mas?"


Ucap my sembari mencium tangan Ata.


"Alhamdulillah, udah"


Jawab Ata sembari menghidupkan TV, tangannya terus memencet remot mencari siaran yang cocok untuk waktu santai. Setelah dapat canel yang cocok Ata duduk santai dengan selonjor kaki. My datang dengan dua gelas susu kesukaan mereka.


"Ini mas susunya"

__ADS_1


"Makasis sayang, sini baringan"



Ajak Ata sembari membawa My rebahan di sebelahnya, ia gunakan lengannya sebagai bantalan sang istri. Sambil nonton pria itu terus ngemil kacang polong yang My sajikan untuk mereka.


"Dek, lama-lama mas bisa kena asam urat, tiap hari makan kacang-kacangan"


Ucap Ata sambil ngunyah.


"Ih, jangan sampelah mas. Lagian kan makannya gak berlebihan ko"


Jawab My sambil ikut makan kacang dari tangan suaminya.


My memiringkan tubuhnya menghadap sang suami, wajahnya tepat di atas dada bidang Ata.


"Mas wangi banget"


Bisik My manja, sengaja menggoda sang suami. Gadis itu tak lupa dengan saran dokter Gibran. Hidungnya terus menghirup wangi tubih pria kekar di hadapannya, sesekali bibirnya ia gunakan untuk mengecup lembut rahang mas suami. Tangan My juga ikut andil bermanja di bagian-bagian sensitip prianya.


Ata terpejam, meresapi setiap sentuhan jemari lembut sang istri, My terus berusaha membangkitkan gairah pria kekar itu.


Saat jemari My mulai menelusup masuk, Ata menghentikan jemari lentik istrinya.


Ucap ata terlihat frustasi. My menggeleng, ia kecup bibir suaminya penuh kelembutan.


"Gak mas, kita coba ya. Mas jangan pesimis dong, mas nikmati aja setiap sentuhan yang My berikan, mas rileks gak usah mikir yang macem-macem ya."


Ata menatap manik bening istrinya, terlihat disana ketulusan sang istri. Ata tersenyum sembari mengangguk, tangannya mengelus sayang kepala My. Perlahan Ata mulai menikmati sentuhan sang istri. Pria itupun tak tinggal diam Ia mulai menghunus hidungnya ditempat terindah di bagian tubuh Meylin.


Hasratnya mulai bangkit menggebu, mereka terus terbuai dengan permainan benda kenyal yang basah dan lima jari mereka yang mulai liar. My tersenyum melihat perubahan tingkat kepercayaan diri suaminya yang mulai terlihat. Biasanya pria itu tak mau merespon sentuhan My, karna takut nantinya mengecewakan sang istri. Namun hari ini di luar dugaan My, suaminya ikut andil dalam permainan liarnya.


My dengan jemari lentiknya membuka kaus sang suami sembari mengecup dada bidang Ata. Ata menurut saja bahkan pria itu ikit mengangkat kedua tangannya ke atas. My dengan senang hati mendapat lampu hijau dari pria tampan itu.


My menatap wajah sang suami, disana terpancar kecemasan yang kentara. My paham yang suaminya cemaskan saat ini.


My bangkit merubah posisinya menjadi duduk diatas pangkuan Ata dengan posisi berhadap-hadapan. My berbisik lembut di cuping sang suami.


"Jangan hawatir, sayang. Nikmati, pejamkan mata mas! My bantu buka ya"


Bisik My manja. Ata menatap ragu sang istri. Namun My tak perduli, ia buka resleting suaminya berlahan ia tarik celana bahan itu.


"Dek!"

__ADS_1


Panggil Ata ragu.


"Kita coba mas, kata dokter mas harus rileks." My mulai melancarkan aksinya, Ata tak membantah ia mulai rileks dengan apa yang istrinya lakukan di bawah sana. My kembali tersenyum melihat batang kehidupan suaminya mulai sedikit mengencang. Timbul rasa bahagia dalam diri My. Ata terus terpejam, tangan besar itu mulai meremas rambut panjang sang istri.


"Deek"


Panghil Ata mulai gelisah. Ata bangkit dari rebahannya ia tarik tubuh istrinya untuk baring di atas sofa. My kembali berbisik manja sengaja membangkitkan hasrat sang suami.


"Dia bangun sayang"


Ata tersenyum, dengan hati-hati Ata mulai menyarangkan pedangnya kesarung yang terasa hangat. Ata terus bergerak mengikuti irama tubuh yang mulai menuntut, tubuh mereka mulai basah karna peluh, Aliran listrik terus menjalar keseluruh tubuh mereka masing-masing. Mereka terpejam saling menikmati, Namun sayang saat dipuncak permainan diujung penetrasi pria itu dengan sialnya dedek kecil Ata mulai tertidur pulas. Ata bangkit dari tubuh My. Wajahnya memerah. Tanpa berucap sepatah katapun ata ngeloyor pergi.


Sambil menyambar pakaiannya di atas ranjang yang tampak tercecer, Ata masuk kamar mandi. My memejamkan matanya, ia tak kuat melihat suaminya tersiksa.


My tau suaminya itu tengah menahan malu. Atas kegagalan dalam permainannya.


My bangkit ikut menyusul sang suami. Pria itu dengan wajah datar mengguyur tubuhnya dengan air dari sower. My peluk suaminya dari belakang. Gadis itu ikut terguyur air yang jatu dari sower bersama tubuh suaminya.


"Mas jangan kecewa, mas gak perlu malu. Aku istrimu mas! hanya aku yang tau kekuranganmu, jadi mas gak perlu minder dengan My. Istrimu ini mencintaimu dengan segenap kekeranganmu mas, lantas apa yang mas hawatirkan?"


Bisik My terisak pilu di punggung suaminya. Gadis itu sedih bukan karna tak puas. Namun ia sedih melihat suaminya tersiksa dengan keadaannya. Hasrat dan batang kehidupannya bekerja tak sejalan.


Mendengar isakan sang istri, Ata membalik badannya, ia peluk istrinya erat ia kecup puncak kepala My yang basah.


"Maafkan mas sayang, lagi-lagi mas mengecewakamu!"


Bisik Ata lirih penuh dengan kepedihan.


"Gak mas, My ikhlas lilahitaala. My gak merasa kecewa. My gak kuat jika lihat mas pergi seperti tadi, ninggalkan My sendiri tanpa berucap. Jangan ulangi lagi mas. Biarlah kita sama-sama tidak meraih puncak indah itu. Yang terpenting kita tetap bersama, mas gak pergi ngeloyor tanpa salam penutup. My juga jadi ngerasa bersalah, jika mas seperti tadi"


"Maafkan mas. Mas malu sayang."


My mendongak menatap sang suami.


"Di sini gak ada siapa-siapa mas, hanya ada kita berdua dan itu hanya kita yang tau dengan kegiatan kita. Lalu apa yang mas malukan?"


Ata kembali memeluk tubuh polos istrinya.


Kemudian ia guyur tubuh My yang mulai berisi itu, dengan lembut pria itu menggosok busa putih yang wangi keatas permukaan kulit mulus istri tercinta. Mereka akhirnya melanjutkan ritual mandinya hingga selesai.


Kemudian Ata bopong tubuh sintal My, ia dudukan di atas ranjang. Pria itu dengan gesit mengambil baju tidur istrinya dalam lemari pakaian. My tersenyum melihat suaminya tak murung lagi. Sungguh dirinya harus ekstra sabar menghadapi sang suami tercinta.


Assalamualaikum, pembaca setia DOSEN GRAY. Jangan lupa selesai membaca, disetiap bab kasih author semangant cukup pembaca beri vote, like 👍 dan yang belum tekan 💟 dan ⭐ silahkan tekan. Dengan cara begitu pambaca semua sudah menghargai karya author. Karna menulis juga butuh waktu dan pemikiran. Mohon dengan sangat janganlah menjadi pembaca siluman. Karna yang baca puluhan ribu tiap harinya, tapi yg kasi dukunan haya lima ratusan orang sedih author 😥😥😥

__ADS_1


__ADS_2