DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
57


__ADS_3

Deru mesin mobil memecah kesunyian malam, mengantarkan pria tampan itu menuju ke kediamannya. Dengan langkah kaki kekarnya Ata terus menaiki undakan teras rumah, ia putar kenop pintu perlahan kemudian berjalan menuju kamarnya.


Netra hitam Ata fokus menatap ranjang yang telah terisi oleh dua manusia penguat jiwanya. Ata mendekat lalu duduk di atas ranjang sembari mengecup kenik putih sang istri, kemudian ia kecup pipi gembul buah hatinya. Wajah lelahnya terpancar dari netra hitamnya. Ata bangkit dari duduknya berjalan menuju ruang kerjanya.


Ia rebahkan punggung kekarnya di atas sandaran kursi, sementara di atas meja tersusun rapi file-file yang harus ia selesaikan malam ini. My terbangun dengan wajah pucatnya, ia tatap nanar sang suami yg tak menyadari jika tengah diperhatikan dari balik kaca.Dengan langkah sangat pelan nyaris tak terdengar, My berjalan ke arah sang suami yang tengah bermesraan dengan benda pipih yang terletak di atas meja. Dengan hati-hati My memeluk sang suami.


"Mas udah pulang? istirahatlah kerjanya dilanjutkan besok"


Pinta My lembut.


"Heey...! kenapa kamu bangun, sayang?"


Ucap Ata lembut, sembari mengelus kepala sang istri.


"Gimana My gak bangun, My cemburu mas"


Rajuk My manja. Ata menarik My, membawanya duduk di atas pangkuannya.


"Apa yang membuatmu cemburu, heeem? "


"Banyak"


Jawab My cepat.


"Sebutkan salah satunya saja"


Pinta Ata sembari mengecup pipi sang istri. Sementara My tak respon dengan apa yang suaminya lakukan.


"Sekarang mas lebih senang bermesraan dengan laptop, hari-hari cuma dia yang mas bawa kemana-mana, tengah malam juga mas masih setia meraba setiap huruf-hurufnya"


Ata tertegun mendengar jawaban sang istri, batinnya terasa ditampar, ia telan salivanya dengan getir, sungguh ia benar-benar telah mengabaikan istrinya demi sebuah pekerjaan. Dengan rasa bersalah ia rekatkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh hangat sang bidadari hatinya.


"Maaf"


Bisiknya lembut. My tak menjawab ucapan sang suami.


"Tidurlah mas, sudah malam"


My bangkit dari pangkuan sang suami, sementara Ata menganggukkan kepalanya dengan kaku, sembari menatap nanar sang istri.


Gerimis menyambut hari Mylin, ibu satu anak itu bangkit dari pembaringan yang nyaman, ia lepas perlahan lengan kekar pria dewasa itu, yang melingkar di atas perut ratanya. My melangkah menuju dapur ia bergegas menyiapkan sarapan sebelum azan subuh berkumandang. Waktu berlalu begitu saja, My dan Ata mulai mempersiapkan diri untuk menuju kampus.


Halaman kampus terlihat hiruk pikuk, manusia berlalu lalang dengan bermacam gaya dan tampilannya masing-masing. seolah menyambut kehadiar bintangnya kampus.


My berjalan berdampingan dengan pak dosen kilernya. Saat mereka melangkah menuju koridor kampus tiba-tiba tangan My, dicekal oleh salah satu penduduk kampus yang paling narsis.


"Maaf pak, pinjam My"


Ucap Klara dengan sopan. Ata menoleh lalu mengangguk sebagai jawaban. Kemudian pria dewasa itu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


"Apaansih Kel, main tarik-tarik aja. Kamu gak lagi mabokkan?"


Protes My sebel.


"Udah diem, jangan banyak protes My, aku punya sesuatu untuk kamu"


Jelas Kl tak sabar.


"Apa..?"


"Ni lo lihat, siapa yang ada dalam foto itu?"

__ADS_1


My memicingkan matanya seolah tak percaya, sembari menatap layar henpon Kl lekat-lekat, dengan sayu ia menatap manik bening Klara.


"Kamu dapat darimana foto Ini, Kl..?"


"Dari grup sebelah. My!"


My terduduk lemas di kursi taman kampus. Wajahnya mulai memerah, ibu satu anak itu mulai berspekulai tentang manusia-manusia yang ada dalam foto itu. My bangkit dengan lemas ia menyodorkan henpon milik Kl.


"Gue dulu"


Ucap My lembut.


"Lo, gak ada komentar My, soal foto itu..?"


My membalikkan badan, menatap Klara. Lalu ia menggelengkan kepalanya kemudian ia kembali melangkah menuju kelas. Melihat hal itu Klara merasa menyesal telah memperlihatkan foto itu. Dengan gesit Kl berlari mengejar Mylin.


"Maaf, harusnya gue gak nunjukin foto itu ke lo"


Ucap Kl penuh penyesalan. My tersenyum kecut, mendengar ocehan sahabatnya itu.


"Gak papa. Emang seharusnya gue taukan, Kl"


"Tapi, lonya jadi sedihkan My"


My kembali tersenyum getir, sembari menatap langit-langit ruang kelas. Sayup-sayup terdengar derap langkah yang sangat ia kenal. My menundukkan kepalanya ia tatap buku tulis yang masih kosong, fikirannya mulai tak karuan.


"Assalamualaikum, selamat pagi semua"


Suara bariton itu terdengar menggema di gendang telinga seluruh mahasiswa.


"Waalaikumsalam, pak!"


"Oke, kali ini saya akan menjelaskan tentang. Keterkaitan erat antara bisnis dan lingkungan. Jadi bisnis dan lingkungan itu saling berkaitan, mereka meliliki hubungan khusus yang sangat erat.


Berdasarkan tingkat pengaruh pada perusahaan maka lingkungan bisnis dapat dibedakan menjadi 2, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal.


Lingkungan internal adalah sumber daya manusia dan fisik yang mempengaruhi kinerja bisnis secara langsung. Lingkungan ini terdiri atas ,karyawan, manajemen, pemegang saham, modal dan peralatan fisik. Sampai di sini kalian paham, atau ada yang ingin kalian tanyakan?"


Ucap Ata lembut penuh wibawa.


"Saya pak"


Ucap My dengan suara lantang.


"Ya, silahkan My"


Ucap Ata sembari tersenyum, dengan menatap heran ke arah mahasiswi pilihannya.


"Jika bisnis dan lingkungan memiliki hubungan yang sangat erat, apa tidak ada kemungkinan dia akan berkhianat, pak?"


Ata terbengong mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Maksud kamu...?"


Tanya Ata memastikan, sontak seisi kelas kompak terbahak menertawakan istri pak dosennya. Kl hanya terdiam mematung.


"Lo diselingkuhin My"


ceplos salah satu hawasiswa.


"Cukup, tertawanya"

__ADS_1


Sergah Ata penuh wibawa. Namun mereka tak memperdulikan pak dosen.


"Kamu pikir bisnis ada hubungannya dengan cinta, My..?"


Celetuk Tedo seketika. Kelas semakin riuh. Dengan tegas Ata berdiri.


"Selesaikan ketawa kalian"


Potong Ata tegas. Seketika mereka membungkam bibir mereka masing-masing. Mereka paham jika pak dosennya tengah marah. Kemudian dengan lembut Ata menjawab pertanyaan si mahasiswinya.


My tertunduk, lalu ia permisi sembari menyandang tas meninggalkan kelas, karna waktu pak Ata juga akan segera berakhir.


Ata semakun heran dengan tingkah sang istri.


Ia cari istrinya itu di sekeliling kampus, namun ia tak menemukannya.


"Bapak sedang mencari siapa?"


Tanya klara sopan.


"Apa kamu melihat My?"


Tanya Ata pada Klara.


"My sudah pulang pak naik ojol"


"Serius kamu..?"


"Iya pak, barusan aja"


Jawab Kl pelan.


"Terima kasih, saya duluan"


Kl, mengangguk lalu masuk ke mobilnya. Dengan hati gelisah Kl melajukan mobilnya menuju kediaman, sungguh gadis itu merasa bersalah.


Setelah sampai Ata berlari memasuki rumahnya, di sana terlihat ibu satu anak itu tengah duduk sendiri di taman belakang.


"Kenapa kamu gak nungguin,mas?"


Tanya Ata sarkas. Namun ibu satu anak itu tak kunjung menjawab.


"Apa ini ada kaitannya dengan pertanyaanmu di kampus tadi..?"


Ata kembali bersuara. Sementara My menoleh menatap manik hitam suaminya.


"Menurut mas..?"


My tak menjawab, sebaliknya wanita itu malah menuntut jawaban dari sang suami.


"Apa kamu sedang berpikir mas selingkuh dan menghianati kamu, sayang...?"


Tanya Ata hawatir dan penuh kecemasan. My tersenyum sembari memiringkan bibirnya, tanda bahwa wanita itu tengah muak dengan situasi yang ia hadapi.


My kembali tak menjawab, ia berdiri untuk meraih tangan sang imam, untuk menyerahkan henponnya pada sang suami. "Buka di galeri dan siapkan jawaban mas untuk foto itu. Aku mau jemput Zain"


Ucap My dingin. Ata kembali terbengong melihat tingkah sang istri tercintanya


"Heeem, apakah benar dia tengah cemburu...?"


Ucap pria dewasa itu dalam hati, kemudian pria itu buru-buru berlari mengejar sang istri. Namun terlambat ibu satu anak itu sudah meluncur menuju rumah omanya zain

__ADS_1


__ADS_2