DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 8


__ADS_3


Jika rasa malu sudah nancep di hati. Semua jadi serba salah. Apapun yang kita rasakan serasa orang lain menertawakan kita dalam hati. Tapi My mencoba gak open dengan itu semua.


Meski dengan rasa yang gak karuan. Akhirnya gadis cantik itu melangkah menuju ruang tamu, mendekat kepada dua manusia yang hari ini telah membuat hidupnya serasa amblas ke dasar bumi, meskipun semua itu bukanlah salah mereka berdua. Melainkan itu akibat ketololan dirinya sendiri.


" Heey. Sini sayang! ternyata anak bontot mama udah cantik"


My dengan muka tak bersahabat duduk mendekati sang mama. Kemudian tanpa basa-basi gadis itu bertanya pada pria di hadapannya.


"Ngapain bapak malam-malam kerumah saya?" Tanya My sedikit terdengar tidak sopan.


"My. Gak boleh gitu, nank Ata ini dosenmu loh."


"Ya memang ma dia dosen My. Sapa bilang dia calon suami My" Ucap gadis itu judes.


"My. jaga sikapmu nak!" Gadis itu tak menggubris ucapan mamanya. Malah gadis itu melototkan matanya tanda ia tak suka atas kedatangan tamu tak diundang di hadapannya ini.


"Ya udah. Kalian ngobrol aja dulu. Tante tinggal ke belakang ya nak Ata" Pamit Melisa pada tamunya.


"Oh ya tan."


Sepeninggalan Melisa. My kembali menatap tajam pada dosennya itu.


"Kenapa bapak ke sini. Mau nindas saya lagi? Apa gak cukup bapak nindas saya di kampus"


Dengan judesnya My berucap, tanpa nada lembut sedikitpun.


"Hey. Kenapa kamu selalu berprasangka buruk pada saya? saya hanya ingin mengembalikan ini" Ucap Ata sembari menyerahkan modul yang tertinggal di mobilnya. Seketika wajah My berubah, tanpaknya gadis itu merasa bersalah pada dosennya.


"Maaf. Saya pikir bapak mau ngerjain saya lagi" Ucap gadis itu tak enak hati. Ata tersenyum menatap mahasiswinya.


"Ngerjain kamu itu memang sesuatu yang menyenangkan. Tapi, lebih menyenangkan lagi, jika saya melihat senyuman kamu"


Ucap Ata datar, sok berwibawa. My yang mendengar hal itu seketika membulatkan bola matanya dengan sempurna.



"Urusan bapak sudah selesaikan. Ini modul udah di tangan saya. Terus! Ngapain bapak masih di sini. Udah buruan pulang sana."


Usir gadis cantik itu sambari misuh-misuh. Dosen ganteng itu, lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi mahasiswinya.


"Saya ke sini gak cuma ngembaliin modul kamu. Saya juga ada janji dengan seseorang."


Ucap Ata santai. Mendengar jawaban dosennya, My menyipitkan mata belonya.


"Maksud bapak?"


"Ya saya ada perlu dengan rekan bisnis saya. Barusan beliau telpon, kalau sebentar lagi dia akan sampai di rumah ini" Jelas Ata kelewat santai.


"Oke. Kalau begitu tungguin saja rekan bisnis bapak sampai datang. Lagipula nunggu rekan bisnis kok di rumah orang. Kurang kerjaan banget. Maaf saya gak bisa nemani bapak. Saya mau ngerjain tugas!"


My berdiri hendak meninggalkan dosennya namun suara berat yang membelai pendengarannya, mampu menghentikan langkah gadis berkulit putih itu.


"Kamu hanya ada dua pilihan. Temani saya sebentar. Atau kamu akan saya perlihatkan gaya tidur cantik kamu saat di mobil"


Seketika gadis cantik itu menolehkan wajahnya menatap tajam ke arah pria yang terlihat tampan namun penuh dengan kelicikan.


"Anda memang manusia paling licik yang pernah saya temui" Umpat My kesal.


"Saya licik hanya dengan kamu saja"


"Terserah" Ucap My judes.


"Kenapa sih dek. Kamu judes banget?"


"Dek-dek. Saya bukan adik bapak. Karna bapak gak pantes untuk dibaikin. Ngelunjak"


Jawab gadis cantik itu lebih ketus.


"Saya punya tawaran untuk kamu. Bagaimana kalau kita damai, soalnya capek lihat kamu manyum mulu"


My seketika memutar bola matanya.


"Maaf gak tertarik"


"Beneran, kamu gak tertarik dengan calon suami sesempurna saya. Saya ganteng lo My"

__ADS_1


"Apaan sih pak. Lama-lama bapak itu ngeselin"


Ditengah pertikaian antara dosen dan mahasiswinya. Azam datang bersama pak Harisman.


"Maaf kami telat. Pasti Nak Ata kelamaan nunggu ya" Ucap Harisman tak enak hati.


"Oh gak papa om. Lagi pula saya gak sendirikok. Saya ditemani calon istri"


Ucap dosen gendeng itu kePDan.


"Apaan calon istri. Ogah" Ucap My judes sembari ngacir meninggalkan ketiga pria itu.


Melihat perdebatan adik dan sahabatnya itu Azam terbahak.


"Gilak. Lo ditolak bro!" Ejek Azam pada sahabatnya itu.


Harisman tersenyum menatap kearah Ata.


"Sabar anak perawan memang selalu jual mahal, Tantemu juga dulu gitu Ta!"


"Jadi, aku dapat lampu hijau ni dari om"


Harisman tertawa sembari menepuk bahu Ata.


"Tapi kamu harus usaha sendiri. Om gak mau ikut campur!"


"Sip om. yang penting lampu hijau udah di tangan!"


Usai bercanda Akhirnya mereka membicarakan bisnis yang tengah mereka tangani.


Jam sudah menunjukkan pukul dua puluh satu. Akhirnya Atapun pamit pulang. Sanpai di rumah pria itu langsung menuju kamarnya.


Namun di kamar pria tak langsung nemejamkan matanya.


Dengan bibir tersenyum. Pria itu terus menggulir layar henponnya. Sesekali tangannya berhenti, netranya menatap tajam layar pipih itu. Sejenak kemudian pria itu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya mulai berkelana.


Setelah puas menatap foto di layar henpon. Pria itu barulah mulai memejamkan matanya.


Mentari pagi yang begitu cerah, meringankan langkah Ata untuk mengantarnya ke kampus tempat ia berbagi ilmu.


Saat langkah kakinya mulai mendekati koridor. Terdengar sayup-sayup suara mahasiswinya yang amat iya kenal. Seketika dosen tampan itu menolehkan wajahnya ke sumber suara.



Disana dengan asyiknya mereka saling bercanda dan sesekali tangan Dodit menyuapi roti ke mulut My.


"Ehem"


Ata pura-pura berdehem. Sontak kedua manusia itu menoleh.


"Eh. Bapak, pagi pak!" sapa Dodit sopan.


"Mem" Dosen itu hanya menjawab dengan deheman. Lalu kembali melangkah meninggalkan koridor untuk menuju ruangannya.


Tak lama bel berbunyi. Ata berjalan menuju kelas bisnis A. Ata berjalan dengan langkah tegas. Sementara di belakangnya terdapat dua mahasiswanya berjalan beriringan namun tak lama, salah satunya memasiki kelasnya terlebih dahulu. Tinggallah Ata dan mahasiswinya yang berjala untuk menuju kelas yang sama.


Sampai di kelas Bisnis A. Dosen itu dengan penuh wibawanya memasuki kelas dan tak lupa ia dengan sengaja menutup pintu, tanpa melihat kebelakang, sehingga tak melihat bahwa ada sosok manusia yang hendak masuk.


Sedetik kemudian terdengar suara hantaman benda keras yang berbenturan.


"Dug. Aauuu"


Jeritan itu sontak membuat Ata menoleh ke belakang sejenak. Kemudian kembali melangkah menuju meja kebesarannya. Batinnya geli ingin tertawa namun lebih kehawatir sebenarnya, ingin rasanya pria itu mengusap kening putih milik gadisnya. namun ia menjaga wibawanya di depan seluruh mahasiswanya.


Sementara My yang menjadi korban melirik tajam kearah musuh terberatnya di kampus.


"Kamu sebagai komting, tapi tidak memberikan contoh pada temanmu. Kenapa kamu baru masuk?" Ucap dosen kiler itu mulai berkuasa.


"Maaf pak. Saya merasa, saya tidak terlambat, bahkan bapak juga baru masuk" Jawab My membela diri.


Ata geleng kepala melihat tingkah calon istri yang masih dalam khayalan.


"Baiklah keluarkan modul kalian, saya akan jelaskan materi selanjutnya"


Setelah empat puluh lima menit berlangsung, akhirnya Ata meninggalkan kelas.


My duduk di koridor kampus menunggu panggilan telponnya dijawab. Setelah tersambung My mulai berbicara.

__ADS_1


"Assalamualaikum mas Azam. Aku udah siap ni kuliahnya. Mas bisa jemput aku sekatangkan?"


"Wah maaf dek. Sepertinya mas gak bisa jemput kamu. mas ada rapat, kamu naik ojol aja ya dek!"


"Ah mas Azam gak asyik" Dengan jengkel My mematikan sambungan telponnya.


Usai menerima telpon adiknya. Azam dengan cepat menghubungi seseorang.


"Halo Ta. Tu My udah nelpon gue, buruan samperin dia tar tu bocah keburu dapet tumpangan"


"Makasi bro, lo memang calon kakak ipar terbaik deh." Rayu Ata girang.


"Halah. Ada maunya aja lo bilang gue baik, ya udah buruan anterin adek gue. Inget jangan coba lo macem-macemin"


"Aman insya Allah gue amanah"


Azam tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.


Sampai di koridor ternyata Ata kalah cepat dengan saingannya. Ternyata Dodit sudah terlebih dahulu mau mengantar My. Namun dosen itu tak mau kalah.Dengan suara tegasnya Ata memanggil mahasiswinya.


"Meylin."


My menoleh ke sumber suara.


"Iya pak. Ada apa?"


"Ayo pulang dengan saya!"


"Maaf pak makasih. Saya pulang bareng kak Dodit aja"


"Gak bisa My. Karna barusan Azam nitipin kamu kesaya, untuk ngantar kamu pulang"


"Gak pak, saya pulang bareng Kak Dodit Aja"


"Gak bisa My. Ini amanah"


Tanpa persetujuan, dengan gesit pria dewasa itu menyambar pergelangan tangan gadis pujaannya, ia terus menggandeng tangan My hingga sampai parkiran. Sehingga dua manusia itu menjadi objek penduduk kampus. Sementara Dodit hanya melongo melihat My digeret dosennya.


"Iiih. Lepasin tangan saya pak, saya malu dilihatin orang"


Ata tak menghiraukan protesan mahasiswinya. Dengan tegas pria itu meminta My untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Masuk, atau kamu mau saya bopong lagi"


Mendengar ucapan dosennya, My dengan terpaksa masuk kedalam mobil dosennya yang pitntunya sudah dibuka lebar oleh pria menyebalkan itu.


Di perjalanan, gadis cantik itu hanya manyun dan diam menahan kejengkelannya.


Matanya terus menatap kearah jendela. Ata mulai risih melihat kebisuan My.


"Kenapasih kamu ngambek terus sama saya, salah saya apa sih My?"


"Salah bapak banyak" Jawab My judes.


"Salah satunya?"


"Hari ini aja bapak udah jedotin kepala saya ke pintu" Seketika Ata menginjak rem. Pria itu menatap mahasiswinya intens.


"Maaf. Saya gak tau kalau ada orang di belakang saya"


Tanpa pikir panjang si pak dosen meraih kepala mahasiswinya. Lalu sedetik kemudian dosen itu mengusap lembut kening yang masih terlihat memar. My menoleh ke kanan seketika netra mereka saling beradu. My tertegun seolah gadis itu tersihir oleh pria di hadapannya. Begitupun dengan Ata, niat hati ingin mengecup kening gadisnya yang memar, namun Ata sadar gadisnya belum halal untuknya.


"Singkirin tangan bapak!" Bentak My ketus.


"Oh ya maaf"


Setelah tersadar Ata kembali melajukan mobilnya, untuk mengantar calon istri yang masih dalam hayala.


Mobil berhenti tepat di depan rumah My, gadis itu buru-buru membuka pintu untuk segera turun. Namun dengan cepat Ata meraih tangan mahasiswinya.


"Jauhi Dodit. Dek!"


Pinta Ata pada My. Mendengar permintaan dosennya, kening My mengerenyit bingung.


"Apaansih pak, saya merasa cocok sama dia. Apa hak bapak melarang-larang saya?"


Ucap My cuex. Setelah itu My masuk kedalam rumah begitu saja.

__ADS_1


Ata tertengun mendengar pengakuan gadisnya.



__ADS_2