
Angin bertiup sepoi-sepoi, menerpa kulit yang terasa segar. Mata menatap lepas ke sudut jendela kaca. Jika aku tidak bisa menjadi detak jantungmu , maka biarkan aku menjadi hembusan angin, yang menyejukkan lelahmu.
Membahas mengenai cinta, rasanya sungguh mual dan ingin menjauh. Ia sudah terlalu sering berputar di kepala muda nya itu. Tapi begitu, nyatanya cinta tidak pernah menjadi topik yang klise dan normatif. Seakan cinta selalu membawa anak angin di setiap sela-sela jiwa yang ingin selalu dimanja.
Pelukan hangat yang mendekap, membawa hasrat untuk menuangkan segala rasa yang mulai menggila.
Namun Ata tau itu sungguh tak mungkin, karna baginya, bisa memiliki raganya saat ini, itu sudah cukup baginya.
Ia tak muluk-muluk, sat ini gadis impiannya mau hidup berdampingan dengannya saja itu sudah cukup membuat hidupnya penuh warna, biarlah selebihnya akan menjadi urusah sang maha kuasa.
My masih duduk cantik di atas pangkuan pak dosen. Gadis itu dengan serius memperhatikan suaminya bekerja. Sesekali Ata membelai lembut pipi halus istrinya.
"Saya bahagia bisa sedekat ini dengan kamu?"
Ucap Ata jujur. My masih diam memperhatikan layar laptop suaminya.
"Kamu dengar saya" tanya Ata lagi, sembari mencubit hidung bangir milik istrinya.
"Heem, apa saya gak dengar"
Ucapnya sungguhan. Kemudian Ata mendekatkan bibirnya berbisik tepat di cuping putih milik My.
"Saya bahagia, bisa sedekat ini dengan kamu"
Pipi My berubah warna seketika, gadis itu tampak malu dengan apa yang dosennya itu ucapkan.
"Bapak mulai gombal. Bapak gak capek, saya duduk di pangkuan bapak dari tadi?"
tanya My heran.
"Capeknya enggak, cuma kaki saya kesemutan"
My seketika melompat dari pangkuan pak disennya itu.
"Kenapa bapak gak bilang?"
Ata tersenyim, kemudian ikut berdiri membawa gadisnya ketepian jendela kaca.
My tegak bersandar di pinggiran jendela, menikmati suasana senja di ibu kota. Ata berdiri di belakang tubuh langsing milik istrinya, tangan kekar itu ia lilitkan di tubuh hangat gadisnya, My berada dalam kungkungan Ata.
Mereka berdua sama sama menatap indahnya langit jingga.
"Apa yg bapak suka dari langit?"
Ata berpikir sejenak.
"Karna langit itu indah, mampu berubah-ubah warna, sesuai kondisi dari alam itu sendiri"
Ata menjelaskan dengan lugas.
"Menurutmu sendiri, kenapa?"
"Saya suka langit, karna langit mampu mengajarkan saya tentang kehidupan. Meskipun ia mendung namun ia masih bisa membentuk sesuatu lukisan yang indah. Yang mampu membuat orang lain takjub melihaynya."
Ata tersenyum. Gadisnya ini seungguh luar biasa, kepribadiannya sama dengan pilosofi tentang langit yang ia gambarkan. Tanpa harus My menjelaskan Ata tau, tentang dirinya.
"Boleh nanya sesuatu?"
Tanya Ata lembut
"Soal apa? "
"Kamu dan masalalumu? "
"Kenapa?"
"Saya ingin tau, tentang kisah masalalu istri saya"
"Boleh, bapak mau nanya apa?"
"Bagai mana perasanmu dengan mas Bammu itu? "
My menelisik manik hitam milik pak dosennya. My berpikir jawaban apa yang mesti ia berikan.
"Dia, hanya teman mas Azam. Tapi kami dekat. Kami gak pernah punya komitmen. Hanya saja mas Bam, selalu berkata. Jika dia akan datang untuk saya menjadi pangerannya. Saya selalu mengingat ucapan itu. Yah, sepertinya itu hanya candaan anak remaja yang menggoda adik kecilnya. Tapi hal itu pulalah yang terpatri di hati dan ingatan saya"
"Gak berniat cari tau tentang dia?"
"Sudah, tapi saya kehilangan jejak semenjak mas Bam pindah ke luar negeri"
"Kenapa gak nanya sama Azam."
My menarik napasnya perlahan, gadis itu merasa tak nyaman karna posisinya saat ini, napas dosennya itu selalu menerpa leher jenjangnya, sehingga mengalirkan sensasi yang aneh dari dalam tubuhnya.
"Bapak bisa geser ke sebelah saya, saya ngerasa gak nyaman jika bapak di belakang saya seperti itu"
__ADS_1
Ata menyipit menatap gadis di depannya.
"Baiklah"
Ata menuruti kemauan mahasiswinya itu.
Setelah berpindah tempat Ata kembali menuntut jawaban gadisnya itu.
"Kamu belum jawab, kenapa gak nanya sama Azam? "
My menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, mas ajam suka buli saya kalau saya nanya-nanya soal sahabatnya itu. O ya, kok bapak tau soal mas Bam? "
Ata menatap My lekat-lekat.
"Saya tau dari Azam"
Ucap Ata bohong. Ata yakin My akan tau tentang siapa dirinya, karna pria itu akan selalu memberi rambu-rambu untuk My segera tau. Karna At ingin memberi surprise pada istri tercintanya itu.
"Bapak sendiri pernah jatuh cinta?"
My mulai penasaran, ingin tau sosok suaminya.
"Pernah"
Jawabnya singkat.
"Banyak dong mantan bapak?"
Ucap My kepo.
"Gak punya mantan, cuma punya istri"
"Serius pak"
Ata tertawa, sembari mencubit hidung mancung My.
"Saya gak suka pacara. Tepatnya gak PD gombalin anak gadis orang. Bisanya cuma gombalin istri sendiri, kamu maukan saya gombalin"
My mulai menatap dosennya sebel. Gadis itu ngeloyor pergi. Sebenarnya My mulai salah tingkah, jika pak dosennya itu mulai gombal. Ia takut ketahuan, jika berada dekat pak dosennya. Ia gengsi jika ketahuan pipinya mulai bersemu merah bak bunga sakura yang baru mekar.
"Kok pergi?"
Ata terus melengkungkan bibirnya, ia tatap gadisnya hingga tertelan pintu kamar mandi.
Pria itu benar-benar sedang kasmaran, dadanya semakin berdetak kencang jika mengingat kebersamaannya barusan. Netra hitamnya ia pejamkan, untuk menghalau pikiran yang mulai tak waras menerobos masuk, merusak detak jantungnya saat ini.
Bayangan-bayanhan kotor mulai merambah kepikirannya yang mulai konslet. Ata melangkah menuju ranjangnya. Ia dudukkan bokongnya di tepian ranjang. Ata masih gelisah, pria itu ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin, agar tubuhnya jinak kembali.
My keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan pakaian lengkap. Gadis itu segera mengenakan mukenahnya. Ia gelar sajadah My sudah siap untuk berserah diri pada sang ilahi robbi.
"Tunggu saya sebentar, kita shalat bareng"
My membalikkan badannya, menatap pak dosen yang menenteng handuk ke kamar mandi. My berjalan menuju rak untuk mengambil satu sajadah lagi, ia gelar tepat di depan sajadahnya saat ini. Kemudian sebari menunggu pak dosen My duduk di atas sajadahnya.
Ata keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, pria itu mulai bingung mencari pakaian dalamnya. My lupa memberi tahu pak dosennya, jika pakaian dalamnya ia pindah di lemari sebelah.
"My, barang-barang sakral saya mana?"
My menoleh, ke sumber suara
"Oh maaf, kemarin saya suruh mbok Rum untuk pindahkan ke lemari sebelah. Soalnya lemari yang itu udah sempit"
Jawab My sembari menunduk, gadis itu malu dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Bapak bisa geser sedikit, biar saya carikan"
Ata mulai bergeser memberi ruang untuk istrinya bergerak.
"Ini pak, bapak tinggal pilih."
"Bisa tolong ambilkan"
Pintanya pada My.
My mendelik sempurna. Baru kali ini ia memegang dalaman seorang pria.
"Tapi pak" Ata tak menjawab, pria itu hanya memberi isyarat dari gerak tubuhnya. Dengan ragu My meraih dalaman berwarna abu-abu.
"Ya ampun, ini dosen dalamannya juga sampe warna yang sama, abu-abu"
Batin My heran.
"Ini pak"
Ata raih benda sakral itu, kemudian dengan santainya ia mengenakan di hadapan mahasiswinya. My buru-buru membalik badan.
__ADS_1
"Sial, apaan pak ata. Kok gak malu sih"
Dumel My geram.
"Buruan pak, katanya mau shalat"
"Mana baju koko saya My"
Tanya Ata, sebagai isarat agar gadis itu menyiapkan pakaian untuknya.
"Di lemari pak"
"Tolong ambilkan"
My kembali berdiri memilihkan baju koko untuk suaminya.
"Yang ini pak? "
"Yang mana saja, yang penting kamu yang memilihkannya"
My sembarang pilih, karna bingung semua warna baju dosennya itu sama, semua warna gray.
Ata berjalan menuju sajadah, kemudian ia kumandangkan ikomah. My telah berdiri menjadi makmum di belakang suaminya. Mereka sujud bersama.
Usai salam, Ata memanjatkan doa, yang diaminkan oleh istrinya. Ata berbalik menoleh ke kanan sembari mengulurkan tanganya, My menyambut tangan kekar itu ia salam dan mencium tangan pak dosennya dengan takzim.
Ata tak mau kalah, ia condongkan kepala gadis di hadapannya kemudian ia bingkai wajah ayu itu dengan kedua tapak tangan besarnya, Ata mulai menyematkan kecup lembut di puncak kepala dan kening putih istrinya.
Tubuh My menegang seketika, ini yang kedua kalinya ia dicium dalam keadaan sadar. Rasanya pipi gadis itu memanas.
"Jangan canggung, karna saya akan terus melakukannya"
My tertunduk malu.
"Kemarilah adahal yang ingin saya beri tahu denganmu"
Ata menarik lembut tangan My, agar gadis itu mendekat.
"Kamu tau, menyiapkan keperluan suami itu menjadi nilai ibadah, untuk istri yang melakukannya dengan ikhlas. Karna suami adalah pemimpin dan imam bagi istrinya.
Wanita yang paling baik adalah wanita yang mentaati suaminya ketika diperintah. Sepanjang perintah itu tidak bertentangan dengan syariat Allah. Termasuk, saat suami mengajaknya di ranjang. Wanita yang baik, ia tidak akan menolak ajakan suami tanpa alasan yang syar’i.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Gak hanya itu Allhah juga berfirman dalam Alquran.
Bawasannya"
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS. An Nisa’: 34)
"Tak hanya Allah, Rasul juga mengingatkan para istri atas Hak suami, yang menjadi kewajiban istri amatlah besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam"
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ
“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud no. 2140, Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1852 dan Ahmad 4: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
My terdiam mematung di tempatnya. matanya mulai dipenuhi kabut.
"Kok diam?"
Tanya Ata lembut.
"Saya belum bisa melakukannya pak"
Ucap My bergetar, tenggorokannya serat, menahan isakan.
"Belajarlah mulai sekarang, lakukan dari hal yang terkecil misalnya kamu bisa siapkan pakaian saya, menemani suami makan dan nurut perintah suami. Gimana?"
My menatap suaminya sejenak.
"Tapi pak, bagaimana dengan urusan ranjang yang bapak sebutkan tadi? apa saya termasuk istri yang berdosa, hingga saat ini saya belum memberikan hak bapak sebagai seorang suami"
Ata kembali tersenyum. Pria itu memeluk istrinya dengan erat.
"Selagi saya ridha, atas apa yang kamu lakukan, mengenai hak-hak saya, maka sepanjang itu kamu tak nanggun dosa. Namun jika saya tak meridhai maka, sepanjang penolakamu, kamu akan mendapat dosa itu. Tapi tenang, saya ridha karna saya tau kamu belum siap. Sudah jangan kamu pikirkan soal itu."
Pria itu berucap sembari mengecup pipi lembut istrinya. Sementara Gadis itu menahan isakkannya, batinnya tertohok oleh ucapan sang suami. Sungguh My malu pada dirinya sendiri.
"Huuus, jangan menangis. Tenanglah, Saya tak akan meminta hak saya sekarang, saya hanya berkewajiban mengingatkan kamu sebagai istri saya. Atas tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan tanggung jababku sebagai suami."
My menatap suaminya sejenak kemudian ia menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Ata Herlambang, ia tumpahkan tangisnya hingga dadanya merasa lega.
__ADS_1