
Kita adalah apa yang kita pikirkan, bukan apa yang mereka pikirkan. Kita adalah apa yang kita inginkan, bukan apa yang mereka inginkan. Tak usah berhenti melangkah. Jatuh dan terluka itu hal yang biasa. Semua akan menang pada waktunya terus berjuang, melawan setiap getir pahitnya kehidupan.
My membuka matanya menatap wajah pias sang suami. Gadis itu bingung.
"Mas kenapa?"
Tanyanya polos tanpa dosa. Ata menatap wajah My yang tampak berkeringat. Pria itu mengulurkan tanganya menyeka lelehan peluh yang hampir jatuh ke mata belo sang istri.
"Mimpi apa?"
Tanya Ata datar. My tak langsung menjawab. Gadis itu malah menatap suaminya aneh.
"Emang kenapa, kok tiba-tiba mas nanya mimpi?"
Tanya My heran. Ata tersenyum hambar pada sang istri.
"Jawab aja tadi mimpi apa?"
Pinta Ata sedikit memaksa.
"Ngimpiin mas"
Ucap My santai. Kening ata berkerut menelisik manik bening sang istri.
"Ningpi olah raga malem bareng mas?"
Jawab Ata langsung, terdengar ketus. My tertawa mendengar jawaban sang suami.
"Mas mulai ngaco!"
Jawab My sambil nyubit hidung mancung suaminya.
"Tadi My mimpi, may lagi dimanja sama mas di kursi taman kompleks, terus datang anjing mau ngejar mas. My ngos-nosan lari nolongin mas, ngusir anjingnya pak Tupang, perasaan My panggil-panggil mas tapi mas gak denger, jadinya pantat mas kenak gigit sama itu anjing. Terus dalam mimpi My nangis takut kalau mas mati"
Ucap My jujur, menceritakan mimpinya barusan. Ata terbengong mendengar cerita istrinya yang konyol.
"Ya Allah, aku sudah mikir yang macem-macem tentang mimpi istriku."
Batin Ata dalam hati. Sungguh ia benar-benar paranoid akhir-akhir ini. Sampai perkara mimpipun jadi masalah besar untuknya.
"Ya ampun pantesan aja istri mas berkeringat, kirain mas, kamu sedang mimpi apa"
Ceplos Ata sembari tersenyum.
"Hiih, masnya aja yang mikirnya kebangetan"
Ucap My ngelendot manja ke dada suaminya.
"Sayang, besok mas mau ada perjalanan ke
Hamburg Jerma. Kamu mau ikut?"
Tanya Ata seriua.
"Mas lupa, peret ade udah besar sayang, Adek di rumah aja deh. Rencana berapa hari disana,mas?"
Tanya My ingin tau.
"Mungkin dua atau tiga harian lah"
Jawab ata sembari memeluk sang istri.
"Dalam rangka apa mas?"
__ADS_1
Tanya My.
"Biasa, nemuin investor sayang, untuk proyek baru yang di kalimantan, yang sedang ditangani mas Azam"
Jawab Ata jujur, karna memang perjalanannya ke luar negeri selain berobat, Ata juga ada temu janji dengan salah satu investor dari jerman. Namun prihal berobatnya Ata tak berani berterus terang, ia takut istrinya terlalu berharap banyak. Ata tak ingin mengecewakan sang istri.
Setelah sampai di Asklepios Klinik Barmbek, Hamburg Jerman, Ata dan Gibran sudah ditunggu oleh dokter mex di ruangannya.
Dokter Mex tersenyum ramah. Setelah berbincang, dokter Mex mulai melakukan pemeriksaan fisik untuk mengonfirmasi diagnosis dan memastikan kondisi yang dialami Ata.
Kemudian dokter Mex meminta Ata untuk berbaring guna untuk melakukan pemeriksaan USG. Setelah selesai, Ata diminta berbaring dimeja untuk pemeriksaan lanjutan dengan posisi terlentang. Sesuai prosedur ESST.
"Jangan takut, proses ESST tidak sakit kok pak Ata. Ayo, coba Pak Ata rileks"
Pinta dokter Mex ramah. Ata tersenyum canggung, Ata tak menyangka jika batang kehidupannya ini, akhirnya dilihat oleh selain istrinya.
Dokter Mex mulai mengoleskan gel khusus ke seluruh bagian batang (P) Ata. Ata pasrah dengan apa yang dilakukan dokter Mex.
Kembali Ata menatap ngeri dengan alat aplikator ESST yang tertempel di 5 titik bagian batang (P) Ata.
Setelah terpasang sempurna, dokter Mex kembali menjelaskan prosesnya.
"Tenang ya pak Ata, nanti setiap sisi batang (p) pak Ata akan diberikan gelombang kejut. Gelombang kejut itu yang akan bekerja melepaskan dorongan (impuls) dan energi kinetik untuk merangsang aliran darah di batang (p) pak Ata, mudah-mudahan dengan terapi ini pak Ata bisa normal lagi"
Jelas dokter Mex memberi semangat. Setelah selesai melakukan terapi Ata dan Gibran istirahat di hotel.
"Bagaimana sudah ada perubahannya Ta?"
Ata menatap sahabatnya heran.
"Gue belum coba, istri gue di rumah Gi"
Jawab Ata polos.
Jawab Gibran santai.
"Apaan lo, punya gue bisa kenceng tapi bentar doang, gak bisa nembak, dodol! Lo yang dokter harusnya lo yang tau. Kan lo yang nangani gue"
Jawab Ata geram. Gibran ngakak lihat kepolosan sahabatnya itu.
Setelah selesai urusan bisnis dan berobatnya, akhirnya Ata dan Gibran kembali ke indonesia. Pria itu menghabiskan waktu selama empat hari untuk empat keli terapi. Tak lupa dokter Mex memberi resep obat untuk satu bulan kedepan.
Sampai di rumah My menyambut girang kedatangan sang suami.
"Mas udah pulang? katanya tiga hari, ini malah lebih. My kangen mas!"
Ucap My langsung nemplok ke suaminya. Ata tertawa melihat kebahagiaan sang istri.
"Mas juga kangen dek"
Ucap Ata sembari membopong sang istri ke kamar. Ia baringkan wanita berperut buncit itu, Ata dengan gemasnya nguel-nguel sang istri, mereka melepaskan kerinduan dengan kecupan-kecupan lembut dipadu dengan sentuhan jemari yang berkeliaran manja di bagian empuk yang terlihat menggiurkan.
My mulai was-was, dengan tindakan sang suami, wanita itu takut jika pria kekar itu, akan merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Mas, yakin ingin mencobanya?"
Tanya My hati-hati.
Ata tetsenyum.
"Kita coba ya sayang"
My kembali menatap ragu pada Ata.
__ADS_1
"Tapi mas janji, jika nanti belum berhasil mas gak boleh sedih, mas gak boleh.."
Belum selesai My memberikan kultum untuk sang suami, suara My sudah terputus karna ulah ata yang dengan geramnya membungkap bibir mungil itu dengan ******* lembut.
My melotot ditengah tautannya. Ata tersenyum sembari terus menikmati permsinannya. Pelan-pelan pria itu melepas daster yang istrinya kenakan. My kembali memastikan. Ia bangun dari baringnya, gadis itu duduk menatap penuh pada netra hitam sang suami.
"Mas yakin?"
Tanya My hawatir.
"Mas kangen sayang, pengen jenguk anak kita di dalam sini?"
Ucap Ata santai. Perlahan Ata baringkan lagi istrinya dengan lembut agar tak menyakiti sang istri, ia susun bantal untuk bersandar My, agar istrinya tak merasa sesak saat pertempurannya nanti.
Pelan-pelan Ata mulai mencoba menyarangkan batang kehidupannya ke calon jalan bayinya nanti, yang terlihat gelap dan sempit di bawah sana. Ata mulai berkeringat dingin, pria itu juga sebenarnya takut gagal lagi, namun dengan tekat kerinduannya yang memuncah, Ata tetus mengguncang pohonnya agar buah yang nikmat itu gugur memenuhi goa sempit, yang nantinya mereka pungut berdua untuk ia nikmati bersama sang istri tercinta.
My mulai gelisah. Saat sumaminya itu semakin kencang mengguncang miliknya. Kuku My menancap cantik di punggung sang suami. My mengerang bibirnya terbuka manja dengan mata setengah terpejam.
"Maas"
Bisik My tersengal. Ata gemetar tubuhnya ikut menegang, meski tembakannya itu tak sekencang rudal Israel namun bagi mereka tembakan itu sudah cukup memuaskan dan menjadi pencapaian yang luar biasa. Ata ambruk tepat di samping tubuh My.
"Mas, tadi adek gak sedang bermimpi enak-enakkan?"
Tanya My benar benar surprise. Ata tertawa menatap wajah istrinya yang lucu. Dengan gemes Ia jitak kening istrinya lembut.
"Itu beneran, sayang"
Punya mas udah mulai gagah lagi, meski belum sempurna."
Ucap Ata bahagia. My menatap suaminya tak percaya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah mejadi wanita yang sabar menunggu kesembuhan mas, semoga kamu menjadi salah satu wanit yang seperti dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim"
Ucap Ata bahagia.
"Mau dengar kisahnya?"
Tanya Ata pada My. My mengangguk manja sembari berbaring dengan bantalan di lengan suaminya, Ata tersenyum tangannya tetus mengelus perut buncit sang istri.
"Dalam hadis itu Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkisah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang perempuan yang termasuk penduduk surga?”
“Tentu,” jawabku.
Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Perempuan yang berkulit hitam itu. Dia pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengeluh, ‘Saya menderita kesurupan (ash-shar’), kalau sedang kambuh tersingkap auratku. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menyembuhkanku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi pilihan kepadanya, “Apabila mau, engkau bersabar dan ganjaranmu adalah surga. Namun, apabila engkau tetap ingin sembuh dari sakitmu, aku akan memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menyembuhkanmu.”
Si perempuan menjawab, “Aku pilih bersabar.” Kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Namun, auratku tersingkap saat kambuh. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar auratku tidak terbuka.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)."
"Nah itu kisahnya."
Ucap ata di ujung ceritanya
"Tapi mas, kan beda kisah dengan My, itu orang kesurupan, sementara My harus ikhlas menghadapi kondisi mas yang tidak sempurna"
My protes pada sang suami.
"Meski lain kisah, namu hadits itu berlaku untuk wanita yang senantiasa bersabar maka ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Allah, yaitu surga-Nya, tak hanya dalam hadits dalam Al quran Allah juga menjamin di akhirat, Allah menjanjikan martabat yang tinggi bagi setiap orang yang menjalani kehidupan di dunia dengan sabar. Itu terdapat dalam surah Al-Furqan ayat 75 yang artinya.
"Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," Alquran surat Al-Furqan ayat 75.
Ucap Ata sembari mengecup sayang kening putih sang istri.
__ADS_1