DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 68


__ADS_3

Makna hidup kita di dunia adalah terletak pada pelayanan dan pengabdian kita pada manusia namun ada kalanya kita harus beristirahat karena kita juga manusia.


Pagi ini My ingin merilekskan pikiran dan tubuhnya. Seminggu belakangan ini My sibuk dengan skripsinya. Hanya tinggal dua minggu lagi ibu beranak satu itu akan menghadapi sidang munaqasyah.


My duduk di ruang keluarga sembari mengawasi Zain bermain. Bocah itu begitu aktif, perkembangan motoriknya sangat baik. My bangga menjadi ibu Zain.


"Mama mama..Zain hebat, Zain bisa buat pesawat."


Ocehnya terdengar ceriwis.


"Wah iya sayang...anak mama hebat...!"


Puji My pada putranya.


"Ayo kita main lagi..!"


Ajak My pada buah hatinya. Saat mereka bermain dengan Ata turun dari lantai atas.


"Pagi sayang..!"


Sapa Ata pada istri dan putranya.


"Pagi, papa..!"


Zain berlari kedalam pelukan Ata. Ata menyambut pelukan putranya.


Tak lupa tangan Ata juga meraih tubuh istri tercinta agar masuk bersamaan dalam dekapannya. My tersenyum lalu ibu beranak satu itu mendaratkan bibirnya ke rahang berjambang milik suaminya.


Satu kecupan kecil saja mampu membuat jantung Ata berdesir. Lalu pria itu menatap lembut sang istri, My melihat sesuatu di mata hitam suaminya, ada hal yang pria itu inginkan darinya. Sekilas Ata mengecup bibir mungil My, tanpa sepengetahuan Azam.


Wanita itu mendelik melihat tingkah suaminya yang sembrono. Ata mengalihkan fokusnya. Sangat bahaya jika sepagi ini ia harus mengurung istrinya di kamar. Hasilnya tidak akan sempura jika si kecil belum tidur.


"Wah..gembul sekali anak papa..!"


Ata gemas, pipi gembul itu ia cubit berkali kali.


"Sakit paaa..!"


Protes Zain pada papanya.


"Ooh..maaf papa gemes..!"


Ata kembali mencubit pipi Zain.


"Mas, hari ini gak ada acarakan..?"


Tanya My pada suaminya.


"Alhamdulilah hari ini mas libur dari semua kegiatan.Jadi kita bisa main bareng di rumah..!"


Mendengar ucapan Ata, Zain langsung bersorak gembira.


"Hore..kita main bola ya pa..!"


Zain dengan semangat menarik tangan Ata Herlambang.


"Tapi sayang, papa belum sarapa..!"


"Mama..mama..kasih papa makan..!"


Oceh bocah cilik itu dengan girang.Sembari menarik narik baju mamanya. My dan Ata saling pandang mendengar ucapan putranya lalu tertawa bersama.


"Sayang, kok ngomongnya gitu, emang papa ayam dikasih makan..?"


Tegur My sembari tersenyum


"Uups..! Zain salah ya ma..!"


"Gak salah sayang, hanya kalimatnya kurang tepat..!"


My berucap sembari mengecup pipi gembul Zain.


"Maaf papa..!"


Ucap Zain, terdengar gemes di telinga Ata. Ata tersenyum sembari mengacak lembut rambut ikal putranya.


Selesai sarapan Ata dan Zain bermain bola di taman belakang,sementara My bertugas sebagai jurinya. Mereka terlihat gembira, keluarga kecil itu benar benar menghabiskan waktu liburnya bersama.


Tengah asyik bermain Azam datang dengan membawa tentengan di tangan.Melihat kehadiran Azam bocah itu meninggalkan bolanya. Lalu berlari mengejar Azam. Mengecek yang Azam bawa.


"Om Azaaam...! Om Azam bawa apa..?"


Teriaknya gembira.


"Iya sayang...! om bawa donat kesukaan Zain"

__ADS_1


Dengam gemes Azam menggendong bocah gembul itu.Lalu meletakkan di pangkuannya.


"Tumben mas...hari libur udah rapi.."


Ledek My pada sang kakaknya.


"Di rumah sepi, mama sama papa lagi keluar.!"


Jawab Azam.


"Suamimu mana dek..?"


Tanya Azam sambil mencari cari adik iparnya.


"Ada mas, di belakang. Sepertinya lagi bersiin kolam renang..tadi sih abis main bola!"


Jawab My sambil menyuguhkan cemilan pagi.


"Ya udah, mas temui Ata dulu..!"


Azam lalu bangkit dari duduknya dan menyerahkan Zain pada My. Azam lalu menuju taman belakang.


"Sibuk Ta..?"


Yang dipanggil noleh mencari sumber suara.


"Eeh..kapan datang, mas..?"


"Baru aja..!"


Sahut Azam singkat.


"Ada apa, kok wajah lo kelihatan kusut banget..?"


Ata mencoba mencari tau.


"Entah la Ta, gue pusing dengan jalan hidup gue yang semraut..!"


Azam duduk di gazebo dengan menatap liar langit pagi.


"Semraut gimana.Semua ada jalan keluarnya mas..!"


Ucap Ata mengingatkan. Azam mengangguk setuju.


"Ayasa..Ta!"


"Ada apa lagi dengan Aya..? lo masih gak mau dia jadi sekretarisnya..?"


Tanya Ata tak faham maksut ucapan Azam.


"Gak gitu...!"


Sangkal Azam. Tentu saja Ata makin heran pada pria yang terkesan pendiam itu.


"Lah, terus apa lagi mas...?"


Tanya Ata menyeludik.


"Gue takut kehilangan dia untuk yang ke dua kali."


Ata mengerut kan keningnya atas pernyataan Azam.


"Gak salah dengar..? bukannya lo anti sama Ayasa.?"


Sahut Ata heran.


"Itu dulu sebelum gue tau kejadian yang sebenarnya, Ta..!"


Azam terlihat gusar.


"Lo masih ingatkan, gimana kecewanya gue terhadap Aya, ternyata itu kebodohan terbesar yang gue lakuin. Gue terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tentang kejadian itu. Jika saat itu gue mendengarkan penjelasannya mungkin gue sudah bahagia bersama dia..!"


Dengan pancar mata serat dengan kesedihan Azam terus bercerita pada sahabatnya itu.


"Jadi sekarang mau lo bagai mana..mas?"


Azam terdiam. Ia sepertinya sedang mencari kata yang tepat untuk diucapkan.


"Apa gue masih pantas untuknya, Ta..?"


"Ya menurut gue sih pantes aja, Tapi semua kembali ke elonya dan Aya. Coba..lo bicarakan dari hati ke hati. apa perlu gue yang nanyain..?"


Sahut Ata enteng meledek


"Gue serius Ta..!"

__ADS_1


"Lo...sangka, gue bercanda mas..? emang itu yang harus lo lakuin, bertanya secara gentle"


Ata kembali menegaskan.


Azam tampak galau ia duduk bersandari di tiang gajebo pemikirannya melalang buana. Setelah puas dengan pemikirannya sendiri akhirnya pria itu pamit pulang. Namun pria itu tak langsung pulang ke rumahnya.


Di perjalanan Azam terus berpikir untuk memantapkan hatinya. Apa ia harus kembali berbicara pada Aya atau cukup diam biarkan waktu yang berbicara. Azam terus berpikir, Hingga membuat pria itu tak fokus saat mengemudi.


Ia tak menyadari jika dari arah yang berlawanan ada mobil yang menyalip kendaraan tepat di hadapannya, Azampun tak sempat menginjak rem mobil hitam itu akhirnya laga kambing dengan Range Rover yang Azam kemudikan.


Mobilnya ringsek bagian depan.Pria itu seketika tak sadarkan diri saat darah mengalir dari dahinya akibat percikan kaca. pengguna jalan seketika menghentikan kendaraannya, untuk membantu korban laka lantas. Ambulancepun melaju membawa pria tiga puluh enam tahun itu.


Azam terbaring lemah di ruang IGD, Salah satu perawat mengambil henpon pria itu guna menghubungi keluargannya. Setelah sambungan berdering perawat itu dengan hati hati menyampaikan musibah yang dialami Azam.


Ditempat yang berbeda, Ata herlambang merasa heran, kenapa masnya itu menghubunginya, padahal pria itu belum lama meninggalkan rumahnya.


"Ada apa lagi dengan dia..apa gue harus buatkan teks untuk di hafal, biar dia lancar ngomong di depan Aya..!"


Ata menggerutu pada sahabatnya itu. Atapum dengan cepat menjawab telpon dari Azam.


"Iya..mas..ada apa..?"


"Maaf, saya perawat dari pihak rumahsakit Persada, ingin mengabarkan bahwa pemilik henpon ini mengalami kecelakaan..."


Ata tertegun kehawatirannya mulai menguasai pemikirannya. Apa yang ia gerutukan ternyata salah.


"Jadi bagai mana keadaannya sus..?"


Tanya Ata hawatir.


"Beliau belum sadarkan diri, untuk lanjutnya silahkan bapak datang ke rumah sakit guna pengurusan administrasi..!"


"Baik..saya akan segera kesana..!"


Ata mematikan henponnya.My yang mendengar percakapan suaminya mendekat ke Ata.


"Ada apa mas..?"


Tanya My ingin tau.


"Mas azam dek...! mas Azam kecelakaan...!"


Jelas Ata pada istrinya.


"Jadi gimana keadaannya mas..?"


"Mas kurang tau..!"


Dengan langkat cepat pria itu menyambar kunci mobil.


"Mas tunggu, aku ikut..!"


Ucap My sambil menangis, wanita itu begitu hawatir.


"Gak usah sayang, mas sendiri dulu, kamu di rumah jagain Zain..! jangan kabari mama dulu, biar mas kabari papa.."


Perintah Ata pada sang istri.


"Iya mas..!"


My terduduk di sofa, air matanya merembas ia takut terjadi sesuatu pada mas satu satunya itu.


Sampai di rumah sakit persada,Ata langsung menuju IGD untuk menanyakan korban laka pada salah satu perawat di situ.


"Maaf sus, saya keluarga Azam yang laka lantas tadi..!"


"Oh iya..ikut saya pak..!"


Ata ikut membuntuti perawat yang mengantarnya. Melihat kondisi sahabatnya, Ata begitu hawatir.


"Ya Allah mas...! kenapa bisa begini...!"


Gumamnya dalam hati. Di ruang IGD Azam bertemu dengan dikter yang menangani Azam.


"Jadi bagai ma keadaannya dok, apa ada hal yang menghawatirkan..!"


"Sejauh ini tidak ada, korban hanya syok saja, lukanya juga tidak parah, hanya luka kecil di bagian keningnya...!"


Ucap dokter itu dengan gamlang.


"Jika tidak ada yang menghawatirkan, kenapa mas saya belum juga siuman dok..?"


"Kita tunggu sampai tiga puluh menit kedepan ya pak, jika pak Azam belum juga siuman kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan"


Jelas dokter itu menenangkan.

__ADS_1


"Baik dok..!"


Ata menuruti perkataan dokter, Ia lalu duduk di sebelah ranjang Azam, pria itu tampak gusar menatap wajah sahabatnya. Ata menduga ini semua ada hubungannya dengan Hana.


__ADS_2