
Cerita kita hari ini dan hari esok, selalu menjadi teka-teki, sama halnya dengan kejadian yang Ata dan My alami ditaman waktu itu. Siapa yang bisa menebak takdir seseorang, cenayang sekalipun terkadang meleset dari prediksinya.
Setelah kejadian di taman itu, My makin kesal dengan pak Ata. Di kampus gadis itu selalu menghindari dosen super-duper menyebalkan itu. Saat di kelas My lebih asik menyibukkan diri dengan pena dan bukunya, meski gadis itu hanya sekedar membuat gambar abstrak yang memenuhi lembar bukunya.
"My, lo ngerjain apasih? daritadi lo gak perhatiin pak Ata, yang lagi jelasin materi, ditanya baru nyahok lo, lihat tu, pak Ata lihatin kamu dari tadi" Kl berbisik di telinga My.
"Udah biarin aja, ditanya tinggal dijawab, susah amat" Jawab My asal. Kl kembali memperhatikan dosennya yang tengah menjelaskan. Kl mulai tak ambil pusing dengan kelakuan sahabatnya.
"Oke dari penjelasan yang saya paparkan, apa masih ada yang kurang jelas?"
Tanya Ata pada mahasiswanya.
"Insya Allah paham pak"
Jawab sam mantap.
"Bagus. Sekarang coba kamu sebutkan salah satu manfaat dari menyusun business plan" Pinta Ata pada Syam.
"Baik pak. Adapun manfaat dari penyusunan business plan itu, untuk rencana pembuatan usaha baru" jawab Sam santai.
"Ya, benar sekali. Sekarang kamu My, coba kamu sebutkan apa aja kegunaan business plan itu?"
"Ada empat kegunaan, pak"
Ucap My males.
"Iya saya tau ada empat, tapi yang empat itu, kegunaanya untuk apa aja My?" Tanya Ata geram.
"Yakan, bapak tau tadi. Kenapa bapak tanya saya?" Dengan beraninya My mengerjai dosen kiler. Ata menarik nafadnya pelan, sembari mendekat ke My.
"Saya mau kamu yang jawab." Ucap Ata tegas.
"Yang jelas untuk bisnisla pak, masak untuk ngelamar anak gadis orang, iya kalau anak gadisnya mau sama bapak"
Ucap My santai. Semua teman sekelasnya tertawa terpingkal. Ata geram dengan tingkah My, yang menjadikan materi ajarnya sebagai lelucon.
"Lo ngarep dilamar pak Ata. My?" ceplos Ardi sembari tertawa.
"Haa, gue..."
tunjuk My pada dirinya. Belum sempat My berceloteh, Ata berdehem tanda memperingati. Sepertinya Ata takut My menjawab dengan nyeleneh lagi.
"Dasar bocah kunyuk" batin Ata geram
"Eem." dehemasn dosen itu menggema keseluru penjuru kelas bisnis A. Semua mahasiswa terdiam. Dosen itu mulai murka sepertinya.
"Jika mau bercanda silahkan keluar"
Ata mulai menampakkan taringnya. My terjengit kaget. My kecut melihat wajah dosennya yang mulai datar, seperti papan penggilasan. Gadis itu mulai merasakan sinyal-sinyal berbahaya untuk dirinya.
"Khusus untuk kamu My. Saya mau. Hari ini juga. Kamu buat makalah, sebagai tugas tambahan, mengenai business plan, saya tumggu sampai jam satu siang, tugas yang saya minta, sudah ada di meja saya, cari buku referensinya di perpustakaan, sesuai materi yang saya minta"
Titah Ata tak terbantahkan.
Mendengar perintah Ata, seketika mata My membola, My menelan ludahnya pelan, tenggorokannya serasa serat. Seperti tercekik biji kedondong.
"sial-sial, kena deh gue" Batin My dalam hati.
"Aduh pak, jangan buat makalah deh pak, saya jawab aja deh, pertanyaan bapak tadi"
Tawar My sambari memelas. Ata merasa puas mengerjai My hari ini.
"Sudah telat, jangan banyak nawar, kamu kira ini pasar ikan" dengan wajah menyebalkan Ata berucap, kemudian dengan santai pria itu pergi meninggalkan ruang kelas.
Kl dan Sam terbahak, melihat wajah My yang tampak kesal.
"Rasain lo, makan tu makalah!" ejek Sam girang.
"Sialan kamu Sam. Awas lo ya"
"Sapa suruh gak merhatiin tu dosen, dah tau dosen gray malah lo bercandain. Hidupnya aja gak berwarna gitu, My"
__ADS_1
"Tau ah, sakit pala gue"
"My. My, cari masalah sama pak Ata, jelas aja hidup pak Ata penuh dengan keabu-abuan. Selalu tak terbaca sikapnya. Lo berani ambil resiko sih" Ejek Kl geram.
"Udah ah, berisik. Gue mau ke perpus, buat makalah. Gue gak mau dapat nilai D"
"Nah itu lo tau, gitu malah lo berani main-main sama tu dosen"
My berjalan menuju perpus, ia tak menggubris ucapan Kl dan Sam.
"Kalian gak temeni gue Kl, Sam?"
"Maaf My, jemputan gue dah datang" Jawab Kl sembari menertawai sahabatnya.
"Iya My, sory ya. Gue harus balik cepat, soalnya bokap gue nitip obat, setok obatnya habis" ucap Sam tak enak hati.
"Ya udah deh, sono buruan kalian pulang" usir My kesal. Gadis itu, mulai memasuki ruangan perpus. Ternyata di sana ramai pengunjung.
My mulai mencari buku sebagai referensi makalahnya.
Setelah dapat yang dicari, My duduk di pojok perpus, matanya fokus ke layar laptop. Gadis itu tak sadar ada sosok pria yang duduk manis di sebelahnya.
"Buat apa My?" Tanya pria itu lembut.
"Eh, kak Dodit. Ini lagi buat tugas mata kuliah bisnis kak"
"Mau dibantu" Tawar Dodit lembut.
"Kakak mau bantuin My?"
tanyanya girang. Dodit mengangguk tanda setuju.
Akhirnnya My dengan semangat mengerjakan tugas bersama Dodit, disaat hampir selesai, mata My mulai kantuk, berkali-kali gadis itu nguap. Dodit melihat hal itu kasihan.
"Kamu ngantuk My?"
"Iya kak, rasanya mata My susah dibuka"
Dodit tertawa sembari ngacak rambut My.
"Tidurlah, biar saya aja yang siapin ngetiknya. Tinggal dikit juga kan?, nanti kalau udah kelar kakak bangunin kamu" tawar Dodit tulus.
Selesai mengetik tugas My. Dodit membantu merapikan barang-barang milik My. Setelah semua beres, Dodit berniat membangunkan adik tingkatnya.
"My, bangun. Tugasnya udah siap, ayo pulang"
Ucap Dodit terus membangunkan, sembari mengguncang-guncang punggung gadis di sebelahnya, namun tetap aja gak berhasil.
Sementara Ata yang menunggu tugas My, bolak-balik melihat arlojinya yang melingkar ditangan.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya pak dosen itu, tak sabar juga. Ia raih ponselnya kemudian ia klik tombol hijau, telponnya mulai tersambung.
"Halo pak" jawab Dodit sopan, karna tau dosen Gray yang dilayar telpon My, itu nomor pak Ata dosennya.
"Loh ini nomor Mykan?" Tanya Ata langsung.
"Iya pak, ini Dodit, Mynya ketiduran di perpus pak, dibangunim susah banget" Keluh Dodit jujur.
"Baiklah saya ke sana"
Ata berjalan dengan langkah lebarnya, agar pria itu cepat sampai di perpus. Saat ata masuk, benar saja My tengah tertidur pulas.
"Terima kasih, sekarang pulanglah. My pulang bersama saya." Ucap Ata dingin.
"Oh. Iya pak, kalau gitu saya duluan" Pamit Dodit pada pak dosennya, yang terkenal kiler itu. Setelah kepergian Dodit, Ata duduk di sebelahnya. Menatap wajah lelap bidadari kecilnya.
"Kalau lagi tidur gini, kamu polos banget dek, tapi kalau nyawamu udah kumpul, galaknya kayak singa" Gumam Ata sembari mengelus surai halus My yang lembut.
Ata kembali melirik arlojinya, disana terlihat waktu telah menunjukkan pukul empat belas dua puluh. Gadis di sebelahnya masih tertidur pulas.
Buk Rika datang menghampiri pak Ata.
"Maaf pak, perpus sudah mau tutup. Apa bapak masih lama lagi di sini?"
Tanya buk Rika, sopan.
__ADS_1
"Kasih waktu saya lima menit lagi ya buk" Pinta Ata, pada buk Rika si penjaga perpus.
"Baik pak" Ata mengembangkan senyumnya sebagai ucapan terima kasihnya.
Ata terus menunggu My hingga terbangun, biasanya gadis itu akan terbangun dari tidurnya setelah terlelap satu jam atau dua jam. Saat Ata hendak membangunkan Mata My mulai tercelang, kepalanya celingukan kesana kemari, dengan wajah bloonnya yang dipadu rambut awut-awutan.
"Bapak" ucap My polos, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Carik Dodit? Dodit sudah pulang satujam yang lalu" Ucap Ata kesal, pada pemilik mata belo di hadapannya.
"Haa. Kenapa bapak ada disini, kenapa kak Dodit pulang?"
"Mau beli sayur!" Jawab Ata asal.
"Kok be..." My baru mau bertanya lagi, Ata sudah duluan memotong ucapan mahasiswinya itu.
"Mana makalah kamu, sini. Saya mau pulang"
Ucap Ata meminta. Gadis itu meraih makalah dari dalam tasnya, wajahnya masih awut-awutan khas orang bangun tidur.
Usai menerima tugas My, Ata bangkit dari kursinya.
" Ayo, pulang" Ajak ata lembut.
"Saya bareng mas Azam aja" Jawab My yakin.
"Ya sudah, tunggu aja Azam pulang dari Bandung"
My menoleh kearah Ata, dengan wajah cemberut.
"Mas Azam ke bandung?"
Ata tak menjawab, pria itu hanya mengangkat kedua bahunya enteng. My makin kesal, melihat tingkah dosennya yang sok kelewat kool. Akhirnya dengan terpaksa My berlari mengejar dosen sableng itu, sembari menyepol asal rambutnya.
"Tunggu pak, saya ikut bapak pulangnya."
My berlari untuk mensejajari dosennya. Untung aja kampus sudah sepi satu jam lalu. Jadi, gadis itu aman memasuki mobil pak dosen ganteng. Mereka masuk ke dalam mobil. Ata tersenyum mengejek mahasiswinya, yang gengsinya segede langit.
"Gak jadi nunggu Azam, kamu?" Ejek Ata menyebalkan.
"Bapak gak ikhlas nganter saya, yaudah saya turun" My membuka pintu mobil Ata, hendak turun dari mobil, namun tangan gadis itu keburu di cekal pak dosen.
"Gitu aja ngambek" Ucap Ata mengejek. Ata mulai menancap mobilnya, Pria itu membelokkan stir mobil ke sebuah resto.
"Loh, kok malah ke sini sih pak?"
"Saya lapar gara-gara kamu!"
"Hee. Kok nyalahin sayasih" My manyun hendak turun, tapi Ata meraih tangan gadisnya.
Tanpa berucap, tangan besar itu meraih kepala My. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat tipis.Gadis itu terkejut, dengan sepontan ia menahan nafasnya dalam.
Tangan besar itu terus bergerak dengan lembut, merapikah surai-surai My yang acak-acakan. Ia raih sejumput surai halus yang menutupi wajah mahasiswinya. Dirasa sudah cukup rapi, baru ata bersuara.
"kamu mau keluar dengan rambut kusut seperti tadi. Kamu mau dibilang orang habis mesum di dalam mobil, kayak waktu itu. Heem?
My menatap dosennya itu dengan ekspresi yang tak terbaca. Bibir Ata melengkung manis melihat punggung gadis belianya.
Mereka keluar menuju resto. Ata makan dengan lahapnya, karna pria itu sudah melewatkan waktu makan siang selama dua jam. My menatap dosennya tak berkedip.
"Bapak berapa hari gak makan?"
Tanya My heran.
"Dua tahun" jawab Ata asal. Dengan kesal gadis itu memutar bola matanya jengah.
"Cepat habiskan makananmu, tante Melisa sudah menunggumu di rumah" My menatap jam di tangannya. Gadis itu terkejut.
"Ya Allah, udah jam tiga lewat, pasti mama hawatir"
Ucap My tetkejut.
__ADS_1
"Itu karna tidurmu yang seperti kerbau, sampai lupa waktu" Ejek Ata geram. My melotot sempurna ke arah pak dosen, ia gigit jemarinya, karna merasa bersalah.Gadis itu kalah, bibirnya bungkam tak mampu membela diri lagi.