DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 18


__ADS_3


Jam analog berdenting, seolah menjerit di indra pendengaran, gadis cantik yang tengah tidur pulas, jarum jam terus berputar mengikuti porosnya, melewati angka-angka yang tersusun rapi mengelilingi lingkaran.


Mata My menyipit, menyesuaikan cahaya terang yang menerobos celah tirai yang tertiup angin. Ia mulai meregangkan otot-otot tubuhnya dengan posisi ngulet.


Melisa masuk ke kamar putrinya, untuk memastikan anak gadisnya sudah bangun atau belum.


"Pagi ma" Sapa My sembari nguap cantik.


"Kamu itu dek, mau sampaikapan kayak gini terus, tidur kalau belum jam tujuh gak bangun. Bangun kalau solat subuh aja, habis itu ngorok ragi.


Kamu itu udah mau jadi istri orang lo, dek, gak mungkinkan suamimu nanti yang lebih duluan bangun. Malu mama dek sama nak Ata, nantinya"


Melisa sudah mulai meluncurkan jurus andalannya, ngomelin My sembari membuka tirai jendela, kamar putrinya yang masih tertutup rapat.


"Iya-iya ma, ini adek udah bangun. Hari ini juga adek bangun sendiri, gak pake dibangunin mama"


Jawab My sambari manyun.


"Coba kamu lihat jam, sekarang udah jam berapa. My? bangun siang aja bangga kamu dek, buruan mandi. Itu nak ata udah nungguin kamu di bawah"


Seketika My melompat dari atas ranjang.


"Kenapa pak Ata, jemput My. Ma? suruh aja dia duluan. Adek mau pergi bareng mas Azam."


Ucap My sembari berteriak dari dalam kamar mandi.


"Mama yang telpon nak Ata, untuk antar kamu ke kampus. Masmu belum pulang dari bandung, kata papa barusan telpon, mereka nambah satu hari lagi di bandungnya, ada kerjaan yang belum kelar, katanya"


"Ih kok gitu sih, ma. Adek gak mau pergi bareng pak Ata, nati My digosipin penduduk kampus, ma!" rengek My manja.


"Udah buruan mandinya, gak usah banyak alasan"


Melisa turun dari kamar putrinya, duduk di ruang tengah sembari menemani calon mantu. Mereka ngobrol santai di sana.


"Gimana Ta, papa, mama bisa datang keacara kaliankan?" Tanya melisa pada calon mantunya.


"Itu dia tan, dimusim pandemik seperti ini, mereka belum bisa keluar negeri, yah mudah-mudahan aja pas hari h nanti, semuanya udah normal lagi"


Terang Ata sedikit sedih.


"Iya, mudah-mudahan aja begitu ya Ta.!"


Timpal Melisa lembut.



"Diminum Ta, kopinya. Biar badannya hangat"


Ata mengangguk bibirnya tersenyum, sembari mengangkat secangkir kopi hangat.



"Nah, tu. My udah siap" Tunjuk Melisa ke arah putrinya. My tersenyum manis ke arah Melisa.


"Sarapan dulu dek."


Tawar Melisa pada anak bontotnya itu.


"Gak ah ma, udah siang. Adek sarapan di kampus aja bareng temen!" tolak My pada mamanya.


"Ya udah tan, kami berangkat dulu."


Pamit Ata. Mereka masuk berbarengan ke dalam mobil, Ata mulai melajukan mobilnya menuju jalan ke arah kampus. Di mobil My sibuk dengan ponselnya sendiri. Hingga gadis itu lupa jika di sebelahnya ada orang.



"Kamu masuk kuliah jam berapa, jam segini baru berangkat ngampus?"


Tanya Ata penasaran.


"Masuk jam sembilan."


Jawabnya singkat. Gadis itu menatap kearah dosennya sekilas, kemudian fokus ke henponnya lagi.


"Ada apa di henponmu?"


My menyipit tak ngerti arah pembicaraan dosennya.


"Maksud bapak?"


"Ya di henponmu ada apa, asik banget dari tadi, sampai kamu nyuekin saya."


"Gak ada cuma balas chat aja"


Jawab My males.


"Chat dari siapa?"


"Dari kak Dodit." Jawabnya jujur.


"Dia sering chat kamu?"

__ADS_1


"Kadang-kadang, ini kebetulan dia ngajak sarapan bareng!"


Ucap My santai tak berperasaan.


"Kamu sering, sarapan bareng dia?"


Ucap Ata datar.


"Ya kadang-kadang, aja sih"


"Kamu suka sama bocah itu?"


Tanya Ata sedikit kesal.


"Ya suka lah, semua teman saya juga suka dengan kak Dodit. Secara kak Dodit orangnya baik. Lagian cuma sarapan doang kok!"


"Kamu tau artinya apa?"


"Maksudnya?" tanya My gak ngerti.


"Si Dodot ajakin kamu sarapan bareng, itu karna ada maunya, emang kamu gak tau kalau si Dodot lagi berusaha dekat sama kamu?"


My, menatap dosennya gak percaya. Dengan judes gadis itu menjawab.


"Dodit pak, bukan dodot. Lagian bapak tau dari mana, kak Dodit suka sama saya?"


"Sama aja, mau Dodit, mau Dodot gak ngaruh untuk saya." Sahut Ata kesal.


"Saya laki-laki, My. Saya tau motif lelaki modelan Dodi itu!"


"Terus sekarang masalahnya apa?"


Tanya My enteng. Ata menarik napasnya dalam.


"Kamu itu calon istri saya"


Jawabnya geram.


"Yakan baru calon, pak. Belum sah juga"


"Jadi kamu mau saya halalin sekarang?"


Seketika mata My membulat mau loncat.


"Hiih, gak mau"


Jawabnya cepat.


"Bapak cemburu?"


Ledek My usil. Ata tak menjawab, pria itu gengsi untuk sekedar bilang iya. Ia tak mau gadisnya itu besar kepala.


"Kok diem" tanya My lagi.


"Kita sarapan dulu, saya lapar"


Ata sengaja membawa My ke tempat sarapan agar, gadis itu gagal sarapan bareng kakak tingkatnya.


"Tapi pak sayakan..."


"Ayo turun" Ata berjalan meninggalkan gadis yang mukanya cemberut. Dengan segenap hati yang dongkol, akhirnya My turun dari mobil.


Pramusaji mulai menyodorkan daftar menu ke meja mereka.


"Selamat pagi, mas, mbak. Silahkan dipilih menunya" Tawar pramusaji itu ramah. Ata mulai melihat daftar menu.


"Kamu mau sarapan apa?" Tanya ata lembut, My masih manyun tak menjawab. Ata dengan inisiatifnya memesankan sarapan kesukan gadis di sebelahnya.


"Tolong buatkan nasi goreng spesial dua, yang satu dikasi omelet biasa, yang satunya omeletnya dikasih keju, dagingnya di cincang halus. Gak pake kerupuk, gak pake daun seledri ya mbak!. Minumnya susu milo hangat dua"


Terang Ata pada pramusaji.


"Baik, mas. Ditunggu sebentar ya"


My menatap intens, ke arah dosennya itu. Timbul rasa penasaran yang bercokol di hatinya.


Ata dudk santai sembari melihat layar henponnya. My mencoba ingin mengkonfirmasi tentang apa yang ia saksikan barusan.


"Pak, Kok bapak bi.."



Seketika tangan pria itu terangkat, memberi isarat, meminta gadis itu untuk diam sebentar, karna Ata tengah menerima panggilan dari layar datar yang ia pegang.


Akhirnya My mengurungkan niatnya untuk sekedar mencari tau.


"Assalamualaikum. Ma!" Ucap Ata di sambungan telponnya.


"Iya, Ma. Iya gak papa, lagipula disini juga kondisinya sama, semua bandara masih di tutup untuk penerbangan antar negara. Iya, Gak papa ma, Ata paham. waalaikumsalam"


Ucap Ata lembut.


Pria itu ternyata menerima telpon dari mamanya. My masih menatap dosennya, sembari menelisik wajah si dosen, mungkin gadis itu mencari sesuatu kesamaan dengan seseorang.

__ADS_1


"Makanlah. Nanti keburu dingin."


Pinta Ata sembari menaruh nasi goreng di hadapan mahasiswinya.


My makan dengan lahapnya, baru kali ini ada orang yang tau seleranya sesempirna ini. Hingga rasa gondok itu sirna seketika.



"Makasi pak" Ucap My, setelah menghabiskan makanannya.


"Kamu suka?"


Tanya Ata lembut.


"Suka, nasi gorengnya enak!"


Ucap My jujur.


"O ya, tadi kamu mau nanya apa?. Maaf tadi mama telpon"


"Gak ada kok pak, gak penting juga"


"Heeem, ya sudah. Kalau begitu tunggu saya sebentar, saya bayar dulu."


My menuruti perintah pak dosen, sambil membalas chat dari Dodit.


"Sudah, ayok" Ajak Ata pada My."


Mobil mereka mulai memasuki kampus, My bingung saat mau keluar, di sana banya penduduk kampus yang terkenal lambe turah.


"Kok gak turun.'" Tanya ata heran.


"Pak, gimana saya mau turun. Itu mereka pada duduk di sana"


Tunjuk My serba salah.


"Terus apa masalahnya?"


"Mereka itu, biang gosip pak!"


"Udah gak usah mikirin omongan orang, bilaperlu nati kita berhenti di depan mereka, sekalian saya kenalin kamu sebagai calon istri saya, bereskan." ucapnya enteng.


My melotot, bagaimana bisa ini pak dosen menggampangkan masalah, gak tau apa. Bawasannya itu lambe orang brutalnya kayak mercon.


"Bapak turun duluan aja deh, saya pinjam kunci mobil bapak, saya turun nanti setelah sepi."


Usul gadis itu mantap. Ata menuruti kemauan My. Pria itu memahami ketidak siapannya menjadi sumber gosip di kampusnya mengajat.


"Ya sudah. Jangan lupa, nanti kunci mobilnya"


pinta Ata pada My. Gadis itu mengangguk tanda mengerti. Benar saja setelah terlihat sepi, My keluar dari mobil dosennya.


Saat ia menutup pintu mobil, My di kejutkan oleh seorang mahasiswi yang ia kenal.


"Eeh. Ngapain lo keluar dari mobil pak Ata?"


My terjengit kaget, seketika My membalikkan badan.


"Eem. Ini kak saya lagi di suruh pak Ata ngambilkan berkasnya yang tertinggal"


"Oo. Kirain kalian ada main sama itu dosen"


Kening My berkerut seketika, menanggapi ucapan kakak tingkatnya.


"Hati-hati loh dek sama pak Ata,"


Wanita cantik itu memperingati My.


"Loh, emang kenapa dengam pak Ata, Kak?"


"Loh. Kamu gak tau ceritanya, berapa hari yang lau, video pak Ata tersebar dari salah satu pengunjung taman, yang merekam pak Ata di taman, dia di tangkap satpol pp, dengar-dengar sih, katanya pak Ata lagi mesum di mobil"


Seketika, wajah My pucat pasih. Kakinya serasa tak bertulang. Wanita cantik itu melihat perubahan wajah adik tingkatnya.


"Kamu gak papa"


"Heee. Gak kak"


"Tapi kenapa wajahmu pucat dek?"


"Eem, ini kepala saya radak pusing kak, tadi belum sarapan, tapi gak papa kok"


Dustanya pada wanita cantik itu.


"Ya udah kak. Saya duluan ya"


Pamit My ramah. Sembari jalan. My ketar ketir dengan berita yang barusan ia dengar.


"Ya Allah, gimana kalau dalam video itu wajahku kelihatan"


My terus berucap dalam hati. Keringat dingin mulai, keluar dari keningnya.


My terus melangkah di koridor kampus, untuk menuju kelas, sepanjang itu pula, indra pendengarannya menangkap gosip yang tengah mereka hebohkan mengenai dosennya itu.

__ADS_1


__ADS_2