DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 27


__ADS_3


Pancaran sinar matahari pagi adalah pancaran untuk masa depan, tatap ke depan untuk menggapai impian, tapi jangan lupa menoleh ke belakang. Gunakan kenangan hari kemarin untuk pelajaran di hari ini dan hari nanti. Jangan melupakan hari kemarin, karena kamu tidak akan bisa menjadi lebih baik jika tidak belajar dari kesalahan hari kemarin, mengakuinya, dan memperbaikinya, adalah cara terbijak yang harus kita lakukan.


Angin terus berhembus mengalirkan ribuan pengharapan, menghapus kabut kelam dan menyisakan awan cerah sebagai bukti membaw perubahan diri.



My, bergegas membuka walk in closet yang berada di sebelah kamar tidurnya, dengan cekatan gadis itu memilih setelan kerja untuk suaminya. Setelah mendapatkan setelan kerja yang cocok, My membawanya kemudian ia letakkan di atas tempat tidur.


Barulah gadis itu mengenakan pakaiannya sendiri. Setelah siap My memanggil Suaminya.



"Pak, pakaiannya sudah saya siapkan, saya taruh di atas tempat tidur, saya tunggu di bawah ya!"


"Terima kasih. Kalau tidak merepotkanmu, saya minta milo hangat, bisa?"


Sahut Ata dari ruang kerjanya.


"Sip, saya buatkan"


Ata tersenyum, mendengar ucapan istrinya. Ternyata gadisnya itu memahami makna dari apa yang ia katakan tempo hari.


My bergegas menuruni tangga, dengan cekatan gadis remaja itu membuat milo hangat untuk suaminya, selesai dengan dua buah cangkir milo, My kemudian menyiapkan piring makan untuk mereka, sementara mbok Rum tengah mempersiapkan lauk pauk yang sudah ia masak.


Setelah tersaji rapi di atas meja, My duduk manis menikmati milo hangat sembari memainkan henponnya. Ia buka chat dari Klara



Kl


"My. Tugas Lo udah siap belum yang dari pak Ata?"


My


"Udah dong. Jangan bilang lo mau nyontek, soalmya tugas gue, udah gue kirim ke email pak Ata."


Kl


"Yaampun My. Pelit amat lo jadi temen"


My


"Heeeem. Bukan gitu oneg, Lo tau pak ata kayak mana kan, kalau lo cuma copy paste punya gue, alhasil tugas lo bakal di tolak, soalnya punya gue udah dikoreksi sama pak Ata, gue berangkat cepat kok, tar lo gue tunjukin cara ngerjainnya"


"Chattan sama sapa?"


"Ini dari Klara, pak! "


"Oo. Kirain dari Dodotmu itu"


Ucap Ata santai sembari menarik kursi, di sebelah istrinya. Ata duduk dengan santai sambil menyeruput milo hangat, buatan istrinya.



"Makasih, milonya enak. Manis, kayak yang butat"


Puji Ata sungguhan


"Masih pagi pak. Gak usah gombal, bapak mau sarapan pake apa?"


Ata tertawa, melihat wajah sebel istrinya.


"Kamu juga kalau lagi ngambek gitu, makin cantik"


Ledek Ata semakin menjahili istrinya. My mulai kesal dengan tingkah pak dosennya.


"Dimana-mana, gak ada sejaranya orang lagi ngambek itu terlihat cantik, hanya orang yang lagi jatuh cinta yang sanggup mengatakan seperti itu"


Ucap My kesal.


"Nah itu kamu tau, sayakan lagi jatuh cinta sama istri saya"


My, terdiam ia tak mampu menjawab omong kosong pak dosen.


"Ih, buruan pak. mau sarapan pake apa?"


"Apa aja yang kamu ambilkan saya makan!"


Dengan cepat gadis itu menyendok ayam balado dan cah kangkung, kepiring suaminya.


"Udah, ini aja. Takut gak habis, sayang mubazir"


My mengangguk, kemudian mereka makan berdua dengan lahap, hanya dentingan sendok yang terdengar memenuhi ruang meja makan. Semenjak ucapan Ata tempo hari, mereka selalu minum satu gelas berdua. Karna Ata selalu menolak jika diambilkan minum sendiri.

__ADS_1




Selesai sarapan mereka bergegas keluar rumah menuju mobil yang telah Ata panaskan di depan halaman.


Mereka terus ngobrol di sepanjang jalan. Jika orang lain yang melihat, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.


Sebelum turun dari mobil, tak sekalipun Ata melewatkan ritual pagi, mencium kenig dan mengusap lembut kepala istrinya, karna baginya itu sudah menjadi candu, begitupun dengan My. Ia selalu mencium takzim tangan kekar imamnya.


Setelah selesai dengan ritualnya. My segera turun dari mobil, tak lupa Ata memberikan kunci mobil pada sang istri.


Mereka berjalan terpisah seperti hari-hari biasanya. Seolah tak ada hubungan khusus pada mereka, semua itu Ata lakukan demi istri tercinta.


My berjalan menuju kelas. Di sana tampak Kl, Sasa dan Sam tengan duduk di kursi taman depan kelas. Kel yang merhatikan dari arah mana sahabatnya itu datang, timbul rasa penasaran.


"Pagi semua, sabataku yang baik hati"


Sapa My ceria.


"Pagi My"


Sahut mereka kompak. Tiba-tiba Kl, nerocos gak lihat tempat.


"My, jawab jujur deh. Udah berapa hari ini gue perhatiin, lo selalu datang lewat parkiran petinggi kampus, ngapain lo lewat sana, bukannya akses masuk mahasiswa dari arah timur ya, My. Kok lo lewat dari arah selatan?"


My gugup seketika, ia bingung mau beri alasan apa.


"Ih, kok diam sih My? kita-kita kepo tau, apa lagi si Sam tu, masak dia nebak katanya lo berangkat bareng pak Ata. Beneran My? "


"Apaan, Sam dipercaya."


Ucap My ngeles.


"Ya kalau gitu, ngapain dong lo lewat sana?"


Kl terus menumtut jawaban sahabatnya itu.


Saat My tengah mencari alasan Dodit datang menyelamatkan dirinya. Dodit mendekat menepuk bahu My dari belakang.


"Pagi My."


Sapa dodit ramah.


"Pagi kak Dodit"


"Ah kalian, kalau udah berdua yang lain dianggap numpang"


Ejek Sasa sambil mencibir. My menatap Sasa tak suka.


"Apaan Sa, jangan buat gosip yang aneh-sneh deh"


"Ya ela My, lihat tu kak Dodit senyu-senyu lihat kamu"


My menoleh ke arah kakak tingkatnya, untuk memastikan ucapan Sasa.


"Iya juga, gak papa My"


Timpal Dodit sembari tersenyum. My menatap kesal kepada mereka semua. Ternyata wajah sebal My membuat Dodit gemas, seketika Dodit mengacak rambut hitam adek tingkatnya itu.


Namun tangan itu segera My singkirkan, tak hanya itu Dodit makin gemes kemudian ia ingin mencoba mencubit hidung bangir My. Tapi gadis itu dengan gesit mundur satu langkah sehingga tangan Dodit tak sampai menyentuh wajahnya.


Dodit menyipit, menatap aneh tingkah adek tingkatnya.


"Ada apa?" Tanya Dodit langsung.


"Saya gak suka, kakak sentuh-sentuh saya"


Ucap My tegas.


"Tapi My sayakan cum.."


"Ya tetap aja, meski cuma kepala dan wajah, saya gak suka, karna kak Dodit bukah mahrom saya"


Dodit terdiam sejenak. Untuk memahami makna dari ucapan Meylin.


"Maaf kalau begitu"


My mengangguk lalu tersenyum manis.


"Maaf, kakak jangan tersinggung"


Ucap My tulus.


"Gak papa, saya yang minta maaf"

__ADS_1


Setelah lama berbincang Akhirnya mereka pisah masuk kelas mereka masing-masing.


Ata yang tengah mengawasi pergerskan istrinya kemudian ikut beranjak menuju kelas.


Setelah jam tatap mukanya habis,Ata meninggalkan kelas Bisnis A. Menuju lokal yang lain. Setelah waktu istirahat makan dan solat tiba, My dan ketiga sahabatnya menuju kantin, ternyata Dodit tak mau kalah, ia ikut nimbrung di meja mereka.



Sembari menunggu pesanan datang mereka bercerita hal seru, yang membuat mereka tertawa terpingkal. Dodit terus memperhatikan My, dalam pandangan Dodit, My terlihat semakin cantik jika sedang tertawa lepas seperti itu.


Namun sayang, ada sepasang netra hitam yang semakin menggelap melihat intraksi gadis ayu bermata lebar itu. Dengan langkah tegasnya, pria bermata hitam itu berjalan menuju kantin, netranya tetus tertuju ke arah meja nomor dua.


Ata berdiri tepat di belakang My, suara baritonnya seketika membungkam bibir mungil yang tengah tertawa.


"Boleh saya gabung? karna tak ada lagi kursi yang tetsisa, semua penuh"


Ucap Ata meminta izin.


Ke empat mahasiswa itu semua mengangguk. Kecuali My


"Silahkan pak" ucap mereka kompak.


"Terima kasih, kamu bisa tolong geser kesebelah situ"


Pinta Ata, pada Dodit. Sepertinya pria itu tak rela istrinya duduk berdekatan dengan pria yang ia tau tengah jatuh cinta pada istrinya.


"Ah, iya pak" Dodit akhirnya bergeser dari posisi awal.


Setelah pesanan mereka datang, mereka makan dengan lahap, termasuk Ata Herlambang. Tanpa sadar, Ata menyendok cabai yang terlihat menumpuk di mangkuk My, kemudian pria itu membuang cabai itu dengan santai.


Dosennya itu tak sadar jika tingkahnya menjadi sorotan penduduk kantin. Dengan santai Ata berucap pada istrinya.


"Makan cabai secukupnya, My. Nanti sakit perut" Ucap Ata memperingati. My salah tingkah dengan sikap dosennya. Sementara Dodit menatap dosennya itu lekat-lekat. Setelah Ata sadar dengan tindakannya sendiri, pria itu dengan santainya berucap pada mahasiswanya.


"Loh, kenapa pada lihatin saya?, Ayo dimanan pesanan kalian"


Mahasiswa yang ada di kantin manut mereka kembali melahap pesanannya masing-masing, meskipun sesekali mereka berbisik. karna kepo atas tindakan dosennya barusan.


Setelah selesai makan, kembali Ata melakukan kesalahan di depan maha siswanya. Dengan santai pak dosen meraih gelas milik My, ia tenggak sisa minum di gelas My. Rasanya My ingin menabok pak dosennya agar cepat sadar jika tindakannya menjadi tontonan seluruh mata yang ada di kantin.


Untuk mengkondisikan suasana akhirnya My berucap.


"Maaf pak, itu minum bekas saya"


Ata menoleh, kemudian meletakkan gelas kosong ke atas meja"


"Oh Maaf. Saya salah ambil"


Ucap Ata santai dan dingin, sedingin wajahnya yang tak bersahabat. My tersenyum tak enak kearah keempat sahabatnya. Setelah selesai membuat kerusuhan Ata berdiri dari kursinya. Membayar semua pesanan di meja nomor dua.


"Pesanan kalian sudah saya bayar. Kalian gak solat, sudah adzan."


Ucap Ata mengingatkan sembari berlalu meninggalkan kantin.


"Terima kasih pak." ucap mereka kompak.


Ata mengangguk sebagai jawaban.


Tak lupa pria itu juga mengirim chat pada sang istri.


Dosen Gray


"Sudah waktunya solat, buruan ke mushala."


My buka chat dari dosennya. Ia baca namun tak ia balas.


"Yuk solat, bentar lagi masuk jamnya buk Nora" Ajak My lembut.


Mereka berjalan beriringan menuju mushala. Bibir Kl tak mau diam, ia terus membahas soal sikap pak dosennya ke My.



"My. Lo gak ngerasa, kalau pak Ata itu kayaknya demen deh, ama lo"


"Apaan sih Kl. Kebetulan aja kali. Jadi orang jangan baperan napa"


"Ih. Lonya aja yang gak peka"


Jawab Kl mulai sebel.


"Tau ah. Gue mau solat"


My tak menggubris ocehan sahabatnya, yang super kepo itu.


My mulai menunaikan shalat juhur dengan khusuk. Setelah selesai semua kegiatan di kampus My pulang bersama suaminya. Di mobil gadis itu hanya diam membisu tanpa berucap sepatah katapun.

__ADS_1


Ata yang faham dengan sikap istrinya, hanya melirik sekilas. Biarkan gadisnya manyun sampai puas, ia akan bujuk istrinya nanti di rumah pikrnya.


__ADS_2