DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 20


__ADS_3


Senang atau tidak, terima atau tidak inilah kenyataan yang harus My terima. Hari ini, hari di mana My dan Ata menjalankan akat nikah yang hanya di gelar oleh keluarga dan tetannga kanan kirinya saja.


Rekan sejawat Ata tak satupun ia undang, begitupun dengan sahabat My.


Tak hanya itu pernikahan mereka juga tanpa dihadiri orang tua Ata, bahkan mereka tidak menggelar resepsi mewah karna kondisi pandemik yang tidak mengizinkan masyarakat untuk menggelar pesta, guna mencegah penyebaran pandemik covit 19 yang sedang viral saat ini.


Akat mereka di gelar di kantor KUA terdekat. Acara akat berlangsung dengan lancar, semua keluarga dan tetangga yang menghadiri mengucap syukur, mereka tersenyum bahagia, hanya satu orang yang senyumannya lenyap tertelan bumi.


Paras ayunya kalah dengan wajah masam tanpa gairah. Ata gerah dengan wajah cemberut istrinya.



"Senyum sedikit kenapa My!"


Bisik Ata tepat di cuping putih My.


Gadis tu menunduk tak memperdulikan bisikan pak dosennya.


"Kamu dengar saya gak"


Ucap Ata lagi. My melirik dosennya males. Namun dosen itu tengah menatap lurus kedepan, wajah pria itu juga sepertinya tengah menahan kesedihan, Ata sedih karna kedua orang tuannya tak bisa hadir, ditambah lagi dengan melihat muka masam My, kesedihan itu semakin bertambah.


Melisa mendekat ke arah mereka berdua.


"Sayang, kalian foto dulu ya untuk kenang-kenangan."


pinta Melisa bahagia.


Fotografer sudah mendekat ke arah mereka.


"Ayo mbak, lebih dekat lagi. Nah ya seperti itu, cobak mbaknya sedikit senyum biar kelihatan makin cantik. Masnya juga pandangannya ke arah mbaknya ya"



Seketika My menatap mas-mas fotografer itu dengan sebal. Tapi gadis itu tetap mengikuti instruksi mas-mas dihadapannya.


"Sekarang cobak masnya genggam tangan mbaknya, nah iya gitu, Itu mbaknya coba tangannya naik sedikit di dada masnya biar kelihatan. Nah ya, sip. Tahan ya. Satu, dua, tiga." Tepat hitungan ketiga kamera memancarkan cahaya.



Fotogarfer itu terus menginstruksikan kepada sepasang pengantin baru itu. Dengan terpaksa My mendekat lebih merapat ke arah dosennya.


"Satu kali lagi ya mas, mbak. Sekarang gaya bebas aja terserah mas sama mbaknya maunya kayak mana.



Di gaun terakhir mereka melakukan gaya suka-suka. Usay berfoto, My dengan cepat mendorong tubuh pak dosennya.


"Jangan curi kesempatan deh pak, nempelnya jangan keterusan"


Bisik My ketus.


Ata geget lihat gadis cantik di sebelahnya.


"Yang curi-curi itu, yang enak dek"


Dengan geram My menginjak kaki pak dosennya kuat-kuat.

__ADS_1


Ata sedikit terjengit, kakinya ia angkat karna terkejut.


"Sakit My"


Jerit Ata tertahan, namum cukup sampai di telinga Melisa. Melisa menoleh kearah menantunya itu.


"Ada apa Ta?"


Ata, tersenyum kearah mama mertuanya.


"Gak ada tan, ini tangan Ata kegigit semut"


Jawab Ata, sembari menatap istrinya. Tapi sayang, yang di tatap pasang muka gak open.


"Yaampun kok bisasih Ta.?"


Ucap Melisa hawatir.


"Dek, ayo sana di kasih minyak kayu putih tangan masmu!"


My mendelik seketika, gadis itu menatap geram ke arah pak dosennya. Sementara Ata tersenyum menang.


"Ayok My, ini tangan saya keburu bengkak"


Ledek Ata gemes. Pria itu berjalan menuju kamar My, sementara si pemilik kamar masih duduk cantik di kursi pengantin. Melisa yang melihat itu, kena lototan dari sang mama.


"Dek, kamu bisa lihat itu, masmu udah ke kamar, sana buruan susuli suamimu, bantuin cari minyak kayu putihnya"


Dengan males My berjalan nyusulin pak dosen, pokoknya kalau Melisa sudah bertitah, tak ada yang bisa membantah. Ratu rumah itu selalu berkuasa.


"My masuk ke kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ata yang jahilnya kebangetan mendekat kearah mahasiswinya itu.


Mendengar ucapan dosennya, My seketika bangun dari rebahannya.


"Bapak pangil saya apa tadi. Sayang? Hiih dengarnya aja saya geli, gak usah macem-macem ya pak di kamar saya"


My kembali menampakkan taringnya.


Ata mendekat, pria itu terus mendekat hingga My berada tepat dalam kung-kungan pak dosennya.


"Bapak mau ngapain?"


Bentak My garang.


"Katanya gak boleh macem-macem. Jadi, Saya cuma mau satu macem aja kok"


Bisik Ata lembut.


"Pak, daya ingatin sekali lagi ya. Jangan macem-macem, sama saya."


Ucap My, dengan suara bergetar.


Tubuh My mulai menggigil hebat, gadis itu benar-benar ketakutan. Wajahnya pucat, keringat dingin dari keningnya mengalir sebesar biji jagung.


Ata yang melihat itu, dengan lembut menyeka keringat istrinya. Tapi dengan cepat pula tangan besar itu My tepis.


"Saya mohon, jangan sekarang. Saya gak mau" Racau My dengan suara gemetar. Ata yang mendengar racauan mahasiswinya itu menatap heran.


"Kenapa gak boleh sekarang?"

__ADS_1


Tanya Ata heran.My bingung mau jawab apa. Sementara pria itu tak menggubris ucapan mahasiswinya. Berlahan Ata memajukan tangannya meraih kepala Istrinya, kemudian ia lepas hiasan yang masih terpasang apik di kepala My.


"Kalau mau tidur, lepaskan dulu hiasan rambutnya biar gak nyagkut di rambut kamu"


Ucap Ata memberi tahu sembari melepas satu-persatu riasan di rambut hitam milik My. Seketika My menatap dosennya malu.


"Jadi bapak bukan mau...?"


Ata tertawa geli. Mengejek mahasiswinya.


"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh"


Ejek Ata gemes, sembari mengacak rambut My yang mulai aut-autan.


"Ih. Sapa juga yang mikir aneh-aneh. Bapak tu yang ngarep"


Elak My terlanjur malu.


"Loh, kok saya"


"Iyalah, kelihatan tu dari muka bapak yang, mesum, gak salah kok pak satpol bilangin bapak mesum"


"Hee. Jangan pancing saya untuk melakukan yang kamu bilang barusan ya, My."


Seketika gadis itu melemparkan selimut dan bantal ke atas karpet yang ada di lantai kamarnya.


"Ni, bapak tidur di bawah. Awas jangan coba-coba naik ke ranjang saya"


My dengan garang memperingati dosennya.


Ata melongo melihat tingkah mahasiswinya yang sekaligus istrinya itu.


"Tapi Myyy, saya gak bisa tidur di lantai, saya gampang masuk angin."


Rengek Ata jujur.


"Bodok amat, sapa suruh jadi orang pikirannya ngeres"


"Ya Allah My, saya janji deh gak ngapa-ngapain kamu"


"Gak, saya gak percaya sama bapak, bisa ajakan, saat saya tidur nanti. Tangan bapak kelayapan ke mana-mana"


My tetap kekeh dengan pemikirannya. Ata tarik nafasnya dalam sembari meraup wajahnya kasar.


"Kamu tu yang mikirnya ke jauhan, My. Lagian kalau iya juga gak papa, halal jugakan. Gak ada larangan, malahan dapat sunahnya"


Ucap Ata geram.


Ata berlalu menuju kamar mandi, bersih-brtsih cuci muka sekaligus membuka baju pengantinnya, tiba-tiba timbul niat jahilnya untuk mengerjai gadis keras kepala itu. Ata kemudian keluar hanya mengenakan kaus dalam putih, denga dipadu handuk yang terlilit apik di atas pinggangnya.


Dengan langkah tegasnya, pria itu berjalan keluar dari kamar mandi, menuju lemari pakaian, yang ada di dalam kamar istrinya.


My yang melihat itu, seketika memalingkan wajahnya malu.


"Bapak, kalau mau buat konten dewasa, jangan di kamar saya! Buruan bapak pake baju!" My ngiprit keluar dari kamarnya. Setelah My keluar kamar, Ata tersenyum puas.


Kalau gak jahil gak Ata namanya. Pria itu dengan leluasa menguasai tempat tidur empuk milik mahasiswinya itu. Ia baringkan tubuhnya yang terasa lelah. Matanya menatap langit kamar istrinya. Bibirnya bergumam lembut.


"Heem, My, My kamu itu luar biasa, polosnya kebangetan"

__ADS_1


Ata tersenyum sembari membayangkan istri cantiknya itu. Bibirnya terus melengkung bertanda pria itu tengah bahagia.


__ADS_2