
Senyum manis yang terpatri, mencuri perhatian mata elang yang memancar, menatap gadis berwajah ayu dengan balutan gaun pengantin.
Namun sayang rona bahagia tak terpancar dari mata belonya, pancaran cahayanya meredup, seolah menyiratkan kegundahan.
Pria yang tak asing di sebelahnya mulai resah, bibirnya mulai terbuka untuk berucap sesuatu.
"Jika bibirmu sedikit melengkung, pasti akan terlihat lebih cantik saat kamu mengenakan gaun itu"
Netra bening yang dibalut bulu-bulu yang lentik itu, menatap jengah kearah dosennya.
"Saya gak pernah suka dengan apa yang saya lakukan hari ini, saya masih ingin bebas, pak"
Ata tersenyum samar, menanggapi celotehan ketus mahasiswinya.
"Kebebasan seperti apa yang kamu mau?"
Ucap Ata datar. My, menatap kesal kearah dosennya.
"Saya masih ingin menikmati masa muda, nongkrong bareng teman misalnya"
Jawab My cepat.
"Kamu juga bisa lakukan hal itu setelah menikah nanti"
My tak menggubris, gadis itu berlalu untuk meletakkan gaun pengantinnya, di tempat yang sudah di sediakan oleh tante Luna.
Ata yang melihat hal itu hanya mampu menahan nafasnya berat. Ia harus banyak mengalah menghadapi sifat labil calon istrinya.
"Tan, My pamit pulang ya!"
Pamit My, pada luna.
"Sebentar sayang, tante mau tanya mengenai gaunmu, apakah nyaman saat dikenakan?"
"Pas kok tan, karya tante memang selalu terbaik."
Puji My pada Luna.
"Makasih sayang, kamu sakit My? Kenapa kamu terlihat tak berselera, kamu gak seperti My, yang tante kenal"
Ucap Luna jujur, sekaligus penasaran.
"Gak kok tan, My lagi capek aja, baru pulang kuliah soalnya"
Bibir Luna seketika membentuk huruf o.
"Ya udah tan, My pamit pulang dulu"
Maylin berjalan mendahului, pria bertubuh tegap itu. Dengan malas ia duduk di dalam mobil dosennya.
__ADS_1
Lama-lama kesabaran ata mulai menurun, dengan geram Akhirnya Ata berucap sedikit keras.
"Apa kamu gak bisa menghargai saya di depan orang lain My?, sikapmu terlampau kekanakan!" Ucap Ata kesal.
My melirik sekilas, kemudian membuang mukannya ke jendela.
"Maaf, bukannya bapak tau jika saya madih anak-anak. Usia saya madih delapan belas tahun pak, lagipula saya gak bisa harus berpura-pura. Karna saya bukan ahli drama"
Sahut My ketus.
"Menghargai orang, gak harus nuggu dewasa dan kamu juga gak harus ahli drama My, untuk menghargai orang lain."
Maylin terdiam tak bersuara, gadis itu tak berselera untuk berdebat. Ata terus fokus dengan stir mobilnya. Sesekali mata elang itu melirik gadisnya dari sudut mata sebelah kiri.
Terlihat gadis itu sesekali menghapus air matanya. Ata tak tega melihat pemandangan di sabelahnya. Akhirnya pria itu membelokkan mobilnya ke sebuah taman. Ata bergeser dari tempat duduknya. Tangan besar itu meraih wajah ayu My, ia hapus cairran bening yang berbentuk kristal.
Namun hal itu di luar dugaan Ata, ia pikir gadis itu akan menyingkirkan tangannya, ternyata tidak. Ata mulai berbicara lembut untuk melunakkan hati gadisnya.
"Apa sebenarnya, yang membuatmu murung, sebelum sampai butik, tadi kamu terlihat baik-baik aja? Ada apa sebenarnya, berbicaralah My, agar saya tau apa permasalahannya!"
My semakin terisak, gadis itu menatap lurus ke arah dosennya.
"Jujur pak. Saya gak siap harus menyandag setatus seorang istri, diusia saya yang masih muda. Lagipula, impian saya bukan seperti ini. Tapi, tiba-tiba bapak datang mengacaukan hidup saya, termasuk impian-impian indah yang ingin saya bangun"
Ata menelan ludahnya serat, pria itu bahkan tak pernah, terpikir akan impian gadisnya.
Ata perlahan meraih jemari lentik My.
"Maaf, jika pernikahan ini terlampau memaksamu, tapi kamu juga harus tau, saya sangat minginginkan pirnikahan ini."
Ucapnya sarkas.
"Saya gak merampas apapun dari kamu, saya bahkan mempermudah jalanmu untuk menuju impianmu" Jawab Ata penuh keyakinan. Mendengar jawaban dosennya My kesal setengah mati.
"Jangan mimpi pak, karna pria impian saya bukan orang seperti bapak"
Ata tertawa mengejek My. Melihat dosennya tertawa lepas, dengan kasar gadis itu menarik tangannya dari genggaman Ata.
"Berhenti menertawai saya"
Ucapnya judes. Sepertinya gadis itu sudah kembali dari mode awal. Gadis itu mulai melupakan kegundahannya. Karna candaan-candaan Ata. Ata kembali mengejek gadisnya, yang masih cemberut.
"Apa kamu masih menunggu bocah remaja yang ada dalam foto yang terpajang di meja belajatmu itu?"
Ucap Ata penasaran.
"Bukan urusan bapak"
My semakin ketus, acapkali menjawab pertanyaan dosennya. Tapi Ata makin suka melihat kekesalan gadisnya.
"O ya. Siapa namanya, kemarin saya lupa gak sempat membaca tulisan di foto itu"
__ADS_1
Ata terus, mengerjai gadis di sebelahnya.
"Gak penting jugakan untuk bapak, dasar dosen gak sopan, masuk-masuk kamar anak gadi orang"
Ata menyipit
"Kok bisa saya gak sopan? Kan kamu yang tidur di mobil saya, saya juga terpaksa harus masuk ke kamar kamu, dengan beban yang cukup berat hingga tulang-tulang tangan saya serasa patah, kamu tau gak. Ada videonya lo waktu kamu tidur ngences di mobil saya"
Ucap Ata bohong, sembari menunjuk-nunjuk henponnya seolah ucapannya benar.
My nyelengos mendengar penuturan dosennya yang berlebihan.
"Saya gak seberat dan sejorok itu, ya pak"
protes My tak suka. Dengan geram My memukulkan tasnya kearah Ata. Ata mengelak, namun My terus menyerang pria itu dengan bukunya.
"Hapus gak videonya. My berusaha merampas henpon pak dosennya. Ata terus mengelak, karna aksi mereka, akibat pergerakan mereka, mobil yang mereka tumpangi bergoyang-goyang. Sehingga menimbulkan spekulasi yang aneh-aneh bagi yang melihatnya.
Tanpa mereka sadari, petugas satpol pp mendekati mobil mereka, Satpol pp itu mengetuk kaca mobil Ata. karna pintu mobil itu tak terkunci, satpol pp itu dengan cepat mebuka pintu mobil mereka, saat itu posisi mereka tengah berdekatan, karna sedang berebut henpon.
"Apa yang kalian lakukan di dalam mobil, tidak malu kalian berbuat mesum di sini, coba lihat di sana, banyak pengunjung yang memperhatikan mobil kalian tengah bergoyang-goyang."
Mata My membola mendengar ucapan pak satpol. My juga menatap para pengunjung taman tengah merhatikan ke arah mobil mereka. My dengan kasar memejamkan matanya. Tanda bahwa gadis itu tengah frustasi
"Tapipak kami tidak melakukan seperti yang bapak tuduhkan" protes My berang.
"Iya pak, benar kami tidak melakukan apapun."
Ata ikut menimpali ucapan My.
"Saya gak mau tau, coba keluarkan KTP kalian, saya mau priksa."
"Gak mau" tolak My tegas.
"Kalau gak mau, ya sudah. Saya akan laporkan perbuatan kalian ke kantor, biar kalian diproses" ancam pak satpol pp itu. Dengan geram My menarik nafasnya.
"Saya sudah bilang, kami tidak melakukan apapun, pikiran kalian saja yang terlampau kotor, sehingga kalian berpikir yang tidak-tidak!" ucap My sengit. My dan ata mengeluarkan KTP mereka masing-masing.
Pak satpol dengan seksama membaca setatus dan identitas mereka berdua.
"Ya tuhan, ternyata kalian dosen dan mahasiswi yang tengaah ada hubungan spesial? duh pak dosen kalau mau les prifat jangan disini, pak dosen bisa bawa mahasiswi bapak ke hotel terdekat"
Ejek pak satpol pp itu sembari tertawa.
Mendengar ucapan pak satpol yang kurang ajat, Ata turun dari mobil, dengan berani pria itu, mencengkram kerah baju satpol itu.
"Jangan kurang ajar anda, dia calon istri saya. Saya tidak akan melakukan hal serendah itu, dengan calon ibu dari anak-anak saya. Pergilah jika tak ingin saya habisi anda di sini"
Dengan kasar Ata melepas cengkramannya sembari mendorong tubuh satpol. Satpol itu jatuh terpental, Ata mendekat lalu merampas kasar KTP mereka. Setelah itu ata pergi meninggalkan taman. Di mobil My berang pada pak dosen.
"Ini semua gara-gara bapak, gilak ya pak, saya malu dilihati orang banya kayak tadi, untung aja kaca mobil bapak gelap"
"Loh. Kok jadi saya sih My, kamu tu yang rampas henpon saya"
__ADS_1
"Terus salah saya gitu?"
My manyun, gadis itu benar-benar kesal dengan dosennya itu.