DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 49


__ADS_3


Lagit malam tampak cerah ditaburi bintang yang berkerlap-kerlip seolah ikut menyapa kemesraan sepasang suami istri yang tengah duduk santai di atas ayunan yang terdapat di teras kamarnya. Di tengaah semilirnya angin malam, tiba-tiba Ata menginginkan sesuatu yang rasanya sulit ia tahan, bahkan membayangkannya saja liur pria itu hampir menetes ke lantai.


"Deeek"


Panggil Ata lembut. My mendongak menatap sang suami.


"Apa?"


Jawab My singkat.


"Mas, pengen makan jagung bakar sekarang"


Ucap Ata sembari memainkan hidung mancung istrinya.


"Udah malam mas, kenapa gak besok aja belinya"


Jawab My males-malesan.


"Gak bisa dek, mas pengennya sekarang, ini rasanya udah ngences dari tadi"


Rengek Ata seperti bocah cilik saja.


"Mau nyari dimana coba, ini udah jam sepuluh lo, mas. Kenapa gak dari tadi pengennya?"


My coba bernegosiasi pada sang suami.


"Ya gak tau, sayang. Tiba-tiba kepengen aja. Yuk temani mas, kita lihat tukang jagung bakar yang di pinggir sungai, biasanya mereka jualan tiap hari kok dek."


Ucap Ata memelas. My menatap suaminya tak percaya, Bisa-bisanya malam buta gini si mas pengen jagung bakar, aneh aja ngidamnya si mas Ata.


"Ya udah yuk"


My bangkit dari baringannya. Akhirnya mereka benar-benar mencari apa yang suaminya mau. Setelah sampai di pinggiran sungai, masih banyak terlihat para pedagang makanan di sana termasuk jagung bakar yang Ata cari. Di sana terlihat ramai para muda-mudi nongkrong. Mobil-mobil terparkit rapi, namun sayang Ata tak dapat lahan parkir. Sehingga pria itu dengan terpaksa memarkirkan mobilnya di badan jalan bagian sebrang, karna di sana yang masih lengang.


Ata keluar dari mobil bersama My, Pria itu tak lupa menggandeng tangan sang istri, mereka terus berjalan menyebrang menuju pedagang jagung bakar, sekitar lima puluh meter dari mobilnya. Sampai di tempat yang mereka tuju, dengan semangat Ata memesan jagung bakar bermacam rasa.


Tak lama pesanan datang, dengan telaten Ata mendinginkan jagung bakar untuk My, barulah pria berjambang itu dengan lahap menyantap jagung pesanannya. My mengerutkan keningnya melihat kelakuan sang suami yang terlihat kelaparan. My mencondongkan kepalanya mendekat ke telinga si mas suami.


"Mas lapar apa doyan?"


Bisik My mengejek. Ata nyengir tak sadar pria itu sudah menghabiskan empat tungkul jagung bakar keju.


"Kedua-duanya dek."


Jawab Ata malu.


"Itu namanya bukan ngidam mas, tapi congok"


Lagi-lagi My mengejek sang suami.


"Huus, diem aja. Kan yang pengen dedek bayinya. Daripada dedeknya ngences kan bahaya"


Sangkal Ata membela diri. My mencibir manja kearah mas bamnya itu.


puas dengan jagung bakarnya mereka beranjak pulang, Saat sudah sampai mobil, Ata rogoh saku celananya, ternyata kunci mobilnya gak ia temukan. Ata baru sadar jika kunci mobilnya tertinggal di meja cafe tadi.

__ADS_1


"Dek kunci mobilnya ketinggalan, mas ambil bentar ya"


Ucap Ata memberi tahu.


"Ya udah, My tunggu di sini aja ya mas"


Ucap My, malas ikut balik ke cafe. Dengan sabar My menunggu suaminya, setelah di temukan Ata kembali menuju mobilnya, Saat hendak nyebrang Ata berjalan cukup hati-hati namun naas, tiba-tiba ada sepeda motor melintas laju menyerempet bagian pinggul dan pinggang Ata.


My yang melihat itu seketika menjerit histeris.


"Maaas." My berlari mendekat kearah sang suami.


"Ya Allah mas, mas gak papa?"


Tanya My hawatir. Ata masih terduduk di atas aspal.


"Alhamdulillah, gak papa dek, cuma pinggang mas aja yang sakit"


Ucap Ata sembari meringis.


"Itu orang naik motor gak lihat-lihat, ya! Pake kabur lagi, untung aja mas gak papa"


My dengan hati-hati membantu suaminya berdiri. Ia papah Ata menuju mobilnya.


"Mas. Kita priksa ya, takutnya kenapa-kenapa dengan tulang mas"


Ucap My tampak hawatir.


"Besok aja dek, sepertinya gak papa gak usah awatir, lagian sekarang udah malam sayang, kita pulang aja"


Pinta Ata tenang, agar istrinya tak terlalu menghawatirkannya.


Ucap My mengikuti kemauan pak dosennya itu. Dengan hati-hati My menyetir mobil menggantikan sang suami.


Sampai di rumah My buru-biru mengompres pinggang dan pinghul bagian depan yang nampak memar.


"Sakit mas?"


Tanya My memastikan.


Gak kok dek. Itu cuma memar aja, besok juga udah hilang sayang"


"Ya udah mas istirahat ya"


pinta My pada sang suami.


Sebulan berlalu pasca kecelakkan kecil itu, Ata merasakan sesuatu yang salah pada dirinya setelah seminggu kecelakaan. Usai dari kampus Pria itu masuk keruangan kerjanya, Ata tampak melamun hatinya mulai gelisah.


My datang membawakan secangkir susu milo, minuman favorit pak dosennya itu. Seperti biasa, setiap kali Ata kerja My dengan manja duduk di atas pangkuan sang suami. Atas permintaan Ata. Namun beda dengan sebulan terakhir ini, suaminya tak pernah memintanya namun My yang menawarkan diri.


Dengan nakal My mengalungkan tangannya di leher mas Ata. Gadis itu terus menggoda sang suami, ia kecup cuping putih itu dan sesekali jemari My, menelusup masuk kedalam kaus putih suaminya. Ia putar-putar jemarinya di atas dada bidang Ata, Ata mulai terpejam. Hatinya semakin gelisah.


Sementara My semakin liar, sepertinya hormon gadis itu tengah melonjak, ingin dipuaskan.


Namu dengan lembut Ata menghentikan pergerakan jemari My yang tengah bermain-main manja di dada bidang tepatnya di benda kecil yang terlihat mengkerut akibat sentuhan dari tangan mungil My.


"Mas capek, sayang! pekerjaan mas juga masih menumpuk, Lain waktu aja ya sayang!"

__ADS_1


Bisik ata lembut menolak ajakan sang gadis. Seketika My bangkit dari atas pangkuan suaminya, My menatap kecewa pada pria tampan yang sedari kemarin ia inginkan.


Bagaimana mungkin suaminya itu menolaknya lagi, ini yang keempat kalinya Ata menolak ajakan sang gadis.


Tanpa berucap My pergi begitu saja dari ruang kerja suaminya. My kesal, jengkel, kecewa bagaimana tidak hasrat ingin dimanja suami, tanpa blas kasihan pria tampan itu menolaknya mentah-mentah. Belum lagi My harus menurunkan hargadirinya yang anjlok ke dasar bumi. My banting tubuhnya ke atas ranjang, dengan hati yang gak karuan akhirnya gadis itu meluapkan kekesalannya dengan menagis, wajahnya ia tutup menggunakan bantal. Sungguh hormon ibu hamil susah dikendalikan.


Lelah dengan hatinya akhirnya gadis itu terlalap meringkuk membelakangi arah pintu. Ata ikut masuk ke kamar, ia tatap tubuh sang gadis yang memunggunginya. Ata tarik pelan-plan bantal yang menutupi wajah ayu bidadarinya itu. Seketika dada pria itu nyeri hebat melihat istrinya menangis karna perbuatannya. Ata terduduk sembari meremas rambut ikalnya. Wajah pria itu berubah menjadi murung.


Ata masuk ke kamar madi, untuk memastikan sesuatu, namun hasilnya tetap sama. Ata terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Baru kali ini pria itu merasa menjadi suami yang gagal dan tak berguna.



"Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Aku harus berkata apa pada istriku, Aku tak tega melihatnya kecewa terus mene rus, My butuh pelampiasan, sementara akuuu..!"


Ata berdiri dari duduknya. Ia mematut wajahnya di dalam cermin. Netranya memandang tajam pada diri yang ada dalam pentulan cermin. Ata semakin gila bayangannya seolah tersenyum mengejek kelemahannya.


Setelah pagi. My bangun lebih dulu, ia bangunkan suaminya untuk shalat subuh. My semakin heran. Tak biasa-biasanya suaminya itu jam segini belum bangun. Sebulan terakhir ini My dibuat bingung dengan sikap aneh suaminya.


Usai shalat Ata segera keluar dari kamamar, pria itu sepertinya sengaja menghindar dari sang istri. Namun My tak kuasa menahan uneg-unegnya lagi. Dengan gesit My menarik pergelangan tangan suaminya.


"Mas kenapasih, akhir-akhir ini mas aneh. Gak biasanya mas dingin seperti ini. Ada apa mas? apa My ada melakukan kesalahan?"


Tanya My, dengan mata mulai berkaca-caca.


Ata memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan rasa sesak yang mulai mendera di dadanya. Akibat pertanyaan My. Dengan lembut pria itu memegang kedua bahu sang istri.


"Tidak sayang, kamu gak ada melakukan kesalahan. Mas hanya setres dengan pekerjaan kantor mas. Mas minta maaf sudah mengabaikanmu. Lagipula, istri maskan sedang hamil muda, gak baik jika terlalu sering, belum aman dek untik janinnya.


Ucap Ata menenangkan sang istri. My menatap suaminya tak percaya.


"Segitunya mas, sesibuk itukah mas dengan pekerjaan kantor atau sebahaya itu kehamilanku? sampai mas gak berselera dengan My lagi?"


Ucap My kesal. Coba mas lihat, tubuh My masih cantik dada My juga cukup bisa memuaskan mas"


Racau My mulai tak waras, sembari melucuti pakaiannya sendiri. Ata terkejut melihat tingkah istrinya yang sudah tak terkontrol emosinya.


"Sayang"


Ucap Ata menubruk tubuh setengah polos sang istri.


"Jangan seperti ini, mas semakin berdosa padamu. Mengertilah dek, mas tidak akan pernah bosan pada istri mas ini. Sungguh saat ini mas gak bisa melakukannya. Mas janji jika nanti waktunya sudah tepat mas akan buat momen indah di atas ranjang kita, mas akan panaskan ranjang kita hingga kamu tak kuat baring di atasnya"


Bisik Ata lembut membujuk sang istri.


Tanpa My sadari air mata pria kekar itu merembas mebasahi sudut mata hitamnya. Ata meringis menahan kepiluan, rasanya saat ini harga dirinya sedang dipermainkan oleh tskdir Tuhan. Seolah ia tengah ditampar dengan tangan tak kasat mata.


Dengan hati kecewa, My mendorong tubuh Ata dengan sedikit kasar. Tanpa berucap sedikitpun, My dengan asal memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. Gadis itu mengurung diri di ruangan kecil itu. My kembali menangis. Ia tak habis pikir, dengan sikap dingin suaminya, bagai mana mungkin suaminya tak berselera dengan tubuh polosnya. Bukan adegan ranjangnya yang My tangisi, namun sikap dingin sang suami yang membuat hatinya nelangsa.


My mulai berpikir kotor tentang suaminya itu.


"Apa mungkin, perubahan mas Ata, ada hubungannya dengan Oliv? Apakah mas, ada main sama Oliv di belakangku, sampai mas berubah sedrastis ini?"


My terus bertanya-tanya dengan hatinya.


Dengan darah yang mendidih My berendam di dalam bathup hingga gadis itu sedikit rileks.


__ADS_1


Sementara di ruang kerjanya, Ata kembali terdiam sembari meremas rambut ikalnya dengan kasar, netranya menatap lembaran putih yang bertuliskan tinta hitam. Yang ia dapat beberapa hari lalu. Pria itu sedang nenata hatinya untuk berterus terang pada sang istri. Ini bukan hal mudah untuk seorang pria, Namun Ata harus berani berkata jujur, apapun nanti tanggapan My, Ata harus siap menerimanya.


__ADS_2