
Deru mesin kendaraan semakin bersahut-sahutan merasuk di indra pendengaran.
Laju kendaraan membelah jalan yang tampak lengang.
"Kita jadi mas, kerumah mama?"
Tanya My pada sang suami yang tengah fokus nyetir.
"Jadi dong, Katany istri mas kangen sama mama"
Jawab Ata santai.
"Makasi mas"
Ucap My girang sembari memeluk lengan mas Atanya.
"Mas, kita mau bawa apa kerumah Mama"
Tanya My penuh semangat.
"Terserah kamu aja"
Jawab Ata lagi
"Yakan My, harus tanya dan izin mas dudlu, takutnya nanti mas gak setuju, kan nanti My dapet dosanya, seperti yang mas pernah jelasin ke My tempo hari, tentang hadis itu. My lupa bunyi haditsnya"
Ucap My sembari garuk kepala.
"Bunyinya seperti ini sayang! "
لا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ فِي مَالِهَا إِلا بِإِذْنِ زَوْجِهَا
“Tidah diperbolehkan bagi seorang wanita (istri) membelanjakan hartanya tanpa seizin suaminya". [HR. Abu Daud no.3546, Nasai no.3756, Ibnu Majah no.2388 dan dinilai al Albani sebagai hadits hasan shahih]
Istri juga haram hukumya meskipun yang diberikan itu bukan berupa uang, tetapi makanan terutama yang memiliki nilai tinggi. Seperti hadits berikut.
لا تنفقُ امرأةٌ شيئًا من بيتِ زوجِها إلَّا بإذنِ زوجِها قيلَ يا رسولَ اللَّهِ ولا الطَّعامُ قالَ ذاكَ أفضلُ أموالِنا
"Janganlah seorang wanita menafkahkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya.’ Ditanyakan (kepadanya): "Ya Rasulullah, tidak pula makanan?" Beliau menjawab: "(makanan) Itu adalah (justru) sebaik-baik harta kita." [HR. Abu Dawud no.3565, Turmudzi no.670. Kata al Albani rahimahullah dalam Takhrij Misykaatul Mashoobih 1893: “Hasan“]
"Tapi sayang, jika suami ridha maka istri dan suaminya juga mendapat pahala, seperti dalil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
إِذَا أَنْفَقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ، وَزَوْجُهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لاَ يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا.
"Jika wanita (istri) menafkahkan dari makanan rumahnya tanpa menimbulkan mafsadah (kerusakan/sesuatu yang mudharat/berbahaya), maka ia (sang istri tadi) mendapatkan pahala dengan apa yang dinafkahkannya dan bagi suaminya (juga) mendapatkan pahala dengan apa yang diusahakannya. Penanggung jawab gudang juga mendapatkan hal yang sama, masing-masing dari mereka tidak mengurangi pahala sebagian lainnya sedikit pun." [HSR. Bukhari no.1437 dan Muslim no.1024]
"Jadi insya Allah mas ikhlas sebagian harta mas diberikan kepada orang lain jika itu tujuannya baik dan bermanfaat untuk orang lain.yang penting kamu jujur tidak sembunyi-sembunyi memberikannya. Karna dalam rumah tangga yang terpenting adalah kejujuran. Bahkan Rasulullah Menganjurkan kita untuk bersedekah kepada keluarga"
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ
Mulailah dengan menyedekahi dirimu sendiri. Jika ada sisa, sedekahilah keluargamu. Dan jika masih ada sisa lagi berikanlah kepada kerabatmu. [HR. Muslim, no. 997]
"Makasih mas, Jadi terserah My ya. kalau gitu kita singgah ke pasar buah aja ya mas, soalnya Mama suka buah, Mau beli yang lain stok barang mama selalu full di rumah."
Ata menuruti kemauan sang istri, mereka singgah ke pasar buah terdekat"
Setelah puas milih-memilih, mereka kembali meluncur ke rumah mamanya. Sampai di rumah mereka di sambut girang oleh Melisa.
"Mamaaa!"
Pekik My manja sambil berlari kecil, gadis itu dengan bahagia memeluk sang mams"
"Ya Allah. Anak-anak mama, ayo masuk. Mama udah kangen sama kalian."
Melisa peluk tunuh putrinya yang terasa berisi.
"Kamu, agak gemukan dek?"
Tanya Melisa sembari memutar tubuh putrinya. Ata yang melihat itu tersenyum.
"Makannya banyak ma, lagi masa pertumbuhan, pipinya aja makin tembem. Kirain mas aja dek yang ngerasa seperti itu"
Ledek Ata sembari tersenyum. My mencibir kearah mas Atanya. Saat ini mereka duduk santai di ruang tengah.
__ADS_1
"Papa, mana ma?"
Tanya Ata sembari meneliti sekitar memcari sosok mertua laki-lakinya.
"Papa lagi di belakang sama Azam, katanya sih mau nguras kolam ikannya"
Ucap Melisa sambil membawakan cemilan kesukaan anak dan menantunya.
"Itu apa dek yang kamu bawa?"
Tanya Melisa penasaran.
"Buah ma, mama mau apa? biar sini My kupasi.
"Ooo tumben anak mama baik, biasanya disuruh kupaskan mama mangga aja manyun dulu"
Ceplos Melisa jujur. Ata mengerutkan keningnya menatap sang istri.
"Jangan percaya mas, mama bohong"
Ucap My nyengir. Ata gerem ia cubit hidung mancung istrinya. Melisa tersenyim melihat kemesraan anak dan mantunya itu. Ata bangkit dari kursinya menuju belakang, untuk gabung dengan kaumnya.
"Weeh, kapan datangnya lo ta?"
Tanya Azam sembar ngubek-ngubek kolam.
"Baru datang mas"
Jawab Ata mendekat.
"Niat bantu gak?"
Tanya Azam memcari tenaga baru.
"Ata meringis menatap geli ke arah ikan patin itu.
"Gue geli mas, bukannya gak mau. Kalau bantu makan gue mau"
Ucap Ata sambil tertawa.
Tanya Rahmat heran. Ata nyengir tak enak hati plus malu.
"Takut kena patil, pa. Dulu perna sampe demam dipatil ikan lele"
Ucap Ata sembari garuk kepala. Hatis tertawa mendengar kejujuran menantunya.
"Ya Allah Ta, takut sama patil ikan. Badan lo aja yang kekar, nyali ciut"
Ejek Azam tertawa. Mendengar ke hebohan dari belakang Melisa dan My nyusul ke belakang melihat sumber suars itu.
"Kok heboh amat mas, ada apa?"
Tanya My heran.
"Gak ada"
Jawab Ata cepat, sembari membawa istrinya menjauh dari Azam. Ia tak mau jika istrinya tau dia takut dengan patil ikan yang ukurannya kecil itu. Melihat itu Azam semakin terbahak.
"Mas Azam ngetawain apa sih mas kok sampe kayak gitu."
Ucap My heran.
"Gak tau"
jawab Ata. Mereka duduk di kursi teras belakang sembari memakan buah yang istrinya buka. Melisa mendekat ikut gabung dengan putrinya.
"Kalian nginapkan, Ta?"
Tanya Melisa pada menantunya.
"Iya ma, tapi subuh kami pulang. Ada jadwal di kampus."
"Alhamdulillah, akhirnya rumah ini rame lagi"
Ucap Melisa bahagia. My dengan sayang memeluk mamanya.
__ADS_1
"Ma, My pengen pisang goreng,"
Rengek My manja. Melisa menatap putrinya heran.
"Bulan ini kamu udah datang bulan belum?"
Tanya Melisa langsung.
"Iih apaansih ma, adek pengen pisang goreng, kok malah ditanya datang bulansih, ma?"
Melisa tersenyum.
"Kapan istrimu datang bulan Ta, bulan ini ada bolong gak jatahmu, Ta?"
Tanya Melisa mulai ngawur. Ata salah tingkah, pria itu mulai menggaruk lehernya.
"Sepertinya bulan ini full, ma"
Jawab Ata malu-malu.
"Udah sekarang kalian siap-siap, kita ke dokter kandungan sekarang! mama telpon dokter Manda dulu"
Ucap Melisa bangkit dari kursinya. Ata dan My terbengong melihat prilaku mamanya.
"Mama kenapa sih mas, tiba-tiba ngajak ke dokter.?" Ata geleng kepala memberi jawaban.
"Apa kamu hamil ya dek, perasaan mas bulan ini jatah mas lancar?"
My menatap suaminya intens.
"Mungkin"
Jawab My tak yakin.
"Ya dah kita betsih-bersih dulu, baru kita ikut saran mama"
My dan Ata naik ke atas. Menuju kamar istrinua.
"Sayang, bantu mas bersihin jambang dulu ya. Risih udah mulai tebal"
Ucap Ata sembari mendekat istrinya.
"Sini pisau cukirnya"
Pinta My. Dengan telaten My mencukur kumis dan jambang mas suami.
"Siap mas"
Ucap My sembari memutar wajah suaminya ke kanan dan ke kiri.
"Mas kelihatan makin ganteng, lebih muda kalau gak pake kumis dan jambang gini."
Puji My pada Ata. Ata tersenyum
"Suami kamukan memang ganteng sayang"
Ucap Ata bangga. My kembali berbisik di telinha Ata.
"Tapi adek lebih suka lihat mas berjambang dan berkumis. Lebih seksi"
Goda My manja sembari mengecup cuping putih suaminya.
"Sayang, mulai nakal ya!"
"Nakal sama suami halalkan mas, adek juga lagi pengen dinakalin sama mas"
My makin menggoda. Dengan geram ata menerkam tubuh My dengan ganas"
Ata mulai menggelitik leher jenjang sang istri dengan hidung mancungnya. Saat tubuh Ata mengingimkan lebih, Melisa mengetuk pimtu.
"My, Ta. Ayo mama udah siap"
Panggil Melisa dari balik pintu.
"Iya ma ini udah siap"
Sahut My lembut. Setelah berpamitan dengan Haris Mereka pergi menuju praktek Dr.Manda.Sp.OG
__ADS_1