DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 11


__ADS_3


Senyum indah yang selalu terukir di bibir tipis gadis ber mata belo itu, kini hilang tinggal kesuraman, tanpa ada senyuman yang merekah menghiyasi bibir mungil Meylin.


Suasana hati yang tak bersahabat, membuat gadias ayu itu murung, tanpa canda. Di kampus, My hanya duduk lesu di kantin kampus. Klara merasa heran dengan perubahan sahabatnya yang drastis.


"My. Lo sakit?"


"Heeem gak kok, gue sehat"


Jawab My males.


"Lo beda My, beberapa hari ini gue perhatiin lo murung terus, bahkan makanan yang lo pesen gak pernah lo makan, cuma lo acak-acak doang. lo gak mau cerita sama gue My?"


My menatap Klara sejenak, kemudian gadis itu menatap tajam kearah luar kantin, disana terlihat Ata tengah berjalan dengan langkah tegas sembari menenteng tas kerja, sepertinya pak dosen itu baru datang.


"Hey. kok malah bengong sih My"


My terkejut menatap Klara.


"Maaf, kayaknya gue mau pulang aja deh Kl, gue gak jadi kuliah. Tolong izinin gue ya!"


Ucap My langsung berdiri meninggalkan kantin. Ia berjalan di koridao seorang diri.



Klara semakin heran dengan tingkah sahabatnya itu. Sasa dan Sam yang baru datang, juga ikut bengong melihat temannya ngacir gitu aja.


"Loh Kel, itu My mau kemana?


Tanya Sasa sembari menunjuk kearah My yang terlihat semakin jauh.


"Gak tau gue, kayaknya tu bocah lagi ada masalah deh Sa."


Klara coba menebak-nebak.


"Emang lo tadi gak nanya Kel, dia kenapa?"


Tanya Sam ikut menimpali.


"Udah. cuma dia gak jawab kenapa. Tiba-tiba malah pamit pulang"


Ketiga sahabat My, makin penasaran dengan sahabatnya yang terlihat aneh pagi ini.


"Yaudah yuk, kita masuk. Tu pak Ata udah jalan ke kelas"


Ajak Sam kepada dua sahabatnya.Mereka bertiga kompak berjalan menuju kalasnya.


Setelah Ata masuk semua mahasiswa terdiam. Sungguh pria itu sangat berkarismatik. bahkan semua penduduk kampus wanita menginginkan dosen tampan itu jadi pendampingnya. Namun sayang hal itu tak berlaku untuk My.


Ata mulai menatap satu persatu mahasiswanya, keningnya berkerut menatap bangku kosong di sebelah klara.


"Kemana komting kalian, ada yang tau?"


"My izin pak. Dia sedang gak enak badan"


Ata terdiam mencerna ucapan Klara.


"Sakit?" Ata memastikan ucapan mahasiswinya.


"Iya pak"


"Oke. sekarang antar absen manual kalian ke meja saya"


Sam berdiri menuruti perintah dosennya, mengantarkan absen yang telah di tanda tangani.


"Ini pak, absennya"


Sam meletakkan di atas meja Ata.

__ADS_1


"Oke, terima kasih" Sam kembali duduk ke kursinya. Ata masih konsentrasi dengan buku tebal dihadapannya, dan layar laptop di atas meja. Setelah itu Ata berdiri menuju papan tulis dengan memegang spidol.


Ata mulai menyoret-nyoret whiteboard , membentuk pola-pola grafik. Dengan penuh kewibawaan pria itu menerangkan tentang


Grafik Area.


"Oke, coba perhatikan ke papan tulis, saya akan jelaskan tentang grafik area. Nah kalian harus tau kapan kalian harus menggunakannya, untuk memvisualisasi dua bagian berhubungan.


Contoh, menampilkan total biaya pegawai dengan menumpuk gaji dan keuntungannya"


"Nah jangan lupa, dalam grafik area juga dapat memberikan kesan dari skala dengan mewarnai area di bawah garis. Kalau saya pribadi, biasanya saya suka menggunakannya untuk, membangun, biaya atau jumlah dengan menumpuk baris di atas satu sama lainnya.


Nah kalian juga jangan lupa, bawasannya grafik area berfokus pada mewarnai area di bawah garis untuk membuat indikator visual."


Contohnya nabti akan saya berikan, biasanya saya membuat beban pegawai saya diillustrasikan dalam grafik. Kombinasi dari gaji dan keuntungan adalah total dari beban pegawai. Nah ini contohnya, Coba kalian pahami gambar ini"


Ata kemudian memperlihatkan contoh grafik dari layar laptopnya, setelah mahasiswanya memperhatikan, dosen ganteng itu kembali menjelaskan.



"Nanti jika kalian membuat grafik area. Warna yang dipakai di grafik area harus memiliki tingkat transparansi tertentu. Transparansi dapat membantu pengguna untuk mengamati hubungan tumpang tindih antara seri yang berbeda. Jika transparansi ini tidak diaplikasikan, informasi akan tertutup oleh warna yang solid"


"Oke, apa ada yang ingin ditanyakan?" Ucap Ata sembari mengemasi alat mengajarnya.


"Cukup pak. Insya Allah paham"


"Baiklah, saya tunggu tugas kalian di pertemuan berikutnya"


Usai berucap Ata pergi meninggalkan kelas. Jam mengajarnya sudah habis. Pria itu berjalan menuju mobilnya, sampai di mobil pak dosen dengan segera meraih henponnya. Dosen itu membuka whatsapp untuk mengetik sesuatu di layar henpon.


"Kenapa gak masuk kuliah?"


Lama Ata menunggu jawaban whatsapp My.


pria itu bolak-balik lihat layar henponnya.


namun pesannya belum terbaca. Kembali pria itu mengirim pesan.


Masih sama, gadisnya belum menjawab pesannya. Hati Ata gelisah, tanpa pikir panjang pria itu menjalankan mobilnya menuju kediaman sahabatnya.


Sampai di rumah sahabatnya, Ata disambut oleh Melisa.


"Loh nak Ata, ayok masuk!"


Ajak Melisa lembut.


"Makasih tan"


"Ini nak Ata dari kampus atau dari kantor?"


Tanya Melisa penasaran.


"Dari kampus tan"


"Loh tapi kok jam segini My belum pulang kuliah ya Ta?, Ya Allah jangan-jangan Azam lupa jenmput adeknya lagi"


Mendengar omongan calon ibu mertuanya, seketika kening Ata berkerut.


"Loh jadi My kuliah tan?" Tanya ata makin bingung.


"Iya, tadi My berangkat bareng Azam, emang nak Ata gak ketemu sama My di kampus?"


"Oh tadi saya..."


Belum sempat menjawab pertanyaan calon ibu mertua Bocah yang menjadi topik pembicaraan nongol.


"Assalamualaikum ma!"


Ucap My santai, Ia tak perduli dengan pria yang tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam sayang, Kok baru pulang nak? mana masmu?"


Melisa dengan cerewetnya mencerca sang putri.


"Mas sibuk ma, gak bisa jemput. My naik ojol tadi, My ke kamar dulu ya ma"


Jelas My pada mamanya.


"Kok ke kamar sih dek, sini duduk temani nak Ata, mama mau siapin masakkan mama di dapur"


Melisa bangkit dari duduknya.


"Tante tinggal ya Ta"


"Oh, iya tan"


Sepeninggalan Melisa Ata kembali menatap calon istrinya. My duduk di sebelah Ata.



"Darimana, kenapa gak masuk kuliah?"


Tanya ata lembut.


"Saya males ketemu bapak"


Jawab My santai. Ata menyipit menatap gadis di hadapannya.


"Mau sampai kapan kamu mau menghindar dari saya?"


"Sampai bapak batalin pernikahan kita!"


Ucap My sarkas.


"Kamu gak bisa egois seperti ini dek, belajarlah berdamai dengan hatimu!"


Ata coba melunak, pada gadis labil di hadapannya.


"Gampang bapak ngomongnya, jangankan mau berdamai dengan hati saya, sekedar dengar nama bapak aja rasanya saya mau mati" Jawab My sengit, matanya mulai berkaca-kaca.


"Saya minta maaf. Tapi saya gak bisa menuruti kemauanmu, untuk membatalkan pernikahan kita!"


Jelas Ata pada gadisnya.


"Itu karna bapak, egois" tuduh My kesal.


"Kamu harus tau My, terkadang untuk mendapatkan sesuatu, kita harus egois. Sama halnya dengan apa yang kamu lakukan hari ini. Dengan keegoisanmu, kamu bolos kuliah dan dengan tega kamu bohongi keluargamu"


Ucap Ata lembut, namun mampu merobek jantung My.


Sekilas My menatap dosennya, dengan air mata yang mulai meremang. Ata bergeser dari duduknya mendekati My dengan lembut dosennya itu memegang jemari mahasiswinya.


"Saya mohon, jangan pernah bohongi keluargamu. Bolos kuliah bukan cara terbaik untuk menghidari saya. Bukankah menjadi pembisnis itu impianmu? jangan campur adukkan masalah pernikahan kita denga urusan kuliahmu. jika kamu tidak suka saya mengajar matakuliah di kelasmu, saya akan berhenti mengajar"


Ucap Ata sungguhan.


My terdiam. sembari menatap jemarinya yang digenggam sang dosen. Air mata gadis itu akhirnya lolos dari klopak matanya. Kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Jangan berhenti mengajar, mahasiswa butuh dosen seperti bapak. Saya akan coba berdamai dengan hati saya, meskipun saya tau itu sangat sulit"


Ata terdiam sejenak, sembari menahan nafasnya.


"Percayalah, saya tidak akan mengecewakanmu apa lagi menyakitimu, jangan menangis, kamu tidak perlu paksa hatimu untuk bisa mencintai saya, kita cukup menjadi teman jika nanti kita menikah"


My menatap lurus kearah jalan, air matanya masih terus mengalir, Tangan pria itu terulur untuk menghapus air mata di pipi putih gadis cantik itu.


"Terima kasih, bapak bisa mengerti perasaan saya" Ucap My terisak.


Ata mengangguk. Menatap lembut calon istrinya.

__ADS_1


"Masuklah, saya mau pamit pulang"


Ata berdiri tak lupa pria itu mengacak puncak kepala mahasiswinya.


__ADS_2