DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 9


__ADS_3


Wanita hebat adalah hadiah Tuhan untuk para pria yang sabar menanti cinta sejati. Bagi Ata cinta sejatinya hanyalah adik dari sahabatnya dan hingga saat ini tak ada wanita lain yang mampu menggoyahkan hatinya.


Ata Masi tercenung menatap air yang bergoyang-goyang di dalam kolam renang. Sesekali ia hembuskan nafasnya dengan kasar. Ada rasa tak terima dalam hatinya saat ia mendengar ucapan mahasiswinya.


Tak salah apa kata gadis cantik itu. Ia bukan siapa-siap untuk gadisnya. Ia hanya seorang dosen yang menyebalkan di mata Meylin. Semua itu karna ulahnya sendiri, akibat terlalu gengsi hingga ia menjadi kesulitan untuk mendapatkan cinta sejatinya.


Ditengah kekosongan hatinya deringan henpon nyaring terdengar. Tangan kekar itu dengan malas menyambar henponnya.


"Halo Ta, bisa kerumah gue bentar. Ada hal penting yang harus gue omongin ke lo"


"Aduh Zam gue lagi males keluar, lainkali aja deh"


Tolak Ata terang-terangan.


"Tumben lo nolak disuruh kerumah. Ada apa, lo berantem sama adek gue?"


Tanya Azam heran. Karna tak biasa-biasanya sahabatnya itu menolak ajakannya.


"Ah. Sok tau lo"


"Gue kenal lo Ata Herlambang"


Mendengar ucapan Azam Ata serasa mati kutu.


"Yaudah iya, gue kerumah lo"


"Oke sip. Gue tunggu"


Tak lama terdengar deru mobil yang tak asing di telinga Azam. Pria itu segera membuka pintu dan mengajak Sahabatnya itu langsung masuk ke ruang kerjanya.


Di ruangan yang bergaya minimalis itu. Mereka berdiskusi mengenai usaha bareng mereka.


Setelah hampir satu jam mereka berdiskusi akhirnya mereka duduk santai sembari menikmati cemilan dan secangkir kopi yang dibuat oleh mama Melisa sebelum Ata datang.


Kenyang makan cemilan askhirnya mata Ata mulai berat, memang pria itu sedari kampus belum ada istirahat.


"Lo ngantuk Ta"


Tanya azam pada sahabatnya.


"Iya Zam. mata Gue udah lima wat. Gue pamit pulang dulu deh"


Ucap Ata sembari nguap.


"Gilak lo, Lo mau celaka nyetir sambil tidur. Kayak di rumah sapa aja lo. Sana tidur di kamar gue, Kalau lo udah gak ngantuk baru lo boleh balik"


Titah Azam garang, melebihi emak-emak


"Ya ela Zam udah kayak emak-emak lo"


Ejek Ata mencibir. Namun pria itu menuruti kata sahabatnya itu. Ata berjalan menuju kamar Azam, sampai di kamar pria itu membuka kemejanya, karna dia memang tidak bisa tidur mengenakan baju.


Jadi Ata tidur tengkurap dengan telanjang dada. Kebiasaanya itu sama persis dengan kebiasaan Azam.Ata mulai terlelap dalam tidurnya sementara Azam menyiapkan laporan yang harus ia bawa besok pagi.



Dengan rambut awut-awutan gadis cantik, berkulit putih melangkah memasuki kamar kakanya dengan mata sedikit terpejam, menahan kantuk. Gadis itu tak bisa tidur karna AC di kamarnya tiba-tiba mati. Gadis yang hanya mengenakan tengtop dan celana tidur sepaha dengan santainya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kakanya. Tanpa memastikan siapa pria di sebelahnya gadis itu langsung saja mencari posisi enak sembari memeluk pria yang bertelanjang dada.


Akhirnya mereka berdua tidur dengan pulasnya. My memang selalu seperti itu, jika dia bosan gadis itu akan selalu tidur bersama mas Azamnya. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat, Melisa mulai hawatir dengan putrinya karna sejak pulang ngampus, putrinya itu tidur gak bangun-bangun.


Dengan segayung air, Melisa berjalan menuju kamar si anak bontot. Namun sayang gadis itu tak tertangkap oleh netranya. Melisa semakin heran. Batinnya bertanya-tanya.


"Loh kemana gadis bolotku, kok gak ada dikamar"

__ADS_1


Batin Melisa heran. Melisa berjalan kearah ruang kerja Azam putranya, karna ruangan itu pintunya terbuka. Melisa pikir gadisnya ada di sana.


"Loh mas, dimana adikmu?"


Tanya Melisa heran.


"Tidur mungkin ma, di kamarnya"


"Gak ada mas, lihat ni mama udah bawa air buat bangunin adekmu, Tapi itu bocah gak ada lo mas"


Jelas Melisa lagi.


"Loh, perasaan Azam tadi dia di kamarnya lah ma"


Melihat ibunya yang terlihat bingung, akhirnya Azam beranjak dari duduknya dan mematikan laptopnya.


"Mama udah lihat di kamar mandinya belum?"


"Udah mas gak ada, AC


kamarnya juga mati. apa adekmu ada pamitan keluar mas?"


tanya Melisa.


"Gak ada tu ma, coba bentar Azam tanya ke Ata, mungkin dia lihat My"


Ucap Azam pada mamanya.


"Loh. Ada nak Ata mas?"


"Ada ma, lagi tidur tadi di kamar Azam"


Akhirnya mereka berdua melangkah menuju kamar putranya. Dengan perlahan Azam membuka kenop pintu, saat pintu terbuka sontak mata pria itu membulat dan seketika pria itu murka.


"Ya Allah apa-apaan kalian?"


"Ada apa mas?"


Melisa ikut melihat kedalam kamar disana terlihat sepasang manusia tengah tertidur pulas dan yang membuat Melisa sakit jantung adalah putrinya. Bagaimana mungkin putrinya seliyar itu, dengan santainya anak gadis satu-satunya tidur nyenyak sambil memeluk pria yang bertelanjang dada.


Melisa dengan geramnya menyiram air dalam gayung yang tengah iya pegang.


"Byur" Suara air menghantam wajah dua tersangka.



"Ya Allah. apa ini!" pekik Ata dan My berbarengan. Lebih terkejut lagi saat mereka sadar dengan apa yang terjadi. wajah mereka berdua tampak terbengong bodoh.


"Bapak ngapain ada di kamar mas Azam. Bapak mau kurang ajar sama saya ya?"


Tuduh My lantang.


"Gak seperti itu My. Saya juga gak tau kenapa kamu ada di kamar yang sama dengan saya"


Jelas Ata sungguhan.


"Bapak bohongkan?"


"Sudah-sudah, jangan ribut di sini. Mama butuh penjelasan kalian berdua, ganti bajumu mama tunggu kalian diruang tengah"


Ata tertegun, pria itu dengan gesit menyambar kemeja dan kaus hitamnya.


"Ada apa ma, Kok ribut-ribut?"


Harisman ikut menyusul, ke TKP.

__ADS_1


"Nanti mama jelasin pa, sekarang papa antar mama turun, kepala mama pusing"


Haris manut, mengantar istrinya kelantai bawah.


"Zam. Ini gak seperti apa yang kalian lihat. Demi Allah, aku gak tau kalau adek lo tidur di sini. Gue tadi tidur sendiri Zam, Gue juga gak ngapa-ngapain adek lo, meskipun gue cinta ama adek lo, tapi gue gak serendah itu Zam"


Ata mencoba, menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Gue percaya lo, Ta. Tapi papa dan mama gue. Gue gak bisa jamin. Yang penting lo jelasin aja kebenarannya, tar gue bantu ngomong"


Ata dengan frustasi meraup wajah pucatnya dengan kasar.


Di sini diruang panas yang mencekam Ata serasa menjadi terdakwah. My menatap dosennya sengit. Sementara Ata hanya tertunduk bingung.


"Baik lah ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Om mau nak Ata terlebih dahulu yang menjelaskan"


Sebagai kepala keluarga, Harisman menengahi permasalan yang terjadi.


"Sebelumnya saya minta maaf kepada om dan tante. Begini om. Sebenarnya tadi saya hendak pulang, namun mata saya terlalu ngantuk, sehingga Azam melarang saya untuk pulang, karna alasa keselamatan. Jadi saya menuruti ucapan Azam, karna ada benarnya. Saat di kamar Azam, saya membuka kaus dan kemeja saya, karna memang saya tidak bis tidur mengenakan baju. Saat saya masuk kamar dan mulai tidur saya sendiri om, tadinya gak ada My. Saya juga terkejut atas kejadian ini. om,tante"


Ata dengan tegas mengatakan kejadian yang sebenarnya. Haris mangut-mangut mendengar penuturan anak sahabatnya itu.


"Baiklah, sekarang coba kamu jelaskan My kenapa kamu bisa tidur dikamar masmu bersama nak Ata?"


My tertunduk malu, karna tersangka sesungguhnya adalah dirinya. Dirinya yang ceroboh.


"Maaf pa,ma. AC kamar adek mati, jadi adek berniat numpang tidur ke kamar mas Azam, karna di kamar mas Azam ACnya hidup. Karna mata adek yang ngantuk berat, jadi adek langsung baring aja gak lihat sapa semenarnya yang tengah tidur. Adek kira yang tidur mas Azam, lagian bapak juga ngapain pake buka baju segala, jadinya kan saya salah orang, ini semua salah bapak"


Ucap My melotot tak terima.


"Maaf My, saya juga gak nyangka hal seperti ini akan terjadi"


"Halah. pasti ini akal-akalan bapak aja. Iyakan? ngaku aja deh pak"


Ata hendak menjawab.Namun tak jadi karma Haris sudah terlebih dahulu mengeluarkan suara tegasnya.


"Oke begini saja. Karna kalian sudah tidur satu kamar. Om tidak memberi tolerir pada kalian berdua, meskipun kalian tidak melakukan apapun. Om sebagai orang tua dari My meninta Nak Ata, untuk menikahi putri Om"


Ucapan Haris mampu membuat jantung My pecah berhamburan. Sementara Ata dengan senang hati menerima permintaan Haris.


"Baik om saya akan bertanggung jawab atas kejadian ini, saya akan menikahi My"


Pria itu dengan tegasnya berucap.


"Apa-apaan ini? saya gak mau menikah dengan bapak!!. Pa, Gak bisa gitu dong. My gak setuju"


Protes My sarkas.


"Gak dek ini jalan yang terbaik untuk kalian berdua"


Jelas Haris ke putrinya.


"Iya sayang, mama setuju dengan keputusan papa"


Timpal Melisa lembut sembari mengusap bahu putrinya. Tak hanya Melisa, Azampun ikut bersuara.


"Azam juga setuju dengan pendapat papa"


Seketika My mengerenyitkan keningnya tak percaya.


"Kalian tega, My benci dengan kalian semua."


Usai berucap My berlari menaiki tangga, Tangisnya pecah ia merasa terzolimi saat ini.


Sementara yang lain berdiskusi tentang apa yang My tak suka. Sungguh mereka egois.

__ADS_1



Bagaimanakah nasib My, ayo tunggu kelanjutannya di episod selanjutnya😘😘😘


__ADS_2