
Siang telah berakhir, malam telah tiba. Hari ini berlalu, besok datang cahaya baru. Hidup selalu menawarkan kita kesempatan kedua yang biasa disebut sebagai besok.
Di penghujung hari, jaga semangatmu tetap tinggi. Besok adalah hari baru yang lebih baik.
Mungkin ada sejuta hari kemarin dan sejuta hari esok, namun hanya ada satu hari ini. Aku tidak akan pernah membiarkan seharipun berlalu tak berarti.
My terus mensugesti dirinya agar gadis itu semangat untuk mengerjakan tugas kuliahnya, yang barusan siang tadi suaminya berikan di kampus.
Lelah duduk di meja belajar, akhirnya gadis itu Membawa buku-bukunya ke atas tempat tidur. Ia mulai mengerjakan tugas-tugasnya, saat ini My bebas bergerak, karna pak dosennya itu sedang tak ada di rumah. Pak Ata sedang ada urusan bersama mas Azamnya.
Waktu sudah cukup larut, saat ini jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mata belo yang memang suka tidur itu mulai memerah. Mulutnya sesekali nguap cantik. Namun ia tetap berusaha menyelesaikan tugas kuliahnya, My tak mau membuat pak dosennya itu kecewa padanya.
Namun sayang mata cantik berbulu lentik itu, mulai layu dan perlahan mata itu terlelap sempurna di atas buku tugasnya. Laptop yang masih menyala di atas meja belajar tak sempat lagi gadis itu matikan.
Ata berjalan mejuju tangga kamar. Pria itu dengan langkah tegasnya menaiki tangga satu persatu. Ia buka pintu kamarnya pelan-pelan, seketika netra hitam itu menatap tajam ke arah ranjangnya yang tampak kacau oleh buku yang berantakan.
Ata menutup pintu perlahan, pria itu mendekat ke rankang, ia gelengkan kepalanya tanda ia tak habis pikir dengan kelakuan gadisnya itu.
"Ya ampum My, kalau udah ngantuk kenapa masih di paksa ngerjain tugassih" Ata berucap sembari mengelus lembut kepala gadis yang tidur tengkurap di atas buku. Dengan sabar pak dosen mengemas buku tugas mahasiswinya.
Selesai mengemas tempat tidur, Ata kembali mengemas meja belajar istrinya. Ia matikan laptop yang masih menyala.
Namun sebelum ia matikan, Ata terlebih dahulu mengirimkan tugas istrinya ke email miliknya. Ia tatap wajah istrinya lekat-lekat, bibir pria itu melengkung, sungguh manis tingkah gadis kecilnya itu.
Ata mendekat, tangannya mulai ia selipkan di bawah pahanya, sementara tangan sebela ia selipkan di bawah punggun My. Ata mulai membopong istrinya itu untuk membenarkan posisi tidur yang nyaman.
Saat My dalam gendongan Ata Herlambang, bibir mungil itu bergumam lirih, namun cukup jelas di pendengatan pria itu.
"Mas baaam"
Panggilnya manja, namun mata cantik itu masih terpejam sempurna. Ata faham jika istrinya itu tengah ngigau tentang dirinya.
"Mas Bammu di sini sayang, di dekatmu. Bahkan saat ini kita hidup satu rumah. Sikap cuekmu itu gak pernah berubah, My. Kepekaanmu di bawah normal"
Dumel Ata geram, matanya terus memperhatikan bocah kecilnya itu. Dengan gemas tangan Ata, mencupit hidung bangir My. Sepertinya gadisnya tampak terganggu. Bibirnya kembali bergumam.
"Eeem. Apasih ma."
Rengeknya manja. Mungkin ia pikir itu Melisa yang suka mengganggu tidur nyenyaknya. Setelah bergumam gadisnya kembali terlelap. Ata kembali tersenyum.
Menggoda istrinya tidur, menjadi mainan baru untuk pria dewasa itu. Puas dengan mainan barunya, Ata ikut merebahkan tubuhnya perlahan, tepat di samping sang istri. Tak lupa Ata melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh hangat Maylin.
Fazar mulai menyingsing menjemput subuh yang hanya sebentar. Ata terjaga dari tidur lelapnya. Seruan sang ilahi terdengar merdu berkumandang, Ata bangkit dari atas ranjang. Tak lupa ia bangunkan putri tidurnya.
"My, bangun sudah subuh"
"Heem, bentar lagi"
"Nati keburu habis waktu fajarnya, My. Ayo solat dulu"
Dengan mata menyipit, kepalanya yang tertunduk ngantuk, akhirnya gadis itu bangun juga. My berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk berwudu.
"Kamu gak mandi?"
"Hem. Dingin pak,"
" Itu ada air hangatnya, My. Kamu tinggal buka kerannya aja"
Dengan mata kantuk gadis itu akhirnya menuruti perintah suaminya, ia langsung mengguyur tubihnya dengan air hangat. Usai mandi, gadis itu celingukan mencari handuk miliknya. Ia mulai tampak bingung. Sepertinya nyawanya sudah terkumpul sempurna. Sehingga My mulai sadar jika ia lupa membawa handuk dan baju ganti. Karna niatnya hanya ingin betwudu saja tadi.
"My. Kok lama kali mandinya?, saya juga mau mandi, mau shalat"
Ucap Ata memperingatkan. My makin bingung.
"Ya Allah ini kayak mana?" batinnya cemas.
"Iya, Pak bentar." Sahut My bingung. Ata mulai curiga dengan tingkah isyrinya, yang berlama-lama di kamar mandi.
"My, buruan. Bentar lagi ikomah"
__ADS_1
"Iya, tapi pak. Anu, eeem. Anu pak.."
"Anu, anu, apa? saya gak paham"
Sahut Ata mulai kesal.
"Saya gak bawa handuk, saya juga gak bawa pakaian ganti, Pak"
"Ya sudah, tunggu di situ"
Pinta Ata sembari berlalu, pria itu mulai membuka lemari pakaian istrinya.
Ia ambil barang-barang sakral istrinya, kemudian ia raih handuk bersih dari lemari.
Ata kembali mengetuk pintu kamar mandi.
"My, ini handuknya"
Gadis itu mulai membuka pintu sedikit.
"Mana handuknya?
My mengulurkan tangannya melalui celah pintu.
"Bawa Sini pak. Awas bapak jangan ngintip, Ya"
Ata memberikan handuk ke tangan mahasiswinya.
"Kalau mau, saya gak perlu ngintip, lihat langsung juga halal, gak dapat dosa kok! "
Ucap Ata jahil. Dengan gesit My menyambar handuknya.
"terima kasih pak"
ucap My girang. setelah ia ambil handuk mandinya, iya kembali bingung karna itu hanya cukup menutupi bagian dada dan pangkal pahanya saja.
"Buruan, My"
"Tapi Pak, ini handuknya pendek banget"
"Udah gak papa, di lemari cuma ada itu, My"
"Kalau gitu, bapak bisa tolong keluar sebentar?"
Lama-lama pria itu naik pitam lihat tingkah mahasiswinya itu, namun Ata bukan sosok pria yang semacam itu.
"Baiklah, saya keluar"
Ucap Ata pelan. Dengan cepat My berlari menuju lemari pakaian, My segera megenakan pakaiannya.
"Udah pak, masuklah"
Ata masuk, pria itu segera membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi Ata buru-buru mengenakan baju koko dan sarung yang istrinya siapkan. Karna ikomah sudah berkumandang lima menit lalu. Seperti biasa mereka menunaikan kewajibannya bersama.
Usai shalat My melangkah menuju jendela kaca kamar mereka, gadis itu perlahan membuka tirai yang masih tertutup. Ia nikmati udara pagi yang sangat sejuk menerpa kulit wajahnya yang halus.
"Oya pak, terima kasih semalam bapak telah mengemaskan buku dan laptop saya, maaf semalam saya ketiduran"
Ata yang tengah membaca buku di atas ranjangnya menatap sekilas ke arah istrinya.
Ata tersenyum menampilkan gigi-gigi putihnya.
"Sini, temani saya baca"
My mendekat, duduk di pinggiran ranjang. Namun Ata tak sukan dengan jarak mereka yang terlalu jauh, Ata bergerak membawa gadisnya untuk duduk di sebelahnya. My manut dengan apa yang suaminya itu lakukan.
Ata kembali membaca, namun konsentrasinya buyar saat gadis di sebelahnya bertanya.
"Bapak baca buku tentang apa?"
__ADS_1
Ata melirik ke sebelah kirinya. Kemudian ia taruh buku yang iya baca di atas nakas.
Fokusnya saat ini berpindah pada sosok istri kecilnya itu.
"Itu buku, panduan ibadah shalat sunah. Kamu mau baca?"
My menggeleng.
"Gak pak, saya sudah hafal niat-niat solat sunah"
Ata tersenyum sembari mengaitkan tangannya ke bahu My.
"Saya juga hafal niat-niat shalat sunah, tapi buku itu tak hanya membahas tentang niat solatnya saja. Banyak di dalamnya menjelaskan tentang keutamaan solat sunahnya juga. Untuk apa kalau hanya sekedar hafal tetapi tidak kita tunaikan"
My meringis, ia merasa tersindir oleh ucapan Ata Herlambang, karna gadis itu hanya mengerjakan yang wajibnya saja.
"Bapak nyindir saya?"
Tuduh My cepat.
Ata menatap manik istrinya lekat-lekat.
"Kamu merasa tersindir? tapi saya tidak bermaksud seperti itu."
Bibir My mencibir, tanda gadis itu tak percaya pada dosennya. Dengan jahil Ata mencomot bibir mungil yang tengah manyun itu.
"Jangan salahin saya, kalau bibirmu ini saya cium." Ucap Ata gemas. My seketika menutup bibirnya dengan tapak tangan. Gadis itu mulai was-was duduk di sebelah dosennya.
"Makannya jangan suka mencibir, kalau dikasih tau suami.O ya. Lain kali kalau kamu mau mandi, jangan lupa bawa perlengkapan. Kalau kamu gak mau saya lihat asetmu itu"
Ata berucap sembari menunjuk dengan dagunya. Ke bagian tubuh My yang tertutup rapat,
My mendelik sempurna, ucapan pak dosennya itu terdengar prontal, di telinganya.
"Lihatlah, karna insiden handuk, saya melewatkan solat sunah fajar"
"Maaf!." Ucap My tulus.
"Tapi pak, itukan hanya shalat sunah, lagipula bapak gak berdosa kok, ninggalkannya"
Ata mengacak rambut My dengan geget.
"Memang gak berdosa, tapi saya merasa rugi meninggalkannya."
"Kan nanti masih ada shalat sunah yang lainnya"
dengan entengnya gadis itu menjawab. Ata geram dengan gadisnya itu, ada saja jawaban untuk My ngeles. Ia raih tubuh mungil My, kemudian ia dudukkan di atas pangkuannya, ia kunci tubuh langsing itu dengan tangan kekar Ata.
"Kamu tau, kenapa saya merasa rugi, meninggalkan shalat sunah fazar, dibanding dengan shalat sunah yang lain?"
Tanya Ata lembut. My mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Dulu, saya juga seperti kamu. Saya hanya mengerjakan yang wajibnya saja. Tapi setelah saya tau dari buku itu, ternyata keutamaan shalat sunah fajar itu sangat dahsyat. Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyebutkan dalam hadisnya, yang berbunyi.
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).
Nah kenapa Rasul begitu menjaga shalat sunah fajar, itu karna pahalanya besar, kamu bisa bayangkan, hanya dengan dua rakaat shalat sunah fajar, kita bisa menguasi pahala yang tidak bisa kita gambarkan gimana banyaknya, dunia dan isinya."
My tersenyum malau menatap suaminya. Penjelasan pak Ata baginya menjadi pukulan telak.
"Maaf, saya sudah merugikan bapak."
Ucap My tak enak hati.
Ata kembali tersenyum, sembari mengecup sayang pipi putih istrinya yang tampak menggiurkan. Kemudian Ata berbisik lembut tepat di ceruk leher jenjang My.
"Hari ini saya gak papa rugi, tapi besok saya akan mendapat pahala dabel, karna istri saya juga harus belajar mengerjakannya"
My menelisik ucapan Ata Herlambang.
__ADS_1
"Ya udah yok, bersiap. Kita sarapan setelah itu kita ngampus"
Ajak Ata sembari menurunkan My dari atas pangkuannya. Pria itu berlalu ke meja kerjanya untuk mempersiapkan alat perangnya di kampus. Sementara My mematung, untuk menetralkan detak jantungnya yang mulai tak sehat, jika berdekatan dengan pak dosennya itu.