
Langit terlihat mendung, menambah suasana semakin mencekam, denting mesin pemantau nyawa terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. My tampak gelisah, matanya sembab wajahnya tampak terlihat kusam, akibar air mata yang mengering.
"Sejak kapan mas Azam seperti ini, ma"
Tanya My tampak cemas.
"Sebulan terakhir ini. Masmu terlihat kacau, My. Ia tak lagi memperhatikan kesehatannya, kerjapun sudah gak kenal waktu, mama sering melihat masmu begadang hingga larut mala, jika mama tak mengingatkannya untuk tidur, masmu gak akan berhenti kerja"
Jelas Melisa sedih.
"Kenapa mama gak kasi tau My?"
Ucapnya terdengar lirih.
"Maaf, mama tak ingin mengganggu pikiranmu"
Jawab Melisa sembari menepuk bahu My.
"Tapi ma. Ini semua karna keputusan My kan? mas Azam jadi seperti ini, sebegitu terlukanya mas Azam karna keputusanku"
My merasa bersalah dengan dirinya sendiri, ia begitu egois. My menangis dalam pelukan ibunya.
"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi nak, sekarang lebih baik kita berdoa untuk masmu"
Setelah melewati waktu berjam-jam Azam belum juga sadarkan diri, pria itu masih terbaring lemah di ruang obserfasi, alat penunjang kehidupan tampak jelas menempel pada dadanya, di hidungnya juga terlihat gelembung udara yang melekat dengan erat.
Hujan semakin derasa, udara semakin sejuk hingga menusuk tulang. Haris mendekat pada putrinya, pria paruh baya itu tampak serius menatap putri bungsunya itu.
"Dek, bisa papa bicara sebentar padamu"
Pinta Haris tegas. My menganggung ibu muda itu mendekat ke arah papanya.
"Maaf My, bukan papa tidak memahami perasaanmu, sebagai orang tua papa mau yang terbaik untuk anak-anak papa, papa mohon, berikanlah kesempatan untuk nak Oliv, papa yakin Oliv tidak berniat untuk merusak rumah tanggamu lagi, papa lihat nak Oliv benar-benar mencintai masmu. Papa tidak memaksamu, papa hanya minta pengertianmu saja"
My terdiam, pria paruh baya itu selama ini tak pernah meminta sesuatu pada dirinya. My tak bisa menjawab permintaan papanya, wanita itu menarik nafasnya dalam, kemudian ia tengadahkan wajahnya menatap langit yang tengah hujan.
"Apa papa menyalahkan keputusan, My?"
Tanya wanita itu dengan nada bergetar. Haris meraih jemari putrinya, lalu ia kecup jemari itu dengan penuh sayang.
"Papa tak pernah menyalahkanmu nak, apa kamu lupa, semua sudah ada dalam takdir Allah, dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59)"
"Ini semua bukan kemauan kita, My. pahamilah kandungan surah Al An'am itu, sedangkan daun gugur saja itu sudah kehendak Allah, apa menurutmu kejadian mas mu itu kehendakmu? tidak nak, jangan salahkan dirimu sendiri, ini ujian Allah untuk menguji keluarga kita melalui nak Oliv"
Ucap Haris mengingatka putrinya. Lalu pria paruh baya itu bangkit kembali mendekati Melisa. Ata mendekat lalu duduk di sebelah My.
"Papa ngomong apa dek?"
Tanya Ata ingin tau. My tak menjawab, ibu satu anak itu malah menangis sembari menubruk suaminya.
"Mas Azam seperti ini karna aku mas"
Jawab My singkat. My terus menangis, taklama pintu ruangan Azam berderit, di sana tampak dokter ahli dalam memanggil salah satu keluarga pasien.Haris dengan cepat mendekat.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
Tanya haris pada dokter ahli dalam itu.
"Bapak, bisa ikut saya sebentar, ada hal yang ingin saya sampaikan"
__ADS_1
Pinta dokter itu lembut. Haris berjalan berdampingan dengan dokter Rudi. Setelah sampai di ruangan. Dokter Rudi mengambil hasil rontgen milik Azam.
"Begini pak, dari hasil rontgen ditemukan luka di bagian lambung. Luka itu bukan luka baru namun luka itu luka lama yang infeksi, akibat pola makan saudara Azam yang salah. Jika ini dibiarkan maka lambung saudara Azam akan bocor, Tolong hidari minum kopi, makan pedas, minuman bersoda dan makan yang mengandung pengawet. Karna itu dapat memperburuk kondisi saudara Azam."
Jelas dokter Rudi, pada Haris.
"Apa itu bisa disembuhkan dok?"
Tanya haris lagi.
"Bisa, jika saudara Azam menjaga makanannya, usahakan saudara Azam, untuk sementara jangan banyak pikiran agar tidak stres, agar pola makannya tetap terjaga dan saudara Azam harus makan yang lembek, seperti bubur. Masalahnya, Ini sangat bahaya jika tidak ditangani dengan baik"
Ucap dokter Rudi
"Baik dok, lakukan yang terbaik"
Ucap Haris memohon. Dokter Rudi tersenyum, lalu menepuk bahu Haris.
"Tenaglah, bantu doa. Saya akan lakukan yang terbaik"
Haris keluar dari ruangan Rudi, My mendekat sang papa.
"Apa kata dokterpa?"
Tanya My tak sabar.
"Seperti dulu, penyakit lamanya kambuh. Mungkin masmu itu terlalu stres memikirkan masalahnya"
My terdiam mencerna omongan papanya.
My tak sabar, ibu satu anak itu akhirnya masuk ke ruangan kakaknya.
"Mas, maafkan My"
"Tenanglah, ini bukan salahmu. Mas gak papa"
Jawab Azam sembari tersenyum.
"Mas, jika buk Oliv sumber kebahagiaan mas, My akan menemuinya"
Ucap My sembari memeluk Azam.
"Jangan ganggu dia lagi My, biarkan dia bahagia"
Ucap Azam lembut, sembari mengelus surai halus adiknya itu.
"Aku gak perduli, aku mau mas cepat sembuh"
Ucap My sembari melepas pelukan kakaknya.
Sampai di luar ruangan, My menarik lengan suaminya.
"Ayo, antarkan aku mas?"
"Kemana?, sekarang hujan deras dek!"
Ucap Ata memberi pengertian.
"Aku gak perduli, antarkan aku tempat buk Oliv, aku ingin bicara dengan dia"
Pinta My ngotot. Percuma, mau ngapain lagi kamu nemuin dia?"
__ADS_1
Ucap Ata tak setuju. Namun wanita itu tetap kekeh untuk bertemu Oliv. Sampai di rumah Oliv, My mengetuk pintu dengan tak sabar. Tak lama simbok-simbok membuka pintunya.
"Maaf, ada perlu apa malam-malam begini bertamu?"
Tanya simbok itu heran.
"Saya ingin bertemu buk Oliv, apa buk Olivnya ada?"
Tanya My tak sabar.
"Ada, tapi beliau sedang istirahan, sebaiknya non kesini besok, saja"
Ucap simbok itu, memberi tahu. My menarik nafasnya dalam. Belum sempat mereka pergi, terdengar soara orang yang Ia cari.
"Sudah mas bilang, percuma kita kesini. Karna Oliv gak akan... "
Ucap Ata, seketika terhenti.
"Siapa mbok?"
Tanya Oliv dari dalam.
"Ini katanya teman, ibu!"
"Suruh masuk mbok"
Pintanya pada simbok. Ata dan My masuk, terlihat Oliv tengah mengenakan pakaian tidur.
"Ada apa kalian kesini malam-malam?"
Tanya Oliv penasaran. My mematung sejenak, lalu dengan hati tak ikhlas akhirnya My berucap juga.
"Maaf sudah mengganggu, saya ingin ibu menjenguk mas Azam, karna beliau butuh ibuk di sampingnya"
Pinta My tak enak hati. Oliv tersenyum menatap My, wanita itu dengan lembut meraih kedua tangan My.
"Maaf, saya tidak bisa. Karana kehadiran saya nantinya akan semakin membuat Azam bersedih."
Ucap Oliv.
"Gak mungkin, mas Azam pasti senang"
Ucap My berharap, namun Oliv menggeleng.
"Kamu gak ngerti My, semu sudah berbeda. Saya sudah menikah satu bulan yang lalu, dengan pria pilihan orang tuaku, awalnya aku menolak, karna ingin berjuang untuk hubunganku dan Azam, namun sayang Azam menolaknya, ia tak ingin menyakitimu, dia terus memintaku untuk menuruti kemauan orang tuaku, dengan terpaksa demi Azam, aku menikah dengan pria asing itu"
My terdiam, seketika itu My bangkit dari duduknya.
"Maaf, aku sudah mengganggumu. Saya permisi"
Di perjalanan My terus memutar-mutar henponnya. Ata yang melihat hal itu seketika menggenggam tangan istrinya.
"Jangan bersedih, mas yakin Azam akan mendapatkan wanita yang lebih baik. Lagi pula ini semua sudah menjadi keputusan Azam"
Ucap Ata memberi pengertian.
"Jadi kamu udah tau mas?"
Tanya My datar.
"Sudah, Azam sendiri yang bercerita padaku, mas mau mengantarmu karna mas ingin kamu mendengar langsung dari mulut Oliv, agar kamu percaya jika Oliv benar-benar tulus mencintai Azam. Kedekatan Oliv tidak ada motiflain, Sebaiknya, untuk sekarang jangan bahas Oliv di depan mas Azam.
__ADS_1
My terdiam, ia terus menatap air hujan yang dengan derasnya jatuh ke bumi. Sungguh My merasa kecewa pada dirinya sendiri, selama ini Ia terlalu memikirkan sakit hatinya sendiri dan mementingkan kebahagiaannya saja. Hingga Ia lupa akan kebahagiaan masnya itu, ada pada orang yang sangat ia benci.