
Ruang dingin bercat putih, di sini Azam terbaring lemah di atas hospital bed. Sungguh miris pria tiga puluh enam tahun itu, kisah hidupnya tak semulus jalan tol.
Pria itu percaya setiap orang memiliki takdirnya sendiri, satu satunya keharusan adalah mengikutinya, menerimanya, ke mana pun ia membawanya. Karna takdir tidak dirancang oleh manusia melainkan ditentukan oleh Allah Azza Wa Jalla.
Pintu berderit menjadi alaram pemberi tahu bahwa ada seseorang yang datang, tampak Melisa dan haris mulai memasuki ruang dingin itu yang di susul My di belakangnya.
"Ta, gimana keadaan Azam..?"
Melisa tak sabar ingin tau.
"Mama tenang ya, kata dokter mas Azam gak papa dia cuma syok aja..!"
"Alhamdulillah..!"
Ucap Mereka bersamaan.
"Tapi kenapa pingsannya selama itu mas...yakin mas Azam gak papa..?"
"Mas juga kurang tau dek...kan mas bukan dokternya..!"
Jawab Ata merasa tak tau. Setelah hampir tiga puluh menit akhirnya ada pergerakan. Mata Azam mulai tercelang.
"Ma..pa...kenapa Azam ada di sini..?"
Tanya Azam mulai bingung.
"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang..!"
Tak hentinya mereka mengucap syukur.
"Kamu mengalami kecelakaan sayang..!"
Ucap Melisa lembut sembari menenangkan putranya. Namun ucapan yang sederhana itu membuat perubahan raut wajah Azam yang sangat kentara.
"Kecelakaan..?"
Jawab Azam gemetar wajahnya pucat seketika, bola matanya liar menelisik setiap inci tubuhnya, saat melihat darah di kemejannya, Azam terlihat limpung, pria itu seketika tak sadarkan diri. Semua yang ada di ruangan menjerit memanggil.
"Azam...!"
Ucap mereka berbarengan. Melihat hal itu Ata segera menekan tombol. Tak lama dokter masuk.
"Dok..tolong anak saya..!"
Haris berucap tak sabar.Dokter tampak serius lalu dengan sigap meriksa Azam. Sementara Melisa dan My mengangis dalam diam.
"Bapak, ibu...! silahkan tunggu di luar, saya akan priksa kondisi Saudara Azam.
Pinta dokter itu sopan.
"Baik dok..!"
Semua mulai meninggalkan ruangan kecuali Haris.
"Apakah saudara Azam sempat siuman..?"
Tanya dokter Arif pada Haris.
__ADS_1
"Iya dok..hanya beberapa menit..saja! setelah itu dia kembali pingsan"
Sahut Haris tenang. Dokter Arif mangut mangut tanda paham.
"Kenapa anak saya dok..?"
Tanya Haris tak sabar.
"Detak jantung saudara Azam terlalu cepat, nafasnya juga terdengar sesak..!"
Jelas dokter pada Haris.
"Apa sebelum pingsan,saudara Azam sempat berbicara...?"
"Iya dok, tadi anak saya sempat bertanya tentang kondisinya, namun saat kami jawab jika dia mengalami kecelakaan, Azam langsung tak sadarkan diri dok...!"
Jelas Haris pada sang dokter. Dokter Arif mulai mendiaknosa kondisi Azam.
"Dilihat dari kondisinya, anak bapak saat ini sedang mengalami trauma. Apa sebelum kecelakkaan, Azam ada mengalami kejadian yang berkaitan dengan kecelakaan juga..? Karna dilihat dari gejalanya saudara Azam mengalami trauma berat. penyebab traumanya bisa jadi disebabkan pengalaman negatif atau traumatis yang berkaitan dengan darah..!"
Dokter Arif mulai menyelidiki kasus yang dialami Azam. Lama Haris berpikir untuk mengingat, setau Haris dalam kurun waktu dekat ini Azam baik baik saja.
"Dok, setau saya dia baik baik saja, dia tidak ada mengalami tragedi berdarah dalam waktu dekat ini..tapi dok, anak saya pernah mengalami peristiwa berdarah sekitar delapan atau sepuluh tahun yang lalu, dia mengalami tragedi berdarah dimana calon istrinya meninggal kecelakaan tepat di pangkuannya...!"
Jelas Haris pada dokter Arif. Dokter arif dengan tenang menyimak ucapan Haris.
"Bisa jadi penyebat trauma yang dialami saudara Azam akibat peristiwa itu. Untuk mengantisipasi, sebaiknya pakaian saudara Azam diganti, jangan ada yang berbau darah sedikitpun. satu lagi alihkan topik pembicaraan yang berkaitan dengan trauma beliau...!"
Ucap dokter Arif meminta pada Haris.
"Baik dok...!"
Dokter Arif tampak menenangkan Haris.
"Terima kasih dok..!"
"Iya..sama sama pak Haris, saya permisi dulu..!"
Pamit dokter Arif pada Haris. Setelah kepergian dokter Arif, My dan Ata mendekat ke papanya.
"Pa..! bagai mana mas Azam. apa kata dokter..?"
Tanya My tak sabar.
Kata dokter, masmu mengalami trauma, masmu gak bisa lihat darah. Karna peristiwa kematian Hana yang membuat Azam seperti itu!."
Jelas Haris pada keluarganya.
"Tapi, mas Azam gak papakan pa..?"
"Gak sayang, jangan hawatir! yang penting kita jangan menyinggung soal Hana, karna itu sangat fatal bisa berdampak buruk untuk kesehatan Azam...!"
Haris berucap untuk meminta pada keluarganya.
"Baik pa..!"
Jawab My mengerti, Ketika mereka tengah asyik dengan pemikirannya sendiri, tiba tiba muncul wanita berhijab dari balik pintu.
__ADS_1
"Assalamualaiku...!"
Ucapnya lembut.
"Waalaikumussalam..!"
Melisa menatap gadis ayu yang baru datang itu. Wanita paruh baya itu terus memperhatikan Ayasa, Rasa Melisa seperti pernah melihat sosok gadis di hadapannya, tapi Melisa lupa di mana.
Beda dengan My. My yang tak asing dengan sosok berhijab itu segera mendekati.
"Mbak Yasa..ayo masuk"
Sapa My sembari tersenyum pada wanita ayu itu.
"Iya bu, terima kasih..!"
Ucap Ayasa lembut. Aya melangkah mendekati keluarga Azam, gadis itu tak lupa bersalaman sembari mencium tangan kedua orang tua atasannya itu.
"Bu, bagai mana keadaan pak Azam..?"
Tanya Ayasa pada My dengan mimik wajah penuh dengan kecemasan. My merasa heran kenapa wanita itu bisa tau batinnya
"Alhamdulillah, mas Azam gak papa Mbk..! mbak Yasa dapat kabar dari sapa, kok bisa tau kalau mas Azam kecelakaan..?"
Pertanyaan My tampak menyelidik.
"Oh maaf bu, saya dapat kabar dari pak Ata..!"
Jawab Ayasa jujur. My semakin heran, kenapa suaminya harus mengabari mbak Yasa, bukannya Azam gak suka dengan gadis di hadapannya. My hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri, mungkin setelah kepulangan Ayasa, ibu satu anak itu akan membombardir pertanyaan pada suaminya.
Ayasa mendekat pada ranjang Azam, gadis itu tampak berbisik di telinga atasannya.
"Mas...bangun, jangan buat Aya hawatir...! lihatlah Aya ada di sisimu mas..!"
Air mata Ayasa mulai membanjiri pipi tirusnya.Aya terus berucap di telinga Azam, gadis itu tak sadar jika tengah menjadi pusat perhatian manusia di dalam ruangan itu. Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan besar di benak mereka semua kecuali Ata. Ada hubungan apa sebenarna antara bos dan sekretarisnya itu. Batin My dan Melisa.
Di tengah isakan, air mata Ayasa terus meluncur hingga jatuh ke pipi pucat Azam, merasa terusik mata hitam itu mulai tercelang perlahan. Azam menatap Ayasa lembut.
"Jangan menangis, aku tidak papa..!"
Ucap Azam lirih. Melihat intraksi bos dan sekretarisnya itu mata My menyipit.
"Ada apa dengan mereka, kenapa mbak Yasa panggil mas Azam mas..?"
Batin My mulai kepo.
"Alhamdulillah, kamu sudah bangun mas...?"
Aya dengan cepat menghapus air matanya. Azam tak menjawab pertanyaan Ayasa, pria itu malah memanggil Haris dan Melisa.
"Pa..! ma..! Ini Ayasa, dia wanita yang ingin Azam kenalkan ke papa, mama...!"
Mata Haris membola mendengar pernyataan putranya. Bagai mana bisa anaknya itu malah memikirkan soal wanita.
"Papa gak salah dengar mas...?"
Tanya Haris meyakinkan ucapan putranya itu.
__ADS_1
"Gak pa..! Azam berkata serius..!"
Azam kembali menekankan ucapannya. Haris tak menjawab pria paruh baya itu hanya menatap Ayasa tanpa kata.