
Sabar dan bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi adalah satu di antara cara untuk mendapatkan kebahagiaan.
Jika kita berpikir kufur, akan banyak sekali hal yang harus kita keluhkan. Tapi, jika kita berpikir syukur, sungguh sangat tak terhitung berapa nikmat yang telah kita dapatkan. Azam tak henti-hentinya berucap sukur pada sang pencipta. setelah dua minggu di rawat intensif akhirnya Azam bernafas lega ia sudah bisa beraktifitas. Namun pria itu harus benar benar menjaga pola makannya. Hal itu tak lepas dari pengawasan Meylin. Ada syarat yang harus Azam patuhi dari adik bontotnya itu. Azam boleh bekerja asalkan Masnya itu mau mengikuti syarat dan ketentuan dari dokter. Demi kesehatan masnya. My memerintahkan Yasa mbak-mbak berhijab itu untuk memperhatikan apa saja yang aman untuk Azam komsumsi. Untuk menpermudah kerja Yasa, akhirnya Ata mengangkat Yasa menjadi sekretaris Azam, atas permintaan My.
Pagi ini Azam dengan langkah tegapnya menyusuri koridor, ia tersenyum manis menyambut sapaan karyawannya.
"Pagi pak Azam...!"
"Pagi bu..Mira...!"
Sahut Azam ramah. Ini hari pertama pria itu masuk kantor setelah dua minggu mangkir dari pekerjaannya. Sampai di ruangannya Azam di sambut oleh Yasa.
"Pagi pak...!"
Ucap gadis itu sembari menundukkan kepalanya.
"Pagi...!"
Sahut Azam singkat. Dengan Kening berkerut menatap Yasa. Pria itu tampak kebingungan.
"Kenapa kamu ada di ruangan saya...?"
Tanya Azam merasa tak nyaman.
"Maaf pak..! Saat ini saya ditugaskan menjadi sekretaris bapak..!"
Azam kembali menatap ke arah Yasa tak suka.
"Ya sudah...balik ke kursimu, sana...!"
Usir Azam pada Yasa, mendapat perlakuan kurang bersahabat, Yasa hanya tersenym tipis. Azam benar-benar berubah, pria itu tampak menjauh dari mahluk berjenis kelamin wanita. Mungkin pria itu jera akan kegetiran cinta yang ia alami.
Tepat pukul sepuluh, Yasa mendekat pada Azam dengan membawa mangkuk puding untuk atasannya.
"Permisi pak...! Maaf menggangu...!'
"Ada apa lagi Sa..?"
Ucap Azam males.
"Ini pak, antar puding..!"
Sahut Yasa.
"Ya sudah letakkan di situ saja ..!"
Dengan hati hati Yasa meletakkan puding titipan My. Setelah meletakkan puding, Yasa kembal berdiri di sebelah Atasanya. Melihat hal itu Azam kembali melirik ke arah Yasa.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi..! silahkan keluar..!"
Ucap Azam sedikit garang. Yasa tak bergeming dari tempatnya.
"Maaf pak, saya diperintahkan untuk mendampingi bapak sampai puding itu benar benar bapak makan..!"
Mendengar ucapan Yasa, Azam
Melongo menatap gadis berhijab itu,dengan penuh rasa jengkel akhirnya Azam dengan waktu singkat melahap pudingnya.
"Nah...sudah habis. Silahkan kamu keluar..!"
Ucap Azam sembari memperlihatkan mangkuk kosong di tangannya. Yasa meraih mangkuk itu dengan sopan.
"Permisi pak...! saya ambil mangkuknya"
Azam tak menjawab,Yasapun keluar ruangan Azam. Gadis itu hampir terkikik, melihat tingkah atasanny. Bagai mana tidak tingkahnya melebihi anak SD.
Saatnya waktu pulang, matahari terlihat condong ke barat. Azam mulai melajukan kuda besinya. Dengan tak sabar pria itu ingin segera menceramahi adik semata wayang. Kebetulan gadis itu belum pulang dari rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum mas..! udah pulang to...."
Ucap My sembari mencium tangan mas Azam.
"Waalaikumsalam..!"
Tanya My lagi.
"Ata masih di kanor.."
Sahut ajam singkat.
"Sini duduk..! ada hal penting yang harus mas bicarakan, sama kamu..!"
Pinta Azam tegas,My memenuruti permintaan masnya.
"Ada apa mas..?"
Tanya My heran.
"Mas tidak suka, Yasa menjadi sekretaris mas..!"
Ucap Azam tegas.
"Loh kenapa..mas? Apa alasannya..? Bukannya mbak Yasa itu cekatan, pinter, ramah lagi."
"Pokoknya mas gak suka...!"
__ADS_1
Ujar Azam tak memberi alasan.
"Gak bisa gitu dong mas..minimal, mas punya alasan kenapa gak suka... sama mbak Yasa..!"
Ucap My pada Azam. Azam masih tak menjawab pria itu menatap Adik bontotnya dengan seksama.
"Mas..! ini semua demi kebaikan mas Azam. My dan mas Ata juga gak sembarangan pilih orang untuk membantu pekerjaan mas. Mbak Yasa itu orangnya telaten, My yakin dia bisa membantu My, sekaligus mengontrol jadwal makan mas...!"
Bujuk My pada kakak satu satunya itu. Azam menghela nafas panjang, sembari meraup wajahnya kasar.
"Sial...! Jadi ini ada campur tangan Ata...!"
Batin Azam kesal.
"Ya sudah...! mas malas berdebat sama kamu, pasti mas kalah...!"
My terkekeh sembari memeluk kaka tersayangnya. Namun di sisi lain My masih ingin tau apa alasan dibalik Azam tak menyukai Yasa menjadi sekretarisnya. Biasanya masnya itu tak seperti itu. Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan besar untuk My. Tengah asik ngobrol tak lama Ata datang untuk menjemput My dan buah hatinya. Di perjalanan menuju rumah, My teringat akan Azam ia mulai mengorek informasi dari suaminya.
"O ya mas..! My, herah deh sama mas Azam, tadi pulang kerja dia ngambek."
Mendengar cerita istrinya, Ata menoleh ingin tau.
"Ngambek...?"
Tanya Ata heran.
"He..eeeh..! anehkan mas..!"
My berucap sambil menganggukkan kepala.
"Apa masalahnya kok mas Azam ngambek...?"
"Katanya...mas Azam gak suka kalau mbak Yasa jadi sekretarisnya...!"
Jelas My pada suaminya. Ata terdiam, dia sudah menduga hal itu.
"Kok malah diam sih mas...!"
Cecar My kesal pada Ata.
"Apa alasannya...? apa Azam menjelaskan..?"
Azam balik bertanya. Pada My.
"Gak mas...!"
"Ya sudah..biarkan saja...!"
__ADS_1
Ucap Azam enteng. My menatap suaminya seksama, tak biasanya suaminya terkesan cuek. Tentu saja hal itu semakin membuat My bertanya-tanya. Ada apa sebenarna dibalik sikap Azam dan Ata.