DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 14


__ADS_3


Bukan perkataan orang lain yang akan menentukan nilai hidupkita. Melainkan bagaimana kita berlaku dan memperlakukan diri kita sendiri.


Waktu terasa cepat berlalu, Setiap detiknya bagaikan dentingan penentuan. My mulai gelisah di kursinya. wajahnya ia sanggah dengan kedua tangan.



Sesekali mata belo itu melirik ke arah


dosennya, gadis itu berharap jika dosennya itu ada acara lain, agar My tak satu mobil dengan Ata.


Setelah jam kuliahnya berakhir My berjalan meninggalkan kelas. Rara berjalan dengan malas. baru keluar pintu tiga langkah My menerima notifikasi di henponnya. Ternyata ada pesan whatsapp dari pak dosennya.


Dosen Gray


"Tunggu saya sebentar, saya ada rapat dengan Senat dan Kaprodi"


My girang membaca pesan whatsapp dari dosennya.


"Yees. Gue gak jadi pulang bareng dia"


ucapnya dalam hati. Dengan penuh semangat My mengetik balasan.


My


"Ya udah, rapat aja pak. Saya pulang dulu bareng kak Dodit"


Membaca balasan dari My, Ata dengan cepat menghubungi gadis itu.


"Halo pak"


"Assalamualaikum My. Gak pake halo. Kamu itu kebiasaan, ya Mel. Males banget ngucap salam" Omel Ata pada My.


"Iya maaf, waalaikumsalam!"


Jawab My judes.


"Jangan pulang dulu, kamu nunggunya di ruangan saya aja" My memutar bola matanya malas.


"Tapi pak, ini kak dodit udah nungguin saya,!"


Ucap My jujur.


"Kalau kata saya gak, ya gak. Nurut coba My.


Sekarang juga, masuk keruangan saya"


"Kenapa My"


Tanya Dodit heran.


"Biasa kak, ada tugas dari pak Ata"


Dusta My, pada Dodit.


"Oo ya udah gak papa"


Jawab Dodit pengertian.


Akhirnya, My menuruti titah, calon suami super menyebalkan itu, dengan rasa tak enak hati My meminta maaf pada Dodit.



"Kak Dodit. maaf ya. My gak bisa pulang bareng kakak!"

__ADS_1


Dodit tersenyum, mendengar permintaan maaf adik tingkatnya.


"Gak papa My. Lain kali kan kita bisa pulang bareng.


"Ya udah, saya duluan ya My.


My mengangguk tanda setuju.


Setelah kepergian Dodit, My berjalan di koridor memuju ruangan calon suaminya, yang sok ngatur.


"Masuk" ucap Ata dingin. Belum lagi gadis itu mengetuk pintu, itu dosen udah bertitah aja, kayak raja Namrud. My manyun bibirnya sampai bisa diikat pake karet gelang.


"Menjelang nunggu saya, kamu bisa nonton film di laptop saya. Di situ banyak film-film yang mungkin kamu suka. Mas rapat di aula depan. Mas,tinggal ya!"


Sebelum berlalu Ata tak lupa mengusap kepala mahasiswinya.


Saat di ruang Rapat, Ata sesekali melirik kearah ruangannya, dari kursi rapat.



Disana terlihat dari kaca, mahasiswi spesialnya, tengah duduk di sofa sembari menghadap layar laptop, My tengah memilih-milih film yang cocok untuknya, di dalam laptop dosennya itu terdapat film kartun kesukaanya, yaitu kartun "Kum-Kum"


My melotot heran.


"Haa, dosen galak kayak dia, doyan film kartun juga?"


Cibirnya heran, sembari tertawa mengejek si dosen. Namun matanya fokus ke layar laptop.



Seketika jari lentik gadis itu mengklik film berjudul "Kum-Kum." Entah kenapa tiba-tiba sosok bayangan masa kecilnya bersama mas Bamnya muncul liar di benak gadis itu.


My ingat betul, saat nonton kartun itu, My selalu duduk di atas pangkuan Mas Herlambang, herannya mas Bamnya itu manut aja jika My mapan duduk di pangkuannya, sekalipun remaja itu gak pernah protes.


Tak hanya itu saja, remaja belasan tahun itu tak jarang membopongnya ke dalam kamarnya, untuk menidurkannya agar si adek kecil tak terusik bobok cantiknya.


Ngomong-ngomong tentang mas Bam, sebenarnya itu bocah, karna waktu kecil My susah manggil Herlambang jadi My singkat dengan mas Bam. Hingga sampai saat ini yang terpatri di ingatannya hanya mas Bam. Hingga sekarang My gak pernah tau nama asli dari Bam, yang ia tau hanya Herlambang saja.


My sudah mencoba mencari di akun instagram, facebook namun gadis itu tak pernah menemukan Herlambang yang ia cari.


Malah yang keluar gambar si dosen tengil itu.


Bersama wanita-wanita bule.


Kadang ia ingin bertanya pada mas Azamnya, namun lidahnya selalu kelu, gadis itu takut Azam mengejeknya, karna My tau hobi Azam itu ngebuli My.


Setelah kepindahhan Herlambang, keluar negeri bersama orang tuanya. My tak pernah lagi bertemu, bahkan dengan orang tuanya Herlambang sekalipun. Nah Ibu dari herlambang itu adalah sahabat Melisa dan Haris, sementara ayahnya mas herlambang itu, sepupu jauh dari Melisa mamanya My. Jadi kalau mereka nikah halal dan sah kok.


My mulai menikmati tontonannya. Bibirnya terus melengkung. Hingga ia tak sadar jika pria menyebalkan itu sudah berada tepat di sampingnya. Berdiri di kusen pintu dengan tangan terlipat.



"Kamu nonton apa?"


Tanya Ata ingin tau.


"Hee." My tetkejut saat mengetahui dosennya itu sudah tegak sembari bersandar tepat di sebelahnya.


"Kapan bapak masuknya?" gadis itu malah balik bertanya.


"Sudah lima menit yang lalu"


Mata My membulat sempurna.


"Kok saya gak tau, bapak masuk?"

__ADS_1


Ata tertawa, sembari menatap manik indah yang memancar.


"Kamu terlalu fokus nonton kartun itu, emang kamu tau tentang film itu?" Tanya Ata menyelidik. My menganggukkan kepalanya.


"Dulu waktu kecil saya suka film ini, tapi inget-inget lupa, soalnya saya masih kecil banget" Ucap My sambil mengingat masa kecilnya.


"Bapak suka nonton kartun ini juga?"


Tanya My penasaran.


"Suka"


Jawab Ata singkat


"Kalau bapak tau berapa jumlah episodenya?"


Ata kembali tertawa meremehkan gadis di sebelahnya.


"Kum-kum itu, serial televisi animasi Jepang, yang terdiri dari 26 episode. Plot dan karakter diciptakan oleh Yoshikazu Yasuhiko , dan disutradarai oleh Rintaro dan disiarkan pertama kali di TBS antara 3 Oktober 1975 dan 26 Maret 1976. Dulu judulnya pertama kali tayang Wanpaku Omukasihi Kumo-Kumo. Nama diubah menjadi Kum-Kum setelah episode ke enam.


Serial ini mengeksplorasi petualangan Kum-Kum, seorang anak laki-laki nakal di masa purba, dan teman-temannya ketika mereka tumbuh dewasa, sering bermain kejenakaan yang mengejutkan pengunjung yang sesekali ke desa mereka, dan yang hampir selalu berakhir dengan Kum-Kum dilumpuhkan oleh ayahnya yang keras"


Ucap Ata menjelaskan panjang lebar.


Bahkan My baru tau sejarah film kesukaanya itu.


"Kok bapak masih inget, itu film kan tayangnya tahun 1975, Emang bapak udah lahir?


Ata tersenyum menanggapi gadisnya itu.


"Dulu saya nonton film itu di VCD, saya tau sejarahnya karna saya suka baca, Apa yang saya tidak tau tentang film itu, Kamu mau tau, dulu saya suka nonton sama siapa?"


Tanya Ata sembari melirik kearah gadisnya.


"Gak ah, buat apa. Lagian saya gak kenal sama teman-teman bapak, gak seumuran jugakan sama saya"


Ata kembali tersenyum.


"Kamu memang gak seumuran dengan saya"


"Nah tu bapak tau"


Jawab My judes.


"Ya udah, yuk kita berangkat sekarang, kasihan tante Luna kelamaan nunggu!"


My menuruti ucapan dosennya itu, mematikan Laptop dan mengemas barang-barangnya.


Di luar terlihat sepi, My buru-buru masuk kedalam mobil dosennya. Sebelum masuk mobil, gadis itu celingukan kanan,kiri untuk memastikan keadaan aman.


"Nyari siapa?" tanya Ata heran.


"Gak ada, takut ada yang lihat aja, saya males digosipin, nanti orang nilai saya yang macem-macem lagi"


Ata Menatap manik hitam milik My sejenak, kemudia barulah pria itu menjalankan mobilnya. Tangan ata terulur meraih jemari mahasiswinya, untuk ia genggam. Kemudian dosen itu berucap sangat lembut.


"Jangan takut dengan penilaian orang, karna bukan perkataan orang lain yang menentukan hidup kamu. Tapi bagai mana sikap kamu memperlakukan diri kamu sendiri"


My tertegun mendengar ucapan dosennya, singkat tapi mampu menampar hati My. Gadis itu kemudian menatap jemari tangannya yang masih tergenggam erat di dalam telapak tangan besar yang terasa dingin.



Mereka saling menatap satu sama lain, My menundukan kepalanya, gadis itu tampak malu, wajahnya merona ayu. kemudian My nenarik tangannya perlahan.


Ata tersenyum, tangan besar itu mengacak surai halus My yang tergerai.

__ADS_1


__ADS_2