DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 35


__ADS_3


Tiada pertemuan terindah antara seorang laki-laki dan wanita kecuali dalam bingkai pernikahan.


Karna menikah adalah sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak engkau temui ketika ta’aruf dengannya.


Jangan berharap terlalu muluk atas diri pasanganmu karna pasangan idaman bukanlah pasangan yang memenuhi kriteria semua seseorang. Akan tetapi, pasangan yang dapat menerimamu apa adanya.


Janganlah pula engkau menuntut pasanganmu untuk sempurna, tapi sempurnakanlah dirimu agar engkau mampu menutupi kekurangannya.


Di pagi minggu cuaca begitu terang cahaya mentari mampu menembus jendela-jendela kaca. Setelah kepulannya dari Bandung. Ata dan My menghabiskan waktu libur di rumah, berolahraga dan masak itu yang mereka lakukan. Apa lagi dengan cuaca yang sangat mendukung.


Udara pagi dengan dibarengi angin sepoi-sepoi, sangat cocok untuk berolah raga. Ata segera mempersiapkan sepeda. Pria itu ingin menghabiskan waktu paginya dengan berolahraga mengelilingi taman kompleks.


sementara My sibuk mencoba masak, ia tak mau di bantu mbok Rum, katanya ia mau belajar, mbok rum hanya menunjukkan bumbunya saja.


"Sayang, Mas olahraga dulu ya, mau muter-muter di taman"


Pamit Ata nyusul ke dapur.


"Iya pak, hati-hati"


Ucap My sembari mengingatkan. Dengan semangat Ata mulai mengayuh sepedanya.


Setelah kepergian tuaannya, mbok Rum mendekati My.


"Non boleh nanya?"


Tanya simbok sopan.


"Nanya aja mbok, gak usah sungkan-ungkan"


Mbok Rum tersenyum.


"Non, simbok perhatikan, non selalu panggil den Ata, pak. Kok panggil pak to non. Kenapa gak panggil mas aja, kasian den Ata kelihatan tua dipanggil pak"


My tertawa renyah mendengar clotehan mbom Rum.


"Udah kebiasa panggil pak, mbok."


"Ya tapikan bisa dibiasakan non, panggil mas! Kalau di kanpus ya gak papa dipanggil pak"


Ucap mbok Rum memberi saran.


My berpikir sejenak.


"Ya deh mbok, nanti saya coba, lagipula dulu juga saya manggil pak Ata, mas tapi waktu saya masih kecil."


"Oo jadi waktu kecil pernah ketemu den Ata to"


"Iya mbok, rupanya mas Ata itu temenya Mas Azam."


Simbok mangut-mangut meski tak pahan tentang kisah mereka.


"Nah gitukan enak non, manggilnya mas! "


My kembali tertawa menatap simbok. Mereka terus ngobrol sembari menyiapkan sarapan.


My berjalan menuju meja makan, menyiapkan


sarapan untuk dirinya dan suami.


Setelah semua tersusun rapi My segera membersihkan diri, agar saat pulang nanti suaminya tak mencium tubuhnya yang bau bumbu dapur.


Ia selalu mengingat wejangan mama Melisa, jadi istri kudu primpen, ngemas rumah, ngemas barang ngemas diri.


Jadi My tak ingin seperti emak-emak kebanyakan.


Suami pulang kerja istri bau bawang, kasihankan suaminya, udah capek pulang kerumah lihat istri gayanya butek, muka kusut, badan asem, daster memble, tali kutang melintir. Ampun deh.


Selesai mandi My membungkus rambutnya yang basah dengan handuk. Kemudian ia siapkan baju santai untuk suaminya. Tak lama terdengar derap langkah menuju kamar, Ata membuka pintu menampilkan wajah yang basah oleh keringat. My mendekat membawa handuk kecil untuk meghapus peluh yang mengalir di tubuh suaminya.


"Keringatnya banyak bangt pak, sampai mana tadi muter-muternya? jadi segeran tu wajahnya"


ucap My sembari mengelap peluh Ata.


"Iya gimana gak seger, orang saya muter-muternya di hati kamu"


Canda Ata sembari mencubit hidung My.


My males kalau pak dosennya itu mulai gombal. Ia berhenti menghapus peluh Ata. Handuk kecil itu ia taruh di tangan suaminya.


"Nih, handuknya elap sendiri!"


Ucap My judes.


"Loh kok ngambek?"


"Males bapak kerjanya gombal, buruan bapak mandi, saya udah laper"

__ADS_1


Rengek My manja.


Ata gemes kalau lihat istrinya manja seperti itu. Ata segera bersih-bersih. Setelah itu ia akan sarapan bareng istri tercinta. Saat keluar kamar mandi ia lihat istrinya tengan menyisir rambut, Ata segera mengenakan pakaiannya, kemudian pria itu mendekat ke meja rias, pria itu meraih sisir di tangan My.



"Biar Mas bantu!" My menatap suaminya dari dalam cermin. Terlihat dari pantulan cermin sang suami tengah menyisir rambutnya dengan telaten.


"Makasih pak" Setelah selesai My berdiri menghadap pak dosen. Gadis itu mulai berani memcium pak dosennya. Ata tersenyu kemudian membalas mengecup kenig My.


"Udah mulai nakal y?"


Ledek Ata tepat di hidung mancung My.


My tersenyum manja sembari melingkarkan tangannya di leher pak dosen.


"Bapak wangi."


Bisik My sedikit menggoda.


"Yang kemarin masih ngegantung lo, sayang, Mau dilanjutin sekarang?"


Ledek Ata jahil.


Seketika My dengan cepat melepas lilitan tangannya dari leher kokoh pak Ata. Ia masih terbayang, rasa pedih yang ia rasakan waktu di Bandung. Dengan cepat My berucap.


"Saya laper pak, ayo biruan turun" Ata tetsenyum. Sembari mengacak rambut bidadari kecilnya.


Selesai di kamar mereka turun ke bawah unruk menyantap sarapan pagi. Ata mulai menyendok makanannya, saat kunyahan pertama pandangan Ata langsung menatap istrinya.


"Sapa yang masak My?"


Tanya Ata penasaran


"Saya"


Ucap My malu.


"Kenapa, gak enak ya?"


Ata tak menjawab. Pria itu meletakkan sendoknya, kemudian ia mengurungkan niatnya untuk melahap makanan di atas meja. My yang melihat itu seketika dadanya nyeri, ia kecewa pada dirinya, yang tak becus memasak.


"Maafkan saya, pak. Saya gak bisa masak, jadi makanan yang saya masak gak... "


"Huss. Jangan diteruskan! Kita hari ini sarapan di luar aja ya."


Agar tak melanjutkan ucapannya yang tak ia suka.


"Bapak gak ingin mencobanya lagi?"


Tawar My sedih.


"Jangan paksa saya, My"


Seketika My berdiri dan berlari masuk kamar.


"My tunggu"


Panggil Ata, namun gadis itu tak mengindahkan panggilan suaminya. My terus menaiki tangga. Sampai dikamar My langsung membanting tubuhnya ke atas kasur.


Ata mendekat mengusap kepala istrinya.


"Hey, lain kali kamu bisa belajar lagi, jangan bersedih seperti ini. Karna saya tidak pernah menuntuk kamu untuk sempurna. kita bisa besok belajar masak bareng gimana? "


"Saya sedih bukan karna masakan saya gak enak, saya kecewa pada diri saya sendiri. Kenapa saya gak belajar masak dari dulu, lihatlah suamuku saja sampai tak berselera untuk sekedar menghabiskan satu sendok nasinya.


"Hus jangan berkata seperti itu. Saya ada alasannya kenapa saya tidak melanjutkan makannya. karna saya takut lisan saya tanpa sadar mencela makanan yang tersaji di atas meja. Bukan kamu saja yang tersaki nantinya tapi Allah juga


Imam Nawawi membawakan dalam kitab Riyadhus Sholihin mengenai tidak bolehnya mencela makanan dan disunnahkan memujinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata,


مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ


“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).


Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, 18: 93)


Terkadang kita sering lupa dengan adab yang berkaitan dengan makanan.


Jujur saya gak biasa makan masakamu hari ini, kamu harus banyak belajar lagi soal masak-memasak."


Ucap Ata lembut


"Maafkan saya pak, pagi ini saya sudah mengecewakan bapak"


Ata tersenyum sembari menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan.


"Gak papa kamu sudah ada usaha belajar menyenagkan suami, itu saja sidah terhitung ibadah di mata Allah. Karna setiap pekerjaan seorang istri itu dihitung ibadah, jika melakukannya dengan ikhlas. Jadi gimana, mau tetap makan masakanmu atau sarapan di luar?"


Tawar Ata lembut. Karna memang masakan My tak layak makan.

__ADS_1


"Sarapan di luar aja"


Jawab My malu. Ata tersenyum menatap istrinya.


Saat ini mereka sampai di cafe yang menyediakan sarapan. Mereka makan dengan lahap sesekali Ata menyuapi istrinya. My bahagia punyaai imam idaman seperti suaminya. Gadis itu terhau hingga matanya berkaca-kaca.



Usai sarapan mereka pulang ke rumah. My menuju kamar untuk beberes lemari pakaian. Ata ikut membantu kegiatan istrinya. Dari awal bertemu My masih penasaran soal warna kesukaan pak dosennya itu.


"Pak boleh tanya,?


"Boleh?"


Ucap Ata singkat


Kenapa semua baju-baju bapak warnanya sama semua abu-abu, apak gak suka warna lain ya?"


"Suka aja sama warna gray"


"Alasannya?"


Tanya My penasaran.


"Soalnya, kalau saya pake baju warna gray saya makin kelihatan gantengnya."


Ucap Ata meledek Istrinya.


"Apaansih, pd bapak itu tingkat dewa ya. Serius pak, apa filosofinya dari warna yang bapak suka?"


Ata tertawa sebelum menjelaskan.


Setahu saya filosofinya warna Abu-abu itu netral mudah dipadukan, untuk kepribadian orang yang suka gray itu mempunyai sifat introvert, tidak emosional, pendiam, tanggung jawab, dewasa, berpengalaman serta kematangan dalam berpikir. Untuk perilakunya selalu menunjukkan profesionalisme dan keseriusan."


My menatap serius kearah dosennya itu.


"Cocoksih dengan kepribadian bapak. Kalau seandainya sekali-kali ke kampus pake warna lain bapak mau?"


Tanya My sedikit takenak.


"Gak masalah, asal kamu yang pilihin warnanya, soalnya saya suka bingung kalau pilih baju selain warna gray."


My tersenyim mendengar jawaban suaminya.


Setelah melewati hari liburnya. Ata dan My kembali disibukkan dengan kegiatan kampus.


Sesuai permintaan My, hari ini Ata memakai baju pilihan istrinya.



"Nah, lihat bapak makin kelihatan ganteng pake warna coklat.


Ata menatap istrinya sembari tersenyum.


"Ya udah yuk, jalan keburu telat"


Ajak Ata sembari menggandeng tangan My.


Di mobil Ata terus menggenggam jemari lentik My.


"Boleh minta sesuatu"


Tanya Ata tiba-tiba.


"Apa?"


Tanya My balik.


"Panggil saya mas, seperti dulu. Saya rindu sapaan itu, My"


My menelisik wajah tanpan dosennya.


"Saya sudah nyaman panggil bapak"


Ucap My enteng.


"Tapi mas gak suka sapaan itu, Mas bukan bapak kamu, sayang, Rasulullah mengajarkan kita untuk memanggil pasannya dengan sapaan yang pantas."


Seperti hadits yang diriwayatkan Abu Daud dengan sanad-nya dari Abu Tamimah Al-Juhaimi: "Ada seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya, 'Wahai Ukhti!', lalu Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Apakah istrimu itu saudarimu?' Beliau membencinya dan melarangnya." (HR. Abu Daud: 1889)


"Kamu mau gak dapat safaat dari Rasulullah karna kamu melakukan perbuatan yang di benci oleh beliau"


Ancam Ata pada My.


"Ya deh panggil mas. Tapi saya takut keceplosan panggil mas di kampus"


"Gak papa, paling mereka geger"


Jawab Ata enteng.

__ADS_1


__ADS_2