DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 50


__ADS_3



Pagi yang cerah, My mulai menata bukunya kedalam tas ranselnya. Sementara Ata sibuk menyiapkan dokumen yang diminta Azam. Selesai dengan urusan masing-masing, Akhirnya mereka masuk mobil menuju kampus. Setelah kejadian itu My sedikit menjaga jarak dengan suaminya. Bukan kenapa-kenapa, gadis itu hanya sedang mengontrol hormonnya, yang tengah melonjak. My takut kecewa lagi, sehingga gadis itu tampak lebih pendiam dari biasanya.


Melihat hal itu, hati Ata semakin nyeri. Ata tau gadisnya seperti itu karna ulahnya.


"Dek, kamu masih marah sama mas?"


Tanya Ata memastikan. My melirik sekilas ke arah suaminya.


"Jika dibilang marah gaksih mas, hanya saja lebih tepatnya My takut kecewa. Nahan sesuatu yang harus dilepaskan itu nyesak mas, sama nyeseknya saat ngelihat suami godain janda"


Jawab My pelam. Ata meraih jemari isyrinya, lalu ia kecup lembut berulang-ulang kali.


"Maafin mas ya sayang, sebenarnya ada hal penting yang harus mas sampaikan sama kamu"


Ucap Ata tenang.


My menyipit menatap suaminya serius.


"Mas mau ngomong apa?"


Tanya My penasaran. Ata tersenyum sembari mengacak lembut surai halus istrinya.


"Nanti aja di rumah, kalau cerita sekarang waktunya gak cukup."


Ucap Ata lembut.


"Ooo ya udah"


Jawab My datar. My kembali menatap kearah jendela, melihat pemandangan di luar.


Setelah sampai di kampus. My menuju kelas. Disana ada Sasa dan Kl yang duduk manis.


"Pagi My"


Sapa Kl ramah. My tersenyum manis kearah kedua sahabatnya.


"My, lo udah dengar belum berita soal buk Oliv?"


tanya Kl semangat.


"Udah, dia gak ngajar di fakultas bisnis lagi."


"Kok lo tau My"


Tanya Kl penasaran.


"Taulah, mas Ata yang bilanh"


Ucap My bohong.


"Berarti lo tau dong, apa penyebabnya itu dosen ditendang dari sini?"


Timpal Sasa penasaran.


"Gak, mas Ata gak cerita"


Asik ngobrol ternyata pak dosen ganten yang hatinya sudah disegel itu masuk dengan penuh wibawa.


Ata membuka pertemuan dengan mengucap salam. Setelah menjelaskan materi panjang lebar Ata menatap sekilas istrinya yang tampak murung, terlihat dari wajahnya jika istrinya itu sedang tak bersemangat.


Setelah waktu jam kuliah berakhir, Ata kembali pulang bersama sang istri.


"Dek, mas mau antar berkas ke kantor, mas Azam udah nungguin. Kamu mau ikut apa mas antar pulang?"


Tanya Ata lembut.


"Antar pulang aja mas, My ngantuk"


Jawab My lesu. Entah kenapa kepalanya terasa pusing, tubuhnya terasa meriang.

__ADS_1


"Ya udah kalau begitu mas antar kamu pulang dulu ya"


Sampai di rumah Ata mengantarkan istrinya sampai ke kamar. Setelah itu Ata pamit untuk mengantarkan berkas ke kantornya.


"Istirahat aja dulu, mas sebentar kok sayang!"


Ucap Ata lembut.


"Iya mas, nanti pulangnya carikan salak medan ya mas"


Pinta My pada sang suami.


"Insya Allah, nanti mas cari. Mas pergi dulu"


Pamit Ata buru-buru.


Setelah kepergian suaminya, demam My semakin tinggi. Gadis itu turun dari atas ranjang, ia cari termometer untuk ngecek suhu badannya. My mulai ngacak-ngacak nakas kamar namun barang kecil itu tak ia temukan. My keluar menuju ruang kerja suaminya yang terdapat di ruang sebelah.


My melakukan hal yang sama, gadis itu mencari di atas meja kerja suaminya, namun tak ada. Kemudian My tarik laci meja kerja suaminya, My meraih amplop putih berlogokan rumah sakit ternama di kota ini. Perlahan My menarik isi dalam amplop itu, Matanya terus meneliti setiap hurup dan angka yang tertera di kertas putih itu.


Seketika tangan My gemetar, memegang kertas putih yang diatasnya tertera nama suaminya. Kepala My semakin sakit, gadis itu terduduk di atas kursi kerja Ata. Air matanya tumpah seketika. Dadanya sesak rasanya ini mimpi buruk yang seumur hidupnya baru gadis itu alami.


Dengan tangan lemas, My mengembalikan amplop putih itu ke laci kerja suaminya. Ia keluar menuju kamar, My terduduk dengan hati yang gelisah. Saat terdengar derap langkah suaminya, My buru-buru baring ia pura-pura tidur, gadis itu tak sanggup melihat suaminya.


Ata masuk ke kamar, Ia taruh salak medan pesanan sang istri, lalu Ata membersihkan diri. Setelah itu barulah Ata ikut rebahan di sebelah istrinya, ia sentuh kening My dengan punggung tangannya. Ata terkejut ternyata tubuh istrinya sangat panas.


"Sayang, kamu demam. Ayo kita kedokter"


Ucap Ata membalik badan istrinya.


"Heey, kenapa istrimas nangis? apa yang sakit, kepalamu pusing?"


Tanya Ata cemas. Mendengar suara lembut suaminya. My tak kuat ia tubruk tubuh kekar itu My menangis sejadi-jadinya, di atas dada bidang Ata.


"Kamu kenapa, sayang?"


Dengan lembut Ata mendekap tubuh istrinya, sembari mengelus sayang kepala My.


"Ceritalah, ada apa?"


"Harusnya mas yang cerita sama My. Kenapa mas sembunyikan hal sebesar ini dari My?" Aku istrimu, aku berhak tau tentang apa yang ada pada diri suamiku, mas!"


Ata terdiam menatap My penuh tanya.


"Maksudnya?"


Tanya Ata memastikan.


"My sudah tau, tadi My gak sengaja nemuin hasil tes kesehatan mas di laci meja kerja"


Mendengar itu, seketika tubuh Ata menegang, tangannya terlepas dari pelukan My. Ata terdiam.


"Mas"


Panggil My lembut.


"Kenapa kamu ambil tanpa seizin mas"


Ucap Ata dingin. Ata turun dari atas ranjang, pria itu tegak di pinggir jendela, menatap jalan yang terlihat padat. Sungguh saat ini hargadirinya hancur di depan istri yang sangat ia cintai.


My ikut turun menyusul suaminya, ia peluk suaminya dari belakang.


"Maafkan kelancangan My mas!"


Ucap My menyesal. Gadis itu terus merekatkan pelukannya di pinggang sang suami.


"Kamu gak salah. Sebenarnya itu yang ingin mas sampaikan padamu hari ini. Tapi kamu sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Mas malu dek, sekarang mas bukan pria perkasa seperti yang kamu harapkan"


Ucap Ata sembar meraup wajahnya kasar.



"Jadi itu, alasan mas nolak My sebulan terakhir ini?"

__ADS_1


Ata mengangguk lalu ia raih tubuh sintal sang istri.


"Sekali lagi mas minta maaf, mas terlalu banyak mengecewakanmu! mas malu jujur padamu, harus mengakui kelemahan mas"


Ucap Ata


"Gak mas, My marah gak terima itu karna perubahan sikap mas yang dingin pada My. My seperti itu karna gak tau kondisi mas yang sebenarnya. Maafin My, udah buat mas ngerasa bersalah"


Ucap My sembari menangkup wajah tampan suaminya.


"Mas yang minta maaf. Sungguh mas malu sama kamu, sayang. Tubuh mas kekar, tapi mas gak bisa memberikan kepuasan pada istri mas!"


Ucap Ata sembari memeluk isyrinya.


"Ga papa mas, jika itu alasannya My bisa ngerti. Apa kata dokter mas?"


Tanya My ingin tau.


"Kata dokter, Akibat kecelakaan itu mas mengalami cidra pinghul, yang berkaitan dengan tulang belakang dan itu mempengaruhi saraf yang berhubungan dengan alat vital mas, gangguan saraf itu yang menyebabkan mas mengalami disfungsi ereksiĀ atau yang lebih dikenal dengan sebutan impoten"


Ucap Ata lemas. My tatap wajah suaminya yang tampak terluka.


"Apa kata dokter ada kemungkinan sembuh mas?"


Ata ankat wajahmya ia tatap manik bening istrinya.


"Kata dokter ada, tapi butuh waktu lama. Mas pasrah dek, jika nanti mas gak sembuh, mas ikhlas melepas kamu. Mas gak mau membuat kamu tersiksa bertahan dengan pria disfungsi ereksi seperti mas, yang sudah pasti tak mampu memberikan kepuasan pada istrinya."


My bungka mulut Ata dengan lima jarinya.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi mas! Sampaikapanpun My gak akan ninggalin mas, yang penting mas semangat, mas terus berobat. My akan dampingi mas menjalani perobatan."


Ata tersenyum getir menatap istrinya.


"Kamu yakin mampu bertahan dengan pria seperti mas?"


Tanya Ata memastikan.


"Insya Allah Yakin"


Ucap My mantap. Ata kembali memeluk tubuh istrinya.


"Makasih sayang, atas pengertianmu"


My tersenyum, kemudian mengecup bibir suaminya.


"Kok bisa ya mas padahalkan kan cuma memar aja"


Ucap My heran.


"Benturan saat mas jatuh terduduk di aspal itu dek yang fatal, hal itu bisa terjadi karena saraf tulang belakang mas rusak yang menyebabkan beberapa fungsi tubuh menjadi terganggu, seperti hilangnya sensor motorik dan kendali gerak. Kondisi ini yang akhirnya menyebabkan mas mengalami cedera saraf tulang belakang, sehingga tidak mampu atau sulit bertahan di posisi ereksi."


"Kapan jadwal mas berobat"


Tanya My ingin tau.


"Setiap hari senin sayang"


"Ya udah bisok My temenin ya"


Ucap My lembut. Ata mengangguk, ia peluk istrinya, Ata bersyukur dalam hati, memiliki istri sepengertian My. Akhirnya Ata sedikit lega. My bisa mengerti atas kekurangannya saat ini.


"Bagaimana demammu? kita ke dokter ya dek!"


Ajak Ata pada sang istri.


"Gak usah mas, dibawa istirahat juga sembuh."


Tolak My sungguhan.


"Ya sudah, tidurlah mas akan temani"


Bisik Ata penuh rasa sayang. Ata ikut baring di samping My, dengan lembut pria itu mengusap punggung istrinya hingga gadis itu terlelap nyaman.

__ADS_1



__ADS_2