
Deraian air turun membasahi bumi membawa
Kebahagian yang hakiki,
Kebahagiaan diraih oleh mereka yang senantiasa ikhlas dan juhud dalam kehidupan.
Mereka selalu tenang walau dalam kebimbangan, selalu lapang walau dalam kesempitan, selalu mencukupkan dalam kekurangan serta senyum dan kebaikan senantiasa mewarnai gerak-gerik mereka, mereka ialah orang-orang yang bahagia karna rabbnya.
Bahagia itu terletak pada hukum-hukum yang ditentukan oleh Allah dan garis-garis kemanusian. Berbahagialah karna itu pilihan.
Kibasan angin terus menggoyangkan tirai-tirai putih yang melambai-lambai. Tangan kekar Ata bergerak cepat menutup jendela yang mulai tampak basah. Rintikan hujan begitu derasnya gemuruh mulai bersahut-sahutan.
Tampak sesekali cayahaya terang seolah membelah langit hitam.
My memeluk erat tubuh suaminya dari belakang, sembari merundukkan wajahnya di punggung lebar Ata.
"Maaas.Takut" Rengek gadis itu sembari terus memeluk.
"Baca doa dek"
Ucap Ata lembut sembari merengkuh istrinya membawanya dalam dekapan. Kemudian pria itu tak lupa menadahkan kedua telapak tangannya sembari memanjatkan doa di waktu mustajab.
Setelah memanjatkan doa Ata kembali merangkul istrinya.
"Jika takut saat turun hujan, biasakan berdoa sayang, dulu mas sering ingetin kamukan. Agar membiasakan berdoa. Rasulullah pernah mengalami hal yang sama sepertimu.
Suatu hari, ketika terjadi hujan lebat, wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang biasanya cerah bersinar mendadak berubah. Wajah sang rasul yang lemah lembut itu mendadak pucat. Wajah putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu akan kembali cerah bersinar setelah hujan reda.
Aisyah radhiyallahu anha sang istri pun bertanya kepada Rasulullah,
"Ya Rasulullah, apabila terlihat awan mendung semua orang merasa gembira karena menandakan hujan akan turun, tetapi mengapa engkau justru terlihat ketakutan?"
Kepada Aisyah binti Abu Bakar, Rasulullah SAW pun menjawab, "Wahai Aisyah, bagaimana saya dapat meyakini bahwa angin kencang dan awan mendung itu bukan mendatangkan adzab dari Allah? Kaum `Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Ketika mereka melihat awan mendung, mereka gembira karena mengira akan segera turun hujan. Padahal bukan hujan, melainkan adzab Allah untuk membinasakan mereka."
Doa ketika turun hujan Diriwayatkan dalam hadits Bukhari nomor 1032, dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:
اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
Artinya : Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat.
Jika hujan disertai petir kamu bisa baca doa ini. Seperti diriwayatkan dalam hadits Imam Malik, Nabi Muhammad SAW membaca doa ketika hujan diawali atau disertai petir berikut
سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Artinya: Mahasuci Allah yang dengan memuji-Nya bertasbih lah halilintar dan juga para malaikat karena takut kepadaNya.
"Mas kok tau kisah itu darimana?"
Tanya My penasaran, Gadis itu mulai heran pada suaminya, semua hal ia bisa tau. Ata gemes melihat istrinya. Dulu waktu mas di pesantren, Yai selalu memberikan wejangan pada setiap santrinya yang berkaitan dengan apa yang dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad. Gitu sayang"
"Ooo mas pernah pesantren to"
"Iya. Kan mas tamat SD, langsung di pondoin sama mama, walaupun cuma dua tahun, kan mas keburu pindah ke London ikut papa, mama.
Tapi mas kurang puas, saat udah tamat kuliah mas ikut mondok lagi, sekalian nunggu kamu gede, habisnya nungguin kamu besarnya lama banget, kalau nunggunya di pesantrenkan gak kerasa nunggunya. Dapat ilmu dapat kamu juga."
Jelas Ata sungguhan. My semakin kagum dengan suaminya. Sungguh beruntung ia memeliki suami Ata Herlambang.
"Boleh jujur mas"
"Jujur tentang apa?"
"My nyesel, dulu udah zolim sama suami sebaik mas, kalau tau mas Ata itu mas Babnya adek, dari awal adek nemplok sama mas"
Ata menyipit mendengar pengakuan sang istri. Kumudian Ata tertawa renyah.
"Tapi mas seneng kok dijudesin kamu, berasa dapat tantangan aja, naklukin hati gadis labil seperti kamu"
My tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya.
"O ya mas. My lupa kemarin mau cerita. Tau gak mas"
"Gak tau"
Sahut Ata singkat. Dengan geram gadis itu menabok lengan suaminya.
"Dengarin dulu. Kan My belum cerita, gimana mas bisa tau coba, dengerin My ngomong"
Ata tertawa melihat istrinya sewot.
__ADS_1
"Ya udah buruan cerita, mas dengarin, Soalnya mas ada perlu sama kamu"
"Perlu apa?"
"Udah cepet cerita dulu, mas dengerin ni. perlunya mas nanti aja, soalnya perlunya mas butuh waktu lama dan konsen trasi tingkat tinggi"
My menyipit curiga ke suaminya. Ata tersenyum mendapat tatapan seintens itu dari sang istri.
"Kemarinkan mas, waktu hari yang sama dengan kejadian buk Oliv. Ternyata si Sari, lihat mas lagi cium adek di mobil, tapi mereka sangka, mas ciumannya sama buk Oliv. Gitu ceritannya"
"Jadi, yang mau dibahas yang mana ini? soal cemburu kamu karna mereka sangka mas ciuman sama oliv, atau soal ciuman mas yang ketahuan Sari? "
Tanya Ata menggoda. Sembari menoel hidung mancung istrinya.
"Sapa yang cemburu sama bu Oliv, My cuma gedeg aja sama Sari, orang mas cium adek, kok dibilang cium buk Oliv, gak rela banget My, kalau mas dibilang cium buk Oliv"
Ucap My sambil bersungut-sungut. Ata menatap intens manik bening yang berbinar di hadapannya.
Ata terdiam mendengar cerita istrinya. My kembali menyenggol lengan suaminya.
"Kok diam sih mas?"
"Menurut mas apa gak sebaiknya pernikahan kita go public aja, sayang? kalau kita tutupi terus jatuhnya fitnah yang kita tebar. Mau sampai kapan kita mau nebar fitnah seperti ini?"
Usul Ata serius. My diam ia menatap kearah jendela, yang terlihat dari sana hujan yang terlihat lebat.
"Kok diam, kamu gak setuju?"
Tanya Ata lembit
"Gimana dengan kuliah adek mas?"
Tanya My hawatir.
"Gak usah hawatir. Nanti mas konsultasikan terlebih dahulu dengan prodi."
Bujuk Ata lembut.
"Terserah mas aja gimana baiknya. My ikut aja, yang penting aman untuk My di kampus"
Ata tersenyum.
"Mas dingin. Bisa matikan ACnya."
"Dingin?"
Tanya Ata memastikan. My mengangguk sembari memeluk sang suami untu mendapat kehangatan.
"Mas angetin mau?"
Tanya Ata serius.
"Pake apa?"
Jawab My gak mudeng.
Ata tak menjawab, Pria itu dengan gesit membalikkan tubuh langsing My, hingga gadis itu terlentang di atas ranjang.
Ia lafazkan doa dalam hati sebelum menggauli sang istri. Jemari mereka bertaut apik, saling menyalurkan energi positif. My terpejam ia rasakan sentuhan lembut dari bibir kenyal pak dosen. Jemarinya merayap menyapu tuntas yang ada di permukaan tubuh mahasiswinya.
Desisan nafas yang terdengar sesak membuktikan bahwa, gadisnya mulai terengah akibat desaken sesustu.
Ata tersenyum, menatap wajah ayu yang terlihat gelisah, Ata kembali menenggelamkan wajahnya ke dada My yang terlihat semakin kembang kempis.
"Sekarang ya sayang"
Bisik pria itu lembit. My membuka matanya malu. kepalanya pergerak lembut sungguh kode yang sempurna, untuk pria dewasa itu.
Pelan-pelan Ata mulai mencoba, menempatkan benda sakral ketempat yang lebih sakral.
"Tahan sedikit ya, kalau terasa sakit kamu boleh gigit bahu mas"
Bisik Ata tersengal. My mengangguk pasrah.
My mulai merasakan sesuatu yang mengganjal, Bibirnya ia gigit untuk menahan nyeri.
"Sakit?"
Tanya Ata memastikan
"Heeem"
__ADS_1
Gumam My serak.
"Bentar lagi kok"
Bisiknya sembari membelai surai halus istrinya. My kembali mengangguk manja.
Ata mulai mendekap erat tubuh gadisnnya.
Ia merasakan robekan yang terasa lembut nan hangat. Saat itu My benar-benar menggigit bahu kekar suaminya. Namun gigitan My tak berarti baginya, kenikmatan yang ia tunggu lima bulan lamannya akhirnya pria itu rengkuh. Rasa yang sungguh luar biasa dahsyatnya.
Ata terpejah saat suhu tubuhnya mulai memanas, hingga nyawannya terasa melayang. Lengan kekar Ata, My cengram kuat-kuat, saat gadis itu merasakan rasa yang aneh yang baru hinggap di benaknya. perlahan cengkraman itu mengendur dan tangannya mulai terkulai terbanting keatas ranjang.
Peluh Ata bercucuran, peluh cinta yang baru pertama kali sama sama mereka rasakan. Ata terbaring lemas di sebelah tubuh My. Kemudian ia bawa tubuh polos istrinya dalam dekapan.
"Terima kasih sayang! maaf jika pergerakan mas tadi menyakitimu"
My menggeleng malu di dada bidang suaminya. Ata tersenym puas saat ini.
"Mau mandi sekarang atau besok subuh?"
Tawar Ata lembut.
"Besok aja ya mas, dingin"
Rengek My manja.
"Ya udah kalau gitu kita ambil wudu aja ya untuk meringankan hadas besarnnya.
"Kok gitu, gak bokeh langsung tidur aja, mas?"
Ata tersenyum menanggapi istrinya. Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan hal seperti kita, menunda junub untuk melakukan aktivitas.
Kita dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Wudhu ini hukumnya tidak wajib, dan tidak bisa menghilangkan hadats besar, namun sifatnya sebatas meringankan hadats tersebut.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau mengatakan,
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه للصلاة
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.” (HR. Muslim, no. 305)
Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah seseorang tidur dalam kondisi junub? Beliau menjawab,
نعم ، إذا توضأ أحدكم فليرقد وهو جنب
“Ya boleh, apabila kalian telah berwudhu, silahkan tidur dalam kondisi junub.” (HR. Bukhari 283 dan Muslim 306).
"Yuk wudu, lepas wudu baru kita tidu"
Ajak Ata sembari mendudukkan istrinya.
"Tapi dingin mas"
"Sebentar sayang, mas gendong ya"
Tawar Ata sembari merapikan rambut My yang aut-autan.
"Jalan aja"
Jawab My sembari menuruni ranjang.
My sedikit meringis, saat berdiri.
"Kenapa?"
Tanya Ata hawatir.
"Sakit ya sayang?"
Seketika Ata memegang kedua bahu istrinya.
"Sedikit pedih mas"
Jawab My malu.
"Mas gendong aja, ya?"
Akhirnya My mengangguk.
Setelah selesai cuci dan berwudu, Ata mulai mematikan lampu kamar mereka, cahaya temaram dan dengan cuaca hujan menambah kesan romantis yang sempurna.
Mata mereka tertutup cantik, dengan tubuh terbungkus selimut.
__ADS_1