
Terkadang kita lupa dengan kodrat kita sebagai seorang istri, lupa dengan nada bicara kita terhadap seorang suami, lupa jika surga kita ada pada dirinya, sejatinya ridha kita ada pada ridhanya suami. Maka dari itu apa-apa yang kita lakukan tak luput dari pengawasan seorang suami. Seburuk apapun suami adalah imam bagi seorang istri.
My tertunduk lesu saat sang papa memberi wejangan pada dirinya.
"Dek, kamu gak boleh seperti itu. Ata itu suamimu, jika kamu merasa ada yang salah pada dirinya, tanyakan baik-baik. Bukan papa melarangmu tidur di sini, papa senang kamu menginap di rumah papa, tapi jika menginapmu itu karna menghindari sesuatu gapa gak suka. Kamu pahamkan maksud papa?"
"Tapi pa"
"Sudah, jangan membantah. Kamu bukan lagi seorang putri kecilnya papa, kamu sudah dewasa, sayang. Papa tidak pernah mengakarkanmu lari dari masalah"
My terisak, ia merasa tak mendapat pembelaan dari keluarganya. Ia bangkit dari kursinya, lalu melangkah membopong buah hatinya menuju mobil. Melisa heran melihat prilaku putrinya itu.
"Loh, kamu gak jadi nginap di sini My..?"
Tanya Melisa hawatir. Bocah yang ditanya tak menyaut, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa..?"
Tanya oma Zain makin hawatir.
"Ma, biarkan dia pulang. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri"
Haris berucap sembari merangkul bahu sang istri.
"Loh, emang My kenapa pa? mereka lahgi berantem?"
Tanya Melisa hawatir.
"Sepertinya begitu, barusan nak Ata telpon papa, minta My untuk pulang"
Melisa semakin gelisah mendengar jawaban sang suami.
"Masalah apa, pa. Apa ata ada cerita?"
"Ata tidak ada berkata apa-apa, dia hanya meminta My untuk pulang"
"Lah, kok papa bisa menyimpulkan kalau mereka sedang ribut?"
"Firasat seorang ayah, ma"
Melisa mencebik, mengejek Haris.
"Udah jadi cenayang apa"
Ucap wanita paruh baya itu, sembari mencubit pinggang sang suami.
"Eeec. Mama mulai ya, kode sepertinya"
Ledek Haris pada sang istri
"Apaan, mulai ya pa. Gak malu udah jadi kakek masih genit, aja!"
__ADS_1
Haris tertawa dengan penuh kasih sayang tangan kekar yang terlihat mulai keriput itu perlahan mulai melingkarkan tangannya untuk memeluk pemilik jiwanya.
Sampai di rumah, My dengan hati-hati membaringkan putranya di tempat tidur.
"Loh, Zain tidur dek?"
Tanya Ata hati-hati.
"Mas bisa lihat sendirikan, jangan tanyakan hal yang gak penting. Awas aku mau shalat"
Ucap My sarkas. Sembari melangkah meninggalkan sang imam.
"Kita shalat berjamaah"
Sahut Ata santai, tak sedikitpun merasa berdosa. My tak menjawab ia berlalu begitu saja. Ia tak mengindahkan perintah suami, ibu satu anak itu menggelar sajadah dan melaksanakan shalat sendiri di kamar tamu tanpa di imami sang imamnya. Melihat hal itu, Ata hanya bisa tarik nafas dalam-dalam.
Usai shalat, Ata mendekati sang istri yang tengah duduk santai di pinggir kolam.
"Apa alasanmu marah, rasa mas gak ada yang salah dengan foto itu"
Mendengar penuturan suaminya, air mata My meluncur seketika.
"Hebat kamu mas, gak ada masalah kamu bilang, untuk foto itu kamu rela bohongin aku"
Bentak My terisak, Ata melongo mendengar ocehan sang istri.
"Bohong darimana, masalahnya mas gak pernah ngerasa bohongin kamu, dek"
Protes Ata lembut.
My mulai berteriak, untuk menumpahkan kekesalannya. Wanita itu sepertinya mulai hilang kendali, hingga ia lupa satuhal.
"Rendahkan, suaramu dek!"
Ucap Ata lembut. Seketika My terjengit kaget, rasa berdosa itu seketika hadir, namun ia tepis, egonya lebih kuat dibanding dengan sekedar memelankan suaranya.
"Aku tidak perduli dengan ridhamu mas, yang aku tau saat ini, kamu mulai bermain-main"
Usay berucap, wanita itu bangkit dari duduknya, berniat untuk enyah dari hadapan Ata Herlambang.
"Sudah puas dengan uneg-unegmu, bisa mas minta waktumu, untuk mas jelaskan. Bukankah kamu meminta mas, untuk menyiapkan jawabannya..? Mas udah punya jawabannya"
Ucap Ata lembut, sembari mencekal pergelangan tangan sang istri. My membalik badan, menatap lekat seolah menantang sang suami.
"Tundukkan pandanganmu, gak boleh seorang istri menatap suami dengan cara seperti itu, kamu gak lupakan, dek. Seburuk apapun mas, di matamu. Mas ini tetap imammu, jangan menantang mas seperti itu, gak baik"
My terdiam, sembari mengalihkan pandangannya.
"Duduklah, mas akan jelaskan"
My manut, sepertinya ia mulai waras dengan keadaan hatinya.
"Maaf, jika mas belum sempat cerita. Bukan maksud mas, menutupi. Tapi memang belum ada waktu, mas terus dikejar-kejar waktu"
__ADS_1
Ucap Ata lembut.
"Udah gak usah bertele-tele aku gak suka"
Potong My dengan nada judesnya. Seketika Ata melirik ke arah istrinya dan My pun terdiam seketika.
"Tentang foto itu memang benar dan kesibukan mas akhir-akhir ini, untuk menemui dia juga benar, gak ada hal yang bisa mas sangkal, semuanya benar. Hanya saja yang mendefenisikannya saja yamg ber-beda beda, sesuai dengan kapasitas berpikirnya orang yang melihat foto itu saja yang berbeda. Jangan suka membuat spekulasi yang negatif"
Terang Ata jujur, namun sayag mendengar hal itu, My murka. Hingga lupa akan kodratnya sebagai seorang istri. Ia berteriak dengan suara lantang, seperti orang kesetanan.
"Hebat kamu mas..! jadi apa yang aku hawatirkan selama ini benar, pantas saja setiap angkat telpon kamu menghidar dari aku, jadi ini jawabannya. Tega kamu, mas!"
My kembali terisak. Dadanya nyeri serasa ditikam. Ia tatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Sejak kapan mas?"
Tanya My pelan, nyaris tak terdengar. Ata berpikir sejenak, untuk mengingatnya lalu menjawab dengan santai.
"Sudah tiga bulan.Eeem maksud mas. tiga bulan terakhir ini mas mulai dekat lagi dan berhubungan baik dengan dia"
Seketika My membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tega kamu mas...!"
"Apanya yang tega, mas lakukan ini demi keamanan perusahaan kita. Jadi, dimana salahnya, lagipula kamu harus belajar menerima dia, karna suka atau tidak sebentar lagi dia akan jadi saudaramu"
Jelas Ata santai. Sementara My melotot tak percaya, suami yang sangat ia banggakan, sanggup melakukan hal keji seperti itu.
"Aku gak terima, bisa-bisanya kamu mau jadikan dia saudaraku, kamu waraskan mas..? Tega kamu mas, demi bisnismu. Kamu gadaikan perasaanku. Aku gak mau dipoligami. Aku gak mauuuuuu....!"
Jerit My histeris, seketika My berlari meninggalkan sang suami. Ata meraup wajahnya dengan kasar. Ia tak habis pikir istrinya semarah itu.
"poligami...?"
Ata berbisik dalam hati, lalu Ia rogoh saku celananya, guna mengambil benda pipih.
"Assalamualaikum, ada apa Ta..?"
Suara lembut terdengar menyapa gendang telinga Ata Herlambang.
"Waalaikumsalam. Gue mau, lo yang jelasin ke My. Gue pusing harus ngomong apa"
"Ya tinggal jujur aja apa susahnya si, Ta..!"
"Udah. Gue, udah coba jelasin tapi gagal, lo taukan sifat kekanak-kanakannya itu suka mengacaukan keadaan.Gak segampang itu jelasin ke dia"
Ucap Ata kesal.
"Ya udah, besok gue jelasin"
"Gak bisa..! Kudu sekarang. Ini masalah udah beleber kemana-mana. Lo taukan, dia kalau udah ngambek lupa semuanya, bukan gue gak pinter merayu istri, tapi kalau lagi marah, dia butuh orang yang dia percaya"
"Oke, gue kerumah lo sekarang"
__ADS_1
Ata mulai gelisah, menunggu kedatangannya. Pak dosen gak habis pikir, kenapa istrinya semarah itu, pemikiran tentang poligami yang menghancurkan keadaan. Sadar hal itu ata berlari menuju kamarnya, namun sayang pintu kamar telah terkunci rapat. Tak ada celah untuk pak dosen masuk ke ruang nyaman itu.