DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 31


__ADS_3


Cemburu itu wajar, karena kamu takut kehilangan. Tapi jika terlalu, itu berarti kamu lebih mencintai dirimu sendiri daripada cinta itu sendiri."


Sejak kepulangan mereka dari kampus, My belum ada berbicara sedikitpun dengan suaminya. Bahkan gadis itu tampak acuh saat waktu makan siang.


Ata masih membiarkan istrinya sendiri, ia biarkan gadisnya tenggelam dengan dunianya. Pria itu tau jika istrinya butuh privasi.


Ata juga sedang sibuk, karna selepas dari makan siang bersama My, Ata langsung meluncur ke kantornya, karna Azam memintanya untuk menanda tangani berkas pengajuan kerjasama antara perusahaannya dengan salahsatu perusahaan kontruksi.


Untuk membuang jenuhnya, pria itu membawa langkahnya menuju perpustakaan mini yang terdapat di ruang kerjanya. Ia pilih buku yang ia suka, setelah menemukan satu buku Ata mulai membaca sembari bersandar di rak buku.



Tak terasa waktu berlalu cukup cepat, ia tutup bukunya kemudian ia susun kembali dirak penyimpanan.


Ata keluar meninggalkan ruangan kerja. Pria itu berjalan menuju kamar, ternyata istrinya tak ada di dalam, ia lepas setelan kerja, kemudian ia guyur tubuh kekarnya, sehingga menyuguhkan pahatan Allah yang maha sempurna.


Ata turun ke lantai bawah, disana ia berpapasan dengan mbok Rum.


"Mbok, My mana?"


Tanya Ata, ingin tau.


"Loh, bukannya non keluar ya den? tadi simbok lihat, non pergi bawa mobil sendiri"


"Udah lama mbok? "


"Sekitar tiga puluh menit yang lalu den, emang non gak pamit ya den? maaf, simbok lancang"


"Gak papa mbok, oh mungkin My sudah memberi tahu saya lewat pesan, sayanya yang belum membuka henpon. Ya udah mbok saya ke atas dulu"


Pamitnya pada mbok Rum. Ata sengaja berbohong pada mbok rum, karna pria itu tak ingin istrinya mendapat penilaian buruk dari ARTnya. Untuknya menjaga nama baik istri adalah suatu keharusan bagi seorang suami, baik buruknya My, cukup dirinya saja yang tau.


Ata ke kamar, ia coba hubungi nomor istrinya namun tak diangkat, akhirnya Ia telpon ke nomor Azam, ia hanya ingin memastikan keberadaan istrinya.


Setelah panggilannya di angkat, tak lupa ia ucapkan salam terlebih dulu. Barulah Ata mencari tau.


"Lo dimana Mas?" tanya Ata singkat.


"Dirumah"


Jawab Azam sembari ngotak-ngatik canel TV.


"Di rumah ada sapa aja, mas?"


Tanya Ata menyelidik.


"Lo kenapa sih Ta, pertanyaan lo aneh. Jelas aja di rumah yang pasti ada papa, mama ini ditambah satu lagi si kunyuk bini lo. Dari tadi mukanya ditekuk terus. Lo gak ikut ke sini Ta?"


Ucap Kakak iparnya itu.


"Iya, tar gue nyusul" Tadi gue capek banget makanya gue gak ikut bareng, My"


Dusta Ata lagi. Demi menjaga nama baik istrinya, pergi tanpa pamit. Ata rela berbohong, yang ke sekian kalinya.


Ata duduk di kursi kerjanya sembari menatap layar henponnya ternyata Azam mengiriminya foto istrinya yang lagi duduk santai di rumah mertuanya.



Azam


"Tu binik lo lagi santsi, sambil minum milo"


Ata


"Tolong bilang sama My, jangan kemana-mana bentar lagi gue nyusul"


Azam


"Oke"


Ada rasa kesal yang bercokol di hati pria dewasa itu, namun kembali ia menyadari, jika isyrinya itu memang harus sering mendapat bimbingan dari dirinya sebagai suami. Agar gadis itu memahami batasan-batasan dalam berumah tangga.


Setelah mengirim chat pada Azam, Ata menuju garasi, pria itu melajukan mobilnya menuju kediaman mertuanya. Sampai di sana Ata di sambut ramah oleh keluarga istrinya.


"Kenapa ke sininya sendiri-sendiri Ta, kok gak bareng My?"


Tanya Melisa heran.


"Iya ma, tadi Ata ada kerja sedikit jadi gak bisa bareng"


"Oo gitu, udah makan Ta? Kalau belum makan dulu" Tawar Melisa pada menantunya.


"Alhamdulillah, udah ma"


Jawan Ata sopan.


"O ya. My mana ma?"


Tanya Ata tak sabar.


"Ada di atas, di kamarnya"


"Ya udah, Ata ke atas dulu ya ma"


Pamit Ata pada Melisa. Melisa mengangguk tanda setuju.


Ata menaiki tangga perlahan, tangan besar itu membuka pintu kamar istrinya. Ia berjalan mendekat.


Ternyata gadisnya tengah membaca novel.


My menoleh menatap kehadiran suaminya.

__ADS_1


My menatap dosennya cuek.



Ata mendekat ke arah istrinya.


"Lagi baca apa?"


Tanya Ata basa-basi.


"Buku"


Jawab My singkat.


"Ayo pulang! udah sore"


Ajak Ata datar. My kembali menatap suaminya malas.


"Ayo pulang, udah sore"


Ulangnya lagi lebih lembut. My bangkit dari duduk nyamannya. Kemudian keluar kamar menuju mobilnya sendiri, tapi pria itu keburu mencegahnya.


"Kamu pulang bareng saya"


Ucap Ata datar. meski gondok gadis itu menuruti perintah suaminya. Setelah berpamitan akhirnya mereka pulang. Di mobil rasanya Ata sudah tak tahan untuk mengintrogasi sikap aneh istrinya hari ini.


"Ada apa?"


My menggeleng.


"Jika tidak ada sesuatu, kenapa kamu seharian ini cemberut. Terus, kabur dari rumah, apa saya melakukan kesalahan?"


Tanya Ata lembut. My masih diam.


"Kamu dengar saya, My?"


"Dengar"


Jawab My singkat.


"Kalau dengar kenapa gak kamu jawab, pertanyaan saya?"


"Saya gak suka bapak.. "


My berhenti tak jadi melanjutkan ucapannya, gadis itu gengsi mengakuinya.


"Jadi kamu gak suka sama saya?"


Tanya Ata dengan nada kecewa. Melihat perubahan wajah suaminya, seketika My meluruskan ucapannya.


"Bukan. bukan itu maksud saya"


"Lalu apa?"


"Saya gak suka bapak dekat sama buk Oliv"


"Maksud kamu, saya ada hubungan dengan Oliv?"


My mengangguk. Kemudian ia buang wajahnya ke arah jendela. Ata tersenyum sumringah, Ternyata gadisnya itu tengah cemburu.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Bukan saya yang berpikir seperti itu, tapi semua mahasiswa tau kok, kedekatan bapak sama buk Oliv, bahkan ada desas-desus jika bapak sudah bertunangan"


Ata makin tertarik dengan bahasan mereka hari ini.


"Kamu percaya?."


Tanya Ata ingin tau.


My diam sesaat, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Kemudian dengan malas gadis itu menjawab.


"Percaya"


Jawab My singkat, Ata tertawa sembari mengacak puncak kepala istrinya. Ata sungguh merasa bahagia. Bibirnya terus melengkung.


Sungguh manusia yang berjenis kelamin perempuan itu unik, ia mampu menyembunyikan cinta selama puluhan tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburunya meski sesaat saja.


Mereka telah sampai, Ata membelokkan mobilnya ke garasi. My turun dari mobil, masuk rumah langsung menuju kamar. Ata membuntuti istrinya dari belakang. My buka pintu kamarnya kemudian baring terlungkup di atas tempat tidur.


Ata mendekat kemudian duduk di dekat My berbaring. Tak lupa tangan besar itu membenahi posisi tidur istrinya, membawa kepala gadisnya keatas Pangkuan. Dengan sayang pria itu mengelus kepala sang istri.


"Jangan biasakan tidur telungkup"


Larang Ata pada istrinya.


"Kenapa, nyaman kok"


Jawab My judes. Ata membelai sayang surai halus milik istrinya. Dengan lembut pria itu berbisik. "Itu posisi tidur yang di benci Allah"


Bisiknya lembut.


"Bapak sok tau"


Ucap My masih dengan nada judes.


"Bukan sok tau, itu memang ada larangannya dalam islam. Sayaaang!"


Terang Ata serius, sembari mencubit hiding mancung Meylin.


My tatap netra hitam itu lekat-lekat. My mencari kebohongan di netra hitam suaminya, ia pikir itu hanya akal-akalan suaminya, agar My mau tidur di atas pangkuan pak dosennya itu. Namun sayang netra hitam Ata hanya memancarkan kejujuran. Tak ada sedikitpuk kebohongan di sana.


"Saya gak bohong My, Ada riwayat haditsnya

__ADS_1


dari Ya’isy bin Thokhfah Al Ghifariy, dari bapaknya, ia berkata,"


فَبَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعٌ فِى الْمَسْجِدِ مِنَ السَّحَرِ عَلَى بَطْنِى إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِى بِرِجْلِهِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ ». قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-


“Ketika itu aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang dan itu terjadi di waktu sahur. Lalu tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Ia pun berkata, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah.” Kemudian aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Abu Daud no. 5040 dan Ibnu Majah no. 3723. Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Ada juga hadits lainnya yang berbunyi


عَنِ ابْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِىِّ عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ « يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ ».


Dari Ibnu Tikhfah Al Ghifari, dari Abu Dzarr, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 3724. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).


"Gimana masih gak percaya?"


"My meringis malu, ia surukkan wajah ayu My tepat di perut suaminya dengan posisi My memeluk pinggang pak Ata.


"Maaf, saya pikir bapak bohong"


Ucap My menyesal. Ata tersenyum, melihat tingkah manja istrinya.


"Saya gak suka bohong My, saya cuma suka kalau kamu cemburu dengan saya.


Bisik Ata lembut.


"Saya gak cemburu, saya hanya gak suka bapak terlalu dekat dengan buk Oliv"


"Alasannya?."


Tanya Ata memastikan.


"Saya gak suka suami saya digosipin dekat sama perempuan lain. Apa lagi gosip itu sampai menyebut bapak bertunangan dengan dia"


"Apa buktinya saya dekat dengan Oliv?"


Tanya Ata menuntut.


My mendongak menatap suaminya sebel.


"Tadi kalian tertawa sumringah, bahkan bapak terlihat bahagia, di samping buk Oliv. Saya juga lihat kok buk Oliv natap bapak gak berkedip, lihat suami orang sampai segitunya"


Dumel My kesal.


Ata tersenyum. Sembari menatap dalam manik hitam istrinya.


"Saya gak ada hubungan apapun dengan Oliv, saya memang dekat, tapi itu hanya sebatas rekan kerja aja"


"Bohong, kalau gak ada hubungan kenapa bapak digosipin sudah bertunangan?"


Tanya My masih ngeyel. Ata mengangkat jari manisnya menunjukkan pada gadisnya itu.


"Kamu tau, cincin pernikahan kita ini sumber dari kesalah pahamannya. Mereka mengira cincin yang melingkar di jari manis saya ini, itu cincin tunagan saya dan Oliv. Karna Oliv juga mengenakan cincin yang hampir sama dengan cincin pernikahan kita. Makanya My, kamu harus pakai juga cincin nikah kita, agar orang tau kamu itu milik saya, dan saya milik kamu"


My menatap suaminya lekat-lekat, gadis itu kemudian mengangguk, tak ada lagi kata yang membuat Ata lebih bahagi dari kisahnya hari ini. Dengan cepat Ata meraih laci nakas di sebelah tempat tidur.



Tangan besar itu meraih kotak bludru, dengan hati-hati Ata membuka kotak kecil itu, Ata sematkan cincin berlian yang sama dengan miliknya. Kemudian ata membawa jemari My untuk ia kecup.


"Terima kasih kamu telah berkenan memakainya" Ata berucap tepat di wajah ayu Meylin. My tersenyum manis menatap pak dosennya.


"Terima kasih juga kamu cemburu dengan saya hari ini, Itu artinya saya sudah masuk dalam daftar orang penting lamam hati kamu. Dalam sebuah hubungan cemburu itu seseuatu yang bermanfaat, jika dalam dosis yang tepat, dan mematikan jika dalam dosis yang besar. Jadi kamu boleh cemburu asal jangan berlebihan."


Ucap ata mengingatkan.


"Maaf, gara-gara perasaan yang tak nyaman itu, saya cuekin bapak seharian"


Ata kembali tersenyum.


"Jika hasilnya seindah ini, saya rela dicuekin kamu" Bisik Ata menggoda.


"Ih, bapak kumat. Gombal mulu"


"Gombalin istri sendiri, gak papa sayaaang."


mendengar ucapan pak Ata, pipi My merona seketika.


Ata gemas dengan rona merah di pipi istrinya, dengan cepat Ata mengecup sayang rona merah itu, kemudian bibir jahil ata mampir sebentar di bibir mungil My. My mendelik seketika.


"Paaak, nanti keterusan lo"


Ata menyipit.


"Keterusan juga gak papa sayang, halal kok. Kan gak ada rambu-rambu yang kita langgar. "


Bisik Ata lembut tepat di cuping putih My, bibir basah Ata nempel di sana.


Seketika Aliran darah My berdesir hebat, sekujur tubuhnya serasa dialiri aliran listrik. Ini pertama kalinya gadis delapan belas tahun itu merasakan gliyeran aneh seperti ini, yang menimbulkan sensasi nikmat dalan dirinya.


My seketika bangkit dari pangkuan suaminya.


Ia terduduk lalu turun dari ranjang dengan rasa yang tak menentu.


Ata menoleh ke arah istrinya.


"Mau kemana"


Tanya Ata dengan suara terdengar serak, mungkin karna pria itu tengah menahan sesuatu dari dalam dirinya.


"Mau ambil minum. Haus"


Dusta My. Padahal gadis itu tengah menghindari gelombang panas yang merasuk pada diri gadis itu.


"Tunggu di sini, biar saya ambilkan"

__ADS_1


Ata bangkit dari ranjang, kemudian turun ke bawah guna mengambilkan minum untuk istri tercinta. Setelah kepergian suaminya My bernafas lega.


"Terima kasih ya Allah, akhirnya gue selamat dari rasa aneh ini" batin My dalam hati meski begitu, jantung My masih terpompa sangat kencang. Sangat sulit menormalkan detak jantungnya saat ini, ia tarik nafasnya dalam agar sedikit rileks.


__ADS_2