
Tidak peduli seberapa baik atau buruk dirimu. Bangunlah setiap pagi dan bersyukurlah bahwa kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.
My terjaga dari tidurnya. Ia regangkan otot-otot yang kaku. My lirik pria yang masih tergulungselimut, ia goyang pelan tubuh kekar suaminy.
"Mas bangun udah subu"
"Iya, sayang!"
"Kalau iya, buruan bangun nati keburu lewat waktu fajarnya."
"Ata terduduk dengan mata yang sayup-sayup."
Dengan setengah ngantuk Ata masuk kamar mandi, setelah selesai. pria itu langsung pergi ke masjit untuk menunaikan shalat subuh berjamaah.
Sementara My hanya solat di dalam kamarnya saja. Setelah suaminya pulang dari masjid, My turun ke lantai bawah untuk bantu mbok Rum masak.
"Mbok, Ajarin My Masak nasi goreng ya"
Simbok tersenyum patuh. Dengan telaten simbok memberi pengarahn.
"Nah ini non semua bumbunya di blender dulu"
"Kalau udah di blender diapain mbok?"
Tanya My, antusias.
"Digoreng non, kalau udah mateng bumbunya, masukkan irisan daging yang non potong-potong tadi dioseng"
My dengan semangat menuruti petunjuk Simbok."
Ata berjalan menuju dapur. Tanpa My tau tangan kekar Ata melingkar cantik di perut isyrinya.
"Masak apa, sayang?"
Bisik Ata lembut.
"Nasi goreng mas. Ih, mas malu ada simbok"
Bisik My pelan.
"Gak papa, simbok juga pernah muda"
Jawab Ata santai. Simbok yang melihat kemesraan majikannya jadi ngerasa rikuh.
"Non, simbok tinggal jemur pakaian ya, itu nanti nasi gorengnya tinggal dikasih penyedapnya aja"
Pamit simbok sembari memberi tau.
"Iya mbok, makasih"
My mulai bingung mencari-cari penyedap untuk masakannya.
"Cari Apa sayang?"
"Penyedapnya yang mana, Mas?"
"Ini garem, yang ini gula. Ata mengambil dari atas rak.Kamu cukup kasih itu aja untuk penyedapnya, gak usah pake pelemak. Mas gak suka"
Setelah diberi penyedap, My mulai mencicipi masakannya.
"Kayak ada yang kurang deh mas, apa ya?"
Tanya My bingung. Ata ikut mencicip nasi goreng buatan istrinya.
"Sini garamnya, mas tambahin"
Setelah dirasa pas Ata mematikan kompornya.
"Sudah matang"
Ucap Ata, sembari mengecup pipi putih My.
"Mas, lihat tempat dong ini di dapur, tar kelihatan simbok"
"Simbok gak ada, lagi jemur pakaian"
"Mas mau mandi dulu, apa mau langsung sarapan?"
"Langsung sarapan aja biar kuat, nanti baru mandi bareng kamu!"
"Kuat apany?"
Tanya My heran.
"Huss. Anak kecil gak boleh tau"
Ucap Ata santai. My mencibir sebel. Setelah sarapan Mereka bergegas naik ke kamar, hari ini mereka ada kuliah pagi.
Seperti biasa, Ata selalu minta untuk mandi bareng, pak dosen ganteng itu seperti anak bayi saja lama-lama. mereka saling bergantian menggosok badan, Saat mandi bersama seperti ini, pria itu harus menahan diri untuk tidak memangsa istrinya.
Sulit memang setiap hari merasakan tegangan tinggi tapi bagaimana lagi, istrinya masih takut akibat percobaan yang gagal mendarat tempo hari. Yah jadinya Ata harus lebih bersabar lagi. Pria itu harus cupup puas dengan hanya melihat diraba dan ditrawang"
Sudah seperti uang kertas baginya, menrawang sesuatu yang di depan mata.
Selesai mandi. Ata kembali mengenakan warna baju yang berbeda, karna pria itu mengenakan baju pilihan sang istri. Sambil menunggu sang istri Ata duduk sembari menggulung lengan bajunya.
"Mas, boleh nany? "
"Mau nanya Apa, heem?"
__ADS_1
Ucap Ata lembut, sembari mengenakan jam tangan.
"Kok mas maunya mandi bareng terus kenapa mas? emang mas gak bisa ya mandi sendiri?"
Ata tertawa mendengar pertanyaan istrinya.
"Kamu itu lucu My, ya tentu saya bisa mandi sendiri, tapi saya lebih suka mandi bareng kamu, sensasinya dapat! emang kamu keberatan ya mandi romantis bareng mas! "
Ledek Ata jahil. My mulai kesal jika suaminya mulai usil. Dengan cepat jemari lentik itu mencubit lengan Ata.
"Aduh...duh..duh. Sakit sayang! kamu cubitnya beneran"
Keluh Ata sembari meringis.
"Makanya, jangan ngeledek terus, Mykan serius nanyanya"
Rajuk My sebel.
"Mas serius, sayang. Rasulullah aja sama istri-istrinya romantis, semua istrinya pernah mandi bareng Rasulullah. Beliau itu sosok suami tauladan romantisme beliau bersama istrinya dalam mengarungi biduk rumah tangga masyaallah begitu indah, salah satunya yaitu mandi bareng istri, seperti dikisahkan sayyidah Aisyah berkata.
قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.
“Aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub”[1]
Nah ternyata Ummu Salamah juga sama pernah mandi bersama Rasulullah.
dimana beliau menceritakan,
وَكُنْتُ أَغْتَسِلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَالَتْ وَكَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ
“Aku (Ummu Salamah) pernah mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah wadah yang sama. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menciumku sedangkan beliau sedang dalam keadaan berpuasa.”
Jadi sekarang kamu pilih yang mana, mandi sendiri, atuuu.. mandi romantis bareng mas?"
My mendelik melihat wajah jahil suaminya.
"Udah ah ayuk berangkat, kelamaan di kamar nanti mas ngelantur, bahaya."
Ledek My gantian.
Sampai di kampus seperti biasa ritual Ata gak pernah ia lewatkan, mengecup dan mencium sang istri sebelum turun.
Sayang kegiatan mereka terlihat oleh sepasang mata yang membola.
Kemudian pemilik mata itu segera berlari kearah segrombolan temannya. Di sana ia menceritakan apa yang barusan ia lihat.
"Eh tau gak, gue lihat pak Ata lagi nyium perempuan di parkiran khusus dosen, di dalam mobilnya"
Ucap Sari semangat empat lima menebar gosip pagi.
"Masak, jangan gosip lo. Sar."
"Ya Allah bener. Ze"
"Lo tau siapa perempuannya."
"Kayaknya buk Oliv deh, gak jelas soalnya kacanya remang-remang"
Ucap Sari menyayangkan.
"Tu, lihat buk Oliv jalan bareng, berarti benar yang tadi. Pak Ata ciumannya sama buk Oliv. Berarti gosip mereka pacaran itu bener dong."
Ucap Sari lagi.
"Tapi masak iya pak Ata Alim gitu mau mesum"
Ucap Ze rasa tak percaya.
"Halah, lo ingat gak kejadian di taman gosipnya pak Ata lagi ngapai"
Timpal sari gak mau kalah.
"Iya juga sih"
Ucap ze membenarkan.
Mata mereka masih kompak melihat kearah sepasang dosen itu. Kemudian mereka histeris bersama.
"Jadi gosipnya bener dong. Haaa patah hati masal deh kita"
Ucap mereka serempak. My lewat tepat di grombolan ratu gosip.
"Pagi My,"
sapa Sari dan yang lain.
"Pagi Sar"
"Kok gak pada masuk, kenapa?"
Tanya My heran.
"Ini Sari, lagi live membawakan gosip terhangat"
Ucap Ze, pada My.
"Gosip apaan, kalian pagi-pagi udah gossip aja"
"Ih, kamusih My, gak lihat. Aku barusan tadi lihat langsung pak Ata si dosen gantengku lagi nyium buk Oliv di mobil. Lihat aja tu mereka lagi jalan bareng, lo gak lihat. Tatapan Buk Oliv mesra gitu ke pak Ata.
My mengikuti pandangan Sari, benar di sana suaminya sedang berjalan beriringan berdua. Seketika dada My panas, dengan apa yang ia lihat. Rasanya ia ingin menjambak rambut buk dosen itu.
"Dengar kalian ya!. Kalau kalian gak tahu jangan asal ngomong. Kalau gak ngerti jangan menghakimi orang lain. Kalau kalian gak bisa memiliki jangan membenci orang yang kalian suka. Gue tau lo sakit hati karna gak bisa dapetin pak Ata. tapi jangan gosipin yang enggak-enggak tentang beliau."
Baca tu surah Al Hujurat dalam henpon kalian, kalau males lihat, pasang teling kalian baik-baik ni aku bacain."
My mulai membaca potongan surah Al Hujurat dalam henponnya.
__ADS_1
: وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al Hujurat/49 : 12].
"Nah lo, udah dengarkan, masih mau bergunjing, makan tu bangke"
Ucap My judes.
Setelah berucap My pergi dari hadapan mereka. Mereka bengong lihat sikap My yang tiba-tiba marah, biasanya itu anak super cuek.
"Kenapa dia?"
Ucap Sari heran.
"Gak tau, lagi M kali. Ya udah yuk masuk, tu pak dosen udah mau nyampe sini."
Ajak Ze pada temannya.
Setelah menerangkan materi, akhirnya waktu mengajar Ata habis. Tak lupa Ata kirim chat pada sang istri.
Dosen Gray
"Tunggu mas di mobil, bentar lagi mas langsung nyusul"
My
"Oke mas"
Ata segera ke ruangannya, ternyata di ruangannya ada Oliv yang tengah duduk manis di sofa tamu.
"Loh, ngapain ibu di ruangan saya?"
"Eh pak Ata," Oliv mendekat
"Pak Ata gak sibukkan? Ini Oliv mau nanya, Olivkan baru, jadi radak bingung kalau di kelas, sepertinya metode yang Oliv ambil gak cocok untuk mereka, biasanya Pak Ata pake metode apa kalau di kelas.?"
Tanya Oliv ingin tau.
Ata menyipit menatap dosen muda itu. Ia sedikit heran, mustahil aja seorang dosen gak bisa menempatkan metode ajar pada mahasiswanya. Terlalu mengada-ada sebenarnya.
Namun Ata tepis pikiran itu. mungkin memang Oliv kurang menguasai kelas karna masih baru pikirnya. Ata mengusap tengkuknya sejenak.
"Ibuk bisa tunggu di luar, nanti saya akan jelasin di kursi depan. Saya kurang nyaman jika harus berduaan di sini."
"Ya udah saya tunggu di luar ya Pak Ata"
Oliv keluar. Sementara Ata merapikan mejanya, saat menunduk tak sengaja leher Ata menghantam sudut meja kaca yang runcing"
Tanpa sadar Ata mengaduh, karna rasa sakit akibat benturan. Oliv yang mendengar, langsung masuk ke ruangan Ata lagi.
"Ya Allah, leher kamu berdarah Pak Ata"
Tanpa di minta, Oliv meraih kotak p3k yang ada di ruangan Ata.
"Sini, saya bantu bersihkan lukannya"
"Gak usah terima kasih. Saya bisa sendiri."
Tolak Ata tegas.
"Udah gak papa, lihat tu. Darahnya kemana-mana"
tunjuk Oliv ngeri. Ata yang takut dengan darah akhirnya setuju lukanya di bersihkan Oliv.
My mulai bosan menunggu suaminya di mobil, sudah hampir tiga puluh menit suaminya itu tak kunjung menyusulnya. Tak sabar akhirnya gadis itu langsung menuju ruangan suaminya. Pintu ruangannya terbuka. My masuk tanpa mengetuk.
My berdiri tepat di depan meja kerja suaminya. My melongo menatap sepasang dosen itu yang duduk di sofa.
"Bapak, kalian...?"
Ucap My terkejut. Oliv menatap mahasiswinya, dengan tatapan tajam. Sementara Ata menatap istrinya dengan rasa tak karuan.
"Kamu itu ya My, gak sopan. Masuk keruag dosen main nyelonong aja. Dimana etika kamu heem? Kamu bisa lihat kami sedang apa, sana keluar ganggu aja kamu"
Ucap Oliv judes
"Buk Oliv"
Sergah Ata tak suka.
Ata tak terima dengan makian Oliv terhadap istrinya. Sementara My syok mendengar makian dosen cantik itu.
"Apa maksud buk OLiv, ngomong seperti tadi?
saya gak suka buk Oliv bentak-bentak My. Emang My ganggu apa?
Jangan membuat orang berspekulai lain atas ucapan ibu tadi. Permisi, saya mau pulang. Ibu bisa menanya dengan dosen lain problem ibu itu. Maaf saya gak bisa bantu
My hanya terdiam melihat suaminya semarah itu pada buk Oliv. Baru kali ini My lihat suaminya yang penyabar marah. Ata berlalu melewati Oliv sembari menggandeng tangan istrinya.
Oliv yang melihat itu terbengong. Tak sempat berucap apapun mereka sudah ngeloyor pergi.
"Sial. Bagaimana mungkin pria sealim pak Ata mau gandeng tangan mahasiswi yang bukan mahromnya, masak saya ditikung si My My itusih." Rutuk Oliv menggebu dalam hati.
Oliv terus menyaksikan dosen dan mahasiswinya itu masuk ke dalam mobil yang sama. Oliv tersenyum sinis menatap mobil yang mulai melaju.
Di mobil My diam tanpa bertanya apapun.
Ata melirik ke arah istrinya. Dalam batinya ia takut My salah paham.
"Nanti saya jelasin di rumah"
Ucap Ata tegas. My tak menjawab gadis itu hanya menatap suaminya sekilas.
__ADS_1