DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 21


__ADS_3


Meylin tertunduk lesu saat sang Ayah mulai menitahkan wejangan untuk sang putri tercinta. Dengan suara parau Haris bertitah pada sang putri. Hari ini adalah hari terberat untuk dirinya dan keluarga, harus mengikhlaskan putrinya dibawa oleh orang lain.


"My, kamu putri papa satu-satunya, tapi papa harus ikhlas merelakanmu untuk mengabdikan seluruh hidupmu untuk suami dan anakmu kelak. Hak papa dan mama sudah berakhir saat kalimat sakral diucapkan oleh nak Ata. Saat ini surgamu tidak pada kami lagi, namun ladang pahalamu ada pada suamimu"


"Berbaktilah pada suamimu, jangan sekalipun kamu keraskan suaramu dihadapannya. Patuhi suamimu, seperti kamu mematuhi Tuhanmu, begitulah tingginya derajat seorang suami di mata Allah. Ingat nak, ridha Allah itu terletak pada ridhanya suami. jangan sekali-kali kamu membantah perkataan suamimu yang benar, jaga marwa suamimu, jangan peula kamu menceritakan aib suamimu kepada orang lain, termasuk pada kami selaku orang tuamu. cukup kamu yang tau siapa suamimu. Papa minta, jangan seret papa ke dalam api neraka karna durhakamu terhadap suami."


Haris berucap dengan tersendat karna isakan yang mulai menyesakkan dada pria paruh baya itu. My ikut menangis dalam pelukan papanya.


"Paaa"


"Papa. Jangan nangis, maafkan My jika selama ini My selalu menyulitkan papa dan mama"


Isakan semakin terdengar jelas dari manusia beda usia itu.


"Tidak sayang, kamu gak perna menyulitkan kami"


"Pa. Ma, My gak mau pisah dengan kalian"


Rengeknya manja.


"Sayang, kamu sudah menikah, sudah seharusnya kamu ikut dengan suamimu, ingat nak rumah suamimu adalah surga untuk kalian. Sayang, disana kamu akan mendulang pahala, seperti mama saat ini, ladang pahala mama ada di sini, durumah suami mama. Begitu pula dengan kamu My"


Ucap Melisa ikut membantu memberi pengertian pada putrinya.


Tangis My semakin pecah. Dengan terisak akhirnya gadis itu menuruti perkataan orangtuanya. Hari ini tepat satu minggu mereka menikah, Ata akan memboyong My pulang kerumah mereka yang baru.


Saat wanita telah menyandang status sebagai seorang istri, maka pada hari itupulalah, baktinya berpimdah tempat pada seorang suami. Hak atas dirinya tak lagi orang tuannya yang memiliki, Namun suami lah yang memiliki atas diri seorang anak perempuan.


Senang atau tidak, begitulah ketetapan dalam aturan islam. Surga seorang istri ada pada suami. Meski dalam pernikahan mereka belum tersentuh kata cinta di hati My, namun ia harus tau agamanya adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang menebarkan kasih sayang ke seluruh umat manusia.


Artinya, islam adalah agama cinta. Perasaan cinta terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang diberikan oleh Allah SWT dalam diri setiap insan manusia. Maka urusan cinta biarlah Allah yang mengaturnya.


Seperti yang dituliskan dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 21, bahwa salah satu tujuan dari diciptakannya manusia secara berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan, adalah supaya satu sama lain bisa saling menyayangi dan menemukan kenyamanan bersama. Dengan demikian, pada dasarnya cinta bukanlah sesuatu yang kotor dan hina.


Maka dari itu Ata tak pernah merasa hawatir jika permasalahannya dengan My, hanya sekedar soal cinta, karna Ada Allah yang ahli dalam membolak-balikkan hati manusia.


My mulai melangkah keluar rumah orang tuanya dengan menenteng koper yang dibantu oleh pak dosen. Melisa dan Haris menahan tangisnya saat melepaskan putrinya umtuk ikut bersama suaminya. Mereka berpelukan sebelum pergi.



"Pa, ma, kami pamit"


Ucap Ata sopan.


"Hati-hati nak, papa dan mama titip putri kami, jaga dan didik putri kami sebaik mungkin ya, nak!"


"Insys Allah, pa, ma. Saya akan jaga amanah dari kalian!" Haris dengan bangga menepuk punggung menantunya itu.


Mereka mulai masuk ke dalam mobil, My dan Ata, mulai menghilang dari pandangan mereka.


Di mobil My terisak gadis itu tak terbiasa jauh dari orang tuannya. Ata membawa tubuh My kedalam dekapan tangan besar Ata.


"Huuuus, sudah jangan menangis. Rumah kita gak jauh kok dari rumah papa dan mama. Kamu bisa sering-sering menjenguknya, jika kamu mau"

__ADS_1


"Inikan Gara-gara bapak, jadi saya pisah dari papa, mama" Tangis gadis itu semakin pecah. Hidungnya memerah, karna kelamaan menangis, dengan perlahan Ata meraih tisu lalu tangan besar itu membersihkan cairan bening yang mengalir dari hidung Meylin.


My tertegun atas tindakan pak dosennya itu.


"Kenapasih, bapak baik banget sama saya. Padahal saya selalu berbuat kasar bahkan saya bersikap kurang ajar dan gak sopan sama bapak, tapi bapak tetap aja baik sama saya. Bapak tau saya gak cinta sama bapak, tapi bapak masih nekat nikahi saya"


Ata tersenyum menatap manik istrinya yang terlihat sembab.


Tangan besar itu mengusap lembut lengan putih milik My.


"Karna saya tau, kamu melakukan semua itu dengan sengaja, agar saya ilfil dengan kamu, biar saya membatalkan pernikahan kita"


My kaget dengan jawaban pak dosennya.


"Kenapa bapak bisa tau?"


tanya My salah tingkah.


"Apa yang gak saya tau tentang kamu, My. Kamu gadis yang sopan, penurut, penyayang bahkan kamu itu, gadis paling manja yang saya kenal, kamu salah orang, jika kamu mau mengelabuhi saya."


My, dengan gelisah memutar-mutar ujung kemejanya. Kebiasaan gadis itu tak pernah berubah.


"Jangan diputar-putar, nanti bajumu kusut"


Ucap Ata sembari melepas tangan My dari ujung kemeja.


"Heeee" Gumam My gugup.


"Sudah, jangan takut. Kita bisa mulai hubungan kita dari pertemanan, sesuai dengan yang saya tawarkan dulu. Kita ciptakan kenyamanan antara kita, jadi kamu gak perlu membayangkan sesuatu yang ngeri dalam hubungan pernikahan"


"Bagus" Ucap Ata kembali tersenyim


"Soal cinta, atau perasaan biarkan itu urusan Tuhan, saat ini kita cukup hidup sebagai teman. Kamu tau gak, dalam islam. Pembuktian cinta untuk sang kekasih hati, itu diwujudkan dalam sebuah ikatan suci pernikahan, cinta halal yang dipersatukan karena Allah. Sama dengaan pernikahan kita, saya percaya, pernikahan kita terjadi itu karna campur tangan Allah, karna Allah meridhai ikatan suci kita,"


Ucap pak dosen mantap.


My menarik napasnya sejenak, tanda bahwa gadis itu sedang gelisah.


"Tapi pak, kan kita bukan sepasang kekasih."


Protes My atas pernyataan dosennya.


"Sapa bilang, orang yang sudah menikah itu sudah sah menjadi sepasang kekasih yang halal, itulah kemenangan berpacaran setelah menikah. Kita tidak menanggung dosa, atas rasa yang kita miliki, bahkan berpacaran seudah menikah itu indah, My."


"Rumah bapak masih jauh ya, saya udah ngantuk"


Tanya My gak sabar, ingin segera istirahat. Kebiasaan tidur siangnya gak bisa My lewatkan. Maka dari itu Ata dan Azam selalu mengatai My putri tidur, saat masih kecil dulu.


Ata tak suka dengan pernyataan istrinya barusan.


"Kok rumah saya?"


Tanya Ata balik.


"Lah terus rumah sapa dong, kan kita nanti memang tinggal di rumah bapak"

__ADS_1


Jawab My polos.


"Bukan rumah saya, tapi rumah kita, My. Karna yang menempati rumah itu kita berdua"


My selalu kalah dalam berdebat dengan dosennya itu! Mobil berhenti tepat didepan rumah yang bergaya minimalis modren. Dengan hati deg-dekan My menatap bangunan kokoh yang terlihat mewah itu.


"Ayo turun, ajak Ata pada sang istri. My manut ikut turun membuntuti pak dosennya itu. Rumah ini bangunan baru yang semuannya serba baru. Mata bening My menelisik setiap sudut ruangan.



Bagian depan rumah.


"Kamu suka?"


Tanya Ata lembut.


"Suka. Tapi Kok bisa sama ya"


Ucap My bingung.


Ata kembali tersenyum bahagia. Milihat wajah ceria gadisnya. Biarlah gadis itu tau dengan sendirinya tanpa harus ia memberi tau siapa dirinya sebrnarnya. Ata mengharapkan cinta yang tulus dari istrinya, bukan cinta obsesi masakecil gadis belia itu.



Bagian taman belakang.


My takjub dengan apa yang ia lihat, semua interior rumah ini, sesuai dengan impian masakecilnya, tangga yang melingkar, kolam rengang di taman belakang, bunga mawar yang berjejer rapi, bunga anggrek yang tersusun indah menghiasi sudut ruangan.


"Ayo kita lihat kamar kita di atas"


Ajak Ata lagi. My terus membuntuti langkah pak dosennya. Pria itu mulai membuka ruangan yang lebar.


"Nah, ini kamar kita"



"Kita, tidur satu kamar, pak?"


"Lah iya dong. Kenapa, kamu takut saya macem-macemin?"


"Tenang aja, buktinya kita tidur satu kamar di rumah papa, kamu amankan?"


"Iyasih"


Ucap My ngeri-ngeri sedap.


"Udah, tenang aja. Tempat tidurnya luas kok, jadi kalau kamu takut, kamu bisa memberi pembatas, saat kita tidur. Gimana?"


Tanya Ata meminta persetujuan pada mahasiswinya itu.


"Iya deh. Gak papa"


ucap My menyetujuinya. Ata sungguh bahagia dengan apa yang ia miliki hari ini.


Pria itu percaya, hati itu ibarat gelas. Semakin dipenuhi dengan kecintaan kita kepada Allah, Maka semakin sedikit pula, ruang kosong yang tersisa untuk kita berbuat zalim atas diri kita dan orang yang kita cintai. Itulah yang terus pria itu jaga untuk orang yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2