DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 41


__ADS_3


Jarak terbesar antara dua orang adalah kesalahpahaman.


Meminta maaf bukan berarti Kamu salah dan orang lain benar. Namun itu berarti Kamu sangat menghargai ikatan yang terjalin melebihi kepentingan pribadimu.


Pantulan bening rona bahagia terpancar dari bibir yang merekah, menambah pesona pada gadisnya yang tengah bergerak lincah menata baju ke dalam travel bag suaminya.


Ia siapkan semua keparluan sang suami, dari pakaian hingga hal kecil. Semua gadis itu siapkan untuk suaminya.


"Mas, sikat giginya ada di dalam tempat sabun ya, adek jadikan satu ditaruh di koncet depan tas"


"Iya"


Jawab Ata terus memandangi wajah istrinya. Setelah selesai berkemas, Ata menarik My untuk duduk di pinggir ranjang.


"Ada apa mas?"


My mulai penasaran.


"Duduklah, ada sedikit hal yang mas mau sampaikan kepada istrimas yang cantik ini."


"Tentang apa?"


tanya My .


"Selama mas di Surabaya nanti, ap gak sebaiknya kamu di rumah mama aja,"


Usul Ata lembut.


"Gaklah mas, My di rumah aja, kasihan mbok Rum sendiro"


Ata mebatap istrinya.


"Oo iya ada simbok, mas lupa. Ya udah kalau gitu, Selama mas gak ada. Kamu ke kampus bawa mobil sendiri aja, tapi hati-hati gak usah ngebut-ngebut. Jangan kemana-mana langsung pulang ya sayang"


"Iya mas"


Ata tersenyum, mengacak rambut My.


Pria tampan itu berdiri, mulai menenteng travel bagnya. My mengantar suaminnya sampai depan pintu, sebelum keluar, Ata memeluk istrinya erat, ia kecup keningnya perlahan.


"Mas pergi, baik-baik di rumah, jangan nunda-nunda shalat. ya!"


My mantuk dengan lembut.


Setelah Sampai di Surabaya Ata langsung menuju hotel yang telah panitia siapkan.


Sementara My ngampus seperti biasa. Hari ini masuk mata kuliah buk Nora. Sebelum pulang mereka rembukan menentukan tempat untuk ngerjakan tugas kelompok dari buk Nora.


"Jadi gimana, kita mau ngerjain tugasnya di rumah siapa? " Tanya Sam antusias.


"Rumahku aja yuk"


Pinta Sasa, menawarkan diri.


"Rumahmu kejauhan Sa"


Jawab Kl cepat.


"Ya udah kalau gak, kerumah gue aja yang dekat"


Tawar My tulus.


"Ah segan, ada suami lo. Meni suami lo nyeremin, dingin kayak tembok"


Ucap mereka kompak. My tersenyum dengan ucapan mereka.


"Tenang aja suami gue gak ada di rumah kok"


"O iya, pak Ata lagi ke Surabaya"


Timpal Kl. Setelah setuju akhirnya mereka berenam menuju kediaman My"


Mereka dengan segera mengerjakan tugas-tugas dari buk Nora. Selesai ngerjakan tugas mereka rujakan. My dan teman-temannya tampak bahagia.


Saat Coffee Break, Ata menghubungi istrinya. Ternyata baru setengah hari berpisah dari istri, pria itu sudah kelimpungan, Ata merasa rindu pada My.


"Eh, gue tinggal bentar ya, angkat telpon suami dulu." pamit My masuk ke dalam, sementara mereka ada di teras belakang.


"Assalamualaikum, mas"


"waalaikumsalam, sayang. Kamu Lagi ngapain dek?" Tanya Ata ingin tau.


"ini lagi.. "


"Eh tunggu, kok itu suaranya rame banget, kamu lagi di man?

__ADS_1


Tanya Ata memotong ucapan istrinya.


"Lagi di rumah mas, ngerjain tugas kelompok, itu sekarang mereka lagi rujakan!"


"Ooo pantes rame, sapa aja?"


"Biasa mas, Sasa,Kl, Sam, Doni, Anwar terus sapa lagi tadi ya"


Jawab My girang, sembari mengingat nama temannya.


"Ada laki-laki juga dek?"


"Ada mas"


Ucapnya santai. Ata menarik nafasnya dalam.


"Maaf, mas lupa ngasih tau kamu, sebenarnya ketika suami tidak di rumah, istri dilarang menerima tamu laki-laki yang bukan mahramnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:


وَلَاْ تَأْذَن فِي بَيتِهِ إِلاّ بِإِذنِهِ


“Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya” (HR. Bukhari dan Muslim)


وَلَكُم عَلَيهِنَّ أَلَّا يُوطِئنَ فُرُشَكُم أَحَدًا تَكرَهُونَهُ


“Hak kalian yang menjadi kewajiban mereka, mereka (istri) tidak boleh memasukkan lelaki ke rumah” (HR. Muslim)


"Lain cerita, jika tamu itu mahrammu seperti papa dan saudara laki-laki, tentu boleh-boleh aja datang bertamu meskipun mas gak ada di rumah. Menjaga diri ketika suami tidak di rumah merupakan salah satu indikator wanita shalihah, sayang! sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ


“Sebab itu wanita yang salehah, adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka” (QS. an-Nisa: 34)


وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى


“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj  sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama” (QS. Al Ahzab: 33)


"Lainkali, jika mas gak ada di rumah, jangan sekali kali kamu bawa tamu laki-laki, kerumah dan pergi tanpa seizin mas, karna ketika seorang istri tidak menjaga dirinya ketika suaminya tidak di rumah, maka itu adalah salah satu indikator wanita durhaka, Sayang! Mas gak mau kamu menjadi istri durhaka karna kelalaian mas"


"Maaf mas, My benar-benar gak tau soal ini!"


"Untuk saat ini mas maafkan, karna ini juka kesalahan mas, tadi mas gak memberi taumu terlebih dahulu"


"Makasih mas"


Ucap My bahagia, karna suaminya memaafkan dirinya. Setelah sambungan terputus My segera keluar. Menemui temannya.


My tersenyum rikuh pada temanya.


"Udah selesai belum, rujakannya?"


Tanya My sembari mendekat.


"Alhamdulillah udah ludes My"


My tersenyum manis.


"Karna udah masuk waktu shalat djuhur, bubar gi shalat djuhur dulu, Kl sama Sasa kalau mau shalat di sini gak papa" Ucap My mengusir temannya secara halus.


"Makasih deh My, kami shalat di rumah aja, tar bokap nyokap nyariin, soalnya udah lewat waktu pulang juga"


"Ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan"


"Oke, makasih banyak ya, My"


Akhirnya mereka bubar.


Acara selesai pukul delapan belas, Ata langsung menuju hotel, Saat di lobby hotel Oliv mencekal tangan Ata.


Ata terkejut denga tindakan berani Oliv.


"Pak, mumpung lagi disini bagaimana kalau kita makan malam bareng, saya ada tempat rekomendasi yang sangat bagus, untuk makan malam kita berdua"


Rayu Oliv manja.


"Maaf, tolong lepaskan tangan saya!"


"Oh. Maaf"


Ucap Oliv pura-pura tak enak.


"Gimana pak tawaran saya tadi?"


"Maaf buk, saya gak bisa. Saya capek mau langsung istirahat saja"


Tolak Ata masih sopan.


"Oo ya udah kalau begitu."

__ADS_1


Oliv tersenyum, dia sudah mendapatkan apa yang ia mau.


Saat sore My duduk santai di taman belakang bareng mbok Rum. Sat asik baca buku tentang "Ciri-ciri istri shalihah". Henponnya bergetar tanda pesan whatsapp masuk, ia raih gawainya di atas meja, tangannya bergerak mulai membuka pesan masuk.



Mata My menyipit menatap layar henponnya.


"Apa maksudnya ini?"


Ucap My kesal.


Dengan hati geram, gadis itu meneruskan kiriman pesan whatsapp dari nomor tak dikenal ke nomor suaminya.


Ata masuk kamarnya. Belum lama pria itu rebahan, pintu kamarnya di ketuk seseorang.


Ata bangkit dari ranjangnya. Dengan malas Ata membuka pintu.


"Ada apa buk?"


Dengan wajah panik Oliv menyampaikan maksudnya.


"Begini pak, air di kamar saya macet. Bisa tolong perbaiki?"


Pintanya lembut. Kening Ata berkerut menatap heran dosen muda itu.


"Maaf, itu bukan wilayah kerja saya, ibu bisa lapor kebagian servis di lantai bawah"


Ucap Ata memberi solusi.


"Kalau gitu saya numpang ke kamar kecilnya sebentar saja. Saya mohon, sebentar saja! "


Pinta My memaksa.


Ata berpikir sejenak sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Baiklah"


Ucap Ata tak rela, ia takut menimbulkan fitnah sebenarnya.


Oliv buru-buru masuk ke kamar kecil yang ada di kamar Ata. Sementata Ata tengah berdiri menghadap jendela menatap indahnya kota malang.


Tiba tiba ia rasakan ada tangan yang melingkar hangat dari belakang. Ata kaget dengan cepat ia membalik badan dan menyingkirkan tangan wanita itu.


"Buk Oliv, apa-apaan ibu ini?"


"Maaf pak Ata, saya gak bisa menahan diri lagi, saya sangat mencintai bapak"


Ucap Oliv jujur dengan apa yang ia rasakan.


"Ibu gak sedang mabuk kan?


Tanya Ata heran.


"Saya sadar pak"


"Sepertinya ibu mulai gak waras, Ibu tau bahba saya sudah beristri"


"Kita bisa bermain cantik pak"


Ucap Oliv manja. Seketika Ata menatap Oliv tajam.



"Ibu cantik, tapi sayang! Harusnya ibu bisa menjaga marwah ibu sebagai seorang perempuan. Jangan goda saya dengan tawaran ibu, saya mencintai istri saya karna Allah, buakan karna nafsu setan saya. Tolong ibu keluar dari kamar saya, sekarang! sebelum terjadi fitnah yang bisa merugikan saya"


Usir Ata sarkas. Sembari mendorong tubuh Oliv untuk keluar.


"Tapi pak, Saya sangat mencintai pak Ata."


Oliv tampak sedih, keinginanya ditolak mentah-mentah. Hatinya hancur, Oliv sungguh sangat mencintai dosen ganteng itu. Ia menatap Ata dengan mata berkaca.


"Maaf, saya gak bisa"


Ucap Ata final, sembari menutup pintu.


Saat itu juga Ata memesan penerbangan malam, dengan pesawat Sriwijaya Air. Tujuan Surabaya, jakarta. Ia tak bisa menunggu penerbangan pagi, karna menurutnya itu berbahaya, jika melihat kegilaan Oliv. Ia tak ingin istrinya nanti salah paham.


Saat di pesawat Ata membuka pesan whatsapp, karna dari sore tadi ia lehah belum sempat istirahat, ditambah lagi ada gangguan dari sosok kountilanak betina. Ia buka pesan chat dari istrinya yang masuk sejak sore tadi.


My


"Apa maksudnya itu mas? bukankah mas bilang, mas pergi bareng pak Rait kenapa ada buk Oliv?"


ternyata apa yang di takutkan terjadi. My menerima foto dirinya di lobby saat Oliv memegang tangannya.


Ata memejamkan matanya, dadanya bergemuruh seolah ada badai yang tengah menerjang di dalam sana. Sungguh gila betina seperti Oliv itu. Ata semakin gelisa. Pria itu terus kepikiran gadisnya. Dalam hati Ata terus istingfar.

__ADS_1


__ADS_2