
Datang seperti sebuah kejutan, menyelinap masuk pintu hati, dan mencuri cintaku tanpa permisi. Sesederhana itu kau memenangi hatiku.
Aku percaya, selalu ada kejutan yang tak pernah kita duga. Mungkin dengan orang yang tak pernah kita duga pula.
Terkadang aku ingin mengintip takdirku agar hidupku lebih berencana. Tapi aku baru sadar, Tuhan menyimpan takdir untuk kejutan itu.
Tuhan selalu memberikan kejutan pada kita. Bahkan hal yang tak begitu kita suka pada awalnya.
My melangkah bergetar, Ata merasakan kegugupan istrinya. Tangan mungil yang Ata genggam terasa dingin sedingin salju. Ata berbisik mberi semangat.
"Gak usah takut mereka orang baik, jika nanti kamu sudah kenal, saya jamin kamu langsung jatuh cinta sama papa, mama.
Kamu tau rasa takut itu apa? rasa takut itu naluri My, semua manusia mempunyai itu, tapi kamu harus lawan rasa takutmu itu memjadi sebuah kebranian. Orang tua Say buka monster yang harus ditakuti. Tenanglah tarik nafas, baca basmallah jika masih nervos"
My menelisik wajah dosennya itu dengan teliti, ia tak mau suaminya itu mengerjainya lagi. Akhirnya My pasrah ikut saran suaminya.
Ata menatap sekeliling ruangan, namun mamanya tak terlihat, kembali Ata membawa My menuju ruang belakang ternyata disana tampak tiga wanita yang tengah berbincang santai di ruang belakang yang menghadap ke taman sampig.
"Wah-wah mesranya yang pengantin baru"
Ledek tante Rumi, Ata tersenyum menanggapi ledekan tantenya itu. Lusi tersenyum lihat anak dan menantunya terlihat akur dan mesra. Sementara My bingung mencari sosok mertuanya, karna di sini yang ada hanya Eyang Hanum, tante Rumi dan mamanya Bam.
"Sini sayang! duduk sebelah mama. Mama kangen sama kalian berdua"
pinta Luna lembut.
My menyipit, menatap bingung kearah suaminya. Lusi membawa mantunya itu duduk.
"Kamu tadi nanyain kabr mas Bammu kan sayang, maaf mama belum sempat jawab tadi, habisnya mama kaget"
"Kok mama. Tan?"
protes My *****. Lusi tertawa menanggapi protesan menantunya itu.
"Iya dong sayang, Ata ini anak mama dan kamu istrinya, masak menatu manggil mertuanya tante, kan gak lucu My"
Ucap Lusi serius.
My menatap Ata dan Lusi bergantian ia benar-benar bingung. Mata belo itu menuntut penjelasan pada suaminya.
"Saya gak mgerti, tolong bapak jelaskan?"
Pinta My menuntut. Lusi juga bingung dengan putranya.
"Ada apasih, kok kalian aneh. Kenapa My panggil kamu bapak, Ta? mama gak salah orang kan Ta, yang jadi menantu mama Meylin Harisman, ini benarkan My putrinya Melisa daan Haris?"
Tanya Lusi ikutan bingung. Ata juga ikut bingung ingin menjelaskan ke mama dan My, akhirnya pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya ma benar. My istri Ata anak om Haris."
Ucap Ata menjelaskan. Lusi tersenyum lebar, merangkul bahu mantunya. Ata kembali meraih jemari istrinya.
"My, mama Lusi ini mama saya, mama mertua kamu."
"Maksud bapak apa?"
My menatap tajam suaminya.
"Saya Bam, Saya Ata Herlambang, putra dari mama Lusi dan papa Herlambang"
My terdiam, perlahan gadis itu melepas genggaman tangan suaminya, ia bangkit dari duduknya. Ia tatap suaminya dengan tatapan getir.
"Bapak bohong"
Ucap My lirih. Mata Gadis itu mulai mengalirkan cairan bening. Air matanya merembas, membasahi pipinya.
"Sungguh saya tidak bohong"
"Bapak sengaja bohongi saya, kenapa bapak gak jujur dari awal? bapak tega mainkan perasaan saya"
Tangis My pecah. Gadis itu berhambur dalam pelukan Lusi. Melihat drama anak dan menantunya Lusi bingung, karna memang ia tak tau apa-apa. Wanita paruh baya itu ikut menitikkan air matanya, melihat menantunya menangis seperti itu.
__ADS_1
"Huus sudah, jangan menangis. Mama ada untuk kamu" Ata mendekat meraih tangan my.
"Maafkan saya. Saya gak bermaksud... "
Belum selesai My sudah menepis tangan dosennya.
Pergilah, saya sedang tak ingin berbicara dengan bapak" Ucapnya judes. Sungguh gadis itu kecewa dengan pria di sampingnya itu, yang dengan sengaja permainkan hati gadis delapan belas tahun yang masih lugu.
"Baiklah"
Ucap Ata menuruti, Ata akan beri waktu hingga gadisnya tenang. Ternyata kejutan yang ia berikan tak seindah yang Ata harapkan.
"Coba cerita sama mama pelan-pelan, ada apa sebenarnya?"
Tanya Lusi lembut.
"Kok anak tante jahat sih tan? tega sama My"
"Mama. Sayang! gak pake tante lagi."
Protes Lusi lembut.
"Iya, tapi anak mama jahat"
"Mungkin masmu, ada alasan lain, sayang. Mama juga gak tau, kalau dia bohongi kamu, mama pikir kamu sudah tau kalau Ata itu Bam. Bukannya masmu udah lama pulang ke indonesia, tapi kenapa kok kamu baru tau sekarang kalau dia mas bammu?"
My menggeleng
"My benar-benar gak tau denga wajah mas Bam dewasa ma, pak ata itu yang tega bisa-bisanya dia bohongi My."
Lusi mempererat pelukannya.
"Ya Allah, benar-bener keterlaluan anak satu itu. Terus kenapa kamu panggil masmu, bapak?"
Tanya lusi heran.
"Pak Ata, dosen My di kampus, tempat My kuliah"
"Ooo. Jadi ceritanya, kamu nikah dengan dosen kamu, sayang? Ya Allah, romantis banget, Jadi inget kayak kisah mama sama papanya masmu dulu"
"Loh, kok cemberut"
"My jadi sebel inget pak Ata"
Ucap My jujur.
"Tapi cintakan sayang?"
wajah My merona karna candaan mama mertua.
"Ya udah sekarang kamu ke kamar, istirahat. Yuk mama antar"
Mereka berjalan beriringan menuju kamar.
Setelah mama mertuanya keluar, My kembali menangis, gadis itu benar-benar geget, jika ingat pak dosennya, gondoknya selangit.
Puas dengan menangis gadis itu duduk di ranjang yang masih tampak berserakan, tas pakaian mereka belum di kemas, My duduk sembari membuka album foto lawas, yang menampilkan wajah pria tak asing, bahkan di dalamnya ada fotonya juga.
Ata masuk, menatap sejenak istrinya yang tengah duduk di atas ranjang. Ata mendekat mengelus kepala istrinya.
"Masih marah?" tanya ata lembut. My mendongak lalu menyingkirkan tangam besar itu.
"Kok diam, masih marah?"
Ucap Ata ikut duduk di sebelahnya.
"Saya males ngomomg sama bapak"
Rajuk my. Ata menghela nafasnya dalam.
"Saya minta maaf, saya lakukan ini karna ada alasannya,"
My masih tak menanggapi.
__ADS_1
"Ayo dong sayang. jangan seperti ini"
My menatap tajam kesuaminya.
"Bapak kira enak ya, perasaan dimain-mainkan seperti ini, saya yang merasakan kesedihan itu sendirian, menahan rasa rindu dengan orang yang saya selalu rindukkan.
Bahkan saya kubur dalam-dalam perasaan itu demi menjaga perasaan bapak. Saya pikir kalian orang yang berbeda, ternyata kalian beda nama tapi satu rupa. Saya akui bapak jago dalam hal mengelabuhi perasaan saya."
My tertawa hambar menatap suaminya, air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia luapkan segala keluh kesalnya yang bercokol di dalam dadanya saat ini.
Ata mendekat hendak memeluk tubuh yang tengah berguncang itu. Lagi-lagi My menyingkirkannya.
"Pergilah, buang saja rasa perduli bapak jauh-jauh"
Dada Ata terasa sesak, ada rasanyeri tak kasat mata di dalamnya. mereka salin menatap dengan hati yang terluka.
Ata tak perduli lagi atas penolakan istrinya. Saat ini ia hanya ingin memumpahkan rasa rindu itu pada wanita satu-satunya yang berhasil mencuri hati dan fikirannya sejak dulu.
Ata peluk tubuh langsing itu erat-erat, sementara gadis itu meronta minta kebebasan.
"Lepasin"
racau My sembari mendorong dan memukul-mukul dada bidang suaminya.
"Diamlah, izinkan sebentar saja saya memelukmu. Saya sudah terlalu lama menunggu cinta sejati saya untuk menyadarinya. Saya juga sama sepertimu, memendam rasa rindu itu terlalu lama bercokol di sini."
Ata berucap sembari menepuk dadanya.
"Kamu tau? hal itu saya lakukan hanya menunggu gadis kecilku peka, tanpa harus saya yang memberi tahumu. Karna saya mau kamu mencintai saya dengan perasaan utuh karna rasa cinta kamu yang baru, bukan cinta masa kecil. Dulu atau sekarang saya tetap sama, Ata Herlambang, yang selalu kamu panggil Bam."
My tertegun dalam diamnya.
"Sekarang saya tanya sama kamu, setelah tau saya Bam, apa yang kamu rasakan, kecewa iyakan? karna mas Bammu gak sesuai dengan ekspetasimu, sejak awal itu yang saya takutkan, karna tidak ada lagi Bam persi kecil yang ada dalam ingatanmu.
Yang ada saat ini Bam yang tumbuh dewasa, dengan cara dan gaya yang berbeda, tapi saya tetap sama, My. Saya tetap Ata herlambang yang kamu tunggu.
Dari dulu hingga saat ini hati saya gak pernah berubah, My. Hati saya hanya satu, yang begitu lama terperangkap pada gadis kecil saya. Yang saat ini telah tumbuh dewasa, jadi istri Ata Herlambang."
Usai berucap Ata bangkit dari duduknya dan melepas dekapan hangat dalam tubuh My.
My menelan ludahnya serat menatap punggung suaminya gang hampir mencapai daun pintu, seketika My bangkit dari diduknya, berlari menubruk punggung kekar suaminya.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan saya lagi mas!" Ata membalikkan badannya menatap manik bening milik istrinya. Ata tangkup pipi basah itu ia kecup mata sembab istrinya, kemudian bibir basah Ata merambah ke atas bibir mungil istrinya.
"Siapa yang mau niggalin kamu. Saya mau solat isya di masjid depan, sudah adzan" Bisik Ata lembut sembari mengecup bibir merah My sekali lagi. Pipi My merona karna malu. Rasanya saat ini wajahnya tumpah ke lantai.
Jika tau suaminya mau shalat, ia tak akan menjatuhkan gengsinya untuk mengejar pak dosennya itu.
"Ya sudah, saya ke mesjid sebentar nati keburu ikomah. Kamu juga buruan ambil wudhu shalat isya dulu"
Ata berucap lembut, sebelum pergi ia sempatkan mengacak dan mengecup puncak kepala Istrinya. My mengangguk patuh.
Usai kepergian suaminya, My senyum-senyum sendiri. Hatinya bahagia, kecewanya lenyap ditelan kebahagiaan. Tak lama, Ata pulang dari masjid. Ata buka pintu kamar disana tampak pemandangan yang meneduhkan.
Bibir ata melengkung, melihat kekhusukan istrinya. Usai salam My mendekati Ranjang menyalam takzim tangan sang suami. Tangan kecil itu menangkup rahang kokoh Ata, perlahan kening gadis itu ia tempelkan di atas kening suaminya. Mereka saling mengetatkan dekapannya menyalurkan rasa yang sama.
Dalam hati Ata berbisik pada sang pemilik cinta, tak henti-hentinya bibir itu berucap syukur pada sang ilahi rabbi.
Dengan jantung yang berdebar Ata mengutarakan niatnya pada sang istri.
"Sayang, kita shalat dua rakaat dulu ya"
My menatap suaminya bingung.
"Buat apa, pak?"
Ata tersenyum canggung. Pria itu tampak bingung ingin menjelaskan pada istrinya itu. Dengan gelisah Ata menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ternyata istrinya tak paham dengan bahasa isyaratnya.
__ADS_1