DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 59


__ADS_3


Sejatinya wanita dan pria itu sangat berbeda saat menyelesaikan masalah.Wanita akan selalu drama saat menghadapi permasalahan, selalu mengedepankan perasaan, hingga ia akan terus mengingat sejarah kelam yang pernah hadir di kehidupannya. Beda dengan pria, saat marah ia cukup diam dan menenangkan diri untuk mencari solusi.


Pada dasarnya, masalalu itu bukan untuk menjadi pegangan, tapi cukum untuk dijadikan benteng. Ata tau, istrinya itu sedang merasa ketakutan, takut jika suaminya jatuh di tangan orang yang salah.


Ata Herlambang tengah gelisah mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Dengan hati-hati Ata mulai mengetuk pintu bercat hitam itu.


"Dek, buka..! mas belum selesai ngomong"


Pinta Ata penuh kehawatiran.


"Ngomong aja dari situ, gak perlu masuk. Aku bisa mendengarnya"


Sahut My penuh amarah. Dengan menahan sedikit nafasanya Ata mulai mengatur ucapannya agar istrinya itu paham.


"Gini dek, sebenarnya itu foto diambil waktu kami sedang melakukan kesepakatan kerja. Sekaligus tandatangan kontrak, lagipula di sana juga ada Azam. Oliv sekaran menjadi salahsatu investor kita. Dia yang membantu keuangan perusahaan kita, dia..!"


"Cukup mas, bukannya kamu udah janji sama aku, kamu gak akan menjalin hubungan dengan dia. Kenapa sekarang kamu yang ingkar?"


Sahut My dari balik pintu.


"Ini lain konsep, sayang"


"My gak perduli, mas gak boleh berhubungan dengan dia"


Pekik My penuh kekesalan.


"Loh, maskan cuma menjalin hubungan kerja. Kami murni kerja sama. Hubungan kami ga main perasaan"


"Itu menurut mas, belum tentu perempuan itu berpikir sama seperti kamu! Kenapa harus dia, apa kamu gak bisa cari investor lain..?"


My masih belum mengerti, sepertinya wanita itu masih saja dikuasai rasa cemburu.


"Kamu taukan dek, perusahaan harus tetap berjalan, sementara modal kita sudah menipis, hanya dia yang bersedia mendanai perusahaan kita, itu dia lakukan karna dia ingin membantu kita, dia masih menganggap mas sahabatnya, gak lebih dari itu My..! Mas kenal dia My, dia bukan tipe orang yang ingkar"


Jelas Ata tegas.


"Ooo..! Jadi mas lebih kenal dia, ketimbang perasaan istri mas sendiri?"


"Loh, gak gitu sayang! Maksud mas...!"


Ata makin bingung menjelaskan pada sang istri, wanita itu sangat susah jika sudah cemburu.


"Kamu pintar mas, tapi kenapa kamu mau dijadikan umpan permainannya. Perusahaan, dia jadikan alasan untuk melancarkan misinya...!"


Potong My lantang.


"Gak gitu dek, jangan suudzon. Memang kondisinya seperti itu, kamu lupa setahun belakangan, keuangan kita sekarat, akibat untuk perobatan mas, bolak-balik luar negeri, itu semua menghabiskan dana yang cukup banyak"


"Maaf, aku gak bisa terima alasan kamu mas..!"


Ucap My tegas.


"Oke, kalau memang begitu mau kamu, mas akan batalkan kerja samanya dan mas akan merumahkan sebagian karyawan kita"


My terdiam. Sementara Ata pergi dari hadapan pintu, ia butuh menenangkan diri agar tidak terbawa emosi menghadapi My yang keras kepala. Tak lama dari itu Azam pun datang.


"Dimana dia?"


Tanya Azam pada sahabatnya.


"Di kamar mas, saran gue sebaiknya jangan sekarang deh jelasin hubungan lo sama Oliv, gue hawatir dia makin ngamuk"


Ucap Ata terdengar lelah.


"Terus sekarang ngapain gue datang ke sini?"


Protes Azam, mulai kesal.


"Ikut gue"


"Kemana, Ta?"


"Main futsal"


Ajak Ata enteng. Akhirnya Ata pergi mencari ketenangan. Mungkin dengan main futsal pria itu akan mendapatkan ketenangannya.


"Jadi kalian ribut gara-gara Oliv?"


"Ya gitu, dia minta gue gak kerja sama bareng dia, sepertinya hubungan lo bakalan sulit deh, gue kenal My, gak segampang membalik telapak tangan untuk mengubah meindsetnya tentang Oliv, apa lagi jika harus menjadikan Oliv kakak ipar"

__ADS_1


Ucap Ata sungguhan. Azam terdiam sembari menyenderkan kepalanya di kursi.


"Jadi gue harus gimana, gue sayang sama My tapi gue juga cinta sama Oliv, gimana dong. Ta...?"


Ata menggeleng sembari mengangkat bahunya.


"Kalau sekarang gue lagi gak bisa mikir, mas. Kita pikirkan nanti saja, sekarang kita main futsal dulu, tuh dah sampe. Sepertinya anak-anak udah nungguin kita"


Mereka turun dari mobil, untuk menuju lapangan. Azam menatap heran pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Ta, boleh gue nanya satu hal..?"


"Apa..?"


Jawab Ata singkat.


"Kenapa lo bisa sesabar ini ngadepin polah adek gue yang manjanya kebangetan?"


"Simpel sih, gue cuma pengen dapat ridhanya Allah dalam setiap tindakan, bukannya dalam agama, sabar mempunyai kedudukan yang sangat urgen, bahkan ia merupakan bagian dari agama itu sendirikan?, bukannya kita semua tau sabar itu tempat berteduhnya bagi para penyabar, dan merupakan harta simpanan dari simpanan-simpanan di surga. Yang mana Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang sabar dengan pahala yang sangat besar, hal itu seperti yang di jelaskan dalam surah Az zumar.


قال الله تعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ( سورة الزمر :)


“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. QS az-Zumar: 10."


"Memang sulit, tapi gue harus terbiasa, karna gue mau adek lo, menjadi bidadari gue di surganya kelak"


"Heeem, emang adik ipar idaman lo tak"


Ledek Azam sembari menepuk bahu kanan Ata Herlambang.


"Idaman apaan, gue juga kadang khilaf ikut terbawa emosi, Mas!"


"Biasa itu, kitakan bukan malaikat, Ta!"


Ata tersenyum mendengar penuturan abang iparnya itu. Setelah terasa letih, akhirnya Ata dan Azam pulang. Di rumah My dengan hati berkobar, ia coba menghubungi Oliv. Setelah tersambung ibu satu anak itu tak sabar untuk memaki Oliv.


"Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu My?"


Sapa Oliv ramah. Kening My berkerut seribu lipatan.


"Maaf sebelumnya buk, saya hanya ingin menegaskan pada ibu, tolong jauhi suami saya. Jangan ibu gunakan trik murahan ibu untuk mendapatkan suamiku!"


"Kamu tenang aja My, saya tidak akan mengganggu suamimu, Ata hanya masalaluku, lagi pula saya sudah memiliki orang yang tepat untuk saya, doakan saja saya segera nyusul kalian ke pelaminan"


Oliv dengan santainya curhat pada My, lupakah Oliv jika ibu satu anak itu tak menyukai dirinya.


"Oh baguslah kalau begitu, saya senang mendengarnya"


Ucap My judes. Setelah itu My mematikan sambungan telpon begitu saja.


"Kamu nelpon siapa?"


Tanya Ata datar, My terjengit kaget. Seketika tubuhnya kaku.


"Kamu nelpon siapa?"


Tanya Ata sekali lagi.


"Eeeem...buk..buk.. Oliv"


Ucap My jujur namun penuh dengan rasa takut. Ata melirik sekilas, setelah itu ia berlalu meninggalkan My, tanpa berkomentar sedikitpun. Melihat hal itu My tau suaminya itu tengah marah. My bergegas menuju kamar Zain dengan membawa semangkuk bubur tim.


"Ah masa bodolah, yang penting aku udah sedikit tenang"


Batin My dalam hati sembari berlalu.


"Hey baby boy mama. Sini duduk, kita makan ya sayang biar cepet gede"


Melihat mangkuk yang dibawa My, bocah gembul itu dengan riang ingin meraih mangkuk.


"Mam-mam"


Ocehnya ceriwis.


"Iya, Zain lapar ya. Ayo buka mulutnya. Aaa, aam. Enak ya sayang"


"Papa...papa"


Ocehnya lagi


"Huus, jangan panggil-panggil papa. Papa lagi marah sama mama, hiii takut"

__ADS_1


Bisik My pada baby boy.


"Jangan takuti Zain seperti itu, My!"


Seketika tubuh My menegang, ia tak menyangka suaminya ada tepat di belakangnya.


"Mas kamu ada di sini"


Ucap My pelan


"Aku hanya ingin melihat putraku"


Jawab Ata datar. My terdiam hatinya sedikit sakit, saat orang yang ia cintai memperlakukannya seperti itu. My bangkit untuk menaruh mangkuk kotor ke dapur, tanpa pria dewasa itu sadari My menahan rasa panas di klopak matanya. My merasa dirinya tengah dihukum, padahal ibu satu anak itu hanya meminta kejelasan tentang kehawatirannya. Kenapa sekarang dirinya seperti manusia paling bersalah.


My duduk terdiam di taman belakang, sesekali ia seka air matanya. Setelah puas dengan perasaannya sendiri, My bangkit untuk menyiapkan makan malam. Setelah selesai ia tak kunjung memanggil suaminya, ia malah duduk di mejamakan dengan posisi kepala tertelungkup. Tak lama Ata turun menyusul sang istri.


"Apa kamu gak berniat menawari suamimu makan, dek?"


Sindir Ata lembut.


"Haa.."


Sahut My tergagap.


"Suamimu ini lapar, dari tadi siang suamimu ini, gak kamu kasih makan"


Ucap Ata sembari menarik kursi di sebelah sang istri, My bangkit dengan gesit ia melayani suaminya. Namun kegiatannya terhenti Saat tubuhnya mulai limbung dan jatuh terduduk tepat di atas pangkuan pak dosen.


"Mas, aku lagi ambilin kamu makan"


Protes My pada sang suami.


"Apa istri mas masih marah?"


Bisik Ata lembut.


"Bukannya mas yang marah"


My balik bertanya. Ata tersenyum menatap sang istri.


"Sayangnya. Mas gak bisa marah lama-lama sama istri mas ini"


Ata kembali merayu sang tuan putri. Dengan gemes pria itu mencubit hidung bangir Mylin.


"Lain kali, jika suami belum selesai menjelaskan jangan pergi, itu sama saja kamu gak menghargai suamimu, soal Oliv mas sudah memutuskan untuk membatalkan kerja sama kami"


My berpikir sejenak, lalu wanita itu menatap lekat manik hitam milik Ata Herlambang.


"Jika kerja sama itu mas batalkan, bagaimana dengan nasib karyawan mas?"


"Dengan terpaksa sebagian akan mas rumahkan, untuk meminimalisir pengeluaran perusahaan"


Ucapnya pelan. My kembali menatap suaminya, sambil menggelengkan kepala.


"Jangan mas, kasihan! Mereka mempunyai anak istri"


"Gak ada jalan keluar lain dek, hanya itu cara yang tepat"


"Kalau begitu jangan batalkan kerja sama dengan buk Oliv"


Mendengar ucapan My, Ata serasa menang. Akhirnya ibu satu anak itu mulai luluh.


"Gak, mas akan tetap batalkan.Mas gak mau buat kamu kecewa sama mas"


Ucap Ata tegas


"Jangan mas, jika mas batalkan kerja sama itu, akan banyak orang yang terkena dampaknya, My izinkan perusahaan kita kerjasama dengan buk Oliv, tapi dengan satu sarat, jika mas ingin bertemu bu Oliv, mas harus ajak My"


Ata tersenyum, ternyata istrinya itu masih saja cemburu.


"Benar kamu mengizinkan?"


Tanya Ata memastikan.


"Iya"


"Baiklah, mas setuju. Tapi apa alasannya...?"


"Aku gak mau, orang lain mendapat kesulitan karna My, lagi pula buk Oliv juga udah punya calon suamikan, itu berarti aku bisa sedikit lega, tapi tetap saja My harus waspada"


Jawab My jujur. Ata tertawa mendengar penjelasan sang istri. Akhirnya rencananya berhasil menjinakkan hati sang istri. Namun ada hal yang wanita itu belum mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2