DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 62


__ADS_3


Senin pagi langit terlihat berkabut, mendung mulai menggumpal dan tak lama hujan mulai turun membasahi bumi, My melangkah mendekat ke arah jendela, tak lupa ibu satu anak itu melafazkan doa turun hujan.


اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً


Artinya : "Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat."


Ucapnya dalam hati. Udara sejuk mulai menusuk ke pori-pori, sesekali wanita ayu itu menggosok-gosok lengannya untuk menghilangkan rasa dingin. Ata yang melihat hal itu mendekat ke arah jendela, dengan lembut pria itu memeluk istrinya dari belakang.


"Sedang mikirin apa, hujan kok dilihatin?"


Tanya Ata ingin tau.


"Aku sedang mikirin kamu, mas. Acap kali hujan turun, adek pasti selalu ingat sama mas"


"Oh ya?"


Jawab Ata takjub.


"Heem. Kenangan semasa kecil itu, selalu melekat indah di benak My, tiap kali hujan. Kamu selalu mengajariku doa turun hujan. Bahkan di waktu mustajab itu, aku selalu berdoa agar Mas, selalu ada untuk My. Hingga saat ini ketika hujan My selalu berdoa untukmu"


Mendengar penuturan istrinya, Ata tersenyum.


"Benarkah?"


Ledek Ata.


"Heeem.."


Jawab My serius.


"Dulu mas selalu berdoa pada Allah, agar kamu menjadi teman hidup mas. Tapi sekarang doa itu sudah berubah"


"Loh, kenapa. Kok bisa gitu?"


Tanya My heran.


"Ya, karna sekarang doa mas ingin kamu menjadi bidadari mas di dunia dan di akherat"


My tersenyum mendengar ucapan suaminya. Sembari menikmati hembusan angin, sesekali ibu satu anak itu menyeruput teh hangat di tangannya.


"Heem ternyata suamiku, selalu memanjatkan doa romantis untukku, Love you imamku"


Bisik My sembari membalik badannya, untuk saling berhadapan. Pelan-pelan My menaruhkan secangkir teh yang ia pegang di atas kusen jendela. Kemudian My dengan manja membalas pelukan suaminya.


Angin semakin kencang hujanpun semakin deras.Mereka semakin saling mengetatkan pelukannya, dengan manjanya Ata Herlambang menopangkan dagu di pundak putih istrinya. Sesekali pria itu terpejam menikmati sentuhan lembut dari surai halus milik sang istri, yang terkibas oleh tiupan angin. Dengan nafas sedikit tersengal Ata menghirup wangi sabun yang menguar dari ceruk leher jenjang sang istri. Namun sayang My merasa diabaikan atas ucapan cintanya.


"Kenapa kamu diam mas?"


Tanya My mulai protes.


"Mas suka wangi kamu"


Bisik Ata lembut.


"Iiiiih...! kok larinya ke wangi sih mas!"


My mulau kesal pada Ata Herlambang, dengan meles wanita itu melepas pelukannya. My kembali meraih cangkir yang berisi teh yang ia taruh di atas kusen jendela.

__ADS_1


"Kamu mau kemana"


Ata dengan cepat meraih tangan My.


"Mau ke dapur balikin ini"


Ucap My sembari mengangkat cangkir di tangannya. Ata tak menjawab, pria itu lalu meraih cangkir dari tangan sang istri, lalu meletakkannya di atas nakas.


"Nanti saja, mas masih ingin bersamamu"


Bisik Ata lembut penuh rayuan. My tak ada alasan untuk menolak keinginan sang suami, wanita itupun akhirnya menurut dengan penuh kasih. Untuk melayani sang suami menjalankan sunah rasul yang bigitu indah, dengan ditemani hujan yang menambah suasana semakin romantis.


Hujan mulai berhenti, My bangkit dari tempat tidur dengan gesit ibu satu anak itu meraih handuk, untuk segera bersuci.


Sementara di kediaman Melisa, dua manusia itu tengah sibuk menyiapkan menu andalan.


"Ayo, sini nak Oliv. Bantu ibu siapkan makanan kesukaan keluarga di sini"


Ajak Melisa semangat. Oliv tersenyum canggung, namun ia tetap mengindahkan ajakan wanita paruh baya itu.


"Iya tan, tante mau masak apa?"


Tanya wanita itu ingin tau.


"Tante akan buatkan kalian ayam semur, kamu cuci ayamnya ya"


Pinta Melisa lembut. Melisa sangat bahagia mempunyai teman masak baru, biasanya My yang selalu menemani, namun semenjak My punya Zain, ibu satu anak itu tampak kerepotan.


"Ini tan, ayamnya udah bersih. Apa lagi yang bisa Oliv bantu?"


Tanya Oliv semangat.


"Kamu kupas bawangnya, abis itu bantu tante untuk menggilingnya, kamu bisakan?"


Oliv dengan cekatan mengerjakan sesuai petunjuk Melisa. Setelah semua selesai, Oliv kembali membantu membersihkan alat masak yang kotor.


"Oya Liv, gimana Azam?. Hubungan kalian beneran seriuskan"


Tanya Melisa tiba-tiba. Oliv bingung mendapat pertanyaan semacam itu. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Namun hal itu sudah cukup membuat Melisa bahagia.


"Kamu tau nak Oliv, Azam itu tipe orang yang setia. Dia sangat sulit untuk dekat dengan teman perempuan, semenjak delapan tahun lalu"


Ucap Melisa mulai cerita. Sementara Oliv siap menjadi pendengar setianya.


"Ada apa dengan mas Azam, tan?"


Tanya Oliv penasaran


"Dulu Azam punya teman dekat, sama sepertimu, bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahannya, sayang saat itu Hana harus pergi untuk selama-lamanya, setelah inseden lakalantas itu. Hana meninggal tepat di pangkuan Azam.Bertahun-tahun putra tante itu menutup diri dari wanita, tapi sekarang dia bisa dekat denganmu, itu suatu kebahagiaan untuk tante"


Ucap Melisa lembut. Kemudian wanita paruh baya itu mendekat dan memegang kedua bahu Oliv sembari berucap.


"Tante mohon, tolong jaga hati putraku"


Ucap Melisa sembari terisak. Melihat hal itu seketia Oliv memeluk Melisa dengan rasa cinta.


"Maaf tan, Oliv tidak bisa janji.Karna takdir Tuhan tak ada yang tau. Namun Oliv akan berusaha menjaga mas Azam semampu Oliv"


Jawab Oliv tulus. Saat mereka tengah berpelukan, mereka tak sadar jika tengah diperhatikan My.

__ADS_1


"Udah mateng, ma? Maaf My datangnya telat"


Ucap My tak enak pada mamanya itu.


"Gak papa sayang, udah mateng kok. Kan mama ada yang bantuin, nak Oliv yang bantuin mama"


My menatap Oliv sekilas, lalu pergi meninggalkan dapur. Setelah semuamya beres akhirnya mereka berkumpul di meja makan, mereka makan dengan lahapnya, kecuali Oliv, hati gadis itu tengah berkecamuk. Setelah selesai makan, kembali mereka berkumpul di ruang keluarga. Oliv makin tampak gelisah, setelah tenang Oliv mulai membuka suara.


"Om, tante. Sebelumnya Oliv minta maaf, sebenarnya Oliv bukan gadis yang tepat untuk mas Azam"


"Maksud kamu apa, nak Oliv?"


Potong Melisa hawatir.


"Ma, biarkan Oliv menyelesaikan ucapannya"


Ucap Azam menenangkan sang mama.


"Baiklah"


Ucap Melisa pada akhirnya.


"Begini Om, tante. Oliv mempunyai masalalu yang buruk, mungkin tante tidak akan bisa memaafkan saya, karna beberapa tahun lalu, Oliv pernah ingin merebut Ata dari My, bahkan saya berniat menghancurkan hubungan mereka. Itu sebabnya My tidak menyukai saya, karna saya sendiri yang membuat My membenci Oliv"


"Apa. Kamu...?"


Ucap Melisa tak percaya.


"Iya tan, Maafkan Oliv. Saat itu Oliv gak terima Ata memilih My. Karna Oliv pikir, Olivlah yang lebih dulu mengenal Ata dan mencintai Ata. Namun Oliv salah ternyata mereka lebih dulu saling mengenal dan saling mencintai"


Melisa terdiam ia tak mampu berkata apapun. Tampak di raut wajahnya, bahwa Wanita paruh baya itu, tengah menahan tangisnya, ia tatap kedua buah hatinya itu satu persatu. Ia tau apa yang putrinya rasakan, begitupun dengan Azam.


"Tante, Om. Setelah kalian tau jika saya adalah mantan pelakor, apa kalian masih bisa menerima saya? saya rasa tidak. Karna kesalahanku terlalu berat untuk kalian maafkan"


Tanya Oliv dengan suara bergetar, untuk menahan sesuatu yang ingin meledak. Semua terdiam, sementara Melisa sudah terisak sejak pertama Oliv bercerita. Akhirnya Melisa bangkit dari kursinya, wanita paruh baya itu melangkah mendekat lalu duduk di sebelah Oliv. Sepertinya Melisa telah menyayang Oliv, seperti anaknya sendiri. Ia genggam jemari gadis itu dengan lembut.


"Maafkan tante nak Oliv. Tante percaya kamu gadis yang baik, pasti ada alasan lain dibalik sikapmu dulu. Tapi tante seorang wanita dan tante juga seorang istri, sama seperti My. Disini tante gak punya hak untuk memberi kalian restu, karna yang merasakan kesakitan itu bukan tante tapi My. Jadi, restu kalian ada pada Mylin.


Seketika netra mereka menatap ke arah My.


My yang ditatap masih membisu. Setelah lama menunggu, akhirnya My membuka mulutnya.


"Maafkan My mas, My gak bisa terima hubungan kalian, bukan My egois tapi banyak hal yang aku pertimbangkan"


Oliv terdiam, ia sudah tau ini akan terjadi. Gadis itu terus berusaha menahan air matanya. Sementara Azam hanya bisa diam. Pria itu tak bersuara sedikitpun. Ia tau akhirnya akan semenyakitkan ini. Oliv bangkit dari duduknya. Dengan suara bergetar gadis itu pamit undur diri.


"Maafkan Oliv, Oliv pamit"


"Tunggu Liv, biar aku antar"


Pinta Azam pelan.


"Gak usah mas, aku sudah pesan ojol"


Ucap Oliv dengan wajah tertunduk, untuk menahan sesuatu yang ingin meledak di dadanya. Usai berpamitan gadis itu segera menaiki ojol yang dia pesan, Sementara Azam mengejar Oliv, namun gadis itu sudah tak ada di luar. Azam terduduk di anak tangga. Pria itu tampak kacau. My mendekat lalu ikut duduk di sebelah masnya itu.


"Maafkan My, mas"


Ucap My merasa bersalah. Azam tersenyum menatap adiknya.

__ADS_1


"Mas gak papa"


Ucap Azam kembali tersenyum. Dengan hangat pria itu memeluk adik satu-satunya yang sangat ia sayangi. Hal itu ia lakukan untuk meyakinkan My, jika dia baik-baik saja. Setelah itu My dan Ata pamit pulang. Sementara Azam masih mematung sembari menatap jauh ke arah jalan.


__ADS_2