DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 34


__ADS_3


Ada dua persyaratan dalam setiap pernikahan yang membahagiakan. Yang pertama adalah iman, dan sisanya adalah kepercayaan. Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta Allah sebagai tujuan.


Terkadang pernikahan berjalan tak harmonis itu bukan karena kurangnya cinta, tapi kurangnya persahabatan dalam sebuah hubungan yang membuat pernikahan tidak pernah merasa bahagia.


Maka dari itu jalinlah persahabatan atau pertemanan dalam mengarungi biduk rumah tangga seperti Ata dan My. Barulah setelah itu kalian bangun cinta kalian dengan iman, agar kelak menuju jannah-Nya bersama.


Desiran angin malam mampu menciptakan gelombang yang membawa dua manusia saling mengetatkan pelukan. Ata masih setia memeluk erat tubuh mungil istrinya. Rayuan rayuan manis ikut menghiasi keindahan malam.


"Masih dingin?"


Tanya Ata lembut penuh perhatian.


"Udah gak sedingin tadi"


Jawab My lembut, sembari menyenderkan kepalanya pada bahu kekar Ata. Pria itu tersenyum sembari menatap kearah wajah yang bersandarkan bahunya.


"Saya bahagia bisa sedekat ini dengan kamu, bagai mana denganmu, My?"


"Haa, apa pak?"


Jawab My cengok, tak mendengarkan suaminya berbicara. Kadis itu tak konsentrasi, akibat degup jantung yang menggila.


"Sudah gak usah dijawab, gak penting"


Ucap Ata lembut.


"Kok gitu, bapak marah?"


Ata kembali tersenyum, menampakkan gigi-gigi putihnya.


"Rugi kalau saya marah sama kamu, gak bisa dapat pelukan sehangat ini"


Ucap Ata semakin mengetatkan pelukannya.


"Saya baru tau, ternyata dosen yang terkenal kiler di kampus jago gombalin anak orang"


Ata tertawa renyah mendengar ucapan mahasiswinya itu.


"Haha, semenjak dekat kamu bawaanya pengen gombalin kamu mulu, lagian yang di gombalin seneg"


Ucap Ata meledek My.


"Apaan, Saya sebel tau pak, kalau digombali"


"Heem, masak. Perasaan mukamu merona gitu, sebel dari mananya"


Lama-lama My gemes lihat tingkah pak dosennya. Ia cubit pinggang Ata kuat-kuat, hingga pria itu meringis kesakitan.


"Aau. Ya Allah My, sakit banget cubitan kamu"


Ucap Ata sungguhan sembari mengusap-ngusap perutnya. Usai mencubit My hendak masuk kamar namun tangan mungil itu keburu di tangkap oleh priannya.


"Mau kemana?"


Tanya Ata tak rela.


"Mau masuk, ngantuk mau tidur."


Jawab My males.


"Terus gimana, jadi gak solat sunahnya?"


tanya Ata berharap.


"Ya bapak belum jelasin ke saya, untuk apa shalat sunah dua rakaat itu?"


Jawab My ngeyel.


Ata menarik tangan My, hingga gadis itu jatuh terduduk di atas pangkuan Ata.


"Kamu beneran gak tau, tujuannya untuk apa?"


Tanya Ata heran.


"Heem" gumam My singkat. Ata dengan gemes mencium lembut pipi putih mahasiswinya itu.


"Shalat sunah dua rakaat yang saya maksud itu khusu untuk pengantin baru sayang, sesuai yang dikisahkan dari Abu Sa’aid mantan budak Abu Usaid, beliau mengatakan,


Aku menikah dalam keadaan, aku masih seorang budak, maka aku mengundang di hari pernikahanku sejumlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Hudzaifah. Abu Sa’id berkata: para sahabat radhiyallahu ‘anhum memberitahukanku dan mereka berkata,


إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك


“Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua salat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua.” (HR. Ibnu Abi Syaibah Al-Mushannaf no. 29733 dan dishahihkan Al-Albani)


"Tapikan pak, kita bukan pengantin baru lagi, kitakan udah hampir lima bulan nikahnya. Masak masih dibilang pengantin baru"

__ADS_1


Protes My tak suka. Ata memejamkan matanya sejenak, untuk menghalau kebingungannya saat menghadapi gadis sepolos My.


"Iya saya tau, tapikan kita belum melakukan sunah Rasul, sayang. Kan malam pertama kita masih tertunda."


Seketika tubuh My panas dingin mendengar kata malam pertama dari bibir pak dosennya.


"Jadi bapak mau minta sekarang?"


Cicit My nyaris tak terdengar. Karna canel Ata yang tajam pria itu mampu memahami ucapan istrinya itu. Kalau kamu mengizinkannya, saya siap mencobanya sekarang"


"Tapi pak, My takut."


Ucap My polos.


"Emang apa yang kamu takuti?"


Ucap Ata lembut sembari merasapi aroma wangi dari leher jenjang My. Pria itu tanpa sadar terus membelai leher jenjang My dengan hidung mancungnya.


"Saya takut katanya sakit"


Ucap My tersendat, karna ulah jantung yang terlalu berlebihan memompanya.


"Seketika Ata mengangkat wajannya dari ceruk leher Meylin.


"Sapa bilang, kan kita melakukannya bisa pelan-pelan, sayang" Suara Ata semakin terdengar aneh. My berpikir sejenak, lalu dengan malu-malu gadis itu mengangguk kan kepalanya berlahan. Ata yang melihat pergerakan kepala istrinya, seketika berucap syukur dalam hatinya.


Tanpa menunggu lama Pria itu membopong istrinya masuk ke dalam kamar mereka, pria itu dengan cepat menutup pintu balkon kamar mereka dengan menggunakan sebelah kakinya. Sementara My tampak malu-malu dalam gendongan pak dosennya itu.


Ata turunkan istrinya tepat di dalam kamar mandi untuk segera berwudu. Usai berwudu Ata menggelarkan sajadah untuk My tepat di belakang sajadahnya. Ata mulai takbir, ia lantunkan surah Al fatihah dengan khusyuk, setelah itu ia lafazkan surah Ar rahman dengan begitu merdu.


Sengaja ia baca surah Ar Rahman sebagai hadiah untuk istri tercinta. Itu surah pilalah yang dulu selalu Ata bacakan ketika shalat berjamaah bersama My semasa kecil.


Usai salam My mengaminkan doa yang dibacakan suaminya.



My tak lupa mencium tangan imamnya dengan takzim. Setelah itu Ata meraih kepala istrinya.


Ia letakkan tangan besar itu tepat di atas ubun ubun istrinya, Pria itu mulai khusuk membacakan doa untuk istri tercinta.


اَللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri)


dan kebaikan tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.”


[HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu 'anhu].


Setelah itu tangan Ata bergerak membantu melepaskan mukenah bidadari hatinya itu. Mereka bangkit dari atas sajadah. Taklupa mereka mengemas peralatan shalat.


Ata mendekat pada sang istri dengan hati-hati tangan kekar itu membopong istrinya menuju ranjang, Jantung My semakin terpompa dengan cepat. Jika jantungnya bukan ciptaan Allah, mungkin benda itu sudah melompat keluar dari sarangnya.


My terpejam saat merasakan tubuhnya telah mendarat cantik di atas ranjang, tak lama kasur itu bergerak tanda bahwa suaminya telah ikut menempatkan dirinya di ranjang yang sama.


"Jangan taku, kita baca doa dulu sayang, biar terhindar dari saytan." bisik Ata lembut. My hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Ata mulai membimbing istrinya untuk melafalkan doa sebelum bersenggama.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


Artinya:


Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari).



Usai membaca doa Ata mulai mengecup lembut seluruh bagian wajah My, tak sedikitpun ia lewatkan, pria itu terus turun kebagian leher. Dengan lembut jemari Ata membelai setiap inci tubuh istrinya.


Tangannya bergerak mulai melepaskan benik yang menempel di atas dada yang terlihat membusung. Tangan My dengan cepat menutupi area sakral itu. Ata tersenyum melihat tingkah istrinya yang tampak malu.


"Gak papa, saya suami kamu saya halal melihatnya. Perlahan tangan besar Ata menyingkirkan tangan My, wajah Ata mulai tenggelam di sana. My tampak gelisah dengan sentuhan baru yang pertama kali ia rasakan. Tubuhnya panas dingin.


Namun dengan sentuhan yang begitu lembut, yang Ata berikan perlahan rasa takut yang mencekam mulai menghilang, digantikan dengan rasa yang sulit My gambarkan. Ata terus membuka kain penutup pada tubuh istrinya, kain-kain itu luruh ke atas lantai.


Ata terus merambah kebawah. Mencecap mikmat setiap inci tubuh istrinya, Saat tangan Ata tepat di bagian inti, My dengan cepat mengapit kedua pahanya.


"Kenapa?"


Ucap Ata lembut. My menggeleng.


"Takut" Ucapnya lagi. Ata kembali meringsut ke atas mengecup bibir ramum yang menggoda.


"Gak papa, saya pelan-pelan"


Bisik ata lembut. Ata mulai mencari posisi yang nyaman untuk istrinya.


Perlahan, pria itu mulai gigih dengan usahanya. Ata sesekali menatap wajah My, ia memastikan, takut tindakannya menyakiti sang istri.

__ADS_1


Setelah di lihat aman, Ata kembali mencoba. Ternyata melakukan sunah Rasul untuk pertama kalinya tak mudah, Ata juga sedikit gugup melakukannya. Pria itu terus mencoba, sedikit demi sedikit ia tempatkan, saat sedikit lebih maju, My meringis pria itupun tak tega,


Ata mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Maaf, Ucapnya lembut, My tersenym malu. Ata coba lebih lembut lagi melakukan pergerakan. Tapi Gadisnya masih tetap meringis. Ata coba kecup bibir istrinya ternyata triknya itu manjur, mampu menghilangkan rungisan istrinya,


Dengan semangat Ata hendak merobek benda sakral itu, namun suara ketukan di daun pintu terdengar cukup menggema dan mengganggu usahanya di malam yang indah.


"Ta, Ata. Bangun nak. Eyang sayang..!"


Mendengar suara panik mama mertuanya, seketika My mendorong tubuh suaminya. Hingga pria itu terpelanting di atas kasur.


"Pak, mama pak"


Ucap My panik.


Ata seketika meraup wajahnya yang basah oleh geringat yang gagal mendarat. Dengan rasa yang gak karuan Akhirnya Ata berbisik pada My. "Cepat, kenakan pakaianmu"


Setelah mereka mengenakan pakaian Barulah Ata menjawab dari dalam. Sembari membuka pintu.


"Iya ma, ada apa?"


Tanya Ata lembut.


"Eyang nak, tiba-tiba dadanya sesak terus pingsan, sepertinya serangan jantung Eyang kambuh"


Ata berlari ikut melihat Eyangnya.


"Ma, sebaiknya Eyang harus segera dibawa ke rumah sakit," ucap Ata.


"Iya mbak, kita bawa mama ke rumahsakit terdekat saja" Jawan Herman suami tante Rumi menyetujui usulan Ata. Mereka bergegas membawa Eyang Hanum.


"Ma, mama duluan aja bareng om Herman, Nanti Ata nyusul bareng My"


"Oh iyalah kalau gitu"


Mereka segera berangkat, sementara Ata kembali ke kamar.


"Sayang, ayo buruan mandi. Kita akan kerumah sakit, Eyang kena serangan jantung"


Ucap Ata menjelaskan. My mengangguk patuh. Akhirnya Mereka mandi bareng. My menatap wajah suaminya yang terlihat kusut.


"Bapak gak papa?"


Tanya My hawatir.


"Sebenarnya kepala saya pusing My, tapi ya sudahlah, kita coba besok lagi, masih banyak waktu."


Ucap Ata lembut, sembari menggosok tubuh istrinya dengan sabun. My binggung dengan ucapan suaminya itu. Ia tak paham sebab suaminya pusing, gadis itu heran, pusingnya sekarang kok diobatinya besok batinnya. Akhirnya My bertanya.


"Kalau pusing, bapak minum obat sekarang, kok tungu besoksih?"


Ucapnya polos.


Ata terdiam, berhenti sejenak dari menyabuni tubuh istrinya. Ia benar-benar tak habis pikir. Istrinya itu subhanallah polosnya gak ketulungan.


"iya saya nanti minum obat"


Jawab Ata cepat, agar istrinya tak bertanya lagi.


"Ya Allah My, ini obatnya gak bisa dimimum, tapi dikeluarin." Batin Ata merutuki kepolosan istrinya. Selesai mandi suci mereka bergegas menuju rumah sakit.



Ata tampak gelisah, ia duduk di kursi pengemudi dengan tak nyaman. Ternyata sesuatu pada dirinya belum berhasil ia jinakkan.


"Bapak kenapasih, kok gak anteng duduknya"


Ata menoleh ke istrinya. pria itu tersenyum aneh.


"Iya pinggang saya sakit"


Ucap Ata dusta.


"Sini saya bantu pijat, biar agak enakan pinggangnya"


Tawar My tulus.


Ata meringis ternyata ia salah berucap.


"Ah, gak usah nanti juga hilang kok.


Ucap Ata cepat.


Bahaya jika tangan My sempat menyentuh tubuhnya. Bisa-bisa pak dosen semakin kejang-kejang. Harus menahan sesuatu yang minta di lepaskan.


"Oo ya udah"

__ADS_1


Jawab My santai.


Sungguh malam pertawa yang kacau, usahanya terhenti di tengah jalan. Ternyata gangguan yang datang bukan dari saytan tapi dari manusia rutuk Ata nelagsa.


__ADS_2