DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 66


__ADS_3

Mengingatmu membangkitkan pusara kesedihan, menciptakan gumpalan yang menyesakkan. Luka terdalam adalah ketika aku tak mampu melihat dengan mata, dan kesedihan terdalam adalah ketika aku tak mampu mengucapkan apa yang harus diungkapkan.


Azam terpejam menatap langit.Ingatannya membangkitkan rasa kecewannya,rasa sakit yang harus ia tanggung sendiri. Azam tak tau letak kesalahanya diman hingga ia terus menuai rasa kecewa yang tak berpenghujung. Tepat jam satu dini hari Azam berusaha memejamkan mata, namun sayang pria itu tak kuasa menepis bayangan yang terus mengusiknya. Di pertigaan malam akhirnya Azam bangkit dari ranjang, ia ambil wudu lalu ia gelar sajadah diatas dinginnya lantai, pria itu tampak khusuk dalam setiap sujudnya. Dengan kedua tangan menengadah, Azam terus berbisik pada sang pencipta melalui doa mustazab penenang hati yang ia panjatkan.


"Allahummaj'al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahli wa minal maa'il baarid."


Selesai berdoa Azam duduk di pinggir ranjang, pria itu terus berusaha memejamkan mata, namun ia tak berhasil hingga fajar menyongsong bola mata hitam itu masih tercelang. Azam bangkit dari duduknya ia sambar handuk lalu bergegas membersihkan diri.


Selesai solat subub pria itu turun ke lantai bawah, dengan pakaian kerja lengkap. Melisa yang melihat itu menatap heran pada putranya.


"Lo, mas...! ini baru jam berapa...kok anak mama udah rapi...ganteng lagi..?"


Ledek Melisa pada putranya. Azam tersenyum, pria itu mendekat ke mamanya lalu mencium pipi sang ibu sembari berbisik.


"Ganteng dong...! kan anak mama..!"


Melisa tersenyum sembari mengelus rambut ikal putranya.


"Mau ngantor sekarang mas..?"


Tanya melisa.


"Iya ma, ada meeting pagi ini, takut kejebak macet.."


Sahut Azam sambil menuang air putih ke gelas kaca.


"Ya sudah...! tunggu sebentar mama siapkan sarapan dulu..!"


Pinta Melisa pada putranya. Azam menuruti permintaan sang ibu. Dengan gesit melisa membawakan mangkuk berisi bubur ayam.


"Pagi ini mama buatin kamu bubur ayam, mas..."


Melisa menaruh mangkuk tepat di hadapan Azam. Azam tersenyum males, menatap mangkuk berisi bubur itu.


"Maaa...mas bosan makan bubur...!"


Rengek Azam pada ibunya.


"Mas, ingat kamu belum boleh makan yang keras keras.."


Sahut Melisa mengingatkan putranya itu.


"Tapi maaa...!"


"Gak ada tapi...tapian mas..!"


Sambar Haris dari belakang. Azam menoleh ke arah papanya. Dengan males ajam mulai menyuap bubur ayam ke mulutnya. Selesai makan Azam bergegas berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor pria itu bertemu Ata di lobi.


"Ta..bisa ke ruangan gue bentar..!"


Pinta Azam pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Oke..!"


Sahut Ata, sembari mengikuti langkah Azam. Sampai di ruangan mereka duduk di sofa. Ata menatap Azam menyelidik.


"Lo kenapa mas..?"


Tanya Ata heran.


"Lo..yang kenapa, Ta..?"


"Gue..? gue gak kenapa napa, gue baik baik aja..!"


Sahut Ata santai. Mendengar jawaban Ata,Azam melirik kesal.


"Gak usah sok polos...! Apa maksud lo, angkat dia jadi sekretaris gue...?"


"Dia punya nama mas..!"


Ata mengingatkan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Gue gak peduli...!"


Sahut Azam dengan muka masam. Ata tersenyum dalam hati. Melihat tingkah pria tiga puluh lima tahun itu.


"Ya sudah kalau gitu. Gue gak ada maksut apa apa, gue hanya mempermudah lo, yang lagi cari sekretariskan..!. Lagi pula Aya itu pinter cekatan, dia memenuhi kreteria untuk jadi sekretaris lo..!. Ya lo, gak bisa gantikan Aya tanpa alasan yang gak jelas..mas!"


Ucap Ata membela AYasa, dengan jengkel Azam meremas rambutnya sendiri.


"Gue gak bisa kerja dengan orang yang buat gue gak nyaman..Ta!"


"Oke, gini aja. Kasih waktu Aya tiga bulan, jika lo masih gak nyaman dengan dia, lo bisa tukar dengan orang yang lo inginkan..!"


Sahut Ata memberi pilihan. Azam menghela nafas males.


"Gak bisa Ta, waktu tiga bulan itu lama, buat gue yang jalani..!"


Tawar Azam pada adik iparnya itu.


"Ya gak bisa gitu dong Mas..! lo harus profesionsl..!"


Jelas Ata sedikit menyudutkan. Ajam malas mendengarnya, ia bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan. Saat membuka pintu hendak keluar, Azam disambut ramah Ayasa.


"Pagi pak Azam..!"


Sapa Ayasa ramah.


"Pagi...!"


Sahut Azam ketus. Yasa melongo melihat atasannya. Gadis itu benar benar bingung.


"Kenapa dia ketus banget...!"


Gumam Ayasa heran.

__ADS_1


"Emang gue salah apa..? Ah bodo amat lah..!"


Ucap gadis itu pada dirinya sendiri. Tak lama Ata ikut keluar dari ruangan. Ayasa mulai berfikir jika bosnya itu lagi kesal sama Pak Ata.Asyik dengan pemikirannya tiba tiba Ata menghampirinya.


"Ay, nanti kamu dampingi Azam meeting ya..! Soalnya hari ini saya mau cek ke lapangan."


Pinta Ata pada Ayasa.


"Iya, baik pak..!"


Ata terkekeh geli mendengar jawaban Ayasa.


"Panggil Ata Aja..!"


Pinta Ata pada Ayasa. Ayasa menatap Ata tersenyum.


"Inikan di kantor, ya gue harus ikut aturan dong..!"


"Ya, terserah lo aja deh Ay..!"


Ata berlalu sembari terkekeh pada gadis berhijab itu. Sepeninggalan Ata, Ayasa segera membereskan file yang harus ia bawa. Ayasa mengetuk pintu ruangan Azam.


"Permisi pak, pak Nugroho sudah datang di ruang meeting"


Ucap Ayasa pada Azam selaku atasannya.


Mendengar suara itu, Azam mengalihkan fokusnya dari layar datar.


"Ya, saya segera menyusul..!"


Sahut Azam singkat, sambil merapikan mejanya. Selesai berkemas Azam menuju ke ruang meeting yang diikuti Ayasa. Merasa ada yang mengikuti pria itu menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang.


"Ngapain kamu ngikutin saya..?"


Tegur Azam tak suka.


"Maaf pak, saya diminta Pak Ata untuk mendampingi bapak meeting...!"


"Gak usah...! saya bisa sendiri.. !"


Tolak Azam pada Ayasa.


"Baik pak...! kalau begitu saya kembali ke ruangan..!"


Sahut Ayasa, sopan.Azam tak menyahut, pria itu dengan angkuhnya meninggalkan Ayasa. Namun gadis itu tak ambil hati, atas ucapan Azam yang terkesan ketus. Ayasa faham akan posisi Azam. Wajar jika dia tak nyaman, berdekatan dengan dirinya.


Beda dengan Ata, bos satu itu selalu baik dan ramah kepada Ayasa, bahkan semenjak awal mereka bertemu. Ata lah yang selalu membantunya saat menemukan kesulitan, hingga sampai sekarang pria itu selalu mendukung keputusan Ayasa.


Di ruang meeting Azan menemukan kendala, ia lupa menanyakan di mana Ayasa menyimpan file yang dijadikan bahan meeting. Dengan terpaksa pria itu menghubungi sekretarisnya. Telpon di meja Ayasa berdering. Dengan cepat Ayasa mengangkat panggilan itu.


"Iya pak...! ada yang bisa saya bantu..?"


"Keruangan meeting sekarang..!"

__ADS_1


Perintah Azam tegas.Belum sempat Ayasa menjawab sambungan itu sudah terputus. dengan gesit Ayasa berlari kecil ke ruangan meeating.


Sampai di ruangan, Ayasa mendekat ke arah Azam, gadis itu tanpa di minta segera mencari file yang menjadi bahan meeting. Sesekali Ayasa melirik ke arah bosnya itu. Baru kali ini Ayasa menatap wajah Azam sedekat itu. Wajahnya masih tetap sama, rahang yang kokoh dihiasi jambang tipis membuat pria itu terlihat semakin berwibawa. Azam yang sadar tengah diperhatikan, lalu berdehem.Mendapat kode dari Azam, Ayasa tergagap lalu mengalihkan pandangannya. Ingin ia mengatan sesuatu pada pria di sebelahnya itu, namun Ayasa tak yakin jika pria itu akan mendengar apa yang ia ucapkan.


__ADS_2