
Hembusan angin mengibas surai halus milik My, ibu satu anak itu masih setia menunggu sahabatnya datang, netranya berkeliaran seolah tengah berkelana, saat netra itu tertuju ke suatu titik, seketika itu My bangkit dari duduknya.
Sementara tampak dari jauh seseorang tengah melambaikan tangan. Tanda, bahwa seseorang itu tengah memanggilnya.
"Tunggu"
Pintanya sembari melangkah cepat menuju tempat My berdiri.
"Saya...?"
Tanya My penuh dengan keheranan.
"Iya, kamu My. Saya ingin bicara, apa kamu ada waktu..?"
"Maaf, saya ada jam pagi ini."
Tolak My tegas.
"Kalau gitu, saya tunggu kamu selesai kuliah. Kita bertemu di cafe depan"
Ucap Oliv meminta.Ia ingin menjelaskan sesuatu.
"Maaf. Saya gak bisa, karna saya harus segera pulang, saya harus memberikan asi pada zain"
Tolak My mentah-mentah.
"Oke, gak masalah. Lain waktu saja"
Ucap Oliv memakluminya.
My mengangguk lalu segera pergi dari hadapan Oliv. Ibu satu anak itu jalan terburu untuk menghindari wanita itu.
"Heeey, lihat jalon dong. Jalan kayak dikejar mak lampir aja, buru-buru"
My melotot, menatap pemilik suara cempreng itu.
"Kamu. Ngagetin aja, ayo buruan ke kelas"
Dengan cepat My menarik pergelangan tangan Klara.
"Eeeh, ada urusan apa kamu sama buk dosen,lagi pdkt ya dia? "
Ceplos Klara asal.
"Pdkt apaan, emang dia doyang jeruk makan jeruk"
Dengan sengit Klara menonyor kening mulus My.
"Perkara foto itu gimana?"
Tanya Klara penasaran.
"Ya gue ribut lah sama mas Ata, aku gak terima"
Sahut My dengan nada judesnya.
"Jadi, lo udah tau kalau buk Oliv bakal ja..."
"Haaaai aku datang"
Pekik Sasa dengan centilnya, hingga ucapan Klara tergantung.
"Apaan sih Sa, ribut banget. Kayak setahun gak ketemu aja"
Grutu My sebel.
"Maaf. Kan gue kangen, seminggu gak ketemu kalian"
Ucap Sasa manja. Akhirnya mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas. Di kelas My merasa penasaran atas ucapan Klara, mengenai buk Oliv yang belum selesai.
"Kel, terusin soal buk Oliv tadi, dia bakal apa?"
Bisik My pada Klara, namun Klara tak menjawab, sebaliknya gadis itu menendang-nendang pelan kaki My, untuk memberi kode.
"Jangan berisik, pak Ata lihatin kita dari tadi, dengerin tu suami lo nerangin"
Bisik Klara takut-takut.
"Kalian berdua. Silahkan ngobrol di luar, karna saya tidak mentolerir mahasiswa yang ngobrol dalam kelas saat saya menerangkan"
Ucap Ata tegas, My kaget setengah mati.
"Tapi mas...!"
Protes My tak terima
"Di kampus tidak ada kata mas, Mylin! Ayo silahkan keluar...!"
Sontak seisi ruangan tertawa.
__ADS_1
"Lo pikir ini di rumah My, pake mas-mas. Mas batangan kali...!"
Ceplos Tedo nyiyir. Dengan kesal My bangkit dari kursinya, ia menatap kesal pada pak dosen satu itu.
"Awas kamu mas...! Lihat saja nanti malam"
Grutu My, saat melewati Ata Herlambang. Ata hanya tersenyum dalam hati. Sampai di luar kelas, Klara uring-uringan dengan sahabatnya itu.
"Lo sih, gak dengerin omongan gue! udah tau suami lo galak, masih berani-beraninya ngobrol dalam kelas. Lihat gara-gara lo, gue jadi dihukum, gue gak mau ya gara-gara laki lo, gue dapat nilai C!"
My meringis menatap sahabatnya.
"Maaf, guekan penasaran soal buk Oliv"
"Lo sadar gak sih My, gara-gara buk Oliv. Lo nyia-nyiain waktu kuliah gue"
Ucap Klara mulai kesal pada sahabatnya.
"Iiiiih Klara nyebelin"
Sungut My kesal. Lama menunggu jam kuliah dosen kiler berakhir, akhirnya mereka nongkrong di kantin kampus.
"Jadi, apa reaksi lo ketika tau kalau buk Oliv itu deket sama..!"
"Ya gue marah lah, gue gak terima kalau suami gue deket lagi sama itu dosen! gilak gara-gara itu ,foto. Kami berantem, tau gak"
Potong My semangat. Kl, menatap My heran. Dengan wajah bingungnya, Klara bertanya.
"Kok, suami lo sih My..."
Tanya Klara heran.
"Lah terus siapa dong, sumber masalahnya ada sama mas Ata dan buk Olivkan?"
Tanya My polos. Klara menatap My terbengong.
"Jadi, lo ngeributin hal apa tentang foto itu?"
"Ya gue gak suka, kalau suami gue deket lagi dan berurusan sama dosen ganjen itu"
Ucap My jujur, namun kejujuran My itu semakin Klara pusing.
"Masalahnya gak Itu My, gue nunjukin foto itu ke lo, itu sebenarnya gue mau ngasi tau kalau sebenarnya...!"
"Maaf mengganggu, kalian gak masuk kelas. Boleh saya ikut gabung?"
Suara lembut itu seketika menghentikan ucapan Klara. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Oh silahkan"
"Sapa"
Tanya Klara bingung. My yang ditanya juga sama-sama bingung, tiba-tiba ada pangeran tampan nongol.
"Kenalkan, nama saya Arham"
Ucap pria itu sopan.
"Oh, Saya Klara dan ini sahabat saya Mylin"
Ucap Klara lembut
"Senang berkenalan dengan kalian. Ngomong-ngomong, kenapa kalian gak masuk kelas?"
Tanya Arham heran.
"Eeem, kami dihukum"
Ucap klara malu-malu. Arham tertawa, tawanya sangat renyah didengar.
"Biasa itu, dosen memang begitu, suka mencari kesalahan para mahasiswanya"
Ucap pria tampan itu lagi. Seketika mereka berdua mengangguk kompak tanda setuju dengan ucapan pria di hadapannya.
"O ya, mas ada perlu apa ke kampus kami?"
Tanya Klara penasaran. Sementara My hanya menjadi pendengar setia saja.
"Saya sedang menunggu teman, dia meminta saya untuk menunggu di sini"
"Ooo, begitu"
Jawab Klara lembut. Saat mereka asyik ngobrol, My melihat sosok Ata Herlambang keluar dari kelas dan menuju ke arah kantin. My dengan buru-buru membawa Klara pergi dari kantin.
"Kl, ayok pergi bahaya"
Bisik My pada sahabatnya. Melihat Pak dosennya dari kejauhan, Klara paham apa yang dihawatirkan sahabatnya itu.
"Maaf mas, kami duluan"
ucap mereka berdua kompak.
__ADS_1
"Loh, kok buru-buru?"
Tanya Arham heran.
"Masih ada jam kuliah mas"
Jawab Klara sopan.
Hampir tiga puluh menit Arham menunggu sahabatnya, akhirnya orang yang ia tunggu nongol juga.
"Maaf, lo jadi nunggu lama"
Ucap Ata tenang.
"Gak papa, gue seneng nunggu lo di sini. Penduduk kampusnya cantik-cantik, bikin gue betah"
Ucap Arham santai. Ata yang mendengar hal itu, seketika mengerutkan keningnya.
"Masih gak berubah ternyata"
Ledek Ata pada sahabatnya. Sementara Arhan tersenyum, menanggapinya. Ata dan Arham akhirnya meninggalkan kantin untuk menuju cafe yang nyaman buat tongkrongan.
Usai mengikuti mata kuliah kedua, akhirnya mereka bubar untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Eh, My. Kenapa tadi kalian berdua kok diusir dari kelas, lo pada gosipin apa sih?" Tanya Sasa penasaran.
"Udah ah! Gak usah nanya soal itu, bikin gue makin bt aja"
Jawab My kesal. Kemudian berjalan mendahului dua sahabatnya itu. Dengan netra yang berkeliaran mencari sosok suaminya.
"Kok gitu sih My, kan gue pengen tau"
Ucap Sasa sedikit menjerit.
"Kepo lo"
Sahut Klara menyebalkan.
"Sriusan gue pengen tau, Kl"
Ucap Sasa tak ingin kalah.
"Soal foto itu loh, Sa. Ternyata My gak tau tentang kisah di balik foto itu"
Ucap Klara menjelaskan.
"Masak, hal sepenting itu dia ga ngerti. Wah parah, ngamuk bisa tu bocah kalau tau"
"Itu aja mereka udah berantem, tapi berantemnya bukan karna mas Azam, melainkan karna My cemburu dengan kedekatam pak Ata dan buk Oliv"
Jelas Klara pada Sasa.
"Ya salam, itu bocah kebangetan pintarnya ya. Terus sekarang, dia udah tau belum? kalau buk Oliv bakal jadi kakak iparnya"
Tanya Sasa penasaran.
"Belom tuh, gue belum sempat ngasi tau, ke dia. Tiap kali gue mau kasi tau ada aja penghalangnya"
Mereka terus berjalan menuju parkiran. Sampai di parkiran terlihat My tengah sibuk dengan henponnya.
"Loh, My. Belum pulang?"
Tanya Sasa heran.
"Belum suami gue, ada urusan. Gue numpang lo ya Kl"
Tanya My lemes.
"Boleh, yuk"
Akhirnya My diantarkan ke rumah mama Melisa, untuk menjemput Zain. Sementara Klara lanjut pulang ke kediamannya.
"Loh, kok rumah sepi ma, mas Azam mana?"
Tanya My ingin tau.
"Masmu lagi keluar sebentar sama calon kakak iparmu"
Ucap Melisa sembari tersenyum.
"Oh ya, mas Azam udah punya calon istri, ma? Kok gak kasi tau adek sih ma!"
Ucap My protes.
"Tenang sayang, nanti mama kenalin, Calon kakakmu cantik, baik sayang juga sama mama"
Ucap Melisa semangat. Tengah asyik ngobrol tak lama Azam pulang bersama seorang wanita yang tak asing bagi My. My menatap wanita itu tak percaya.
"Eeeh, nak Oliv sudah datang. Sini..! kenalin ini My, adiknya Azam"
Ucap Melisa polos tak tau apa-apa, karna memang My maupun Ata tak pernah membeberkan urusan rumah tangganya pada orang tua mereka. Mendengar hal itu seketika My berdiri.
__ADS_1
"Jangan bilang, dia calon kakak iparku. Ma!"
Ucap My dengan nada tak suka. Mendengar pertanyaan putrinya, Melisa merasa heran. Tak sempat Melisa menjawab, My buru-buru menggendong Zain, lalu keluar rumah dan pergi begitu saja, sementara Azam dan Oliv hanya bisa membisu saat melihat respon My yang tak bersahabat. Di perjalanan hati My meradang, batinnya terus meronta ia tak terima dengan keadaan. My merasa dipermainkan oleh keluarganya sendiri, terutama suaminya, Ata Herlambang.