DOSEN GRAY

DOSEN GRAY
BAB 13


__ADS_3


Berjuanglah karna hanya dengan hati yang kuat, kita akan mampu, menerima, kelegowoan, pasrah dan ikhlas dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan hidup.


Jeritan petir menggelegar memecahkan gendang teling My, Gadis polos itu terjaga dari lelapnya. Rintikan air hujan mampu memberikan terapi rindu. Gadis delapan pelas tahun itu terduduk di atas ranjang kamarnya. Hujan selalu membangunkan lelapnya tidur My.


Jemari lentiknya menyambar figura yang menyuguhkan foto sepasang manusia yang tengah duduk bersila. Terlihat di sana seorang anak remaja laki-laki tengah memangkku dan memeluk sosok gadis kecil berbola mata besar.


My tersenyum sembari mengusap lembut wajah lelaki di dalamnya. Bibirnya berbisik meminta pengharapan pada sang maha kuasa. Karna dulu bocah lelaki itu selalu mengajarkan padanya, saat hujan turun berdoalah maka doa kita akan dikabulkan.


My mulai berbisik pada sang ilahi.


"Ya Allah. Aku merindukannya, temukan aku dengan orang yang sangat aku rindukan"


usai berdoa gadis itu memeluk figura dengan erat, matanya berkaca-kaca mengingat masa kecilnya yang bahagia bersama lelaki impiannya.


"Mas bam, kenapa gak pernah temui aku lagi, gadis kecilmu ini akan segera menikah, dengan orang yang gak aku suka, My mohon jadilah pangeran penyelamatku mas, datang dan menikahlah denganku, seperti apa yang kita impikan dulu semasa kecil."


Setelah puas, berbicara dengan foto dalam figuran. Gadis itu dengan malas-malasan turun dari tempat tidurnya, melangkah ke kamar mandi untuk bersih-bersih, karna pagi ini My ada jadwal kuliah.


Melisa dengan air satu gayungnya, sudah siap berdiri di depan pintu kamar putrinya.


"Dek bangun"


Melisa heran, karna putrinya itu tak ada di atas ranjang. Melisa berjalan mendekati pintu kamar mandi, di dalam ruangan kecil itu terdengar gemricik air, yang menandakan sang pemilik kamar tengah berada di dalamnya.


"Dek, kamu udah bangun?"


Tanya Melisa memastikan.


"Iya ma, adek lagi mandi. Ada apa ma?"


"Gak ada, kirain kamu belum bangun udah jam setengah tujuh dek, kamukan ada kuliah"


Ucap Melisa mengingatkan.


"Iya ma"


"Ya udah, mama tunggu di bawah ya sayang"


Melisa keluar meninggalkan kamar putrinya, tak lupa wanita paruh baya itu, membawa kembali gayung berisi air sebagai senjata ampuh untuk membangunkan sang putri.


"Adek udah bangun ma?"


Tanya Azam sembari mengenakan dasinya.


"Udah mas, lagi mandi dia"


Tak lama My datang berbarengan dengan papanya.


"Pagi sayang" Sapa Haris pada putrinya, tak lupa pria paruh baya itu mengecup kening gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


"Pagi pa" Jawab My manja sembari memeluk sang papa. Semua sudah berkumpul di meja makan. My dengan berlahap mengunyah cumi rica-rica kesukaanya. Setelah menghabiskan satu piring nasi, My bersiap untuk pergi kuliah.


Mereka bertiga berjalan menuju pintu luar, tak lupa Melisa ikut mengantar suami dan asnaknya untuk beraktivitas.


"Ma. Papa kerja dulu ya!"


Melisa bersalaman dengan Haris, tak lupa pula, kepala rumah tangga itu mengecup kening istrinya.


"Hati-hati pa!"


"Iya ma, insya Allah"


Setelah semuanya berpamitan pada Melisa, mobil mulai berjalan melaju membelah keramaian. Sampai di kampus, My turun dari mobil mas Azamnya. Tak lupa gadis itu mencium tangan si mas Azam.


"Kuliah yang benar dek. jangan main game cacing di dalam kelas" My melotot mendengar ucapan mas Azamnya.


"Kok mas tau" tanyanya penasaran.


"Tau dong, kan memang itu kebiasaanmu di rumah" My nyengir menatap masnya.


"Ya udah sana masuk, mas mau langsung ngantor"


"Oke" sahut My sembari memberi tanda oke pada jemarinya.


My berjalan sendiri, pagi ini My berangkat lebih awal, gadis itu terus melangkah sembari mengotak atik henponnya, karna gadis itu ingin menghubungi sahabat-sahabatnya. Namun karna kemelengan mata si My, gadis itu tanpa sengaja hampir menubruk seorang pria yang tengah berjalan menenteng tasnya.



My terkejut.


"Lihat jalan biar gak nabrak" Ucap Ata singkat. Setelah itu, si dosen pergi menuju kantor.


My terbengong, melihat kemunculan dosennya secara tiba-tiba dan pergi ngeloyor begitu saja.


"Heeeh. Kenapa pria itu yang pertama aku lihat, ternyata Allah belum mengabulkan doaku!" Gerutu My sembari berjalan menuju kelasnya. Sembari berjalan My masih setia menunggu telponnya diankat oleh Kl. Namun sayang sepertinya Kl tak berminat mengangkat panggilan telponnya.


My duduk di kursi taman depan kampus. Gadis itu tak sadar jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya sembari tersenyum. Pria itu merogoh henponnya dan membidik gadis ayu yang tengah menengadah menatap langit yang mulai cerah.


Setelah puas dengan bidikan kamera henponnya, Ata mencoba menghubungi nomor mahasiswinya itu. Baru dua kali deringan gadis itu sudah mengangkatnya.


"Assalamualaikum pak!"


"Waalaikumsalam. Bisa keruangan saya sebentar!" Pinta Ata pada gadis yang tengah duduk manis.


"Baik, pak" Ata tersenyum, mendengar jawaban gadisnya itu. My berjalan sembari menenteng tas, menuju ruangan dosennya.


Untuk menjaga kesopanan, My mengetuk pintu berwarna putih itu perlahan.


"Masuk" Pinta ata lembut. My masuk menemui dosennya. yamg tengah duduk di kursi kerjanya.


__ADS_1


"Ada apa bapak panggil saya?"


"Duduklah" Printah si dosen. My menurutinya.


"Pulang kuliah nanti kamu sama saya, kita langsung ke butik tante Luna, untuk mecoba gaun pengantin. Tadi tante Melisa barusan telpon mas" Jelasnya sungguhan.


"Saya pulang sama Kl aja pak. Nanti saya langsung nyusul kesana" My mencoba negosiasi.


"Gak bisa My, saya sudah janji tadi sama tante Melisa, kamu pulang sama saya" ucap Ata final.


"Ya sudah. tapi saya gak mau penduduk kampus tau soal hubungan kita pak. Kita pergi nunggu kampus sepi, saya gak mau jadi bahan gosip, para bibir-bibir turah"


Ucap My tegas.


"Baiklah, nanti saya tunggu kamu di mobil"


My berdiri berniat meninggalkan ruangan Ata, Namun naas gadis itu terlalu ceroboh, tangannya tak sengaja menyenggol kopi yang masih panas.


"Aau panas" jeritnya kaget


"kamu gak papakan?"


"panas pak!" My mengibat-ngibatkan tangannya. Ata mendekati mahasiswinya, dengan lembut pria itu membawa My ke wastafel, dengan telaten Ata mencuci tangan My di air mengalir. Tanpa pria itu tau, My menatap wajah dosennya lekat-lekat, hatinya sedikit berdesir.


Sedetik kemudian ia alihkan pandanhannya.


"Lain kali hati-hati dek"


"Maaf pak, saya gak sengaja. Bagaimana dengan fille bapak yang basah?"



"Gak usah kamu pikirkan. Fille saya gak lebih penting dari tangan kamu"


My terdiam mencerna ucapan suaminya. Ata menatap My yang terdiam, kemudian pria itu membawa jemari mahasiswiny mendekati bibir pria itu, dengan lembut Ata meniup jemari My yang sedikit memerah.


"Sudah pak cukup. Tangan saya sudah gak papa!" My menarik tangannya dari genggaman tangan dosennya. Ata mengacak rambut calon istrinya sembari menatapnya dalam. My yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah.


"Terima kasih pask, kalau begitu saya permisi mau ke kelas" Ata mengangguk sekilas lalu menuju meja kerjanya yang terlihat kacau, akibat ulah My.


Setelah sampai di kelas gadis itu baru teringat, jika dia belum membereskan kekacauan yang ia buat di meja kerja dosennya. My dengan cepat merogoh tasnya untuk mengetik pesan di whatsapp. My tak mau gara-gara insiden kopi, dia mendapat masalah.


My


"Maaf pak, saya lupa membereskan meja bapak"


Dosen Gray


"Jangan kamu pikirkan, sudah saya bereskan"


My menatap tajam layar henponnya.

__ADS_1


"kenapa itu dosen jadi baik" batinya heran.


Namun My tak perduli dengan semua itu.


__ADS_2